Pages

Mahasiswa Sebagai Agent of Change

Rabu, 09 Januari 2013

Agent of change dalam bahasa Indonesia berarti agen perubahan. Saya pernah mendengar kata itu diucapkan oleh dosen di sebuah kelas pada saat masih mengambil mata kuliah dulu. Baru saja saya membacanya kembali di website ECC UGM, situs wajib para job seeker di kampus saya. Walaupun saya belum memasuki tahap itu, tetapi sesekali saya mengintip untuk mencari jawaban atas rasa keingintahuan saya akan masa depan. Saya ingin tahu seperti hutan belantara bernama dunia kerja yang akan saya masuki selulusnya dari perguruan tinggi nanti.

Kembali pada istilah agent of change. Pada umumnya salah satu golongan yang ditunjuk untuk menjadi agent of change dalam kehidupan masyarakat adalah mahasiswa. Mahasiswa dengan tingkatan perguruan tinggi yang sedang mereka jalani dinilai sudah mampu memberikan ide-ide segar dan cukup matang untuk memberikan perubahan. Emosi mahasiswa dinilai lebih stabil dibanding dengan adik-adik kelasnya yang masih duduk di bangku SMP dan SMA, tetapi masih relatif 'polos' dibanding para pejabat, politikus dan kritikus senior yang sudah lebih dulu mewarnai  jagad permasalahan tanah air. Pada titik keseimbangan itulah masyarakat menaruh harapan besar terhadap para mahasiswa.

Masyarakat seakan lupa jika 'pendekar' mereka ini sebenarnya juga harus menghadapi problemanya sendiri. Mahasiswa dituntut untuk memahami ilmu yang disampaikan oleh para dosen, pun dengan nilai yang tidak boleh mengecewakan orang tua yang telah banyak berkorban untuk mengerluarkan biaya yang tidak sedikit. Dalam usia secara fisik dan psikologis, sebenarnya mahasiswa juga sedang berada dalam proses pencarian jati diri yang sebenarnya, penentuan tujuan hidup selanjutnya. Oleh karena itu, banyak mahasiswa mengikuti berbagai macam paham pemikiran dan organisasi yang menurut mereka cocok untuk diyakini. Para mahasiswa tipe inilah yang kemudian dicap sebagai mahasiswa aktivis dan idealis. Sedangkan sebagian yang lain memilih untuk fokus terhadap studi, sambil bekerja atau buka usaha, atau bahkan hanya dengan bersenang-senang menikmati masa indahnya sebagai orang yang belum diwajibkan mencari nafkah karena masih ada kiriman orang tua.

Para mahasiswa yang memiliki pemikiran idealis, berusaha mewujudkan cita-cita mereka untuk perbaikan masyarakat melalui berbagai organisasi yang menaungi. Namun, jika saatnya tiba, mereka pun harus kembali ke fitrah sebagai seorang pelajar, yaitu memahami pelajaran dan mengejar kelulusan. Bahkan sekarang perguruan tinggi memberikan batas waktu maksimal kelulusan jika mahasiswa tidak ingin terkena kebijakan Drop Out (DO). Jika sudah lulus dan tak lagi menggendong label sebagai seorang mahasiswa, masyarakat menuntut mereka untuk mendapat pekerjaan, lebih bagus lagi jika yang bergaji dan berprestise tinggi. Jika seorang alumnus perguruan tinggi belum berhasil mendapat pekerjaan, maka masyarakat akan memberinya sindiran, "Mengapa harus kuliah mahal-mahal jika akhirnya menganggur juga? Mending dari dulu langsung kerja, pasti sekarang sudah mendapat banyak uang. Lihat itu banyak orang yang bisa kaya tanpa harus kuliah mahal-mahal."

Kejam memang, namun begitulah adanya. Sewaktu masih kuliah, masyarakat ingin mahasiswa menyampaikan aspirasi dan pendapat mereka agar pihak pemerintah dan swasta tidak semena-mena. Sedangkan kalau sudah lulus dan masih menganggur, alih-alih dibantu agar bisa bekerja, malah diberi cibiran yang memanaskan hati. Maka dari itu, pada akhirnya seorang mahasiswa yang idealis pun kalau sudah lulus akan menjadi orang yang pragmatis; realistis dalam memandang kehidupan. Kalaupun mereka masih istiqomah terhadap nilai-nilai yang dipegangnya, mereka akan lebih arif untuk dapat menyesuaikannya dengan kenyataan hidup yang ada.

Setiap mahasiswa pasti menjalankan fungsinya sebagai agent of change. Tidak harus mahasiswa aktivis pun pasti juga dapat memberikan perubahan. Perubahan terhadap pandangan masyarakat, misalnya, lulusan perguruan tinggi lebih disegani dan diperhitungkan keberadaannya. Perubahan yang tidak semua orang bisa melihat, contohnya, pola pikir dan pemahaman alumnus perguruan tinggi kelak akan berguna untuk memahami seluk beluk kehidupan selanjutnya. Masyarakat memang tidak salah memilih mahasiswa sebagai agent of change. Seiring dengan pemahamannya tentang kehidupan, mahasiswa akan membawa kehidupan ke arah yang lebih baik, karena pendidikan adalah bekal terbaik untuk masa depan.

Me and Complaint

Tidak seperti lazimnya postingan awal tahun yang berisi flashback kejadian penting tahun lalu atau resolusi tahun ini, i try not to be mainstream :p
I wanna share my experience about complaint. Something that i discuss in my thesis. Maybe it was fate if my life is always related to the complaint, haha.
So, here's the story!

Siang menjelang sore itu aku dan Lulu makan di sebuah kafe dengan voucher diskon yang akan expired beberapa hari lagi. Kalau kata Ocha sih kami fakir perdiskonan. Bodo amat yang penting bisa nyobain makanan enak, haha. Seperti cafe pada umumnya, porsinya lalala cilukba mbak-mbak diet sekali, hahaha. Sedangkan kami berdua adalah kecil-kecil cabe rawit, eh, rakus omnivora pemakan segala. Merasa tidak puas belum kenyang dengan makanan cantik di cafe itu, akhirnya kami memutuskan lanjut ke cafe selanjutnya untuk menggenapkan separuh agama isi di perut biar gak setengah-setengah kayak korban PHP, hahaha.

Sampailah kami pada cafe ke-2. Sudah pesan makanan dan minuman. Sudah menelan suapan pertama ketika hape berdering dari nomor lokal yang tidak dikenal. Aku yang pada dasarnya bolot gak suka ditelpon, akhirnya terpaksa menjawab panggilan tersebut. Samar-samar terdengar bahwa mbak-mbak di seberang adalah pegawai cafe pertama tadi dan bilang kalau voucher kami sudah expired. Aku sempat membela diri menjelaskan bahwa tanggal expired belum terjadi. Intinya kami diminta kembali lagi kesana dan membayar  dengan harga penuh makanan perdiskonan tadi.

Dengan serangan bete yang datang tiba-tiba, akhirnya aku melacak kontak layanan pelanggan penyedia layanan diskon tempat kami membeli voucher diskon itu. Kami telepon nomernya tidak ada jawaban. Akhirnya kami menghubungi lewat sms. Setelah kenyang dalam arti sebenarnya dan 'kenyang'  bete karena telepon tadi, kami memutuskan mampir ke cafe pertama dan akan membayar tagihan seperti yang diminta.

Namun sepertinya semesta tak merestui. Baru saja sampai kami di depan cafe pertama, panggilan telepon masuk dari nomor asing. Ternyata berasal dari penyedia layanan diskon yang menanyakan bagaimana kronologi kejadiannya. Setelah kami jelaskan, pihak penyedia layanan diskon berjanji akan mengkonfirmasi pada cafe pertama. Akhirnya kami nggak jadi masuk ke cafe pertama, padahal sudah tepat berada di parkirannya.

Penyedia layanan cafe kemudian menelpon kembali saat kami melanjutkan perjalanan pulang. Mereka menanyakan apakah kami jadi membayar lagi ke cafe pertama. Kami bilang kami tidak jadi masuk ke cafe pertama karena tadi mereka bilang akan menghubungi pihak cafe. Penyedia layanan cafe menjanjikan akan menghubungi lagi besok bagaimana kelanjutannya. Kami hanya bisa berharap pada janji penyedia layanan diskon agar mengklarifikasikan kepada merchant-nya. Aje gile kan kalau kita disuruh bayar lagi, rugi bandar dan gak akan klik beli voucher diskon disitu lagi kayaknya.

Sehari setelah kejadian itu tak ada panggilan masuk dari kedua belah pihak, baik dari cafe pertama maupun penyedia layanan diskon. Tapi penyedia layanan diskon sebelumnya memang sudah meyakinkan bahwa voucher masih berlaku, jadi kemungkinan terjadi miskomunikasi dari pihak merchant yaitu cafe pertama. Karena tak ada lagi kabar maka kami menganggap case closed. Positifnya kami gak harus kehilangan rupiah lagi buat cafe itu. Coba kalau kemarin kami nggak komplain dan manut-manut saja, pasti bakal sekarat isi dompetnya, hahaha.

Thanks God, we've complained! :D ($_$)

Pesan moral: tak ada salahnya kita memberanikan diri menuntut hak kita padahal kita sudah melaksanakan kewajiban sebagaimana mestinya. Cheers! :)
 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS