Pages

Tampilkan postingan dengan label Culinary. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Culinary. Tampilkan semua postingan

Diary Work From Home Day 42 : Gehu Pedas Jeletot

Selasa, 19 Mei 2020

Sebagian besar orang Indonesia gemar menyantap makanan pedas, maka tak heran jika apapun menu makanannya pasti akan disediakan sambal, saus cabai, atau bubuk cabai sebagai pelengkapnya. Bahkan sekarang muncul makanan dengan level pedas yang bervariasi, sehingga dapat dinikmati oleh orang yang benar-benar pecinta makanan pedas atau hanya pemakan pedas level anak TK sepertiku.

Selama Ramadhan 1441 H ini, aku sering berjalan kaki di sepanjang Jalan Bendungan Hilir Jakarta Pusat. Memasuki pukul 4 sore akan banyak penjual takjl yang menjajakan dagangannya yang semuanya terlihat menarik apalagi untuk orang yang sedang berpuasa. Namun karena adanya wabah Covid 19 ini, aku dan Mbak Yuyun sangat berhati-hati untuk memilih makanan yang akan dibeli. Kami akan memilih tempat yang terjamin kebersihannya seperti restoran atau rumah makan. Kalaupun kami beli jajanan di pedagang keliling, kami akan mengamati terlebih dulu apakah bersih atau tidak, dan apakah ramai atau tidak. Memang keramaian pembeli tetap menjadi tolak ukur untuk memperkirakan rasa makanan, enak atau tidak.
Salah satu jajanan gerobak yang sering kami beli adalah Gehu Pedas Jeletot. Gehu pedas ini adalah tahu yang diisi dengan sayuran dan cabai yang kemudian digoreng dengan tepung. Ukurannya lebih besar dari tahu isi yang dijual kebanyakan. Gehu Pedas Jeletot ini berlokasi di Jalan Bendungan Hilir, tepatnya di dekat Alfamart yang ada gangnya, karena terlalu banyak Alfamart di sepanjang jalan itu, hahahaha. Abang penjualnya mulai berdagang sejak pukul 3 sore atau setelah Ashar, sampai dagangannya habis menjelang maghrib. Biasanya sebelum jam 5 sore, kami mengamati dagangannya sudah habis terjual.

Gehu Pedas Jeletot ini biasanya aku makan bersama nasi putih karena rasa pedasnya yang aku tidak tahan jika hanya memakannya tanpa tambahan yang menetralkan. Penyuka makanan pedas harus mencobanya, dijamin ketagihan karena pedasnya asli dari cabai yang diuleg dan dicampur dengan sayuran sebagai isian, pun tekstur gorengannya crunchy dan kering sehingga tak terlalu berminyak. Aku bahkan beberapa kali memakannya sebagai menu sahur, tinggal dimakan dengan nasi hangat saja.

Angka positif COVID-19 pada Senin (18/5) kemarin adalah 18.010 kasus. Angka positif COVID-19 yang diumumkan pada Selasa (19/5/2020) ini menjadi 18.496 kasus. Berarti ada lonjakan 486 kasus positif COVID-19 dalam sehari.

Mari tetap menjaga kebersihan dan kesehatan, pun jangan lelah untuk selalu berdoa semoga pandemi Covid 19 ini segera berakhir dan ditemukan obat serta vaksinnya, aamiin.

Diary Work From Home Day 37 : Sore yang Cerah untuk Jiwa yang Sepi

Selasa, 12 Mei 2020

Pagi ini aku ke kantor tanpa minta izin ke atasanku, karena kupikir aku hanya akan mencari berkas yang kubutuhkan dan memfotonya saja setelah itu pulang. Jadi, aku hanya menghubungi petugas kebersihan yang membawa kunci ruangan untuk menemaniku selama mencari berkas. Kantor benar-benar sepi, hanya terlihat beberapa petugas keamanan berjaga seperti biasanya. Saat melewati sudut-sudut kantor di mana aku pernah bertemu dengan beliau, rasanya tak akan sama lagi. Tak akan lagi aku melihatnya dari kejauhan saat baru datang. Atau kami bertatapan mata dan aku akan sok cuek pura-pura tak melihatnya. Bodoh, harusnya aku menyapa dengan ramah seperti kepada senior lainnya.
Grieving Loss Quote by Mandy Hale
Hari ini aku benar-benar masih belum bisa kerja dengan produktif. Badanku masih sakit efek kurang tidur. Aku bahkan tidak fokus sampai melewatkan jadwal zoom meeting karena salah mengira waktu. Sore ini pun aku jalan kaki sendirian dan menggunggah foto dengan caption "Sore yang cerah untuk jiwa yang sepi" sampai seorang kawan yang tahu tangisku karena kepergian beliau kemarin bertanya apa aku masih sedih? Aku pun menjawab apa adanya. Aku harus menerima perasaan sedih ini agar bisa melewati fasenya. I am a mess. 

Angka positif COVID-19 pada Senin (11/5) kemarin adalah 14.265 kasus. Angka positif COVID-19 yang diumumkan pada Selasa (12/5/2020) ini menjadi 14.749 kasus. Berarti ada lonjakan 484 kasus positif COVID-19 dalam sehari.

Semoga kita semua baik-baik saja. Aamiin. 

Diary Work From Home Day 30 : Let's Try the Ready to Heat Jejamuran Meals

Rabu, 29 April 2020

Hai gaes, masih pada puasa kan? Alhamdulillah...
Tak terasa sudah sebulan kita Work  From Home ini, kalau isolasi mandiri dan social distancing sih lebih dari sebulan ya. Sore ini di tempatku hujan, jadi aku nggak jalan kaki buat beli takjil buka puasa, tapi tetep gofood ding, hahahaha. Karena ini hari Rabu dan Wingstop ada promo Wednesday is Wingsday yang buy 1 get 1 free, akhirnya aku beli yang rasa garlic permesan sama BBQ.

Apakah aku benar-benar hanya makan itu aja buat buka puasa? Tentu saja tidak! Aku tetap bikin nasi tim dengan resep 5 sendok beras itu plus buka Jejamuran Bumbu Sambel Goreng. Niatnya sih mau buka yang bumbu lodeh atau bumbu bothok dulu, tetapi entah karena masih laper baru ngemil BBQ-nya Wingstop doang, pas sadar udah buka yang bumbu sambel goreng. Ya sudahlah. Cocok juga ternyata rasa manis ayam boneless BBQ-nya Wingstop dimakan bareng nasi hangat lauk Jejamuran rasa sambel goreng yang ada pedasnya.
Searah jarum jam: Jejamuran kaleng sampai ready to eat.
Tadi aku ga nambahin sambel walaupun punya sambal bawang kemasan yang ready to eat juga itu, lagi jaga pencernaan biar ga sakit perut kayak tempo hari. Saking laper mata beli nasi lauk oseng daging sapi yang pedes banget, akhirnya semalaman sakit perut ga bisa tidur. Alhamdulillah pas sahur udah normal dan hari berikutnya bisa lancar puasa lagi.

Angka positif COVID-19 pada Selasa (28/4) kemarin adalah 9.511 kasus. Angka positif COVID-19 yang diumumkan pada Rabu (29/4/2020) ini menjadi 9.771 kasus. Berarti ada lonjakan 260 kasus positif COVID-19 dalam sehari.

Angka pertambahan kasus positif menurun dibanding kemarin. Semoga ini pertanda baik dan virus Covid 19 segera hilang dari bumi ini, aamiin. Stay healthy ya friends, jangan lupa minum madu biar tetap fit menjalani Ramadan ini.

Diary Work From Home Day 24: Tips Masak Nasi untuk Satu Porsi Makan

Selasa, 21 April 2020

Hai gaes, apa kabar Work From Home di tempat kerja kalian? Diperpanjang kah?

Seharian ini aku sibuk mempersiapkan sebuah acara bersama rekan-rekan kerja yaitu bedah buku online melalui aplikasi Zoom. Hari yang lumayan menguras energi dan emosi walaupun #dirumahaja, hahahaha. 

Nah tetiba temanku ada yang membagi postingan Instagram ini. Mungkin karena kemarin aku bercerita pengalaman menanak nasi dengan magic com dalam porsi kecil yang malah menjadi kering dan menempel di panci. Sayang kan, jadi mubazir karena tidak semua bisa termakan. Aku sangat berterima kasih dan langsung memesan secara online mangkuk porselen yang sekiranya ukurannya cukup untuk bisa masuk di dalam magic com kecil ala anak kos.

Sumber: https://www.instagram.com/ayu.iras/
Angka positif COVID-19 pada Senin (20/4) kemarin adalah 6.760 kasus. Angka positif COVID-19 yang diumumkan pada Selasa (21/4/2020) ini menjadi 7.135 kasus. Berarti ada lonjakan 375 kasus positif COVID-19 dalam sehari.

Angka positif Covid 19 kembali naik, kebijakan Work From Home pun juga diperpanjang. Ini memang bukan hal mudah untuk kita jalani, tetapi kita harus yakin pasti akan berakhir dengan happy ending, aamiin.

Diary Work From Home Day 18 : Nakedpress Detox Juice

Senin, 13 April 2020

Happy Monday guys! How's your PSBB?

Pagi tadi aku nggak jalan-jalan gaes karena jam 8 begitu grup dimulai dengan laporan suhu badan langsung berlanjut dengan progress kerjaan pekan lalu. Entah kenapa hari ini terasa banyak kendalanya, jaringan yang kalau akses aplikasi kantor mendadak lemot padahal buat streaming musik di Spotify lancar jaya, tetiba locking dan musti restart biasanya sih laptop tua ini juga bertingkah begitu tapi sekali doang dalam sehari dan ga perlu restart tapi hari ini istimewa sampai tiga kali locking, dan terakhir hasil kerjaan ga bisa diunduh dong pdf-nya padahal udah restart laptop dan clear chance & history.

Oke daripada bete sama kerjaan seharian yang bikin berasa ga produktif, mending aku share pengalaman minum jus detox-nya Nakedpress aja ya! Ceritanya tetiba impulsif order one day detox juice di websitenya dan pilih detox level maag. Paket ini seharga 320 ribu rupiah plus ongkir 20 ribu jadi totalnya 340 ribu rupiah dan terdiri dari 8 botol yaitu:
  1. Rainforest juice yang isinya kale, horenzo, romaine, timun, apel, dan chia seed. 
  2. Endless summer juice yang isinya wortel, apel dan jahe.
  3. Summer passion juice yang isinya bit, wortel dan apel.
  4. Chia seed pudding yang isinya chia seed, sunflower seed, cranberry, kismis, cashew milk.
  5. Green fairy juice yang isinya kale, romaine, kailan, timun dan apel.
  6. Heart beet juice yang isinya bit, semangka merah dan timun.
  7. Rainforest juice lagi.
  8. Sunrise juice yang isinya cashew, kurma, vanilla, garam laut, dan wortel.
Aturan minumnya seharian kita minum satu botol per 1-2 jam dibarengi air putih. Kalau merasa lemes banget atau punya riwayat tekanan darah rendah, ditambah dengan pisang/apel/pepaya. Paketnya aku pesan dan bayar pada hari Kamis dan dijadwalkan pengiriman pada hari Sabtu, mulai jam 7 pagi. Beneran dong, 7.20 udah dateng paket jusnya. 
Menurutku jusnya enak, pernah aku beli salah satu variannya di mall. Seharian waktu minum jus itu badanku lumayan enteng karena lancar BAB juga. Aku udah nothing to loose sih kalau emang badanku ga kuat ya aku bakal tetep cheating makan. Tapi alhamdulillah lancar seharian walaupun ada yang molor ga sesuai jadwal minum yang 2 jam sekali itu karena ketiduran.

Cuma efeknya di badanku setelah itu adalah aku sariawan, mungkin aku kurang minum air putih karena berasa nggak haus kan abis minum jus, jadi minum air putihnya sedikit. Lalu sehari setelah itu waktu pulang jalan pagi rasanya lemes, mual, pingin muntah dan kayak mau pingsan. Kayaknya beneran deh sehari setelah minum jus detox ini harus makan yang proper, bukan kayak aku yang malah jalan pagi dulu sebelum sarapan apapun kecuali minum air putih, hahahaha. Ya, itulah pengalamanku mencoba detox pakai jus. Buat teman-teman yang pingin coba juga, silakan!

Angka positif COVID-19 pada Minggu (12/4) kemarin adalah 4.241 kasus. Angka positif COVID-19 yang diumumkan pada Senin (13/4/2020) ini menjadi 4.557 kasus. Berarti ada lonjakan 316 kasus positif COVID-19 dalam sehari.
Ayo teman-teman jaga kesehatan ya, jaga kebersihan dan makan yang teratur dengan gizi seimbang. Semoga kita sehat selalu dan wabah Covid 19 ini segera berlalu, aamiin.

Diary Work From Home Day 5 : Bakso Aci Ciomy

Senin, 23 Maret 2020

Helo gaes, how are you today? Sehat-sehat semua kan?
Ini sudah pekan kedua, hari kelima Work From Home di kantorku. Tadi pagi aku melaporkan suhu tubuh 36,5  derajat Celcius. Sebenarnya sudah sejak hari pertama WFH diwajibkan mengisi form monitoring kesehatan sih, cuma hari Selasa itu aku beli online di JD ID kok nggak datang sampai hari Jumat. Padahal biasanya JD ID paling gercep. Malam transfer hari berikutnya dah sampai. Akhirnya Minggu siang kemarin baru spamming di Tokped nanya satu per satu dulu mana yang bisa delivery hari itu juga pakai ojol. Alhamdulillah maghrib sampai juga si paket mungil yang dinanti. Langsung dicoba sekalian buat ngisi form monitoring kesehatan.

Hmmm selama WFH ini kayaknya aku banyak begadang karena siang bisa boci #eh. Lalu malamnya begitu lagi baru bisa tidur di atas jam 1 dini hari. Ga bener ini bikin pening di siang hari trus mau ga mau ketiduran. Ya namanya di kos kan ruang gerak terbatas ya. Pegel ngadep laptop niat rebahan bentar eh ketiduran. Aduh maaf tidak baik untuk dicontoh ya. Mulai malam ini aku akan berusaha tidur lebih awal. Eh, sebelum ganti hari maksudnya.

Pekerjaan hari ini aku santai karena udah dicicil kemarin. Alhamdulillah lancar. Aduh aku merasa ga terlalu produktif gitu lho, karena ya kerjaan yang gitu doang sebenernya biasanya aku kerjakan sejam dua jam aja udah mencapai target asal aku fokus. Makanya aku usaha buat update blog tiap hari juga biar lebih produktif dan ada ide baru, ga tumpul gitu, huhuhu. Hmmm buat sesama anak kos mungkin aku bisa share stok makanan aja ya hahahaha.

Selain bermodalkan sebuah magic com mungil, aku stok bahan makanan kayak beras, mie instan, telur, abon, dan baru kepikiran bakso aci sih yang enak menurutku yang merk Ciomy. Dulu waktu di Palu ada senior namanya mbak Aulia yang jualan Ciomy jadi kami sering beli. Lumayan bisa jadi selingan biar ga melulu Indomie ya hahahaha. Bakso aci Ciomy ini buatan Garut, ada beberapa rasa yaitu ayam, keju, jando (tetelan sapi) dan mix dari ketiga rasa tersebut. Harganya 20 ribu per cup belum termasuk ongkir. Bakso Aci Ciomy kalau disimpan pada suhu ruang bisa tahan selama sekitar 10 hari. Kalau disimpan di kulkas bisa tahan sampai 88 hari, bahkan kalau disimpan di freezer bisa tahan sampai 189 hari. Rasanya lebih enak daripada baso aci yang aku beli di gofood tadi karena aku lebih suka semua bahan direbus jadi satu meskipun yang gorengan juga. Nah ternyata yang di gofood itu engga, yg direbus cuma baso acinya doang. Alhasil menurutku masih keras banget ya huhuhuhu.
Ciomy
Daya tahan Ciomy bisa sampai 189 hari kalau disimpan di freezer.
Buat teman-teman yang lebih luas tempat tinggalnya atau di kosnya nyaman buat masak sendiri, mungkin bisa stok lebih banyak bahan misalnya sarden, siomay, kebab, pasta dan sausnya, nuget, donat, risol mayo, sosis, bakso, dan lain-lain. Aduh aku laper gegera nyebutin nama makanan hehehe. Boleh ditambah stok bubuk cabe buat nambah level pedes di masakan berkuah biar makin selera makannya. Kalau stok cabe asli kan gak tahan lama ya, secara masaknya kadang-kadang aja.

Angka positif COVID-19 pada Minggu (22/3) kemarin adalah 514 kasus. Angka positif COVID-19 yang diumumkan pada Senin (23/3/2020) ini menjadi 579 kasus. Berarti ada lonjakan 65 kasus positif COVID-19 dalam sehari.  

Gaes, di setiap postingan Diary WFH ini aku sengaja menyisipkan info angka positif COVID-19 di postingan untuk reminder agar kita makin hati-hati dan tetap optimis menjalani hari. Semangat sehat! Semoga wabah ini segera berlalu, aamiin.

Witing Tresna Jalaran Saka Kuliner

Senin, 21 November 2016

Sebuah pepatah Jawa berbunyi, "Witing tresno jalaran saka kulina" yang bisa diartikan sebagai "Cinta ada karena terbiasa". Kalian pasti mengira aku sedang baper-bapernya. Memang iya, untuk pertama kalinya setelah setahun di sini, aku baper pada ikan bakar, hahaha.

Sudah menjadi kebiasaan untukku menginginkan menu makanan yang berbeda setiap hari. Bahkan kalau lama tak pulang, aku bisa kangen banget pada bubur gudeg atau nasi liwet. Jangankan berada jauh seperti ini. Di rumah saja aku bisa kangen makanan di Jogja. Di tempat nenek, aku bisa kangen makanan di rumah, atau sebaliknya. Ya, nyebelin memang. Mamahku melabeliku "ilat keplek", aku tak mau makan dengan menu yang sama dalam beberapa hari alias nget-ngetan kalau di rumah, kalau di kosan sih ya daripada nggak makan hahaha.

Sama seperti di sini. Di antara menu khas daerah Palu yang ada, belum ada yang aku suka. Biasanya aku memakannya di acara tertentu saja. Sebut saja utadada, kapurung, ikan bakar, bubur Manado, binte, sop saudara, cotto, kaledo, ayam bakar Madamba, dan lain sebagainya. Tak ada yang benar-benar menarik perhatianku, kecuali bubur Manado karena pada dasarnya aku penyuka bubur. Pun aku paling jarang makan ikan. Padahal ikan laut di sini masih sangat segar, baru mati sekali. Tidak seperti di Jawa yang ikannya sudah mati berkali-kali.

Tetapi entah mengapa, sejak pekan kemarin aku ingin sekali makan ikan bakar. Memang sering aku tetiba ingin sekali makan sesuatu seperti orang ngidam. Sampai sempat terpikir membuat jamuan rapat kantor dengan menu ikan bakar di RM Sidrap di Jalan Basuki Rahmat. Tetapi urung dilakukan karena nggak yakin mereka bisa take away, kan biasanya ikan dihargai secara kiloan.

Seiring waktu berlalu, dan jamuan rapat akhirnya terwujud dalam bentuk pasta dan dada KFC. Meski pasta dengan saus creamy adalah favoritku, ternyata tak menghilangkan keinginanku menyantap ikan laut bakar. Selesai acara Kelas Inspirasi Palu #1 kemarin, kami makan bersama di RM Sauna Alam Pratama dengan menu ikan mujair bakar. Tumben aku bisa bersih memakannya. Biasanya makan ikan cuma sekedarnya saja.

Penampakan ikan bakar RM Sidrap yang difoto ala kadarnya keburu lapar, hahaha.
Kupikir keinginanku makan ikan bakar sudah tuntas. Ternyata aku salah, di akhir hari, aku spontan mengajak Itty makan ikan bakar di RM Sidrap dekat kantor. Beruntung dia mau menemaniku. Karena apalah arti makan nikmat kalau sendirian. Kami memilih jenis ikan batu dan dibakar dengan rasa yang pedasnya sedang. Aku memang tak bisa makan terlalu pedas, bisa membuat perut terasa panas dan bisa memicu kambuhnya maag.

Selesai makan rasanya bahagia sekali, seperti rasanya lebih enak dari biasanya. Mungkin efek ngidam yang terpenuhi. Mungkin aku sudah mulai jatuh cinta pada ikan bakar. Mungkin levelnya sudah naik dari "nggak suka" menjadi "ya, boleh deh" hahaha. Mungkin ini bekal empat tahun ke depan untuk menikmati kehidupan di sini. Mungkin ini tandanya aku mulai betah di sini. Mungkin.

Nuggets Ikan Champ

Sabtu, 25 Juni 2016

Weekend gak kemana-mana selain nganter jemput senior ke bandara kemarin sore dan tadi pagi. Daripada tidur lagi, iseng dance workout di ruang tamu mumpung masih sepi. Setelan volume juga sengaja ga dikencengin takut ganggu warga mess yang lain. Setengah jam berlalu, sarapan lauk nuggets ikan merk Champ yang dibeli tempo hari.

Pertama kali coba nuggets yang bukan daging ayam. Karena dilarang kebanyakan makan daging ayam potong dan olahannya sama dokter, atau jerawat itu bakal pada muncul lagi.

Baunya amis waktu gorengnya, teksturnya lebih kenyal daripada nuggets ayam. Rasanya biasa saja. Karena aku makan pakai saos dan mayones Mayumi kok rasanya jadi pahit di akhir. Atau mungkin perasaanku saja yang tak terlalu suka saos.

Pingin buat stok aja makannya nggak sering, eh malemnya laper banget. Padahal sore udah makan spaghetti. Mau masak nasi dikit, eh magic com nya udah ada yang pakai. Mungkin ada yang mau sahur besok. Akhirnya goreng nuggets dan bikin hot chocolate Cadbury. Barulah perut tenang, pusing hilang.

Selamat malam selamat menjelang hari Senin esok hari. Kalau lapar makan, kalau bosen bilang, jangan langsung ngilang.

Mie Aceh Chi Rasa

Rabu, 11 Februari 2015

Selamat siaaang...! Sudah lunch semua kan?

Aku mau cerita pengalamanku makan mie Aceh di Jogja. Kalau biasanya makan di Bungong Jeumpa yang memang sudah banyak cabangnya, kali ini aku mencoba tempat yang baru. Tempatnya bukan rumah makan macam Bungong Jeumpa, melainkan warung tenda gitu di depan Bimbel Neutron, sebelah barat Asrama Ratnaningsih, Sagan.

Di situ tersedia banyak pilihan mie dan nasi goreng khas Aceh. Pilihan mie nya pun bermacam-macam. Ada mie goreng, mie tumis, dan mie rebus, dimulai dengan harga 11 ribu per porsi. Kemarin aku pesan mie rebus cumi. Kuahnya mantap, pedas dan kental santannya. Aku sampai gak kuat ngabisin sendiri dan minta bantuan temenku buat ngabisin secara aku sebenarnya gak suka makanan pedas. 

Mie Aceh Chi Rasa pelanggannya banyak banget sampai antri gitu buat dine in nya, makanya banyak juga yang belinya dibungkus. Rasa rempah dan pedasnya lebih nendang dari masakan khas Aceh yang ada di Bungong Jeumpa. Tapi memang cuma ada nasi dan mie, gak ada pilihan martabak macam di Bungong Jeumpa. Karena tempatnya masih di warung tenda, jadi banyak pengamen yang datang dan menurutku hal seperti itu mengganggu kenyamanan makan, hehehe.

Yuk ah, yang hobi makan santan dan pedas, buruan ke Chi Rasa! Apalagi di musim hujan begini, pasti lebih terasa nikmat pedasnya! :D

Bakmi Jawa Pak Rukijo

Senin, 09 Februari 2015

Hai, selamat hari Senin, jangan pada males yaaa!

Kali ini aku mau cerita tentang kuliner di Jogja, tepatnya di daerah Wirobrajan, sebelah barat RS Ludira Husada. Di situ pas di pertigaan, ada Bakmi Jawa Pak Rukijo. Itu bakmi jawa enaaaak banget! Masaknya pakai anglo gitu jadi sedap banget.

Bakmi godog

Konon Bakmi Pak Rukijo ini udah ada sejak puluhan tahun lalu dan demi mempertahankan eksistensinya, sempat berpindah-pindah tempat di sekitaran kota gudeg. Ada empat menu yaitu bakmi godog (rebus), bakmi goreng, nasi goreng, dan magelangan. Nasi gorengnya enak, gak berminyak dan pedesnya berasa apalagi buat aku yang emang gak doyan pedes.

Biasanya Bakmi Pak Rukijo ini dicampur antara bakmi bihun sama bakmi kuning. Tapi kalau mau satu jenis doang mungkin bisa kali yaa rikues ke penjualnya. Kalau aku sih seneng aja yang campuran gitu. Harga per porsinya 9 ribu. Minumannya 2 ribu. Jadi biasanya makan di sana habis 11 ribu.


Bakmi Pak Rukijo bukanya sore habis maghrib sampai malam. Pelanggannya lebih banyak take away tapi ada juga yang dine in. Yang suka bakmi Jawa yang gurih, cobalah mampir ke Bakmi Pak Rukijo ini, apalagi kalau pas lagi hujan dan pingin yang hangat. Mantaplah! :D

Kimchi Korean Restaurant

Rabu, 12 November 2014

Akhirnya aku bisa icip-icip lagi setelah sekian lama, hahaha. Yang lebih istimewa, kali ini aku ditemenin sama Mbak Puput dan Fahmi, setelah seharian kami muter-muter Solo, hahaha. Pakai ada adegan Fahmi bobok, nangis, minta digendong dan pulang juga, tapi untungnya aman terkendali dan happy ending :D

Udah lama sih pingin nyobain resto korea di Solo. Sebenarnya ada 2, satunya Daegu Korean Grill di Jalan Dr. Radjiman tapi sepertinya mahal dan kantong kami belum cukup buat kesana. Akhirnya kami searching dan nemu tempat yang lebih friendly harganya, hahaha. Namanya Kimchi Korean Restaurant tempatnya di Jalan Veteran timur SD Al-Islam 2 Jamsaren. Tempatnya bersih, keliatan lux, tapi di luar gak ada tukang parkirnya jadi parkir gratis dan helm dibawa masuk yaaa..! :D

Kita duduk di kursi yang empuk, maksudnya biar bisa naruh Fahmi bobok disitu tapi dia malah bangun. Trus banyak cermin gede yang bikin over narsis gitu, hahaha. Kita pilih Jajangmeyon sama Bento Box soalnya aku nyari menu yang aman buat balita macam Fahmi. Secara menu Korea kan kebanyakan asam sama pedas gitu rasanya. 

Setelah pesen makan, kita foto-foto narsis dulu, eh, mbaknya dateng bawain kudapan. Lumayan ada buahnya yang langsung abis dilahap Fahmi. Nunggu makanan utamanya lumayan lama sih, sampai si Fahmi bete gitu minta pulang. Akhirnya dialihin perhatiannya sama mbak Puput, diajakin foto-foto baru deh dia semangat lagi. Lumayan Fahmi lahap maemnya hampir sebento box itu bisa habis semua.

P. S. Sebenarnya ini postingan lama banget tapi hampir lupa ga dikelarin tulisannya jadi sebagian besar udah menguap dari ingatan. Lupa range harganya berapa tapi seingatku kita bertiga (2 porsi) abisnya sekitar 60-70ribu. 

Makan Nikmat atau Nikmat Makan?

Kamis, 22 Mei 2014

Hello world! Long time no see..
Mumpung lagi selo gak ada suara berisik yang nggangguin, dan abis makan sendirian, tetiba kepikiran 'makan nikmat atau nikmat makan' hahaha...

Makan nikmat mungkin bisa diartikan sebagai makan makanan favorit kita, makan makanan enak yang harganya setara sama uang jajan sebulan, makan makanan yang selama ini cuma bisa kita liat di tv, dan sebagainya. Intinya makan nikmat adalah saat dimana kita makan makanan yang istimewa entah karena rasanya, bentuknya, moment-nya atau apalah yang bikin makanan itu jadi terasa lebih special daripada makanan yang biasa masuk ke perut kita sehari-hari.

Kalau buat aku pribadi karena aku suka pasta mungkin aku akan mendefinisikan makan nikmat sebagai saat dimana aku menyantap macaroni, lasagna dan teman-temannya. Hmmm... So yummy..! Tuh kan jadi kepingin ke Koki Joni ._.
Kalau menurut kalian makan nikmat tuh apa gals?

Terus kalau nikmat makan adalah makanan yang bisa masuk ke tubuh kita saat kita lapar, misalnya tetiba ada semangkuk bakso di depan mata. Jadi walaupun kita gak suka-suka banget sama bakso ya akhirnya masuk perut juga tuh makanan. Intinya seperti nikmat Tuhan dalam bentuk makanan yang membuat kita bisa bertahan hidup. Nasi, sayur, tahu, tempe, telor, ayam, dan ikan asin nah lho jadi kepingin lagi yang biasa kita makan sehari-hari termasuk ke dalam kategori nikmat makan ini guys.

Hmmm... Tapi aku jadi kepikiran sesuatu nih.. Gini, kalau kita mau menelisik lebih dalam sebenarnya kedua frasa ini bisa berhubungan, bukan hanya karena terdiri dari dua kata yang sama, tetapi juga karena ini bisa jadi sebuah sebab-akibat. Let me make a theory, nikmat makan bisa jadi makan nikmat, tapi makan nikmat belum tentu jadi nikmat makan. Misalnya, tadi aku makan pizza, which is something that i seldom eat karena tinggalnya di Indonesia ya, kalau tinggal di luar negeri ya beda lagi. Jadi saat aku makan pizza di Indonesia itu bisa dikategorikan makan nikmat karena makanan itu special setidaknya buatku hahaha. Tetapi sejurus kemudian aku makan nasi sama telor, yang mana itu adalah makanan biasa dan kita sebut saja nikmat makan. Jadi sudah jelas kan makan nikmat dan nikmat makan bedanya apa? So, let me continue this description...!

Sebenarnya si pizza yang aku sebut makan nikmat itu masih ada 1 pan utuh dimana aku bisa saja menghabiskannya sendiri, tetapi... Aku jadi gak nafsu dan pilih makan nasi telor yang merupakan menu biasa aja. Tadi waktu aku makan pizza bareng sama keluargaku which is the special people for me dan bikin moment makan pizza itu jadi lebih special. Jadi pizza tanpa keberadaan keluargaku jadi biasa aja, bukan lagi makan nikmat buatku. Tetapi nasi telor yang cuma sekedar nikmat makan malah bisa jadi makan nikmat kalau aku memakannya bareng orang spesial di sekitarku. Jadi ini lebih ke momentnya dong ya? *ngangguk-ngangguk sendiri*

Alasan moment yang tepat dan dengan siapa kita makan ini sebenarnya sudah aku rasain selama beberapa tahun ini. Sewaktu ngekos, aku sering nyobain tempat makan baru, sebenarnya lebih ke aku bosen sama makanan di warung sekitar kos yang itu-itu aja dan itu bikin aku gak selera makan. Jadi demi mempertahankan nafsu makan, aku menggoda diriku sendiri dengan berbagai pilihan lain yang kadang menyakiti kantong, hiks... Jadi sewaktu ngekos tuh makan ya karena kita butuh tenaga, jadi harus dipaksain mbuh piye carane biar tetep ada makanan yang masuk ke tubuh kita. Tetapi kalau di rumah yang notabene makanannya itu-itu aja aku ya maem-maem wae gak pingin jajan keluar. Apalagi dengan kalimat sakti simbok yang selalu bilang "duit segitu daripada buat makan di mall cuma buat dua orang mending buat belanja di pasar udah komplit dapet sayur, daging sama buah bisa empat sehat lima sempurna gak cuma dapet junk food aja."

Nah lho, mak jleb kan omongan simbokku? Itu yang bikin aku sukses gak jajan di luar. Kuncinya cuma 'ingat keluarga' hehehehe... Terus ya temen kosku juga pernah bilang kalau kita makan di kos rasanya gak senikmat di rumah karena kita makannya sendirian. Iya sih, aku kalau di rumah cuma sama Fahmi dan dia tidur sedangkan kami belum makan siang, pasti aku lebih pilih mainan laptop sambil nunggu Fahmi bangun baru nanti kami makan bareng. 

Yah, kesimpulannya jadi suatu nikmat makan bisa jadi makan nikmat kalau kita menikmatinya at the right moment with the right ones. Jadi kalau mau makan nikmat dengan nikmat makan a.k.a makanan ala kadarnya yuk kita makan bareng orang-orang tercinta di sekitar kita, bisa pasangan, orang tua, keluarga, atau teman-teman. Ini membuktikan kalau manusia adalah makhluk sosial yang demi mendapatkan kenikmatan dalam makanan pun makannya harus bersama-sama. Apalagi kalau kembulan (beberapa orang makan bersama dalam satu wadah) hmmm... saking nikmatnya pasti kita kayak gak pernah kenyang, pingin nambah lagi dan lagi.

Itulah teori sotoy dari seorang tukang makan yang sangat mengharap bisa mencapai berat badan ideal. Yuk kita makaaaaan..!

A Day With My Beloved Ones

Minggu, 02 Maret 2014

Ceritanya hari Sabtu kemarin aku rencana mau pergi bareng sama Mbak Puput. Walaupun sekabupaten tapi jarak rumah kami dari ujung ke ujung, jadi ya sama aja gak bisa sering-sering ketemu. Perjalanan dari rumahku ke rumahnya aja sejam, maklum lah dari ujung selatan ke ujung barat. Apalagi cuaca di Solo seringnya siang panas banget terus sore sama malam hujan. Makin lengkap deh alasan buat tetap ngendon di goa aja, hahahaha..

Awalnya kami mau ketemu di Sami Luwes aja dengan agenda setelah itu ke pameran komputer di Center Point, mampir ke rumah Dita, nyamperin anak-anak Impactus yang lagi ketemuan sama nyobain sebuah restoran Korea bernama Kimchi. Tapi semuanya berubah ketika negara api menyerang. Fahmi minta ikut serta dan aku gak mungkin bawa dia sendiri motoran. Kalau mau naik bis kasian Fahmi nanti capek diajak ke berbagai tempat di Kota Solo. Akhirnya dengan segenap kerendahan hati aku minta mbak Puput ke rumahku dulu biar kita bisa motoran bertiga. Karena mbak Puput adalah ibu peri yang diutus ke dunia maka dia mengabulkan permintaanku. Thanks so much mbaaak *hug

Akhirnya kami berangkat dari rumahku sekitar jam 11 siang. Tujuan pertama ke Sami Luwes dan ternyata disana antriannya bejibun masya Allah. Kami baru keluar dari sana sekitar jam 1 lebih 15 menit. Setelah itu kami mampir di Rest Area, tempat anak-anak yang udah pada kumpul duluan. Gak lama sih, cuma sampai jam 2 kami pamit. Tujuan berikutnya adalah rumah Dita di Pajang. Kami disana numpang sholat dan leyeh-leyeh. Sumpe capek banget aku gak biasa motoran tiba-tiba jadi tukang ojek keliling Solo. Pengennya numpang boci juga, tapi itu tak mungkin. Aku harus ingat perjalanan yang masih panjang itu.
Foto dulu biar Fahmi gak bete :p
Karena aku cuma butuh beli fan dan cairan pembersih laptop akhirnya Dita menemaniku ke toko dekat rumahnya. Iyalah daripada ke pameran, capek lagi nanti muter-muternya. Lumayan lho di toko itu harganya terjangkau juga. Fahmi dan Mbak Puput bisa istirahat sebentar bersama adiknya Dita, Dinda. Aku lihat Fahmi sangat adaptif disana, gak tau malu buat ambil jajanan, ikut wudhu tapi aku tau sebenarnya dia pingin main air keran, plus tidur-tiduran santai di depan tv. Sumpe bukan aku yang ngajarin lho ya, hahahaha..

Sekitar jam 4 kami pamit pulang dan mampir ke tujuan utama yaitu Kimchi Korean Restaurant. Letaknya di Jalan Veteran 190 Surakarta. Sampai disini Fahmi ternyata udah bobok dong ya, kayaknya dia capek banget abis jalan-jalan seharian. Sempet nangis juga karena dibangunin dari tidurnya, untung pengunjung disana gak banyak, jadi gak terlalu merusak suasana, hehehe..

Akhirnya kami pulang dan sampai di rumah menjelang maghrib. Mbak Puput jadi gak pulang karena hujan. Tambah panjang aja quality time kami dan waktu capernya si Fahmi, hahaha.. Makasih banget ya mbak udah mau direpotin dan diajakin momong Fahmi yang sama sekali gak kalem itu. We love you! :*

Rest Area: Tempat Nongkrong yang Nyaman di Saku

Hello world!

Sekarang aku jalan-jalannya udah gak di Jogja aja, tapi juga di kota sendiri. Karena minim pengalaman tempat nongkrong yang asik dan terjangkau jadi aku manut aja waktu teman-teman Impactus ngajakin kumpul di Rest Area. Karena sama sekali belum pernah mendengarnya aku tanya ancer-ancernya dimana. Ternyata di Jalan Kebangkitan Nasional no. 60 Surakarta. Dekat pohon beringin di Penumping itu lho, sebrangnya Panties Pizza.

Tempat ini sebenarnya kayak tempat jualan jus biasa gitu cuma lebih luas. Dari teras rumah sampai di luar gerbang diberi peneduh dan meja kursi gitu. Berasa di cafe, hahaha.. Harganya standar kok buat kantong pelajar dan mahasiswa, jusnya mulai 6k dan ada makanan juga mulai dari snack kayak camilan, roti bakar sama french fries gitu tapi ada makanan lebih berat macam mie ayam, timlo, indomie goreng juga. Yang lebih penting, disini dilengkapi dengan fasilitas wifi & colokan listrik. Emang itu sih yang dicari, tempat nongkrong murah, nyaman, wifi & colokan, hahahaha.

Ini hasil belajar jepret si Fahmi (3 tahun)
Tapi bukanya ga full day teman-teman, cuma mulai dari jam 11 siang sampai jam 4 sore aja. Jadi buat kalian yang mau ngumpul kerja kelompok sama teman-temannya bisa banget kesini daripada bosen di kampus doang yang makanan di kantinnya cuma itu-itu aja, hohoho. 

Kemarin aku sama Fahmi & Mbak Puput sempat mampir kesana nyamperin anak-anak yang lagi ngumpul. Kita cuma pesan dua gelas jus melon sama ngabisin sebungkus camilan. Cuma 13k aja lho, murmer kaaaan? :D

Ngidam Koki Joni Pasta & Turkey

Hmmm.. Siapa sih anak gaul Jogja yang gak kenal sama Koki Joni? Itu lho, tempat makan enak yang ada di Jalan C Simanjuntak Gang V Jogja, ancer-ancernya gang sebelah MAN 1 Jogja itu masuk ke barat. Gak jauh kok, setelah bimbel Neutron.

Waktu masih awal buka aku juga gak terlalu ngeh, pikirku ah paling kayak pasta yang lainnya, gitu-gitu aja. Tapi begitu ada adik kos yang udah nyoba kesana, aku tanya tuh, harganya berapaan, menunya apa aja, enak gak, kenyang gak? Hahahaha.. Maklum perut ternak cacing naga jadi bawannya pengen yang jumbo gitu :p

Untung dia pengertian, dia dengan sabar mau cerita pengalamannya makan disana, dan ditambah 'buatku sih kekenyangan, tapi buat mbak Tika gak tau ya, hahaha' bikin aku makin penasaran aja. Aku lupa kapan pertama kali kesana, tapi yang jelas sejak saat itu kalau ada yang tanya apalagi mau nraktir aku pasti kasih Koki Joni sebagai rekomendasi.

Menurutku masakannya enak, apalagi yang khas adalah mereka pakai daging kalkun. Gak banyak kan ya resto yang bikin menu kayak gitu? Tempatnya joglo gitu, mirip ama Pastagio tapi aku belom pernah kesana, baru liat di foto doang, hiks ada mushola & parkir yang luas juga. Biasanya aku kalau kesini pesen Baked Mac, pasta panggang yang creamy gitu, lumer di mulut deh. Porsinya lumayan pas kenyangnya buat perut cacing naga kayak aku. Tapi kalau teman-temanku sering gak abis kalau makan disini, hahaha..
Udah gak sabar pengen santap! :9
Karena udah ngiler banget selama di rumah berbulan-bulan gak ketemu pasta, akhirnya setelah wawancara geje dan detik-detik genting sebelum berangkat ke Cirebon kemarin aku sempet-sempetin buat kesini. Udah gak bisa ditahan lagi deh ngidamnya, hahaha. Tapi gak seperti biasanya yang hampir selalu pesan Baked Mac, kemarin aku pesan Creamy Seafood Basil (28k) sama minumnya hot tea (5k) as usual biasa nenek-nenek gak bisa minum es hahaha..

Aku pilih yang creamy biar gak diprotes sama perut yang super sensitif sama rasa pedas dan asam ini. Yang paling aku suka disini adalah pastanya gak bikin eneg, jadi bisa pas gitu antara kenikmatan rasa dan porsinya. Biasanya kan pasta suka disajiin cuma seuprit gitu ya, atau kalau gak ya bikin eneg alias rasa kenyang yang semu, baru makan dikit udah berasa kenyang tapi gak lama kemudian bisa laper lagi. Tapi kemarin agak beda rasanya. Entah aku yang laper atau saking kangennya sama Koki Joni jadi porsinya berasa gak seperti biasanya. Masih kurang gitu, tapi kalau mau pesen lagi udah buru-buru mau ke Stasiun Tugu biar ga ketinggalan kereta, hahaha.. See you @KokiJoni! :D

Tomodachi Takoyaki

Selasa, 18 Februari 2014

Setelah berminggu-minggu cuma bisa ngelap iler kalau lagi online, akhirnya kesampaian juga jajan Tomodachi Takoyaki. Tapi sayang cuma bisa ngicip takoyakinya aja soalnya okonomiyakinya udah habis. Bersama kedua adek lelaki yang ganteng, meluncurlah aku ke depan SMA Al-Islam 1 Surakarta di Jalan Honggowongso. Kabarnya, Tomodachi Takoyaki ini punya beberapa cabang, yaitu di depan Smalsa, Pajang, Kampus ISI, Cafedangan Manahan, Mojosongo, UMS sama Car Free Day. Katanya sih mau nambah cabang lagi di Gading, tapi belum tahu kapan.

Ternyata... Isiannya bisa di-mix sodara-sodara, jadi bisa pilih beberapa rasa dalam satu porsi, hahaha.. *girang* Ada takoyaki isi kornet, cumi-cumi, tuna, keju, kepiting, sama udang. Terus okonomiyakinya ada keju dan campur. Harganya 10-11 ribu aja. Karena bingung mau pilih rasa apa, akhirnya kami beli 3 porsi campur semuanya. Jadi bisa rata deh icip-icip rasanya :D

Tomodachi Takoyaki
Dari segi rasa sih enak, soalnya lupa kapan terakhir makan Takoyaki, jaman masih di Jogja. Kayaknya sih rasanya sama hahahaha. Bagusnya sih dia gak kopong ya, jadi bulatan takoyakinya padat berisi gitu, bikin kenyang! That's the point, hahaha..

Pengen lagi sih tapi belom ada kesempatan buat jajan dan males banget keluar rumah di saat jalan masih berdebu gini. Penasaran sama cabang yang di Cafedangan Manahan karena konon disana menunya lebih lengkap. Gak cuma takoyaki sama okonomiyaki aja tapi juga ada sushi sama onigiri *ngiler*

Bisa dibilang recommended lah ini, apalagi buat yang suka ngemil tapi gak suka cemilan PHP yang gampang bikin laper lagi, hohoho. Buat kalian yang ada di sekitaran kota Solo, monggo dicoba! :D

Mie Ongklok (bukan di) Wonosobo

Minggu, 19 Mei 2013

Ceritanya tentang Dieng kan sudah yaa.. Tinggal Mie Ongkloknya yang belom kesampaian.. Akhirnya kapan hari itu, di malam yang dingin dengan guyuran hujan, aku bisa juga nyobain mie ongklok, nggak di daerah asalnya, Wonosobo, tapi malah di Jogja, hehehe..

Waktu itu aku diajak Fita ke Mie Ongklok Bu Renny, depan Gadjah Wong Resto, Gejayan. Sebelum kesana aku laper banget, saking ga kuatnya nahan laper keburu maag, jadinya makan dulu di kosan. Pikirku mie kan gak terlalu ngenyangin ya, hahaha.

Bener aja dong, mie ongkloknya ternyata porsi mini. Porsi cemilan gitu kalau buatku, hehehe. Ya wajar sih, harganya juga murah meriah, 5 ribu rupiah doang. Sama tempe mendoan gede per bijinya 1500. Minumnya teh anget 2 ribuan. Jadi per orang cuma abis 8500. Lumayan terjangkau kan? :D

Penampakan si mie ongklok mini
Jadi mie ongklok ini terdiri dari mie kecil-kecil sama sayuran yang mendominasi yaitu kol ato kobis. Kuahnya lengket gitu, sama ditaburin remahan kacang tanah.. Agak bingung pertama kali melihatnya, mencoba menebak bagaimana rasanya. Ternyata setelah diicip sedikit kuahnya, enak juga. Gak ada yang aneh walaupun kuahnya gak seencer jenis mie yang lain. Bisa ditambah sambel buat para penyuka makanan pedas. Aku nggak tau sih di daerah asalnya porsinya seberapa, yang jelas disini mini, hehehe.. Pas buat teman ngemil di malam hari yang dingin, apalagi waktu turun hujan, karena efek kuah yang kental dan lengket itu kan bikin panasnya mie jadi awet. Yang pada penasaran juga, monggo lho dicoba..! :D
 

Me and Complaint

Rabu, 09 Januari 2013

Tidak seperti lazimnya postingan awal tahun yang berisi flashback kejadian penting tahun lalu atau resolusi tahun ini, i try not to be mainstream :p
I wanna share my experience about complaint. Something that i discuss in my thesis. Maybe it was fate if my life is always related to the complaint, haha.
So, here's the story!

Siang menjelang sore itu aku dan Lulu makan di sebuah kafe dengan voucher diskon yang akan expired beberapa hari lagi. Kalau kata Ocha sih kami fakir perdiskonan. Bodo amat yang penting bisa nyobain makanan enak, haha. Seperti cafe pada umumnya, porsinya lalala cilukba mbak-mbak diet sekali, hahaha. Sedangkan kami berdua adalah kecil-kecil cabe rawit, eh, rakus omnivora pemakan segala. Merasa tidak puas belum kenyang dengan makanan cantik di cafe itu, akhirnya kami memutuskan lanjut ke cafe selanjutnya untuk menggenapkan separuh agama isi di perut biar gak setengah-setengah kayak korban PHP, hahaha.

Sampailah kami pada cafe ke-2. Sudah pesan makanan dan minuman. Sudah menelan suapan pertama ketika hape berdering dari nomor lokal yang tidak dikenal. Aku yang pada dasarnya bolot gak suka ditelpon, akhirnya terpaksa menjawab panggilan tersebut. Samar-samar terdengar bahwa mbak-mbak di seberang adalah pegawai cafe pertama tadi dan bilang kalau voucher kami sudah expired. Aku sempat membela diri menjelaskan bahwa tanggal expired belum terjadi. Intinya kami diminta kembali lagi kesana dan membayar  dengan harga penuh makanan perdiskonan tadi.

Dengan serangan bete yang datang tiba-tiba, akhirnya aku melacak kontak layanan pelanggan penyedia layanan diskon tempat kami membeli voucher diskon itu. Kami telepon nomernya tidak ada jawaban. Akhirnya kami menghubungi lewat sms. Setelah kenyang dalam arti sebenarnya dan 'kenyang'  bete karena telepon tadi, kami memutuskan mampir ke cafe pertama dan akan membayar tagihan seperti yang diminta.

Namun sepertinya semesta tak merestui. Baru saja sampai kami di depan cafe pertama, panggilan telepon masuk dari nomor asing. Ternyata berasal dari penyedia layanan diskon yang menanyakan bagaimana kronologi kejadiannya. Setelah kami jelaskan, pihak penyedia layanan diskon berjanji akan mengkonfirmasi pada cafe pertama. Akhirnya kami nggak jadi masuk ke cafe pertama, padahal sudah tepat berada di parkirannya.

Penyedia layanan cafe kemudian menelpon kembali saat kami melanjutkan perjalanan pulang. Mereka menanyakan apakah kami jadi membayar lagi ke cafe pertama. Kami bilang kami tidak jadi masuk ke cafe pertama karena tadi mereka bilang akan menghubungi pihak cafe. Penyedia layanan cafe menjanjikan akan menghubungi lagi besok bagaimana kelanjutannya. Kami hanya bisa berharap pada janji penyedia layanan diskon agar mengklarifikasikan kepada merchant-nya. Aje gile kan kalau kita disuruh bayar lagi, rugi bandar dan gak akan klik beli voucher diskon disitu lagi kayaknya.

Sehari setelah kejadian itu tak ada panggilan masuk dari kedua belah pihak, baik dari cafe pertama maupun penyedia layanan diskon. Tapi penyedia layanan diskon sebelumnya memang sudah meyakinkan bahwa voucher masih berlaku, jadi kemungkinan terjadi miskomunikasi dari pihak merchant yaitu cafe pertama. Karena tak ada lagi kabar maka kami menganggap case closed. Positifnya kami gak harus kehilangan rupiah lagi buat cafe itu. Coba kalau kemarin kami nggak komplain dan manut-manut saja, pasti bakal sekarat isi dompetnya, hahaha.

Thanks God, we've complained! :D ($_$)

Pesan moral: tak ada salahnya kita memberanikan diri menuntut hak kita padahal kita sudah melaksanakan kewajiban sebagaimana mestinya. Cheers! :)

Get Enough with Nasi Bakar Wirobrajan!

Sabtu, 06 Oktober 2012

Awal pekan lalu, aku dan Lulu makan di Nasi Bakar Wirobrajan. Penasaran aja gimana rasanya, karena banyak yang bilang nasi bakarnya enak, dan kebetulan dia muncul di deal diskonnya diskon.com, website dimana kami mencari sesuatu yang baru untuk dicoba dengan kantong seadanya. :D

Kesan pertama, sorry to say, tapi emang begitu adanya, adalah jorok! Kami tiba saat tempatnya sepi, tidak ada pengunjung lain, tapi masih ada sisa makanan di meja yang akan kami tempati. Kemana aja pegawainya? Magabut? Kalaupun mereka nyantai karena lagi sepi gak ada customer, mbok ya itu meja-meja dirapihin dulu. Masa harus nunggu ada tamu dulu baru diberesin, bahkan kami yang meminta buat dibersihin. Apa mungkin emang sengaja gak dibersihin dulu, nunggu ada yang datang dan seakan bilang “ini lho tempat makan kami, walaupun saat Anda datang terlihat sepi, tapi tadi ada yang makan disini. Berarti laku, berarti enak”. Astaghfirullah, suudzon banget kan jadinya…

Kemudian kami memesan menu dengan memberitahu sebelumnya kalau kami memakai voucher yang dari diskon itu. Setelah ngobrol ngalor ngidul dan satu per satu meja di sekitar kami jadi penuh, kami menyadari sesuatu; pelayanannya LAMA banget! Kami menengok ke bagian dapur, dan melihat mas-mas karyawan yang berjumlah sekitar 5 orang itu malah asyik ngobrol dan bercanda satu sama lain. Kami kan jadi berasa tambah ilfeel ya, ini mas-mas pada niat kerja gak sih, kok gak berasa banget kalau pada ditungguin sama para pelanggannya. Bahkan, sepasang kekasih yang datangnya tepat setelah kami, masih belum mendapat makanan waktu kami sudah selesai makan. Parahnyaaaa...!

Waktu itu, kami mendapat titipan dari teman kos yang minta dibungkusin makan malam. Pas Lulu manggil mas-mas yang sudah selesai melayani meja lain, eh, boro-boro mendekat, masnya malah berlalu begitu saja seakan tak mendengar. Panggilan kedua ditujukan kepada karyawan lain baru mereka ngeh. Itupun tak luput bikin sebel juga. Pasalnya, waktu kami pesan mau mbungkus makanan malah dibilangin, “mbaknya kan pakai voucher, itu kan dine in only mbak, jadi gak bisa dibawa pulang”. Kami bilang, “iya mas, itu nanti kita bayar sendiri.”

FYI aja sih. Kami bukan orang baru ya didunia pervoucherdiskonan kayak gini. Kita paham betul aturan mainnya, makanya pas pesen menu dine in ini sudah disesuaikan sama kuotanya. Semacam ogah rugi gitu, harus totalnya ngepas. Jadi kalau pun kita mau membungkus untuk orang rumah, ya kita tahu harus bayar sendiri dengan harga regular sesuai yang berlaku di tempat itu.

Kami merasa pesanan kami yang baru bakal lama, secara dipesan setelah semua pesanan lain. Kami mulai berpikir, apakah sebaiknya kami tunggu, atau kami tinggal sholat dahulu, karena adzan maghrib sudah berkumandang sedari tadi. Akhirnya kami samperin mas-mas di dapur, dan Alhamdulillah pesanan kami sudah siap, tinggal dibungkus. Itu berarti kami bisa mengejar waktu maghrib yang akan segera habis. Eh, ada masalah lagi dong ya… Mas-mas yang di kasir bilang sisa uang kembalian dari voucher diskon tidak dapat diuangkan. Oke, sudah kami iyakan. Tiba saat pembayaran makanan yang dibungkus, dia bilang seharusnya nggak bisa, karena kita tadi pake voucher. Lah, padahal kan kita emang juga mau bayar sendiri itu pesenannya. Aku lupa gimana persisnya, intinya masnya itu menekankan bahwasanya kami sebenarnya nggak bisa pesen makanan yang dibungkus bareng sama makan pake voucher. Kalau masnya pinter kan tinggal dibikinin nota baru aja ya buat pesanan yang dibungkus itu. Ini kok malah ngajakin pelanggan buat berdebat. Akhirnya kami bilang, “terserah masnya aja deh” sambil membayar makanan itu.
Nasi bakar XO "arem-arem"

Nasi bakar biasa.

Kekecewaan tentang pelayanan udah, sekarang kita bahas makanannya. Aku pesan nasi bakar dengan lauk yang terpisah. Rasanya biasa saja, seperti nasi yang dibungkus daun pisang. Penyajiannya juga Cuma diberi satu sendok tanpa garpu. Kebayang dong gimana aku harus turun tangan buat menghabiskan ayam itu. Sambelnya juga sedikit, aku yang nggak terlalu doyang sambel aja sampe merasa tidak puas. Sedangkan temanku pesan nasi bakar kuali xo. Entah apa singkatan XO disini. Bentuknya nasi yang telah dicampur dengan sambal disajikan dalam mangkuk yang terbuat dari tanah liat. Rasanya seperti AREM-AREM! Persis! Menurutku, lebih terasa enak nasi bakar yang ada di Jakal deh, soalnya disana emang dibakar di pemanggangan kayak yang buat bikin sate itu. Lha disini aku lihat sendiri, mbakarnya Cuma di atas kompor gas. Pantas saja tak terasa sedap sama sekali.

Sushi unyu :9
Dengan ketidakpuasan yang maksimal, setelah sholat kami memutuskan menggenapkan isi perut dengan mencoba “Tuanmuda Cafe” yang terletak di seberang jalan dari nasi bakar marmos (marai emosi = bikin emosi) itu. Awalnya kami ingin pesan takoyaki saja sebagai dessert, tapi sepertinya perut kami masih muat juga kalau dikasih sushi. Lumayan memantapkan dengan 8 potongan dan rasa yang enak. Nasinya nggak mocar-macir kayak waktu nyobain di Sushi Kali Lima di depan Galleria Mall itu.



 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS