Pages

Tampilkan postingan dengan label Sound of My Heart. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sound of My Heart. Tampilkan semua postingan

Diary Work From Home Day 37 : Sore yang Cerah untuk Jiwa yang Sepi

Selasa, 12 Mei 2020

Pagi ini aku ke kantor tanpa minta izin ke atasanku, karena kupikir aku hanya akan mencari berkas yang kubutuhkan dan memfotonya saja setelah itu pulang. Jadi, aku hanya menghubungi petugas kebersihan yang membawa kunci ruangan untuk menemaniku selama mencari berkas. Kantor benar-benar sepi, hanya terlihat beberapa petugas keamanan berjaga seperti biasanya. Saat melewati sudut-sudut kantor di mana aku pernah bertemu dengan beliau, rasanya tak akan sama lagi. Tak akan lagi aku melihatnya dari kejauhan saat baru datang. Atau kami bertatapan mata dan aku akan sok cuek pura-pura tak melihatnya. Bodoh, harusnya aku menyapa dengan ramah seperti kepada senior lainnya.
Grieving Loss Quote by Mandy Hale
Hari ini aku benar-benar masih belum bisa kerja dengan produktif. Badanku masih sakit efek kurang tidur. Aku bahkan tidak fokus sampai melewatkan jadwal zoom meeting karena salah mengira waktu. Sore ini pun aku jalan kaki sendirian dan menggunggah foto dengan caption "Sore yang cerah untuk jiwa yang sepi" sampai seorang kawan yang tahu tangisku karena kepergian beliau kemarin bertanya apa aku masih sedih? Aku pun menjawab apa adanya. Aku harus menerima perasaan sedih ini agar bisa melewati fasenya. I am a mess. 

Angka positif COVID-19 pada Senin (11/5) kemarin adalah 14.265 kasus. Angka positif COVID-19 yang diumumkan pada Selasa (12/5/2020) ini menjadi 14.749 kasus. Berarti ada lonjakan 484 kasus positif COVID-19 dalam sehari.

Semoga kita semua baik-baik saja. Aamiin. 

Diary Work From Home Day 36 : Walau Bukan Siapa-Siapa, Rasa Sedih itu Nyata

Senin, 11 Mei 2020

Ini sudah hari Senin lagi. Awalnya aku merasa tak ingin menulis apa-apa lagi. Aku merasa tak bersemangat dan masih merasa sedih. Walau bukan siapa-siapa, rasa sedih itu nyata. Aku bahkan masih menangisi di hari kedua kemarin. Maaf ya Pak. Semoga penyesalanku tak membuat Bapak sedih juga di sana, toh Panjenengan tak sempat mengenalku.

Aku masih sulit tidur, sampai menjelang subuh baru bisa terlelap. Setiap memejamkan mata, bayangan pesan Whatsapp pada Sabtu pagi kemarin akan berkelebat. Rasa sedih itu kembali datang. Aku juga tak menyangka mengapa aku bisa sesedih ini, bahkan melebihi sedihku saat kakek kandungku berpulang. Seingatku, saat itu mataku hanya berkaca-kaca, karena aku tahu doa-doaku akan lebih menenangkan kakek di sana. Rasanya ini adalah rasa kesedihan pertamaku atas orang yang berpulang ke Rahmatullah.
Sumber: Buku Digital "Tidak Ada yang Kemana-mana Hari Ini"
Karena ini hari kerja, maka aku harus terjaga di pagi hari. Dengan badan yang tak karuan rasanya karena kurang tidur, aku melewati hari Senin ini dengan perasaan yang embuh banget. Namun setidaknya aku bisa menenangkan hatiku dengan mendoakan beliau. Aku yakin doaku pasti sampai karena kami seiman. Dalam Islam, doa untuk orang yang sudah berpulang, akan tetap sampai kepada yang bersangkutan. 

Aku harus kembali bersemangat. Aku punya hidupku sendiri yang harus ku jalani dengan hati-hati. Setidaknya kepergian beliau mengingatkanku yang hampir berumur tiga dekade ini untuk menjalani hidup dengan baik dan lebih bermanfaat untuk sesama.

Angka positif COVID-19 pada Minggu (10/5) kemarin adalah 14.023 kasus. Angka positif COVID-19 yang diumumkan pada Senin (11/5/2020) ini menjadi 14.265 kasus. Berarti ada lonjakan 242 kasus positif COVID-19 dalam sehari.

Mari menjalani hidup dengan berhati-hati dan sebaik-baiknya, agar kelak jika kita sudah kembali menghadap-Nya dapat mempertanggungjawabkan semua ini dengan baik. Tetap sehat dan semangat ya teman-teman, aamiin.

Diary Work From Home Day 35 : Sugeng Tindak, Pak Abi

Sabtu, 09 Mei 2020

Hari ini hari Sabtu, 16 Ramadhan 1441 H. Selayaknya weekend, aku bangun siang, terlebih karena sedang tidak berpuasa. Aku bangun karena mendengar adzan dan kaget ternyata sudah jam 12 siang. Memang aku baru tidur jam 2 dini hari. Seperti biasa, aku mengaktifkan jaringan internet di hp dan banyak pesan masuk di Whatsapp. Tetapi ada berita duka yang membuatku tak percaya. Pak Abi berpulang, pagi ini. Aku masih tak percaya. Aku baca chat grup yang lain, juga memberitakan hal serupa.

Innalillahi wa inna ilaihi roji'un... He gone too soon.
Allahumaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fu'anhu...

Pak Abi adalah salah seorang senior di kantor. Meskipun umur kami terpaut 15 tahun, tetapi karena sama-sama belum menikah, teman-teman di ruanganku sering menjodohkan. Belum sempat berkomunikasi secara personal, wabah covid 19 sudah membuat kami work from home. Seingatku kami bertemu dua kali, pertama saat ada beliau ke perpustakaan dan aku membantunya memfotokopi literatur yang dibutuhkan, kedua saat sosialisasi perpustakaan dan beliau duduk di depanku. 

The one who wear glasses in the left
Sebenarnya ada seorang teman yang mengusulkan aku untuk say hello duluan via Whatsapp, sekedar untuk care apalagi di masa pandemi ini orang-orang stay at home dan mungkin tak saling berkabar seperti postinganku di awal masa isolasi mandiri ini. Bodohnya, aku menolak dengan alasan classic harusnya cowok yang mulai kontak duluan dan toh nanti setelah WFH berakhir bakal ketemu lagi di kantor.

Sekarang aku hanya bisa menangisi penyesalanku. Seharusnya aku mencoba say hello duluan, walaupun itu mungkin tak akan mengubah takdir kepergiannya, setidaknya mungkin beliau tak akan pergi dalam kesendirian seperti ini. I'm so sorry... 

Aku jadi teringat akhir-akhir ini aku selalu merasa deg-degan melihat Whatsapp story atas nama "Mas Abi" namun aku buru-buru menepis kekhawatiran dengan mengingat itu bukan nomornya Pak Abi karena kami tak saling menyimpan kontak. Padahal sebelumnya, aku biasa aja melihat Whatsapp story atas nama "Mas Abi". Entah pertanda atau bukan, aku makin merasa bersalah...

Sugeng tindak Pak Abi, semoga Panjenengan husnul khotimah karena berpulang ke Rahmatullah di bulan suci Ramadan dan semoga Allah memberikan tempat terbaik di sisi-Nya. Semoga Panjenengan berkumpul dengan roh-roh orang sholeh lainnya di sisi Allah, dan tidak sendirian lagi. Aamiin ya robbal'alamiin...

Selamat dari Gempa Palu (Part 4 ~ end)

Jumat, 05 Oktober 2018

Pada hari Minggu (30/09/2018) pukul 03.20 WITA dini hari, kami mendapat kabar bahwa akan ada pesawat Hercules masuk ke Palu membawa bantuan dan bisa membawa penumpang keluar dari Palu ke Makassar. Tanpa pikir panjang aku langsung memutuskan ikut ke bandara membawa ransel berisi laptop dan mukena, tas berisi dompet dan hp, serta satu kantong plastik berisi sepatu dan satu setel pakaian yang berhasil kuambil dari mess pada hari sebelumnya. Aku bersama teman-teman yang mayoritas perempuan tiba di bandara yang sudah dipenuhi banyak orang. Prosedur pendaftaran untuk naik pesawat Hercules pun tampaknya belum diatur dengan jelas sehingga banyak orang mengantri di dekat pagar landasan pesawat.

Kami mengantri dari menjelang shubuh di Bandara Mutiara Sis Al-Jufri Kota Palu. Foto diambil 30/09/2018.
Petugas berusaha menertibkan masyarakat yang ingin dievakuasi dengan pesawat Hercules. Foto diambil 30/09/2018.
Pesawat yang mari sebut saja Hercules. Foto diambil 30/09/2018.

Petugas mengedarkan daftar presensi selama penerbangan Palu - Makassar. Foto diambil 30/09/2018.

Beberapa mobil ambulans langsung mendekati pesawat begitu mendarat di Makassar. Foto diambil 30/09/2018.
Aku dan beberapa teman yang merasa tidak kuat untuk berdiri lama, memilih menunggu di dalam mobil saja. Saat waktu shubuh tiba pun kami terpaksa sholat di dalam mobil juga. Sampai akhirnya matahari bersinar terang dan semakin banyak orang, kami memutuskan ikut mengantri dari jarak dengan pagar. Sempat terjadi aksi dorong-mendorong yang menyebabkan kami bisa masuk ke area landasan pesawat dan memancing emosi petugas yang berusaha menertibkan antrian yang carut-marut ini. Petugas bilang bahwa kami duduk saja dan nanti namanya akan dipanggil. Namun tidak jelas kepada siapa kami harus mendaftarkan diri. 

Ketika sudah ada suara pesawat mendarat, ternyata tujuan terbangnya adalah ke Manado, bukan Makassar. Kembali terjadi aksi dorong-mendorong di antrian yang membuat anak-anak kecil yang berada di tengah kerumuman tergencet dan hampir pingsan. Beberapa kali kami duduk-duduk dan berdiri lagi mendekat ke kerumunan antrian tanpa kepastian. Aku berusaha untuk tidak terpisah dari teman-temanku. Sampai para petugas membuat pagar betis untuk memprioritaskan hanya ibu-ibu dan anak-anak yang boleh masuk ke kawasan landasan pesawat terlebih dahulu.

Pada saat itulah aku bersama Fariz (4 tahun) dan Mas Jae terpisah dari rombongan teman-teman kami. Tiba-tiba di depanku melintas seorang petugas memakai seragam rescue berwarna merah dan menanyakan tujuan kami, ke Manado atau ke Makassar. Aku dengan pasrah menjawab, "terserah kemana aja yang penting keluar dari Kota Palu ini dulu". Ternyata bapak tersebut mengajak kami bertiga untuk ikut bersamanya masuk ke kawasan landasan pesawat. Aku sudah berusaha mengatakan bahwa ada seniorku yang sedang hamil (ibunda Fariz) yang ketinggalan di rombongan belakang. Bapak itu bilang, "yang penting selamat dulu, jangan bawa-bawa teman, nanti petugas marah". 

Kami mengikuti bapak itu untuk menuliskan nama, kemudian digabungkan dengan orang-orang yang sudah bergerombol dan dihitung. Sekitar 80 orang waktu itu diminta langsung masuk ke pesawat TNI yang sepertinya terlalu kecil untuk disebut Hercules tapi karena aku tidak paham nama-nama pesawat, jadi mari kita sebut saja Hercules. Di dalam pesawat tidak semua orang dapat tempat duduk, diutamakan untuk wanita dan anak-anak. Aku duduk dengan Fariz di pangkuanku, sementara mas Jae lesehan selama penerbangan berdurasi 1 jam 20 menit itu. Di dalam pesawat yang lepas landas sekitar pukul 8.50 WITA tersebut, petugas mengedarkan kertas untuk kami isi nama masing-masing termasuk nama anak yang kami bawa.

Begitu mendarat di Bandara Hasanuddin Makassar, kami diminta menuliskan lagi nama dan alamat tujuan. Sementara menunggu mas Jae yang sedang menulis, Fariz sudah berteriak memanggil ayahnya. Alhamdulillah ternyata sudah banyak teman-teman dari Perwakilan Sulsel yang menjemput kami. Aku terharu dengan kekompakan dan kebaikan teman-teman di kantor ini, yang sudah saling bantu dengan tulus ikhlas, semoga Allah membalas kebaikan mereka dengan pahala dan keberkahan yang lebih banyak lagi. Ternyata ibunda Fariz beserta teman-teman serombongan harus bersabar untuk menanti penerbangan jam 2 siang karena kabarnya menunggu rombongan Presiden Jokowi selesai dahulu.

Setelah istirahat semalam di Makassar, aku dan dua rombongan keluarga lain bertolak menuju domisili masing-masing. Aku yang sama sekali tidak menangis saat gempa mungkin efek terlalu syok juga malah tersedu-sedu sendirian di pesawat menjelang pendaratan di Jogja. Rasanya sangat rapuh, sedih sekaligus mengkhawatirkan teman-teman yang masih ada di Palu. Bertemu keluarga pun seperti orang linglung, tidak fokus pada apa yang mereka bicarakan karena pikiran dan hatiku masih pilu mengingat teman-teman di Palu.

End.

 

Selamat dari Gempa Palu (Part 1)

Kamis, 04 Oktober 2018

Sore itu hari Jumat (28/09/2018) menjelang Maghrib aku masih di kantor, menginput beberapa surat tugas yang baru ditandatangi oleh kepala kantor. Sebenarnya ada keinginan untuk pulang ke mess, namun kupikir nanggung, sekalian saja aku selesaikan dulu pekerjaan daripada hari Sabtu aku harus ke kantor lagi. Namun tiba-tiba gempa mengguncang bangunan kantor kami. Awalnya aku masih tenang, karena dari jam 2 siang sudah ada tiga kali gempa berkekuatan lebih dari 5 SR dan kami tidak apa-apa. Tetapi aku salah, gempa yang terjadi kekuatannya lebih besar dan durasinya lebih lama dari tiga gempa yang terjadi sebelumnya pada hari itu, sehingga aku berlari dengan panik untuk segera keluar gedung kantor.

ATM depan kantor kami rubuh seketika. Foto diambil Sabtu (29/09/2018).

Bangunan kantin dan ruang genset kantor yang terbelah menjadi 3 bagian. Foto diambil Sabtu (29/09/2018).

Permukaan tanah yang bergelombang terlihat dari paving blok yang sudah tidak rata lagi. Foto diambil Sabtu (29/09/2018).

Pintu depan kantor di sisi selatan. Foto diambil Sabtu (29/09/2018).

Aku berlari tanpa alas kaki, dalam kondisi panik dan takut, aku terus menyebut nama Allah.  Tak peduli terpeleset karena dalam otakku saat itu adalah bagaimana caranya agar aku bisa segera keluar dari gedung itu. Tepat di depan tangga lantai 1, aku melihat seorang lelaki berjaket hitam yang terpeleset dan ada air entah dari mana. Dilema antara ingin menolong dan menyelamatkan diri, akhirnya aku memutuskan keluar dari pintu kaca di belakang kantor. Karena lantai depan pintu sudah bergeser ke atas, membuat pintu itu tak bisa dibuka secara sempurna. Akhirnya aku terperosok di taman dan parit kecil di dekatnya. Pikiranku masih dihantui ketakutan akan kemungkinan robohnya gedung dan pecahan kaca yang bisa mengenaiku kapan saja. Aku langsung bangkit dari dan melompat sehingga badanku jatuh berguling di paving blok di halaman belakang kantor. 

Aku segera bangkit dan menghampiri seorang satpam senior yang sedang menenangkan dua remaja putri peserta latihan karate di kantor kami. Kemudian dari pintu tempatku keluar, muncul tiga orang teman yang baru saja keluar gedung. Kami langsung berkumpul bersama di dekat mushola. Beberapa saat kemudian muncul Pak Heri yang menyebut namaku. Aku langsung merespon bahwa aku selamat dan aku bilang kalau ada lelaki berjaket hitam terpeleset di lantai 1 yang tiba-tiba berair. Ternyata lelaki itu adalah Bang Ipang. Alhamdulillah dia selamat setelah keluar dari lobby depan. Air yang tetiba muncul ternyata adalah air akuarium besar yang kacanya telah pecah. Jangan tanyakan kami bagaimana nasib ikan arwana seharga 40 juta rupiah yang menjadi penghuninya. Entah bertahan atau tidak.

Ternyata masih banyak orang yang belum pulang. Akhirnya kami menggelar karpet mushola di halaman belakang tempat yang biasanya digunakan untuk latihan karate. Kami juga mengeluarkan seluruh isi almari mushola berupa mukena, sajadah dan sarung. Beruntung air di tandon mushola masih ada sehingga dapat kami gunakan untuk wudhu dan bersuci setelah buang air. Mukena-mukena juga sangat bermanfaat untuk kami menghangatkan diri dari dinginnya malam. Kami tidur memakai mukena sepanjang malam.

Bersambung~

Sebuah Muhasabah di Sabtu Malam

Sabtu, 21 Januari 2017

Sabtu malam ini seperti biasa aku browsing, chatting, buka-tutup berbagai aplikasi di hp. Sampai pada akhirnya membaca sebuah pesan broadcast di sebuah group yang membuatku terhenyak. Begini isinya:

MENEMANI MAYAT SELAMA 40 HARI

Alkisah seorang Konglomerat yang sangat kaya raya menulis surat wasiat: "Barang siapa yang mau menemaniku selama 40 hari di dalam kubur setelah aku mati nanti, akan aku beri warisan separuh dari harta peninggalanku."

Lalu ditanyakanlah hal itu kepada anak-anaknya apakah mereka sanggup menjaganya di dalam kubur nanti.
Tapi anak-anaknya menjawab, "Mana mungkin kami sanggup menjaga ayah, karena pada saat itu ayah sudah menjadi mayat."

Keesokan harinya, dipanggillah semua adik-adiknya. Dan beliau kembali bertanya, “Adik-adikku, sanggupkah diantara kalian menemaniku di dalam kubur selama 40 hari setelah aku mati nanti? Aku akan memberi setengah dari hartaku!"

Adik-adiknya pun menjawab, “Apakah engkau sudah gila? Mana mungkin ada orang yang sanggup bersama mayat selama itu di dalam tanah.”

Lalu dengan sedih Konglomerat tadi memanggil ajudannya, untuk mengumumkan penawaran istimewanya itu ke se-antero negeri.

Akhirnya, sampai jugalah pada hari di mana Konglomerat tersebut kembali ke Rahmatullah. Kuburnya dihias megah laksana sebuah peristirahatan termewah dengan semua perlengkapannya.

Pada waktu yang hampir bersamaan, seorang Tukang Kayu yang sangat miskin mendengar pengumuman wasiat tersebut. Lalu Tukang Kayu tersebut dengan tergesa-gesa segera datang ke rumah Konglomerat tersebut untuk memberitahukan kepada ahli waris akan kesanggupannya.

Keesokan harinya dikebumikanlah jenazah Sang Konglomerat. Si Tukang Kayu pun ikut turun ke dalam liang lahat sambil membawa Kapaknya. Yang paling berharga dimiliki si Tukang Kayu hanya Kapak, untuk bekerja mencari nafkah.

Setelah tujuh langkah para pengantar jenazah meninggalkan area pemakaman, datanglah Malaikat Mungkar dan Nakir ke dalam kubur tersebut.

Si Tukang kayu menyadari siapa yang datang, ia segera agak menjauh dari mayat Konglomerat. Di benaknya, sudah tiba saatnya lah si Konglomerat akan diinterogasi oleh Malaikat Mungkar dan Nakir.

Tapi yang terjadi malah sebaliknya, Malaikat Mungkar-Nakir malah menuju ke arahnya dan bertanya, "Apa yang kau lakukan di sini?"

Aku menemani mayat ini selama 40 hari untuk mendapatkan setengah dari harta warisannya", jawab si Tukang kayu.

Apa saja harta yang kau miliki?", tanya Mungkar-Nakir.
"Hartaku cuma Kapak ini saja, untuk mencari rezeki", jawab si Tukang Kayu.

Kemudian Mungkar-Nakir bertanya lagi, "Dari mana kau dapatkan Kapakmu ini?"
"Aku membelinya", balas si Tukang Kayu.
Lalu pergilah Mungkar dan Nakir dari dalam kubur tersebut.

Besok di hari kedua, mereka datang lagi dan bertanya, "Apa saja yang kau lakukan dengan Kapakmu?"
"Aku menebang pohon untuk dijadikan kayu bakar, lalu aku jual ke pasar", jawab tukang kayu.

Di hari ketiga ditanya lagi, "Pohon siapa yang kau tebang dengan Kapakmu ini?"
"Pohon itu tumbuh di hutan belantara, jadi nggak ada yang punya", jawab si Tukang Kayu.
"Apa kau yakin?", lanjut Malaikat.
Kemudian mereka menghilang.

Datang lagi di hari ke empat, bertanya lagi "Adakah kau potong pohon-pohon tersebut dengan Kapak ini sesuai ukurannya dan beratnya yang sama untuk dijual?"
"Aku potong dikira-kira saja, mana mungkin ukurannya bisa sama rata", tegas tukang kayu.

Begitu terus yang dilakukan Malaikat Mungkar Nakir, datang dan pergi sampai tak terasa sekarang 39 hari sudah. Dan yang ditanyakan masih berkisar dengan Kapak tersebut.

Di hari terakhir yang ke 40, datanglah Mungkar dan Nakir sekali lagi bertemu dengan Tukang kayu tersebut. Berkata Mungkar dan Nakir, "Hari ini kami akan kembali bertanya soal Kapakmu ini".

Belum sempat Mungkar-Nakir melanjutkan pertanyaannya, si Tukang kayu tersebut segera melarikan diri ke atas dan membuka pintu kubur tersebut. Ternyata di luar sudah banyak orang yang menantikan kehadirannya untuk keluar dari kubur tersebut.

Si Tukang Kayu dengan tergesa-gesa keluar dan lari meninggalkan mereka sambil berteriak, "Kalian ambil saja semua bagian harta warisan ini, karena aku sudah tidak menginginkannya lagi."

Sesampai di rumah, si Tukang Kayu berkata kepada istrinya, "Aku sudah tidak menginginkan separuh harta warisan dari mayat itu. Di dunia ini harta yang kumiliki padahal cuma satu Kapak ini, tapi Malaikat Mungkar-Nakir selama 40 hari yang mereka tanyakan dan persoalkan masih saja di seputar Kapak ini. Bagaimana jadinya kalau hartaku begitu banyak? Entah berapa lama dan bagaimana aku menjawabnya."

Dari Ibnu Mas’ud RA dari Nabi Muhammad SAW bahwa beliau bersabda, "Tidak akan bergerak tapak kaki anak Adam pada hari kiamat, hingga ia ditanya tentang 5 perkara, yaitu umurnya untuk apa dihabiskannya, masa mudanya kemana dipergunakannya, hartanya darimana ia memperolehnya dan kemana dibelanjakannya, ilmunya sejauh mana diamalkan?" (HR. Turmudzi)

~~~

Menyeramkan.
Itu yang ada di benakku saat membacanya. Kalau kita dimintai pertanggungjawaban misalnya oleh atasan di kantor, kita pasti akan memikirkan jawaban terbaik, poles sana sini, agar tidak salah omongan.
Sedangkan di alam kubur nanti, kita akan ditanya oleh para malaikat Allah tentang kehidupan dunia yang telah dijalani. Apakah akan sempat untuk memoles jawaban sana-sini? Apakah malaikat Munkar dan Nakir hanya akan bertanya saja? Bagaimana dengan adab dan siksa kubur?

Aku mencoba bertanya kepada salah seorang teman dan inilah jawaban yang kudapatkan:

"Wallahu a'lam....
bagaimana dan siapa yg melakukan siksa kubur itu.

Cara kerjanya diluar batas pengetahuan kita. Ini sudah masuk ke ranah iman. Kita diminta mengimani adanya "kehidupan" di alam kubur... Cuman bagaimananya, kita ndak tau."

Ya Allah sesungguhnya Engkau MahaPengampun lagi MahaMengetahui...

Refleksi Setahun Disini

Selasa, 08 November 2016

Tepat setahun lalu pertama kalinya aku melangkahkan kaki di bumi tadulako ini. Diantar keluarga besar sampai Bandara Juanda Surabaya, berangkat bersama Nikko yang dilepas oleh keluarga dan pacarnya. Dua jam penerbangan terasa tak lama. Dijemput oleh Mbak Anggit, Mbak Itty dan Oled. Diajak ke kantor di hari Minggu untuk bertemu Kasubag SDM, Pak Andriyono yang saat itu sedang lembur. Dilanjutkan jalan-jalan ke Anjungan Nusantara di Talise dan Masjid Apung. Berakhir dengan menonton film James Bond; Spectre, di XXI Palu Grand Mall.

Setahun ini aku merasakan banyak perubahan dalam kehidupan bahkan mungkin kepribadian. Banyak tempat baru yang telah ku kunjungi, pun dengan pengalaman yang menyertainya. Pengalaman terpenting yang kupelajari disini adalah belajar beradaptasi. Entah saking jauhnya terhempas dari zona nyaman atau karena faktor lain, aku pernah bermalam beberapa hari di rumah sakit dengan diagnosa psikosomatis. Saat ditanya oleh psikiater pun, aku merasa tak tahu juga mengapa bisa seperti itu. Aku tak merasa memikirkan apapun secara berlebihan. Namun nampaknya anxiety memang menguasaiku saat itu.

Pulang dari rumah sakit, aku masih sering merasa pusing. Seperti ada beban berat yang kupikirkan namun aku tak tahu bagaimana mengurainya. Aku tahu pikiranku kacau, tetapi aku tak paham bagaimana mengeluarkannya. Akibatnya aku menjadi lebih diam dari biasanya. Mungkin pula lebih cuek kepada sekitar, karena pikiranku terfokus untuk keluar dari jeratan kecemasan itu. Di dalam hati, aku bertekad untuk menyembuhkan diri. Menguatkan mental dan pikiranku kembali.

Beruntung, tepat di saat aku merasa tak sanggup lagi, Allah memberiku kesempatan pulang. Walau hanya sebentar dan dalam rangka menunaikan tugas di ibukota, aku menyempatkan pulang. Sebelum sampai rumah, aku bertekad menemui psikolog. Aku tak mau ke psikiater karena tak ingin diberi obat-obatan dan menjadi ketergantungan. Aku bertekad aku harus dalam keadaan lebih baik saat berjumpa dengan keluarga.

Sengaja kuambil penerbangan paling pagi ke Yogyakarta, langsung menuju kampus tercinta. Sayang, Unit Konsultasi Psikologi tak memungkinkan menerima klien dadakan. Beruntung mereka memberikan alternatif ke sebuah klinik psikolog yang bisa menerimaku hari itu juga. Sekitar dua jam kuhabiskan bersama psikolog yang alhamdulillah sangat menenangkan, dan membuatku merasa jauh lebih baik. Aku siap pulang bertemu keluargaku dengan perasaan bahagia dan kembali ke perantauan dengan pikiran yang lebih tertata.

Sampai saat ini aku masih berusaha melepaskan sisa-sisa kecemasan itu. Belajar mengendalikan pikiran dan menjaga kesehatan. Dulu aku masih selalu ingin pulang, dan segalanya masih kubandingkan. Perlahan aku sadar, hidupku sekarang di sini, dan untuk beberapa tahun ke depan memang di sinilah tempatku berdiri. Aku harus menjalani dan menikmati kehidupanku yang sekarang sedang berlangsung disini, bukan membandingkan dengan segala kenyamanan di masa lalu atau mengandaikan masa depan tanpa mengusahakan kebaikan untuk mencapainya.

Terima kasih Tuhan, telah memberikan pelajaran berharga ke dalam kehidupanku ini, dan mengirimkan teman-teman yang tulus dan baik hati. Terima kasih untuk banyak nasehat dan bantuan yang selalu ada. Semoga ke depannya aku lebih kuat dan dewasa untuk menjalani kehidupan, pun bermanfaat bagi sesama. Aamiin.

Karena Menulis di Blog itu Nagih

Selasa, 26 Juli 2016

Sejak kuliah, aku memang menyukai media sosial. Hampir semua media sosial aku buat akunnya, mulai dari Facebook, Twitter, Blogspot, Tumblr, Instagram, Pinterest, Plurk, Path, Ask.fm, dan lainnya, sampai terinspirasi menyusun skripsi dengan tema penanganan komplain melalui media sosial. Semua akun media sosialku masih aktif sampai sekarang, walau tak semua akhirnya terbarui secara rutin. Biasanya aku memilih menggunakan media sosial sesuai peruntukkannya. Misalnya, jika aku sedang ingin update di lingkungan kantor, aku akan mengunggah postingan di Path, karena di sanalah aku banyak berteman dengan teman-teman seinstansi.

Beda halnya jika aku sedang ingin menggalau dan menyampah, aku akan bercuit di Twitter. Dan sekarang, saatnya aku ingin menulis panjang lebar tentang apa yang aku pikirkan. Aku memilih Blogspot. Walau sebenarnya bisa saja aku menuliskannya di Facebook, bahkan mungkin di sana aku akan mendapatkan lebih banyak perhatian dari khalayak. Namun, entah mengapa aku lebih suka menulis blog. Mungkin karena di sini aku lebih merasa nyaman untuk menjadi diri sendiri.

Dengan adanya fitur komentar di blog, memang memungkinkan siapa pun yang membacanya untuk meninggalkan komentar sama seperti di Facebook dan media sosial yang lain. Tetapi menurutku blog lebih terstruktur, dari pengaturan tulisan pun kita bisa membuatnya lebih rapi dan lebih nyaman untuk dibaca dibandingkan sebuah postingan panjang lebar di media sosial yang lain. Dari segi komentar yang ditinggalkan oleh para pembaca pun, lebih nyambung dengan apa yang aku maksud. Mungkin karena sudah terbiasa dengan jalan pikiran dan alur tulisan yang aku buat. Yang lebih esensial adalah pembaca blog adalah orang-orang yang lebih mau berkorban untuk berkunjung dan masuk ke area yang lebih dalam daripada sekadar apa yang terlihat di beranda media sosial yang lain.

Itulah alasanku masih bertahan menulis blog. Sedari kecil aku terbiasa menulis buku diary, dan mungkin setahun terakhir ini aku belum sempat menulisnya lagi. Sebagai gantinya, aku menuliskannya di sini. Tentu dengan konten yang sudah disesuaikan, mana yang baik dikonsumsi bersama publik, dan mana yang lebih baik disimpan sendiri. Pada dasarnya aku hobi menulis sih, menuliskan apa saja, pengalaman dan perasaan.

Terima kasih untuk penemu teknologi internet dan terobosan bernama blog. Terima kasih untuk para pembaca yang telah mau meluangkan waktu untuk membaca curhatan dan ceritaku. Aku usahakan untuk menuliskan hal-hal yang bermanfaat bagi sesama. 

P.S. Maaf kalau kata-katanya banyak yang tak begitu tertata. Aku masih belajar menyeimbangkan nada dan rasa untuk kepentingan pekerjaan dan bercerita.

Tentang Rumahku

Jumat, 15 Juli 2016

Sengaja memilih judul yang sama dengan judul lagu band indie Dialog Dini Hari. Kali ini memang aku ingin sedikit bercerita tentang rumahku. Menyadari tinggal hitungan puluhan jam kesempatanku di rumah, membuatku lebih melankolis dari hari-hari sebelumnya. Sebenarnya tak banyak kegiatan istimewa yang kulakukan selama di rumah. Kalau sedang tidak ada janji untuk bertemu teman-teman lamaku, aku akan melakukan tugas rumah seperti yang biasa kulakukan sedari dulu. Bangun tidur kalau tidak tidur lagi, biasanya aku akan ikut ibuku ke pasar atau membeli sarapan di penjual makanan pagi. Kalau sedang tak memiliki bahan makanan, ibuku akan lebih memilih membeli beberapa nasi bungkus sekaligus berbelanja sayur-mayur. Nasi bungkus dengan lauk urap dan oseng, ditambah beberapa tempe goreng, sudah cukup untuk amunisi di pagi hari. Khusus untukku dan adik bungsuku, biasanya ibuku akan membungkuskan dua porsi bubur dengan lauk telur ayam opor yang terpisah.

Selesai sarapan, ibuku akan sibuk di dapur sementara aku di kamar mandi. Mandi sekaligus mencuci adalah salah satu tugas wajib tak tertulis yang harus kukerjakan.  Di sela-sela itu, ibu bisa memberi tugas tambahan seperti mencuci piring dan menyapu lantai. Kalau menyapu lantai biasanya aku melakukannya sesuka hatiku, setiap aku merasa lantai terlalu ngeres. Menjelang siang biasanya ibuku berangkat bekerja, tinggalkan aku di rumah bersama adik bungsu dan keponakan-keponakanku kalau kebetulan sedang dititipkan di rumahku. Mengasuh tiga anak lelaki berumur lima, tujuh dan sembilan tahun yang tingkahnya minta ampun membuatku harus belajar sabar namun tetap tegas. Membiarkan mereka bermain asalkan tidak berbahaya dan tetap mengingatkan kapan harus sholat dan makan siang. Biasanya, mereka minta disuapi bersama tiga anak sekaligus jadi tetap bisa bermain dan tetap kenyang.

Jika beruntung, beberapa atau bahkan semua dari ketiganya akan tidur siang. Saat momen melegakan itu terjadi, biasanya aku bisa me time, sekadar browsing dan chatting atau menulis blog seperti ini, hihihi. Tuhan, terima kasih untuk kesempatan berlebaran bersama mereka. Terima kasih telah melahirkan aku di tengah keluarga ini, yang walaupun sangat biasa, namun selalu bersama dan saling percaya. Mohon jagalah mereka selagi aku kembali merantau nanti.

Proyeksiku Sebagai Seorang Ibu Nanti

Kamis, 30 Juni 2016

Akhir-akhir ini aku banyak berpikir tentang apa yang aku ingin lakukan dalam kehidupanku, baik kini maupun masa mendatang. Salah satunya adalah keinginan naluriah seorang wanita untuk menjadi ibu. Sudah sejak keponakan pertamaku lahir sembilan tahun yang lalu, aku belajar merawat bayi hingga tumbuh kembangnya seperti sekarang ini. Belajar mengganti popoknya sampai menanyakan PR nya sekarang.

Hal yang sama juga kulakukan pada keponakan kedua dan adik bungsuku. Khusus si bungsu, aku menjadi tertarik untuk membaca artikel tentang parenting. Bukan apa-apa, selisih umur dua dekade membuatku merasa dia seperti adik sekaligus anak untukku sendiri. Bahkan dia pun lebih menurut kepadaku jika dibandingkan dengan orang tua kami sendiri.

Sering aku mendapat kabar kalau dia susah diajak tidur siang dan paling malas belajar. Namun hal sebaliknya terjadi jika aku di rumah. Tanpa diminta dia akan tidur siang dan mengambil buku-buku pelajarannya untuk dikerjakan di dekatku. Mungkin itulah yang dinamakan semangat. Dia semangat belajar jika ada aku. Aku pun selama ini semangat bekerja untuk masa depan keluarga kami, terutama untuk bekal pendidikannya nanti.

Aku mendampinginya belajar sembari membaca artikel tentang parenting di layar handphone. Mungkin lebih kurang seperti inilah proyeksiku jika menjadi seorang ibu nanti. Mendampingi anak belajar sambil melakukan hobiku sendiri. Bukankah menyenangkan bisa melakukan beberapa tugas sekaligus dalam satu waktu?

Selesai belajar, aku menyuruhnya tidur siang. Sedangkan aku akan melanjutkan belajar memasak untuk hidangan berbuka puasa nantinya. Ini yang ingin kulakukan juga saat sudah berkeluarga nanti. Semoga bisa tercapai impian sederhana ini.

Early Birthday Gift

Selasa, 07 Juni 2016

Masih tentang menuju 26. Kemarin sore datanglah paket hp dari Tokopedia yang sudah ditunggu kedatangannya sejak konsinyering belum berakhir. Ceritanya impulsive beli hp baru karena merasa hp yang ada sudah rusak dan belum ada waktu untuk memperbaikinya. Pasalnya sejak awal di Poso, hp itu tetiba tak mendeteksi kartu sim. Kemudian daripada ribet ngurus kartu sim yang baru, memilih untuk membeli nomor baru di sana. Akhirnya terselamatkanlah komunikasi selama pemeriksaan. Namun ternyata tak sampai di situ saja, beberapa hari setelah sampai di Palu, belum sempat ke Grapari Telkomsel untuk mengganti kartu sim yang terindikasi rusak dengan yang baru, tetiba kartu sim yang dibeli di Poso pun ikut tak terdeteksi. Alhasil komunikasi melalui aplikasi chatting dan media sosial lainnya bergantung pada keberadaan sinyal WiFi.




Karena sudah dua kartu sim yang tetiba tidak terdeteksi, dengan tingkat sotoy nomor satu seprovinsi, aku menyimpulkan bahwa hp itu rusak dan harus diganti. Kemudian mbingungi cari referensi membeli hp baru dengan satu doa; semoga lebih awet. Setelah minta pendapat teman ke sana ke mari, diputuskanlah membeli hp termahal sepanjang abad versi Fatikong. Maklum anaknya sayang duit banget, tetapi kali kalah dengan dalih 'nggak papa, mumpung belum berkeluarga dipuas-puasin dulu aja beli baraang-barang mahal yang diinginkan.' Berhubung barang yang diincar belum masuk secara resmi ke Indonesia, terpaksa membelinya secara online. Itu pun juga melalui proses permintaan rekomendasi dari beberapa teman yang terpercaya sepak terjangnya di jagat per-online shop-an. Terima kasih mas Bim dan mas Echa.

Setelah si mainan baru datang, bersemangatlah memasang kartu sim yang harus dipotong dari ukuran micro menjadi nano. Dan taraaa! TERNYATA KARTU SIMNYA TIDAK TERBACA JUGA SAUDARA-SAUDARA! Di situ aku merasa bodoh. Kartu sim yang rusak kenapa yang dibeli baru malah hpnya? ( ._.)/|

Untuk menghibur diri dari rekening yang sudah terlanjur berkurang, mari kita anggap hp baru sebagai hadiah ulang tahun yang datang lebih awal dari diri sendiri, dengan ucapan yang kurang lebihnya sebagai berikut. 

"Happy 26th birthday Fatikong, terima kasih sudah menjadi lebih sabar dan dewasa dari dirimu yang sebelumnya. Terima kasih sudah belajar menjaga kesehatanmu sendiri. Terima kasih sudah belajar berjuang di tanah orang selama kurang lebih enam bulan terakhir ini, semoga menjadi awal yang baik untuk tahap kehidupan selanjutnya. Tetaplah menjadi anak mamah dan bapak yang selalu terbuka apa adanya, dan jangan pernah sekalipun berpikir untuk meninggalkan kewajiban sebagai hamba Tuhan Maha Penguasa Alam Semesta. Tetaplah menjadi kakak dan adik yang baik untuk saudara-saudaramu. Tetaplah menjadi orang yang menyayangi sahabat-sahabatmu dengan setulus hati. Tetaplah berotak China dan tidak impulsive menghabiskan uang. Tetaplah belajar dari orang-orang dan hal-hal kehidupan yang terjadi di sekitarmu. Tetaplah menjadi manusia yang merasakan dengan nurani. Tetaplah memantaskan diri untuk bertemu dengan seseorang yang tepat saling mendampingi nanti. Tambahkanlah syukur dan terima kasih pada Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang atas semua yang kau dapatkan dalam kehidupan ini."

Ternyata sudah lama juga aku tak memberi reward kepada diri sendiri. Rasanya selalu menyenangkan. Terima kasih, Tuhan.

Menuju 26

Minggu, 05 Juni 2016

H-1 Ramadhan pertama di perantauan,
Yeay besok puasa, semoga bisa menjadi ladang menambah pahala dan pelebur dosa.
Ceritanya lagi ba scan SPJ buat KKP sambil baca hipwee, trus tertohok sama quote Alm. Muhammad Ali yang ini.

Ngomong-ngomong soal umur, lagi jadi topik sensitif di hati. Teringat beberapa hari lalu di ruang konsi sempat menulis draft tentang ini. Hmmm... Tak terasa delapan hari lagi umurku bakal nambah satu dari seperempat abad. Super bikin baper. Karena selain di keluargaku tak pernah ada perayaan bertambahnya usia, juga sejak semester akhir kuliah aku tak ingin mengingat umurku berapa. Apalagi kalau dilihat belum ada pencapaian apa-apa atas bertambahnya usia. Berasa telah membuang waktu yang sudah ada. Seperti setahun belakangan ini, progres apa yang sudah aku buat dalam meningkatkan kualitas diri? Gimana kalau ke depannya ga dikasih kesempatan yang sama? Gimana kalau menghadap Ilahi dan ditanya ngapain aja waktu di dunia? Duh, Gusti...

Bicara soal quote di atas, menohoknya adalah... Aku masih merasa umur belasan. Padahal sudah hampir satu dasawarsa masa itu terlewati. Untuk menghadapi masalah dan memikirkan solusi dari hal yang sulit, mungkin aku sudah bisa dipercaya dan diperlakukan seperti orang dewasa, tapi kalau dari kelakuan yang masih kekanakan, seperti nari gak jelas kalau lagi jalan di lorong dan berasa sendirian dan ga ada yang lihat padahal ya cctv dimana-mana. Jadi... pantas aja belom ketemu jodoh. Siapa juga yang mau nikahin anak kecil, Fat? So, please belajar buat act as your age, Fat!

Jadi teringat nasehat dari Pak Baw kemarin sore, ''kamu kan tumbuh, pasti bisa belajar buat mengurangi perilaku kekanakan itu." Terima kasih Pak Baw buat wejangannya, yang bikin adem dan nggak menggurui. Jadi, alih-alih pingin nikah besok sore, mending aku belajar bersikap sesuai umur dulu saja. Nanti kalau sudah lebih matang dan siap, pasti diketemuin kok sama jodohnya, iya kan Tuhan Yang Maha Baik Hati?

Ketika Ditinggal Nikah Mantan atau Gebetan Sudah Terlalu Mainstream

Jumat, 13 Mei 2016

Hai guys, izinkan sejenak ku tutup file PS dan refreshing di dunia maya. Sore ini aku tersesat di lini masa Twitter yang sudah jarang terjamah namun masih ramah, seperti kampung halaman yang selalu menawarkan kerinduan untuk segera pulang.

Aku terperanjat oleh profil terbaru salah satu selebtwit favorit dari zaman kuliah. Bukan Raditya Dika atau Arif Muhammad 'Poconggg' yang mungkin familiar namanya di ingatan hampir semua orang yang aktif di Twitter pada zamannya. Sekitar empat tahun yang lalu, dari lini masa salah satu sahabatku, pilihanku tertuju untuk mengikuti salah satu selebtwit berakun @daraprayoga_. Dulu nick name nya @landakgaul. Sebelum menerbitkan bukunya yang berjudul "Analogi Cinta Sendiri" dia mengubah nick name nya. Buku kumpulan twit galau yang belum sempat terbeli sampai masa galau sudah kadaluarsa dan terlewati dengan sendirinya. Hiks.

Twitternya Oka.

Aku suka caranya mengemas kata saat bercuit di lini masa atau mengejawantahkan kegalauan di postingan blog sehingga enak dibaca. Dari lini masanya aku berkesimpulan kami senasib, sama-sama jomblo dan sering terluka karena cinta. Makanya aku suka retweet dan semangat banget pingin beli bukunya. Walau dicibir sama sahabatku sendiri, katanya masih kayak anak SMA labil hahaha.

Dan sore ini, saat aku sejenak jalan-jalan, menemukan fakta bahwa selebtwit favorit udah nikah, udah jadi ayah dari kedua putri kembarnya! Wow! Kemudian merasa sedih ditinggal nikah sama selebtwit favorit, karena ditinggal nikah sama fans atau mantan gebetan sudah biasa dan kebal rasanya. Hahaha.

Di situ aku merasa, "Ho, aku sudah tua ya? Kapan dia nikahnya? Perasaan waktu aku lulus kuliah dia masih galau skripsi. Perasaan baru kemarin aku dapat kerja eh dia udah punya anak dua aja." Memang waktu tiada jeda ya. Kami melewati dimensi waktu yang sama tetapi karena jalan yang ditapaki berbeda maka tak pernah sama juga hasilnya. 

Kalau kayak gini bisa jadi galau lagi. Kalau selebtwit favorit aja udah merit, kamu kapan, mblo? :(


Hai Kamu, Aku Sudah Move On

Minggu, 08 Mei 2016

Pagi ini aku sedikit tak percaya melihat postinganmu tiba di Indonesia. Sedang berlibur atau memang sudah selesaikah studimu disana? Sekarang aku tak lagi peduli. Aku hanya ingin sedikit menceritakan kembali hikmahnya kau pernah ada dalam hidup ini.

Kepadamu yang hampir satu dasawarsa menjadi penghuni hati, aku ingin berterima kasih atas semua yang pernah kita lalui. Terima kasih atas semua pembelajaran hidup yang pernah ada sehingga menjadikan aku tak terlalu terpuruk walau setelah kamu, ada beberapa orang yang sempat membuatku meneteskan air mata. Aku yakin dapat melalui itu semua karena aku pernah menjalani hal yang jauh lebih berat sebelumnya.

Tak dapat kupungkiri, kau memang satu-satunya orang yang pernah membuatku jatuh cinta. Aku pun memutuskan meninggalkanmu karena aku tak mau menjadi gila karena terlalu mencintaimu. Jadi apapun yang pernah kurasakan saat bersamamu, aku menamainya sebagai kenangan dan pembelajaran.

Darimu aku belajar untuk menjadi lebih sabar dan lebih mendengarkan, hal yang tak pernah kulakukan zaman dulu. Darimu aku belajar untuk sangat berhati-hati menginvestasikan hati, agar tak membuang waktu dengan orang yang salah lagi. Kau paham betul kan aku bukan orang yang bisa dengan mudahnya berpindah ke lain hati, walau banyak yang dekat dalam keseharian.

Aku belajar banyak hal setelah aku memutuskan pergi darimu. Aku belajar melakoni peran dalam realita kehidupan. Terima kasih sudah pernah ada dalam prosesku. Maaf jikalau dulu aku masih terlalu egois dan merepotkanmu. Terima kasih kita masih bisa berteman sebagai kawan lama.

Aku berdoa semoga kita bahagia di jalan hidup masing-masing. Aku turut senang mendengar kau awet dengan orang yang kau pacari beberapa tahun belakangan ini. Semoga disegerakan ke tahap selanjutnya. Tak perlu kau tanya bagaimana tentangku. Jika hari bahagiaku datang, tentu aku ingin mengundangmu. Biar bagaimanapun kita masih teman baik kan?


Pulang dan Kebahagiaan

Rabu, 23 Maret 2016

Ini hari ke-5 aku pulang ke tanah Jawa. Cuaca di seputar Jogja dan Solo masih didominasi hujan pada siang menjelang sore hari. Kalau kata orang, hujan identik dengan kenangan. Dulu aku sependapat, namun setelah 5 bulan tinggal di daerah yang dilalui garis khatulistiwa, setiap hujan turun aku selalu menikmatinya. Hujan adalah cara Tuhan memberikan kesejukan pada umat-Nya, agar alam dan pikiran tidak gersang dengan hawa duniawi semata.

Selain menikmati hujan yang jarang bisa dirasakan di perantauan, kepulanganku kali ini terasa lebih mendamaikan. Pasalnya, aku berkesempatan menemui orang-orang tersayang yang biasanya kuajak tukar pikiran.

Bertemu para staf di Balai Diklat Yogyakarta yang sudah seperti orang tua sendiri, beberapa member keluarga Jogja Selamanya, dan sahabat-sahabat yang selalu siap sedia direpoti dari zaman kuliah adalah kemewahan yang tak bisa aku dustakan. Berada di tengah mereka membuatku merasa pulang.

Di rumah pun aku kembali mengerjakan tugas-tugas harian favoritku, mencuci, mengurus Fahmi, mendengarkan cerita Mamah tentang apa yang telah terjadi di sekitar kami. Pun aku masih menanggung janji untuk bertemu para sahabat dari masa berseragam putih biru dan putih abu-abu. Semoga aku bisa menepatinya, aamiin... Karena bertemu mereka adalah salah satu kebahagiaanku.

Ya Tuhan, terima kasih atas semua berkah dan orang-orang baik yang Kau kirimkan ke dalam kehidupanku.



Sudah 2016 dan Baru Nulis Lagi

Sabtu, 20 Februari 2016

Hello world... Long time to see~

Ah, ini sudah akhir bulan kedua tahun 2016 dan aku baru nulis blog lagi sekarang. Kemana saja aku ini huhuhu... Seharusnya dengan kerjaan kantor yang jelas jamnya aku bisa me-manage waktu jadi bisa rutin menulis lagi yaa... Hmmm...

Setelah sekian lama tak bermain kata, apa yang kira-kira menarik untuk dibicarakan? Rutinitas pagi - siang - sore - bahkan malam yang habis di kantor? Long distance relationship with family and best friends? Cita-cita nikah 2016 yang bahkan belum tahu partnernya siapa? Hahaha...

Kita bahas rutinitas dari pagi si jomblo ini yuk~ Pertama pasti siap ke kantor, absen, cari sarapan. Kalau ada kerjaan ya dikerjain, kalau ga ada yaaa ngapa-ngapain... Nanti tiba-tiba udah jam istirahat aja, muterin tempat-tempat yang selalu rame di jam makan siang. Ngelanjutin kerjaan sampai waktunya pulang. Udah gitu aja terus dari Senin sampai Jumat. Kecuali kalau lagi ada senam pagi, pasti datang lebih pagi ke kantor buat absen, senam lalalala bentar, dan sarapan gretongan. Ga berapa lama balik mess buat mandi baru balik ke kantor lagi. Benar-benar rutinitas yang menjemukan kan? Makanya selalu cari cara biar ga mati bosan.

Kalau weekend lumayan bisa bervariasi lah, karena ga ada kewajiban bangun pagi, trus bisa beberes kamar, nyuci dan belajar masak. Iya sekarang aku belajar masak. Itu bagian dari usaha mewujudkan resolusi 2016 untuk mengakhiri masa jomblo hahaha. Ah sudahlah.  Belom ada yang menarik buat dibahas lagi. Tapi kayaknya dulu aku pernah nulis tentang hal menarik di Palu ini tapi belom kelar. Ah, nanti kapan-kapan aku cerita juga deh pengalaman jalan-jalan melihat keindahan Pulau Celebes ini. Baru dua sih, ke tempat Paralayang Matantimali dan Pantai Labuana. Minggu depan ada rencana touring ke Poso. Semoga saja jadi. Yeay jalan-jalan lagi, biar nggak mati bosan kita disini!

Mohon Maaf Jangan Tanya Kapan Kawin

Jumat, 17 Juli 2015

Nemu quote yang cukup menggelitik dari laman Facebook seorang penulis buku. Quote yang pasti ingin direpath dan dishare oleh semua jomblowan dan jomblowati di seantero negeri.
Karena pertanyaan kapan lulus, kapan kerja, kapan kawin, kapan punya anak, dst sudah sangat terstruktur dan massive ditanyakan pada seseorang mulai di akhir masa kuliahnya.

Mungkin itu adalah wujud perhatian dan kasih sayang orang-orang sekitar, namun tak semua orang dapat menjawabnya dengan lancar dan suka cita. Karena jalan hidup orang berbeda-beda dan mungkin tak semua orang beruntung bisa melewati semua fase tersebut dengan lancar jaya.

Termasuk aku salah satunya. Lulus lama, dan sempat merasakan tidak enaknya dibandingkan dengan saudara yang sebaya.
Alhamdulillah fase tidak enak ditanya kapan lulus sudah terlewati.
Kemudian lanjut dengan pertanyaan kapan dapat kerja dan alhamdulillah sudah pula dapat dijawab dengan baik.
Tinggal pertanyaan yang ketiga, kapan nikah. Pertanyaan paling menyebalkan untuk saat ini. Orang-orang dengan mudahnya bilang, “kan sudah dapat kerjaan mapan, tunggu apa lagi? Toh pasti banyak yang mau sama kamu dengan reputasi seperti itu.

Ingin rasanya melempar sesuatu kepada mereka yang seenak jidat berkomentar seperti itu. Dikira begitu dapat kerja langsung bebas beban begitu saja? Tambah tanggung jawab dan harus beradaptasi, pun mempelajari bidang baru dari awal lagi.
Dikira nyari jodoh tinggal tunjuk? Menentukan pilihan hati untuk teman hidup sampai mati tidak semudah meraih segala gelar akademis yang pernah dimiliki. Perlu kesesuaian hati dan jiwa, kenyamanan dan campur tangan dari Yang Maha Kuasa. Untuk yang terakhir aku sangat yakin Dia telah menyiapkan jodoh terbaik untuk kudampingi. Tugasku adalah mempersiapkan diri untuk dijemput oleh jodoh terbaik yang telah ditentukan Ilahi robbi. Semoga tak lama lagi.

This Is (Not) The End of My Soleha

Selasa, 07 April 2015

Suatu sore sepulang dari kantor, aku diantar mbak Lupi ke Harrisma, sebuah pusat penjualan dan service gadget yang direkomendasikan temanku. Benar saja, pegawainya bilang hard disk Soleha rusak. Datanya tidak dapat diselamatkan. Well, aku  sudah cukup paham bahwa ini adalah akhir dari kebersamaanku dengan Soleha. Namun pegawai Harrisma merekomendasikan sebuah tempat service hard disk bernama Track Nol di Jalan Kaliurang KM 7,3. Konon di sana bisa memperbaiki segala macam kerusakan hard disk, termasuk yang datanya hilang.

Kemudian naiklah kami ke Jakal atas dan sampailah di Track Nol tepat pada saat adzan maghrib. Setelah aku menjelaskan keadaan Soleha, bapak yang di Track Nol bilang bahwa harga untuk menyelamatkan data-data yang ada di dalam hard disk Soleha sebesar 700 ribu rupiah. Dan itu harus dilakukan sebelum waktu satu bulan karena hard disk bisa saja berjamur.

My God, itu pukulan yang sangat berat. Di satu sisi aku sangat ingin menyelamatkan Soleha beserta jutaan kepingan di dalamnya, namun di sisi lain aku merasa lebih worth it kalau sekalian membeli laptop baru yang lebih ringan dan dapat  menunjang karirku nantinya.

And here i am! Aku memutuskan move on dari Soleha dan menabung demi sebuah laptop yang baru, jika masih ada uang sisa baru aku mau beli hard disk baru untuknya agar bisa bermanfaat lagi. Doakan aku ya teman-teman, agar bisa gemi setiti tur ngati-ati sama gaji, sampai akhirnya laptop impian yang baru bisa terbeli. Amin.

Kriteria

Selasa, 17 Februari 2015

Halooo...! Aku sedang lelah berbasa-basi kali ini. Dari pagi ada aja tragedi memilukan hati, muali dari gotong galon sendirian sebelum berangkat kerja, hp ketinggalan di kosan, sampai di kosan lagi banjir dong gegara si galon entah kenapa bisa ada retakannya gitu di dasarnya, padahal aku ga ngerasa mbanting kok, aku naruhnya pelan-pelan. Ya Allah rasanya ingin kupinjam bahu seseorang yang menentramkan hati buat senderan, huhuhuhu...

Kita ngomong serius ya kali ini... Temanya ga jauh-jauh dari you know what kok. Ada yang bisa nebak?
Yap! Marriage!
 
Jadi seperti biasa yaa anak magang pan kurang ada kerjaan gitu dan biasanya suka ngobrol ngalor ngidul. Topiknya bisa macem-macem tapi biasanya sasaran buat digodain selalu aku. Ya, aku memang lemah dalam pertahanan diri buat gak digodain. Gak bisa marah juga, paling cuma merengek geje, alhasil yang ngegodain tambah seneng aja dong yaaa...

Jadi jadi jadi aku ditanyain mau nikah sama orang yang kek gimana kriterianya. Aku jadi bingung asli karena pingingnnya yang penting pengen dapet yang 1 untuk selamanya aja gitu.

Terus masih kepikiran dong sampe kosan, jadi mikir-mikir sambil ngucek cucian. Dan kesimpulannya adalaaaah aku mau ketemu orang yang ngajak serius, yang bisa bilang 'Fat, ayo hidup sama aku, seneng susah sama aku, aku bakal jagain kamu kayak orang tuamu jagain kamu, aku bakal sayang kamu kayak orang tuamu sayang kamu. Hidup itu cuma harus dilalui dan dijalani bersama Fat, gak cuma dipikirkan dan dipersiapkan melulu. Apapun yang akan terjadi nanti, kamu bakal aman sama aku.'

Jadi, karena aku orang yang terbiasa menyiapkan dan memperjuangkan hidupku sendiri, aku ingin orang yang bakal jadi teman hidupku buat meyakinkan aku kalau aku bisa mempercayakan hidupku aman bersamanya, dunia akhirat. Udah itu aja. Karena sampai detik ini yang bikin nyaman, bikin ngerasa aman, ya cuma keluargaku sama sahabat-sahabatku aja, bukan orang dari luar.

Mungkin nikah itu ibarat jembatan kehidupan yang harus dilalui buat melewati jalur selanjutnya. Ibarat kata aku udah persiapin semua amunisinya mulai dari perbekalan biar ga kelaperan, jaket biar gak kedinginan, pelampung biar ga tenggelam kalau jatuh ke sungai di bawahnya dan belom bisa lancar berenang *Pasti mau pada bilang lebay, mana ada orang nyebrang jembatan pake pelampung segala hahaha. Terserah eke dong cyin, ini kan dunia imajinasi eke hahaha* tapi belom ada guide nya buat nemenin dan bilangin 'Ayo Fat nyebrang sama aku, pasti gak bakal kenapa-napa kok' hahahaha. 

Yasudahlah itu saja ceritaku hari ini. Aku laper mau beli makan dulu. Ini udah lewat banget dari jam makan malamku biasanya huhuhu.

*P.S. Tumben banget aku sensi dan mikirin omongan orang, padahal biasanya digodain mau kek gimana pun ya lempeng aja, efek lagi dapet kali ya?

Kenapa Pernikahan Disebut Menggenapkan Separuh Agama?

Jumat, 12 Desember 2014

Yang resolusi tahun 2015 nya mau nikah mana suaranya?~ Hahahaha...

Haduh, dari mana yaa mulai ngomongnya... Grogi nih, masa jomblo ngomongin nikah? Ntar dibilang gak ngaca lagi, hihihihi... Tapi yaa daripada gak diceritain ntar keburu lupa. Yuk kita mulai, pasang mata ya gaes..!

Jadi dalam agama yang aku anut yaitu Islam, biasanya nikah disebut sebagai penggenapan separuh agama. Dasar aku orangnya kepo, penasaran kenapa bisa disebut begitu ya? Ada yang penasaran juga gak? Kalau gak penasaran, gak usah lanjut baca deh daripada waktunya mubazir, hahahaha... Gak ding, terserah sih mau baca apa enggak yang penting aku mau nulis. Sekali lagi, keburu lupa, hahahaha.

Menurutku sih kenapa menikah disebut menggenapkan separuh agama, begini teorinya:
Kalau seseorang itu sudah menemukan jati dirinya, sudah tau visi dan misi kehidupannya seperti apa, sudah punya pekerjaan untuk menopang kehidupannya, sudah mandiri sebagai seorang manusia yang matang dan dewasa, apa lagi yang hendak ia cari coba? Tak lain dan tak bukan ia akan mencari kebahagiaan kan?

Nah, kebahagiaan yang menentramkan jiwa itu bisa didapat jika ia menikah. Ia akan punya seorang pendamping hidup dan anak-anak sholeh sholehah yang bisa menggenapkan kehidupannya, yang bisa membahagiakannya. Kalau seseorang itu meniatkan menikah untuk ibadah, maka makna pernikahan akan menjadi sumber kebahagiaan tidak hanya di dunia tetapi juga di akhirat. Makanya banyak yang bilang kalau mau nikah harus niat ibadah, ternyata emang gitu to logikanya... Make sense sih...

Tambahan lagi, ketika seseorang sudah meniatkan untuk menggenapkan separuh agamanya dengan menikah, sebenarnya orang itu gak harus punya pacar dulu sih... Gak harus pacaran berapa lama dulu baru berani ngomongin nikah... Ya kalau emang niat nikah, udah ada calon yang sreg, ya tinggal dimintain restu kepada Allah dan orang tua njuk ndaftar ke KUA aja sih, hahahaha... Buat yang belom punya pacar atau belom punya calon, dengan ikhtiar dan doa yang sungguh-sungguh insya Allah bakal ketemu kok itu jodohnya. Mungkin bisa dari temennya temen, sodaranya temen, temen seperjalanan, temen masa kecil, siapa tau kan ya....

Soal teori ini, barusan aku bahas sama temenku, soalnya kami heran nih banyak temen yang udah punya kerjaan, udah kesampaian mimpi-mimpinya, udah punya pacar, tapi kok ya cuma gitu-gitu aja gak pernah ada pembahasan ke depannya mau gimana. Kesimpulan yang kami dapat sih ya berarti orang itu belum bener dalam dirinya sendiri, belum damai dengan iman di hatinya sendiri. Kasarnya, gimana mau mikirin menggenapkan separuh agama kalau menggenapkan sholat 5 waktu aja masih belom kesampaian? Iya kan? Bener kan? Mak jleb kan? Hahahahaha... Iya sih hari gini susah mau nyari jomblo mapan dan rupawan yang masih bagus sholatnya. Kebanyakan sih pasti kelewat di jalan lah, kelewat di meeting lah, kelewat dimana aja bisa lah, hahaha... Kenapa disini kami simpulin dengan sholat? Karena sholat itu tiang agama, kalau sholat wajibnya udah bener insya Allah ibadah yang lain udah jalan juga.

Jadi nggantung gak sih omonganku? Ya anggap aja segini cukup ya, kurang lebihnya mohon maaf lahir dan batin aja, hahahaha... Kalau ada yang mau nambahin silakan di komen. Danke! :D
 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS