![]() |
| Grieving Loss Quote by Mandy Hale |
Diary Work From Home Day 37 : Sore yang Cerah untuk Jiwa yang Sepi
Selasa, 12 Mei 2020
Senin, 11 Mei 2020
![]() |
| Sumber: Buku Digital "Tidak Ada yang Kemana-mana Hari Ini" |
Sabtu, 09 Mei 2020
![]() |
| The one who wear glasses in the left |
Aku jadi teringat akhir-akhir ini aku selalu merasa deg-degan melihat Whatsapp story atas nama "Mas Abi" namun aku buru-buru menepis kekhawatiran dengan mengingat itu bukan nomornya Pak Abi karena kami tak saling menyimpan kontak. Padahal sebelumnya, aku biasa aja melihat Whatsapp story atas nama "Mas Abi". Entah pertanda atau bukan, aku makin merasa bersalah...
Sugeng tindak Pak Abi, semoga Panjenengan husnul khotimah karena berpulang ke Rahmatullah di bulan suci Ramadan dan semoga Allah memberikan tempat terbaik di sisi-Nya. Semoga Panjenengan berkumpul dengan roh-roh orang sholeh lainnya di sisi Allah, dan tidak sendirian lagi. Aamiin ya robbal'alamiin...
Jumat, 05 Oktober 2018
![]() |
| Kami mengantri dari menjelang shubuh di Bandara Mutiara Sis Al-Jufri Kota Palu. Foto diambil 30/09/2018. |
![]() |
| Petugas berusaha menertibkan masyarakat yang ingin dievakuasi dengan pesawat Hercules. Foto diambil 30/09/2018. |
![]() |
| Pesawat yang mari sebut saja Hercules. Foto diambil 30/09/2018. |
![]() |
Petugas mengedarkan daftar presensi selama penerbangan Palu - Makassar. Foto diambil 30/09/2018. |
![]() |
| Beberapa mobil ambulans langsung mendekati pesawat begitu mendarat di Makassar. Foto diambil 30/09/2018. |
Kamis, 04 Oktober 2018
![]() |
| ATM depan kantor kami rubuh seketika. Foto diambil Sabtu (29/09/2018). |
![]() |
| Bangunan kantin dan ruang genset kantor yang terbelah menjadi 3 bagian. Foto diambil Sabtu (29/09/2018). |
![]() |
| Permukaan tanah yang bergelombang terlihat dari paving blok yang sudah tidak rata lagi. Foto diambil Sabtu (29/09/2018). |
![]() |
| Pintu depan kantor di sisi selatan. Foto diambil Sabtu (29/09/2018). |
Sabtu, 21 Januari 2017
Sabtu malam ini seperti biasa aku browsing, chatting, buka-tutup berbagai aplikasi di hp. Sampai pada akhirnya membaca sebuah pesan broadcast di sebuah group yang membuatku terhenyak. Begini isinya:
MENEMANI MAYAT SELAMA 40 HARI
Alkisah seorang Konglomerat yang sangat kaya raya menulis surat wasiat: "Barang siapa yang mau menemaniku selama 40 hari di dalam kubur setelah aku mati nanti, akan aku beri warisan separuh dari harta peninggalanku."
Lalu ditanyakanlah hal itu kepada anak-anaknya apakah mereka sanggup menjaganya di dalam kubur nanti.
Tapi anak-anaknya menjawab, "Mana mungkin kami sanggup menjaga ayah, karena pada saat itu ayah sudah menjadi mayat."
Keesokan harinya, dipanggillah semua adik-adiknya. Dan beliau kembali bertanya, “Adik-adikku, sanggupkah diantara kalian menemaniku di dalam kubur selama 40 hari setelah aku mati nanti? Aku akan memberi setengah dari hartaku!"
Adik-adiknya pun menjawab, “Apakah engkau sudah gila? Mana mungkin ada orang yang sanggup bersama mayat selama itu di dalam tanah.”
Lalu dengan sedih Konglomerat tadi memanggil ajudannya, untuk mengumumkan penawaran istimewanya itu ke se-antero negeri.
Akhirnya, sampai jugalah pada hari di mana Konglomerat tersebut kembali ke Rahmatullah. Kuburnya dihias megah laksana sebuah peristirahatan termewah dengan semua perlengkapannya.
Pada waktu yang hampir bersamaan, seorang Tukang Kayu yang sangat miskin mendengar pengumuman wasiat tersebut. Lalu Tukang Kayu tersebut dengan tergesa-gesa segera datang ke rumah Konglomerat tersebut untuk memberitahukan kepada ahli waris akan kesanggupannya.
Keesokan harinya dikebumikanlah jenazah Sang Konglomerat. Si Tukang Kayu pun ikut turun ke dalam liang lahat sambil membawa Kapaknya. Yang paling berharga dimiliki si Tukang Kayu hanya Kapak, untuk bekerja mencari nafkah.
Setelah tujuh langkah para pengantar jenazah meninggalkan area pemakaman, datanglah Malaikat Mungkar dan Nakir ke dalam kubur tersebut.
Si Tukang kayu menyadari siapa yang datang, ia segera agak menjauh dari mayat Konglomerat. Di benaknya, sudah tiba saatnya lah si Konglomerat akan diinterogasi oleh Malaikat Mungkar dan Nakir.
Tapi yang terjadi malah sebaliknya, Malaikat Mungkar-Nakir malah menuju ke arahnya dan bertanya, "Apa yang kau lakukan di sini?"
Aku menemani mayat ini selama 40 hari untuk mendapatkan setengah dari harta warisannya", jawab si Tukang kayu.
Apa saja harta yang kau miliki?", tanya Mungkar-Nakir.
"Hartaku cuma Kapak ini saja, untuk mencari rezeki", jawab si Tukang Kayu.
Kemudian Mungkar-Nakir bertanya lagi, "Dari mana kau dapatkan Kapakmu ini?"
"Aku membelinya", balas si Tukang Kayu.
Lalu pergilah Mungkar dan Nakir dari dalam kubur tersebut.
Besok di hari kedua, mereka datang lagi dan bertanya, "Apa saja yang kau lakukan dengan Kapakmu?"
"Aku menebang pohon untuk dijadikan kayu bakar, lalu aku jual ke pasar", jawab tukang kayu.
Di hari ketiga ditanya lagi, "Pohon siapa yang kau tebang dengan Kapakmu ini?"
"Pohon itu tumbuh di hutan belantara, jadi nggak ada yang punya", jawab si Tukang Kayu.
"Apa kau yakin?", lanjut Malaikat.
Kemudian mereka menghilang.
Datang lagi di hari ke empat, bertanya lagi "Adakah kau potong pohon-pohon tersebut dengan Kapak ini sesuai ukurannya dan beratnya yang sama untuk dijual?"
"Aku potong dikira-kira saja, mana mungkin ukurannya bisa sama rata", tegas tukang kayu.
Begitu terus yang dilakukan Malaikat Mungkar Nakir, datang dan pergi sampai tak terasa sekarang 39 hari sudah. Dan yang ditanyakan masih berkisar dengan Kapak tersebut.
Di hari terakhir yang ke 40, datanglah Mungkar dan Nakir sekali lagi bertemu dengan Tukang kayu tersebut. Berkata Mungkar dan Nakir, "Hari ini kami akan kembali bertanya soal Kapakmu ini".
Belum sempat Mungkar-Nakir melanjutkan pertanyaannya, si Tukang kayu tersebut segera melarikan diri ke atas dan membuka pintu kubur tersebut. Ternyata di luar sudah banyak orang yang menantikan kehadirannya untuk keluar dari kubur tersebut.
Si Tukang Kayu dengan tergesa-gesa keluar dan lari meninggalkan mereka sambil berteriak, "Kalian ambil saja semua bagian harta warisan ini, karena aku sudah tidak menginginkannya lagi."
Sesampai di rumah, si Tukang Kayu berkata kepada istrinya, "Aku sudah tidak menginginkan separuh harta warisan dari mayat itu. Di dunia ini harta yang kumiliki padahal cuma satu Kapak ini, tapi Malaikat Mungkar-Nakir selama 40 hari yang mereka tanyakan dan persoalkan masih saja di seputar Kapak ini. Bagaimana jadinya kalau hartaku begitu banyak? Entah berapa lama dan bagaimana aku menjawabnya."
Dari Ibnu Mas’ud RA dari Nabi Muhammad SAW bahwa beliau bersabda, "Tidak akan bergerak tapak kaki anak Adam pada hari kiamat, hingga ia ditanya tentang 5 perkara, yaitu umurnya untuk apa dihabiskannya, masa mudanya kemana dipergunakannya, hartanya darimana ia memperolehnya dan kemana dibelanjakannya, ilmunya sejauh mana diamalkan?" (HR. Turmudzi)
~~~
Menyeramkan.
Itu yang ada di benakku saat membacanya. Kalau kita dimintai pertanggungjawaban misalnya oleh atasan di kantor, kita pasti akan memikirkan jawaban terbaik, poles sana sini, agar tidak salah omongan.
Sedangkan di alam kubur nanti, kita akan ditanya oleh para malaikat Allah tentang kehidupan dunia yang telah dijalani. Apakah akan sempat untuk memoles jawaban sana-sini? Apakah malaikat Munkar dan Nakir hanya akan bertanya saja? Bagaimana dengan adab dan siksa kubur?
Aku mencoba bertanya kepada salah seorang teman dan inilah jawaban yang kudapatkan:
"Wallahu a'lam....
bagaimana dan siapa yg melakukan siksa kubur itu.
Cara kerjanya diluar batas pengetahuan kita. Ini sudah masuk ke ranah iman. Kita diminta mengimani adanya "kehidupan" di alam kubur... Cuman bagaimananya, kita ndak tau."
Ya Allah sesungguhnya Engkau MahaPengampun lagi MahaMengetahui...
Selasa, 08 November 2016
Selasa, 26 Juli 2016
Jumat, 15 Juli 2016
Kamis, 30 Juni 2016
Hal yang sama juga kulakukan pada keponakan kedua dan adik bungsuku. Khusus si bungsu, aku menjadi tertarik untuk membaca artikel tentang parenting. Bukan apa-apa, selisih umur dua dekade membuatku merasa dia seperti adik sekaligus anak untukku sendiri. Bahkan dia pun lebih menurut kepadaku jika dibandingkan dengan orang tua kami sendiri.
Sering aku mendapat kabar kalau dia susah diajak tidur siang dan paling malas belajar. Namun hal sebaliknya terjadi jika aku di rumah. Tanpa diminta dia akan tidur siang dan mengambil buku-buku pelajarannya untuk dikerjakan di dekatku. Mungkin itulah yang dinamakan semangat. Dia semangat belajar jika ada aku. Aku pun selama ini semangat bekerja untuk masa depan keluarga kami, terutama untuk bekal pendidikannya nanti.
Aku mendampinginya belajar sembari membaca artikel tentang parenting di layar handphone. Mungkin lebih kurang seperti inilah proyeksiku jika menjadi seorang ibu nanti. Mendampingi anak belajar sambil melakukan hobiku sendiri. Bukankah menyenangkan bisa melakukan beberapa tugas sekaligus dalam satu waktu?
Selesai belajar, aku menyuruhnya tidur siang. Sedangkan aku akan melanjutkan belajar memasak untuk hidangan berbuka puasa nantinya. Ini yang ingin kulakukan juga saat sudah berkeluarga nanti. Semoga bisa tercapai impian sederhana ini.
Selasa, 07 Juni 2016
Ternyata sudah lama juga aku tak memberi reward kepada diri sendiri. Rasanya selalu menyenangkan. Terima kasih, Tuhan.
Minggu, 05 Juni 2016
Yeay besok puasa, semoga bisa menjadi ladang menambah pahala dan pelebur dosa.
Ceritanya lagi ba scan SPJ buat KKP sambil baca hipwee, trus tertohok sama quote Alm. Muhammad Ali yang ini.
Jumat, 13 Mei 2016
| Twitternya Oka. |
Minggu, 08 Mei 2016
Kepadamu yang hampir satu dasawarsa menjadi penghuni hati, aku ingin berterima kasih atas semua yang pernah kita lalui. Terima kasih atas semua pembelajaran hidup yang pernah ada sehingga menjadikan aku tak terlalu terpuruk walau setelah kamu, ada beberapa orang yang sempat membuatku meneteskan air mata. Aku yakin dapat melalui itu semua karena aku pernah menjalani hal yang jauh lebih berat sebelumnya.
Tak dapat kupungkiri, kau memang satu-satunya orang yang pernah membuatku jatuh cinta. Aku pun memutuskan meninggalkanmu karena aku tak mau menjadi gila karena terlalu mencintaimu. Jadi apapun yang pernah kurasakan saat bersamamu, aku menamainya sebagai kenangan dan pembelajaran.
Darimu aku belajar untuk menjadi lebih sabar dan lebih mendengarkan, hal yang tak pernah kulakukan zaman dulu. Darimu aku belajar untuk sangat berhati-hati menginvestasikan hati, agar tak membuang waktu dengan orang yang salah lagi. Kau paham betul kan aku bukan orang yang bisa dengan mudahnya berpindah ke lain hati, walau banyak yang dekat dalam keseharian.
Aku belajar banyak hal setelah aku memutuskan pergi darimu. Aku belajar melakoni peran dalam realita kehidupan. Terima kasih sudah pernah ada dalam prosesku. Maaf jikalau dulu aku masih terlalu egois dan merepotkanmu. Terima kasih kita masih bisa berteman sebagai kawan lama.
Aku berdoa semoga kita bahagia di jalan hidup masing-masing. Aku turut senang mendengar kau awet dengan orang yang kau pacari beberapa tahun belakangan ini. Semoga disegerakan ke tahap selanjutnya. Tak perlu kau tanya bagaimana tentangku. Jika hari bahagiaku datang, tentu aku ingin mengundangmu. Biar bagaimanapun kita masih teman baik kan?
Rabu, 23 Maret 2016
Selain menikmati hujan yang jarang bisa dirasakan di perantauan, kepulanganku kali ini terasa lebih mendamaikan. Pasalnya, aku berkesempatan menemui orang-orang tersayang yang biasanya kuajak tukar pikiran.
Bertemu para staf di Balai Diklat Yogyakarta yang sudah seperti orang tua sendiri, beberapa member keluarga Jogja Selamanya, dan sahabat-sahabat yang selalu siap sedia direpoti dari zaman kuliah adalah kemewahan yang tak bisa aku dustakan. Berada di tengah mereka membuatku merasa pulang.
Di rumah pun aku kembali mengerjakan tugas-tugas harian favoritku, mencuci, mengurus Fahmi, mendengarkan cerita Mamah tentang apa yang telah terjadi di sekitar kami. Pun aku masih menanggung janji untuk bertemu para sahabat dari masa berseragam putih biru dan putih abu-abu. Semoga aku bisa menepatinya, aamiin... Karena bertemu mereka adalah salah satu kebahagiaanku.
Ya Tuhan, terima kasih atas semua berkah dan orang-orang baik yang Kau kirimkan ke dalam kehidupanku.
Sabtu, 20 Februari 2016
Ah, ini sudah akhir bulan kedua tahun 2016 dan aku baru nulis blog lagi sekarang. Kemana saja aku ini huhuhu... Seharusnya dengan kerjaan kantor yang jelas jamnya aku bisa me-manage waktu jadi bisa rutin menulis lagi yaa... Hmmm...
Setelah sekian lama tak bermain kata, apa yang kira-kira menarik untuk dibicarakan? Rutinitas pagi - siang - sore - bahkan malam yang habis di kantor? Long distance relationship with family and best friends? Cita-cita nikah 2016 yang bahkan belum tahu partnernya siapa? Hahaha...
Kita bahas rutinitas dari pagi si jomblo ini yuk~ Pertama pasti siap ke kantor, absen, cari sarapan. Kalau ada kerjaan ya dikerjain, kalau ga ada yaaa ngapa-ngapain... Nanti tiba-tiba udah jam istirahat aja, muterin tempat-tempat yang selalu rame di jam makan siang. Ngelanjutin kerjaan sampai waktunya pulang. Udah gitu aja terus dari Senin sampai Jumat. Kecuali kalau lagi ada senam pagi, pasti datang lebih pagi ke kantor buat absen, senam lalalala bentar, dan sarapan gretongan. Ga berapa lama balik mess buat mandi baru balik ke kantor lagi. Benar-benar rutinitas yang menjemukan kan? Makanya selalu cari cara biar ga mati bosan.
Kalau weekend lumayan bisa bervariasi lah, karena ga ada kewajiban bangun pagi, trus bisa beberes kamar, nyuci dan belajar masak. Iya sekarang aku belajar masak. Itu bagian dari usaha mewujudkan resolusi 2016 untuk mengakhiri masa jomblo hahaha. Ah sudahlah. Belom ada yang menarik buat dibahas lagi. Tapi kayaknya dulu aku pernah nulis tentang hal menarik di Palu ini tapi belom kelar. Ah, nanti kapan-kapan aku cerita juga deh pengalaman jalan-jalan melihat keindahan Pulau Celebes ini. Baru dua sih, ke tempat Paralayang Matantimali dan Pantai Labuana. Minggu depan ada rencana touring ke Poso. Semoga saja jadi. Yeay jalan-jalan lagi, biar nggak mati bosan kita disini!
Jumat, 17 Juli 2015
Nemu quote yang cukup menggelitik dari laman Facebook seorang penulis buku. Quote yang pasti ingin direpath dan dishare oleh semua jomblowan dan jomblowati di seantero negeri.
Karena pertanyaan kapan lulus, kapan kerja, kapan kawin, kapan punya anak, dst sudah sangat terstruktur dan massive ditanyakan pada seseorang mulai di akhir masa kuliahnya.
Mungkin itu adalah wujud perhatian dan kasih sayang orang-orang sekitar, namun tak semua orang dapat menjawabnya dengan lancar dan suka cita. Karena jalan hidup orang berbeda-beda dan mungkin tak semua orang beruntung bisa melewati semua fase tersebut dengan lancar jaya.
Termasuk aku salah satunya. Lulus lama, dan sempat merasakan tidak enaknya dibandingkan dengan saudara yang sebaya.
Alhamdulillah fase tidak enak ditanya kapan lulus sudah terlewati.
Kemudian lanjut dengan pertanyaan kapan dapat kerja dan alhamdulillah sudah pula dapat dijawab dengan baik.
Tinggal pertanyaan yang ketiga, kapan nikah. Pertanyaan paling menyebalkan untuk saat ini. Orang-orang dengan mudahnya bilang, “kan sudah dapat kerjaan mapan, tunggu apa lagi? Toh pasti banyak yang mau sama kamu dengan reputasi seperti itu.
Ingin rasanya melempar sesuatu kepada mereka yang seenak jidat berkomentar seperti itu. Dikira begitu dapat kerja langsung bebas beban begitu saja? Tambah tanggung jawab dan harus beradaptasi, pun mempelajari bidang baru dari awal lagi.
Dikira nyari jodoh tinggal tunjuk? Menentukan pilihan hati untuk teman hidup sampai mati tidak semudah meraih segala gelar akademis yang pernah dimiliki. Perlu kesesuaian hati dan jiwa, kenyamanan dan campur tangan dari Yang Maha Kuasa. Untuk yang terakhir aku sangat yakin Dia telah menyiapkan jodoh terbaik untuk kudampingi. Tugasku adalah mempersiapkan diri untuk dijemput oleh jodoh terbaik yang telah ditentukan Ilahi robbi. Semoga tak lama lagi.
Selasa, 07 April 2015
Suatu sore sepulang dari kantor, aku diantar mbak Lupi ke Harrisma, sebuah pusat penjualan dan service gadget yang direkomendasikan temanku. Benar saja, pegawainya bilang hard disk Soleha rusak. Datanya tidak dapat diselamatkan. Well, aku sudah cukup paham bahwa ini adalah akhir dari kebersamaanku dengan Soleha. Namun pegawai Harrisma merekomendasikan sebuah tempat service hard disk bernama Track Nol di Jalan Kaliurang KM 7,3. Konon di sana bisa memperbaiki segala macam kerusakan hard disk, termasuk yang datanya hilang.
Kemudian naiklah kami ke Jakal atas dan sampailah di Track Nol tepat pada saat adzan maghrib. Setelah aku menjelaskan keadaan Soleha, bapak yang di Track Nol bilang bahwa harga untuk menyelamatkan data-data yang ada di dalam hard disk Soleha sebesar 700 ribu rupiah. Dan itu harus dilakukan sebelum waktu satu bulan karena hard disk bisa saja berjamur.
My God, itu pukulan yang sangat berat. Di satu sisi aku sangat ingin menyelamatkan Soleha beserta jutaan kepingan di dalamnya, namun di sisi lain aku merasa lebih worth it kalau sekalian membeli laptop baru yang lebih ringan dan dapat menunjang karirku nantinya.
And here i am! Aku memutuskan move on dari Soleha dan menabung demi sebuah laptop yang baru, jika masih ada uang sisa baru aku mau beli hard disk baru untuknya agar bisa bermanfaat lagi. Doakan aku ya teman-teman, agar bisa gemi setiti tur ngati-ati sama gaji, sampai akhirnya laptop impian yang baru bisa terbeli. Amin.














