Pages

Tampilkan postingan dengan label My Beloved Friends. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Beloved Friends. Tampilkan semua postingan

Diary Work From Home Day 48 : Tips Tetap Waras, Sehat, dan Bahagia Selama WFH

Jumat, 29 Mei 2020

Sudah dua bulan lebih kita menjalani kehidupan Work From Home, tentu banyak hal yang berubah dari keseharian kita. Aku adalah salah satu perantau yang memilih untuk stay di Jakarta saja sejak hari pertama WFH, walaupun kalau mau nekat, selalu ada cara untuk pulang ke rumah dari bulan Maret lalu. Namun aku sengaja tidak melakukannya karena aku berpikir inilah saatnya untuk aku belajar menjalani kehidupan secara mandiri. Walaupun sudah belajar hidup terpisah dari keluarga inti sejak kuliah, namun baru kali ini aku benar-benar hanya bisa mengandalkan diri sendiri karena sebelumnya saat penempatan kerja di Palu, Sulawesi Tengah, aku pun masih tinggal bersama teman-teman di mess yang sudah seperti keluarga sendiri, jadi jika aku sakit atau butuh bantuan, aku masih bisa minta tolong kepada mereka, pun aku tak kesepian karena dulu sekamar berdua jadi selalu ada teman menjalani hari-hari yang penuh warna.

Memang ga mudah sih, tapi alhamdulillah aku sampai detik ini berhasil menjalaninya. Setidaknya aku berhasil menjalani puasa Ramadhan 1441 H dengan menyiapkan makanan sahur sendiri, plus bayar hutang puasa sampai lunas dimulai pada hari ketiga bulan Syawal. Alhamdulillah ini rekor aku tercepat membayar hutang puasa, karena dengan pertimbangan masih WFH dan belum banyak pekerjaan yang menyita banyak tenaga dan pikiran, hihihihi.

Karena WFH ini bukan sesuatu yang normal untuk kehidupan kita, pasti setiap individu merasakan bebannya, entah dalam bentuk stres, psikosomatis atau lainnya. Aku sendiri merasakan lebih sering kambuh alergi gatal seperti kaligata selama WFH ini, sampai sudah menghabiskan stok obat ketiga atau keempat selama dua bulan terakhir ini. It's okay, aku berusaha untuk tidak ketergantungan obat alergi dan hanya minum obatnya jika benar-benar tak bisa menahan rasa gatalnya.

Tips dariku agar tetap waras, sehat dan bahagia selama WFH adalah :
  1. Selalu bersyukur kepada Allah SWT, terutama untuk kesehatan, pekerjaan dan tempat tinggal yang nyaman sampai sekarang. Aku juga bersyukur Allah SWT selalu menjagaku dan keluarga serta teman-teman yang kusayangi sehingga kami sehat semua walaupun belum bisa saling bertatap muka.
  2. Video call dengan keluarga sesering mungkin. Satu hal yang dulu sebelum pandemi sangat jarang kulakukan karena sudah terlalu lelah dengan kegiatan sehari-hari dan ingin me time di hari libur. Bertatap muka dengan mereka memberikan rasa tenang dan mengobati rasa rindu, yang penting semuanya sehat selalu.
  3. Keep in touch with my people. Selain keluarga, aku juga selalu bertukar kabar dan intens bercerita bersama sahabat-sahabatku seperti yang pernah aku ceritakan di tulisan ini. Lumayan menjaga kewarasan dengan mengobrol banyak hal kan?
  4. Berjalan kaki keliling kompleks yang rutin kulakukan hampir setiap hari bersama Mbak Yuyun. Kami melakukan ini selain agar badan kami tidak kaku dan pegal karena kurang gerak dan terlalu banyak rebahan di kamar kos, juga agar mendapatkan sinar matahari langsung. Selama ini kami jalan kaki sekalian refreshing mengamati keadaan sekitar. It much help to keep us sane!
  5. Melakukan hobi menulis blog dan menonton Netflix. Banyak sekali tontonan bagus di Netflix yang bisa aku pilih agar aku tak melulu terpapar berita tentang Covid 19 yang berpotensi menambah beban pikiran dan menurunkan sistem imun karena stres. Menulis blog ini juga menjadi stress relief yang ampuh untukku. Walaupun aku memutuskan hanya menulis pada hari kerja dan kadang merasa kehabisan ide apalagi yang akan kutulis, karena aku berusaha berbagi lewat tulisan, agar tak sia-sia waktu orang lain membaca blogku ini.
  6. More and more donation. Aku menulis poin ini bukan untuk pamer atau riya, tapi sebagai ajakan untuk kita sebagai makhluk sosial membantu sesama. Di luar sana, banyak sekali orang-orang yang tak seberuntung kita untuk menjalani WFH dan punya penghasilan dan kehidupan yang layak seperti kita. Sudah saatnya kita saling membantu meringankan beban saudara-saudara kita, walaupun bulan Ramadhan yang penuh berkah telah lewat, namun semangat kebaikan kita semoga selalu membara. Setelah berbagi dengan sesama, rasanya bahagia, berasa sedikit bermanfaat jadi manusia.
  7. Selalu berdoa agar semuanya sehat dan segera ditemukan obat atau vaksin untuk Covid 19 ini. Berdoa itu sangat penting untuk menjaga kewarasan karena siapalah kita? Kita hanya makhluk Allah SWT yang sangat kecil, dan  tak ada yang tak mungkin bagi-Nya jika Allah SWT sudah berkendak maka "kun fayakun".
Angka positif COVID-19 pada Kamis (28/5) kemarin adalah 24.538 kasus. Angka positif COVID-19 yang diumumkan pada Jumat (29/5/2020) ini menjadi 25.216 kasus. Berarti ada lonjakan 678 kasus positif COVID-19 dalam sehari.

Stay sane and stay safe ya teman-teman, semoga kita sehat selalu dan wabah Covid 19 ini segera berlalu, aamiin.

Diary Work From Home Day 45 : Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 Hijriyah

Selasa, 26 Mei 2020

Selamat  Hari Raya Idul Fitri 1441 Hijriyah
Taqabbalallahu Minna Wa Minkum Shiyamana Wa Shiyamakum
Mohon dimaafkan lahir dan batin atas banyak salah kata, perbuatan dan postingan yang tidak berkenan selama ini ๐Ÿ™๐Ÿป

Merayakan Hari Raya Idul Fitri di tengah pandemi Covid 19 ini memang tak mudah. Banyak momen yang biasanya dilalui bersama menjadi harus dijalani sendirian, pun melaksanakan sholat Ied yang biasanya beramai-ramai di lapangan dan diakhiri dengan bersalam-salaman.

Selamat dan terus semangat untuk teman-teman sesama perantau yang tidak mudik. We did it! Terima kasih buat Mbak Yuyun yang setia menemani jalan kaki keliling di sekitar sini demi menjaga kewarasan selama Working From Home agar lebih banyak membakar kalori, mendapat sinar matahari langsung dan mengetahui keadaan sekitar, daripada badan kaku dan pegal karena terlalu banyak rebahan dan lesehan di kamar kos saja.

Semoga kita sehat selalu dan keadaan ini lekas membaik. Mari kita bersiap menjalani hidup #newnormal dengan tetap mematuhi protokol kebersihan dan kesehatan, juga tetap semangat untuk saling bantu sesama di sekitar kita.

Angka positif COVID-19 pada Senin (25/5) kemarin adalah 22.750 kasus. Angka positif COVID-19 yang diumumkan pada Selasa (26/5/2020) ini menjadi 23.165 kasus. Berarti ada lonjakan 415 kasus positif COVID-19 dalam sehari.

Menjelang rencana akan dilonggarkannya kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan persiapan menuju cara hidup dengan #newnormal, kita harus tetap waspada dengan cara menjaga kebersihan dan kesehatan, juga selalu berdoa semoa pandemi covid 19 ini akan berakhir segera, aamiin.

Diary Work From Home Day 37 : Sore yang Cerah untuk Jiwa yang Sepi

Selasa, 12 Mei 2020

Pagi ini aku ke kantor tanpa minta izin ke atasanku, karena kupikir aku hanya akan mencari berkas yang kubutuhkan dan memfotonya saja setelah itu pulang. Jadi, aku hanya menghubungi petugas kebersihan yang membawa kunci ruangan untuk menemaniku selama mencari berkas. Kantor benar-benar sepi, hanya terlihat beberapa petugas keamanan berjaga seperti biasanya. Saat melewati sudut-sudut kantor di mana aku pernah bertemu dengan beliau, rasanya tak akan sama lagi. Tak akan lagi aku melihatnya dari kejauhan saat baru datang. Atau kami bertatapan mata dan aku akan sok cuek pura-pura tak melihatnya. Bodoh, harusnya aku menyapa dengan ramah seperti kepada senior lainnya.
Grieving Loss Quote by Mandy Hale
Hari ini aku benar-benar masih belum bisa kerja dengan produktif. Badanku masih sakit efek kurang tidur. Aku bahkan tidak fokus sampai melewatkan jadwal zoom meeting karena salah mengira waktu. Sore ini pun aku jalan kaki sendirian dan menggunggah foto dengan caption "Sore yang cerah untuk jiwa yang sepi" sampai seorang kawan yang tahu tangisku karena kepergian beliau kemarin bertanya apa aku masih sedih? Aku pun menjawab apa adanya. Aku harus menerima perasaan sedih ini agar bisa melewati fasenya. I am a mess. 

Angka positif COVID-19 pada Senin (11/5) kemarin adalah 14.265 kasus. Angka positif COVID-19 yang diumumkan pada Selasa (12/5/2020) ini menjadi 14.749 kasus. Berarti ada lonjakan 484 kasus positif COVID-19 dalam sehari.

Semoga kita semua baik-baik saja. Aamiin. 

Diary Work From Home Day 36 : Walau Bukan Siapa-Siapa, Rasa Sedih itu Nyata

Senin, 11 Mei 2020

Ini sudah hari Senin lagi. Awalnya aku merasa tak ingin menulis apa-apa lagi. Aku merasa tak bersemangat dan masih merasa sedih. Walau bukan siapa-siapa, rasa sedih itu nyata. Aku bahkan masih menangisi di hari kedua kemarin. Maaf ya Pak. Semoga penyesalanku tak membuat Bapak sedih juga di sana, toh Panjenengan tak sempat mengenalku.

Aku masih sulit tidur, sampai menjelang subuh baru bisa terlelap. Setiap memejamkan mata, bayangan pesan Whatsapp pada Sabtu pagi kemarin akan berkelebat. Rasa sedih itu kembali datang. Aku juga tak menyangka mengapa aku bisa sesedih ini, bahkan melebihi sedihku saat kakek kandungku berpulang. Seingatku, saat itu mataku hanya berkaca-kaca, karena aku tahu doa-doaku akan lebih menenangkan kakek di sana. Rasanya ini adalah rasa kesedihan pertamaku atas orang yang berpulang ke Rahmatullah.
Sumber: Buku Digital "Tidak Ada yang Kemana-mana Hari Ini"
Karena ini hari kerja, maka aku harus terjaga di pagi hari. Dengan badan yang tak karuan rasanya karena kurang tidur, aku melewati hari Senin ini dengan perasaan yang embuh banget. Namun setidaknya aku bisa menenangkan hatiku dengan mendoakan beliau. Aku yakin doaku pasti sampai karena kami seiman. Dalam Islam, doa untuk orang yang sudah berpulang, akan tetap sampai kepada yang bersangkutan. 

Aku harus kembali bersemangat. Aku punya hidupku sendiri yang harus ku jalani dengan hati-hati. Setidaknya kepergian beliau mengingatkanku yang hampir berumur tiga dekade ini untuk menjalani hidup dengan baik dan lebih bermanfaat untuk sesama.

Angka positif COVID-19 pada Minggu (10/5) kemarin adalah 14.023 kasus. Angka positif COVID-19 yang diumumkan pada Senin (11/5/2020) ini menjadi 14.265 kasus. Berarti ada lonjakan 242 kasus positif COVID-19 dalam sehari.

Mari menjalani hidup dengan berhati-hati dan sebaik-baiknya, agar kelak jika kita sudah kembali menghadap-Nya dapat mempertanggungjawabkan semua ini dengan baik. Tetap sehat dan semangat ya teman-teman, aamiin.

Diary Work From Home Day 35 : Sugeng Tindak, Pak Abi

Sabtu, 09 Mei 2020

Hari ini hari Sabtu, 16 Ramadhan 1441 H. Selayaknya weekend, aku bangun siang, terlebih karena sedang tidak berpuasa. Aku bangun karena mendengar adzan dan kaget ternyata sudah jam 12 siang. Memang aku baru tidur jam 2 dini hari. Seperti biasa, aku mengaktifkan jaringan internet di hp dan banyak pesan masuk di Whatsapp. Tetapi ada berita duka yang membuatku tak percaya. Pak Abi berpulang, pagi ini. Aku masih tak percaya. Aku baca chat grup yang lain, juga memberitakan hal serupa.

Innalillahi wa inna ilaihi roji'un... He gone too soon.
Allahumaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fu'anhu...

Pak Abi adalah salah seorang senior di kantor. Meskipun umur kami terpaut 15 tahun, tetapi karena sama-sama belum menikah, teman-teman di ruanganku sering menjodohkan. Belum sempat berkomunikasi secara personal, wabah covid 19 sudah membuat kami work from home. Seingatku kami bertemu dua kali, pertama saat ada beliau ke perpustakaan dan aku membantunya memfotokopi literatur yang dibutuhkan, kedua saat sosialisasi perpustakaan dan beliau duduk di depanku. 

The one who wear glasses in the left
Sebenarnya ada seorang teman yang mengusulkan aku untuk say hello duluan via Whatsapp, sekedar untuk care apalagi di masa pandemi ini orang-orang stay at home dan mungkin tak saling berkabar seperti postinganku di awal masa isolasi mandiri ini. Bodohnya, aku menolak dengan alasan classic harusnya cowok yang mulai kontak duluan dan toh nanti setelah WFH berakhir bakal ketemu lagi di kantor.

Sekarang aku hanya bisa menangisi penyesalanku. Seharusnya aku mencoba say hello duluan, walaupun itu mungkin tak akan mengubah takdir kepergiannya, setidaknya mungkin beliau tak akan pergi dalam kesendirian seperti ini. I'm so sorry... 

Aku jadi teringat akhir-akhir ini aku selalu merasa deg-degan melihat Whatsapp story atas nama "Mas Abi" namun aku buru-buru menepis kekhawatiran dengan mengingat itu bukan nomornya Pak Abi karena kami tak saling menyimpan kontak. Padahal sebelumnya, aku biasa aja melihat Whatsapp story atas nama "Mas Abi". Entah pertanda atau bukan, aku makin merasa bersalah...

Sugeng tindak Pak Abi, semoga Panjenengan husnul khotimah karena berpulang ke Rahmatullah di bulan suci Ramadan dan semoga Allah memberikan tempat terbaik di sisi-Nya. Semoga Panjenengan berkumpul dengan roh-roh orang sholeh lainnya di sisi Allah, dan tidak sendirian lagi. Aamiin ya robbal'alamiin...

Selamat dari Gempa Palu (Part 4 ~ end)

Jumat, 05 Oktober 2018

Pada hari Minggu (30/09/2018) pukul 03.20 WITA dini hari, kami mendapat kabar bahwa akan ada pesawat Hercules masuk ke Palu membawa bantuan dan bisa membawa penumpang keluar dari Palu ke Makassar. Tanpa pikir panjang aku langsung memutuskan ikut ke bandara membawa ransel berisi laptop dan mukena, tas berisi dompet dan hp, serta satu kantong plastik berisi sepatu dan satu setel pakaian yang berhasil kuambil dari mess pada hari sebelumnya. Aku bersama teman-teman yang mayoritas perempuan tiba di bandara yang sudah dipenuhi banyak orang. Prosedur pendaftaran untuk naik pesawat Hercules pun tampaknya belum diatur dengan jelas sehingga banyak orang mengantri di dekat pagar landasan pesawat.

Kami mengantri dari menjelang shubuh di Bandara Mutiara Sis Al-Jufri Kota Palu. Foto diambil 30/09/2018.
Petugas berusaha menertibkan masyarakat yang ingin dievakuasi dengan pesawat Hercules. Foto diambil 30/09/2018.
Pesawat yang mari sebut saja Hercules. Foto diambil 30/09/2018.

Petugas mengedarkan daftar presensi selama penerbangan Palu - Makassar. Foto diambil 30/09/2018.

Beberapa mobil ambulans langsung mendekati pesawat begitu mendarat di Makassar. Foto diambil 30/09/2018.
Aku dan beberapa teman yang merasa tidak kuat untuk berdiri lama, memilih menunggu di dalam mobil saja. Saat waktu shubuh tiba pun kami terpaksa sholat di dalam mobil juga. Sampai akhirnya matahari bersinar terang dan semakin banyak orang, kami memutuskan ikut mengantri dari jarak dengan pagar. Sempat terjadi aksi dorong-mendorong yang menyebabkan kami bisa masuk ke area landasan pesawat dan memancing emosi petugas yang berusaha menertibkan antrian yang carut-marut ini. Petugas bilang bahwa kami duduk saja dan nanti namanya akan dipanggil. Namun tidak jelas kepada siapa kami harus mendaftarkan diri. 

Ketika sudah ada suara pesawat mendarat, ternyata tujuan terbangnya adalah ke Manado, bukan Makassar. Kembali terjadi aksi dorong-mendorong di antrian yang membuat anak-anak kecil yang berada di tengah kerumuman tergencet dan hampir pingsan. Beberapa kali kami duduk-duduk dan berdiri lagi mendekat ke kerumunan antrian tanpa kepastian. Aku berusaha untuk tidak terpisah dari teman-temanku. Sampai para petugas membuat pagar betis untuk memprioritaskan hanya ibu-ibu dan anak-anak yang boleh masuk ke kawasan landasan pesawat terlebih dahulu.

Pada saat itulah aku bersama Fariz (4 tahun) dan Mas Jae terpisah dari rombongan teman-teman kami. Tiba-tiba di depanku melintas seorang petugas memakai seragam rescue berwarna merah dan menanyakan tujuan kami, ke Manado atau ke Makassar. Aku dengan pasrah menjawab, "terserah kemana aja yang penting keluar dari Kota Palu ini dulu". Ternyata bapak tersebut mengajak kami bertiga untuk ikut bersamanya masuk ke kawasan landasan pesawat. Aku sudah berusaha mengatakan bahwa ada seniorku yang sedang hamil (ibunda Fariz) yang ketinggalan di rombongan belakang. Bapak itu bilang, "yang penting selamat dulu, jangan bawa-bawa teman, nanti petugas marah". 

Kami mengikuti bapak itu untuk menuliskan nama, kemudian digabungkan dengan orang-orang yang sudah bergerombol dan dihitung. Sekitar 80 orang waktu itu diminta langsung masuk ke pesawat TNI yang sepertinya terlalu kecil untuk disebut Hercules tapi karena aku tidak paham nama-nama pesawat, jadi mari kita sebut saja Hercules. Di dalam pesawat tidak semua orang dapat tempat duduk, diutamakan untuk wanita dan anak-anak. Aku duduk dengan Fariz di pangkuanku, sementara mas Jae lesehan selama penerbangan berdurasi 1 jam 20 menit itu. Di dalam pesawat yang lepas landas sekitar pukul 8.50 WITA tersebut, petugas mengedarkan kertas untuk kami isi nama masing-masing termasuk nama anak yang kami bawa.

Begitu mendarat di Bandara Hasanuddin Makassar, kami diminta menuliskan lagi nama dan alamat tujuan. Sementara menunggu mas Jae yang sedang menulis, Fariz sudah berteriak memanggil ayahnya. Alhamdulillah ternyata sudah banyak teman-teman dari Perwakilan Sulsel yang menjemput kami. Aku terharu dengan kekompakan dan kebaikan teman-teman di kantor ini, yang sudah saling bantu dengan tulus ikhlas, semoga Allah membalas kebaikan mereka dengan pahala dan keberkahan yang lebih banyak lagi. Ternyata ibunda Fariz beserta teman-teman serombongan harus bersabar untuk menanti penerbangan jam 2 siang karena kabarnya menunggu rombongan Presiden Jokowi selesai dahulu.

Setelah istirahat semalam di Makassar, aku dan dua rombongan keluarga lain bertolak menuju domisili masing-masing. Aku yang sama sekali tidak menangis saat gempa mungkin efek terlalu syok juga malah tersedu-sedu sendirian di pesawat menjelang pendaratan di Jogja. Rasanya sangat rapuh, sedih sekaligus mengkhawatirkan teman-teman yang masih ada di Palu. Bertemu keluarga pun seperti orang linglung, tidak fokus pada apa yang mereka bicarakan karena pikiran dan hatiku masih pilu mengingat teman-teman di Palu.

End.

 

Selamat dari Gempa Palu (Part 3)

Hari Sabtu (29/09/2018) sebagian besar dari kami yang mengungsi di kantor telah berpindah ke mess. Di halaman mess, teman-teman membuat tenda darurat dari terpal yang dikaitkan ke ranting pohon. Aku juga sempat masuk ke dalam kamarku di mess untuk mengambil laptop, satu setel pakaian, mukena, sajadah, alat mandi, bantal, dan selimut. Aku hanya membawa peralatan yang benar-benar penting karena dikhawatirkan ada gempa susulan, sehingga setiap orang hanya diberi waktu selama lima menit di dalam bangunan. Sama seperti di kantor, orang-orang masuk ke mess dengan menggunakan helm dan bergantian dengan beberapa teman yang berjaga di luar bangunan.



Dapur mess yang porak poranda. Foto diambil 29/09/2018.
Lampu penerangan yang tumbang dan pagar kompleks yang roboh. Foto diambil 29/09/2018.
Tenda darurat dari terpal yang kami buat. Foto diambil 29/09/2018.
Lantai garasi yang menganga dan tandon air yang jatuh. Foto diambil 29/09/2018.
Gazebo di tengah kompleks yang telah roboh. Foto diambil 29/09/2018.

























Secara fisik keadaan mess lebih parah daripada kantor. Gazebo di tengah halaman dan pagar yang mengelilingi mess roboh, permukaan tanah tempat ground tank di mess terangkat, bangunan dan beberapa garasi rumah dinas retak sampai menganga, muncul lumpur di beberapa titik, serta tangga penyangga tandon air dan beberapa tiang lampu penerangan di kompleks mess patah. Namun suasana di mess lebih hidup sehingga kami lebih semangat ketika berada di sana.

Seperti sudah terbagi, ada teman-teman yang menyiapkan makanan dengan stok yang masih ada dari mess dan rumah-rumah dinas, ada juga yang melanjutkan pencarian terhadap beberapa keluarga teman-teman yang belum ada kabarnya. Aku sempat ikut rombongan yang berkunjung ke kantor lagi karena di mess tidak ada ada sinyal. Kami membeli tambahan bahan makanan dan sayuran di warung yang masih buka. Kami saling menguatkan dengan saling bertukar kabar dan diselingi becanda bersama. Kami makan dengan nasi dan lauk seadanya dengan daun pisang yang "dipincuk". Itupun pincuknya kami simpan untuk sesi makan berikutnya. Meskipun makan dengan porsi mini, namun kebersamaan memang menguatkan dan menambah kenikmatan.

Saat malam menjelang, kami bersama-sama tidur di bawah tenda karena kami tidak berani berada di bawah bangunan meskipun hanya di teras atau di garasi perumahan. Guncangan-guncangan gempa lebih terasa jika kita berada di lantai bangunan daripada duduk di atas paving blok. Semuanya teratur, ibu-ibu dan anak-anak tidur di atas kasur yang dikeluarkan dari rumah-rumah dinas, sisanya menempatkan diri masing-masing dan ada pula yang tidur di dalam mobil dengan kaca terbuka. Sempat hujan juga di tengah malam sehingga yang tidur beratapkan langit karena panjangnya terpal tidak dapat menaungi kami semua harus kembali mencari tempat yang lebih aman. 

Bersambung~

Selamat dari Gempa Palu (Part 2)


Jumat malam itu terasa sangat panjang. Tak terhitung berapa kali kami saling berpegangan tangan dan menyebut nama Allah saat tiba-tiba bumi kembali berguncang. Jaringan telepon, internet dan listrik yang mati total membuat kami semakin panik dan takut tak dapat mengabari keluarga masing-masing di luar kota hanya untuk mengabarkan keselamatan kami. Kami pun mendapat kabar bahwa tsunami telah menyerang Pantai Talise yang pasti sedang dipenuhi banyak orang berkaitan dengan pembukaan acara Palu Nomoni 2018. 

Halaman belakang kantor tempat kami bermalam setelah gempa besar hari Jumat. Foto diambil Sabtu (29/09/2018)

Seorang warga berjalan di Jalan Dewi Sartika Kota Palu. Foto diambil Sabtu (29/09/2018)

Bangunan yang miring akibat gempa di Jalan Dewi Sartika Kota Palu. Foto diambil Sabtu (29/09/2018)
Aku merasa bersyukur bahwa kami masih diberi keselamatan, sekaligus was-was dan takut jika tiba-tiba muncul bencana yang lebih besar dan saat itu menjadi saat terakhirku di dunia ini. Aku benar-benar takut amalanku belum cukup untuk kembali pada-Nya. Waktu itu terasa sekali bahwa yang paling dekat dengan manusia adalah kematian, namun aku merasa lalai dalam mempersiapkannya. Aku beneran merasa takut, tak berdaya dan menyesal selama ini masih sering sombong dan melakukan hal-hal tak berguna.

Sepanjang malam itu kami saling menguatkan dan berdoa bersama-sama. Jika ada orang yang datang, kami langsung terjaga. Pun jika ada gempa susulan yang besar, kami langsung duduk waspada dari posisi tidur masing-masing, karena setiap akan ada gempa yang besar dan terasa, kami seperti mendengar suara dentuman entah dari mana asalnya. Jangan ditanya berapa kali gempa susulan, karena sepanjang malam kami merasa seperti dalam ayunan. Kami sampai tidak bisa membedakan apakah itu benar-benar gempa atau kami yang pusing karena lelah dan kurang tidur. Aku sangat memohon pada Allah agar malam itu tidak hujan, karena aku takut malam akan semakin mencekam jika tak ada sinar bulan. Alhamdulillah bintang dan bulan menemani tidur ayam kami sampai pagi. Saat melaksanakan sholat shubuh pun aku masih sempat takut kalau matahari tak bersinar. Alhamdulillah hari Sabtu (29/09/2018) matahari bersinar terik sebagaimana biasanya di atas Kota Palu.

Ketika cahaya matahari pagi sudah mulai menerangi, kami memberanikan diri untuk jalan-jalan di sekitar kantor. Mengamati dan mengabadikan beberapa kerusakan kantor dari jarak aman. Waktu itu, dengan menggunakan helm, beberapa orang termasuk aku, memberanikan diri untuk masuk kembali ke dalam bangunan kantor. Posisi mejaku yang tidak mendapat jendela langsung keluar gedung, gelap dengan almari kaca yang telah jatuh mengunci kursiku sehingga sulit dipindahkan. Aku merasa takut dan hanya bisa membawa barang seperlunya. Alhamdulillah tasku sudah di bawah meja dan dompet serta hp sudah ada di dalamnya, tinggal ambil saja karena memang pada hari sebelumnya aku sudah bersiap akan pulang. 

Dari malam aku tidak enak makan, sehingga hanya mengganjal perut dengan sekotak sari kacang hijau dan air putih. Saking takut dan was-was, aku merasa tidak lapar. Pagi hari baru aku makan mie instan yang dimasak oleh teman-teman pada tengah malam dan teh hangat buatan mbak Ika yang kami dapatkan dari stok kantin kantor. Sekiranya cukup untuk menenangkan dan memberi energi untuk melanjutkan hidup. Alhamdulillah aku sempat tidur beberapa saat sebelum abang-abang datang dan menginstruksikan bahwa sebaiknya kami pindah ke mess saja karena di mess sedang diusahakan menyalakan genset untuk menyalakan pompa air dan mengisi batre hp. Beberapa teman yang menggunakan XL dan Telkomsel sesekali mendapat sinyal sehingga kami bisa mengirimkan kabar kepada keluarga masing-masing.

Bersambung~

Hai Makassar!

Sabtu, 25 Februari 2017

Seminggu yang lalu aku berkesempatan buat kondangan nikahan teman sekamar ke Makassar, ibukota Provinsi Sulawesi Selatan, yang bisa dibilang sebagai kota paling maju sepulau Sulawesi ini. Yes akhirnya ke peradaban, hahaha. Bukan berarti aku nggak bersyukur tinggal di Palu yang ga ada macet ini, hanya saja rasa bosan kerap melanda jika yang kulihat dan kumakan itu-itu saja.
Semoga semua segera gantian dikondangin biar ga cuma kondangan terus~
Destinasi pertama setelah kondangan adalah Benteng Fort Rotterdam. Aku dan Itty kesana masih pakai riasan dan kostum lengkap kondangan hahaha. Tidak ada tarif resmi tiket masuk ke sana, kami hanya diminta menuliskan nama di daftar tamu dan memberi seikhlasnya kepada bapak-bapak penjaga di pintu masuk. Ada juga bapak-bapak yang menawarkan jasanya sebagai guide untuk menjelaskan perihal sejarahnya, namun kami lebih suka mengeksplorasi sendiri a.k.a jepret narsis sana-sini mumpung masih pake dandanan cetar, biar ga sayang ongkos ke salonnya kalau cuma dipake njagong doang trus dihapus, hahaha dasar ogi (ogah rugi) banget. Kalau menurutku benteng ini semacam Benteng Vredeburg kalau di Jogja namun agak kurang terawat. Ada dua sumur tua dan beberapa semacam sanggar seni di lokasi ini. Kalau piawai mencari angle yang tepat, sangat bisa digunakan sebagai tempat foto prewedding. 

Malam harinya janji ketemuan sama teman-teman yang dari Manado, Ambon dan Manokwari di RM Seafood Losari. Jangan ditanya itu di mana, pokoknya pas di pertigaan jalan. Tempat makannya rame, rasa masakannya enak, harganya nggak mahal-mahal amat, dan CUMI BAKARNYA RECOMMENDED! Ingetin aku kalau ke Makassar buat mampir kesana lagi. Lalu kami lanjut ke Mall Panakkukang yang katanya sekarang lebih mirip pertokoan. Memang penampakannya seperti itu, tapi tetap saja lebih banyak pilihan gerainya. Kami berada di sana sampai mallnya tutup, hahahaha.

Hari berikutnya, tujuan pertama adalah Monumen Mandala. Monasnya Makassar kalau kata Itty. Sayang liftnya rusak, jadi kami cuma bisa menjelajah sampai lantai tiga saja. Awalnya kami nggak yakin tempat ini dibuka untuk umum karena gerbang depan terkunci. Namun ternyata ada satu pintu di samping yang terbuka. Kami masuk lewat situ dan disambut oleh seorang penjaga yang membawa kunci bangunan kokoh tersebut. Kami cukup membayar lima ribu rupiah per orang kepada beliau. Penampakan di dalamnya tidak terawat dan lebih terlihat seperti gudang. Sedih melihatnya. Alangkah lebih baik jika dirawat dan difungsikan kembali lift yang rusak itu, agar masyarakat bisa melihat pemandangan kota Makassar dari puncak towernya.
Monumen Mandala ga terawat :(

Pemandangan di Sumba Opu dari dalam becak.
Udah sah ke Makassar kan ya? Hahahaha.

Kami melanjutkan petualangan ke Somba Opu, semacam pusat oleh-oleh di sana. Yang menarik adalah kami naik becak! Ah senangnya setelah sekian lama akhirnya bisa naik becak lagi. Daeng (sebutan untuk laki-laki yang lebih tua) yang baik menunggu kami di depan toko dan bersedia mengantarkan ke Pantai Losari. Ternyata penampakannya semacam Anjungan Nusantara di Pantai Talise kalau di Palu. Setelah puas pose berpanas ria, akhirnya kami beranjak ke Trans Studio Makassar. Karena Daeng nggak sanggup mengantar, kami naik bentor. Bahagia akhirnya kesampaian juga mencoba naik bentor meski sepanjang jalan banyak debu dan anginnya lebih kencang dibanding naik becak.

Naik bentor yang anginnya kaga santai hahaha
Sesampainya di mall megah di lokasi elit itu, kami memutuskan makan siang dulu di Ichiban Sushi lagi-lagi karena di Palu nggak ada hahahaha. Baru kami masuk ke wahana bermain di TSM. HTM untuk weekdays 150 ribu, dan weekend 200 ribu. Aku coba semua wahana bermain yang ada. Puas banget bisa deg-degan dan teriak sepuasnya hahahaha. Kalau pas naik wahana yang ekstrim dan bikin pusing, aku langsung merem dan pikirin hal-hal yang mau dibuang dari pikiran biar lepas teriaknya hahahaha. 
Lunch dulu kita baru berpetualang lagi..

Sushi... So yummy :9
Horeeee Trans Studio Makassar!
Hari sudah sore saat kami selesai bermain dengan riang gembira dan mampir ke satu lagi tempat oleh-oleh yaitu Mantao Pare. Roti berbentuk seperti bakpao yang tidak ada isinya. Cara makannya bisa diiris dan digoreng begitu saja atau digoreng dengan lapisan telur. Bisa juga disajikan dengan berbagai macam selai, tergantung selera.

Sebenarnya masih ingin jalan-jalan lagi tapi apa daya akhir pekan sudah berakhir dan harus kembali ke realita hahahaha. Terima kasih tak terhingga buat Itty dan keluarganya yang sudah baik banget mau direpoti. See ya, Makassar!

Oplosan

Senin, 30 Januari 2017

Ini adalah kisah nyata, yang tidak perlu direka ulang apalagi dicoba.

Ini ceritaku saat KKN tahun 2011 lalu. Barusan ingat karena chat sama adek soal Sprite sama Promag, hahaha. Alkisah suatu siang saat mengajar di SD tempat KKN, tetiba perutku merasa perih. Saat itu teman-teman pun sedang sibuk mengajar kelas yang lain sehingga tak ada yang bisa dimintai tolong untuk membeli obat maag. Beruntung selang tak berapa lama akhirnya sekolah pun usai juga. Kami kembali ke pondokan dan aku segera minum Promag yang sudah menjadi persediaan buat jaga-jaga.

Waktu itu aku ingat ada teman yang baru datang dari kota iya soalnya kami KKN di puncak bukit dimana jajanan paling mewah adalah bakso, mie ayam, dan sate serta alfamart di kota kecamatan dan membawa beberapa bungkus bakso. Karena memang sudah jam makan siang akhirnya aku ikut menyantap bakso dengan nikmatnya. Sampai suapan terakhir dan merasa butuh minum, akhirnya ke dapur tanpa mendapatkan air putih atau teh botol. Di kulkas warung Bu Lurah hanya tersedia beberapa botol Fanta dan Sprite. Karena kebiasaan kami adalah minum dulu baru totalan kemudian jadi aku pilih Sprite aja yang kupikir lebih segar di teriknya siang, hahahaha.

Selang satu setengah jam, saat ikut jama'ah sholat dzuhur yang sudah mepet waktunya karena kebanyakan bercanda, aku merasa ada yang aneh. Pusing-pusing lemes aneh gimana gitu. Dan saat sholat itu pun aku baru ingat kalau ternyata tadi minum Promag, makan bakso dan minum Sprite. Hahahahahahahaha pinter emang! Bikin oplosan kecil-kecilan.

Selesai sholat, nanya ke Bu Lurah di mana ada dokter atau puskesmas. Kata beliau, ada puskesmas di bawah sana tapi bidannya sedang rapat di kecamatan. Ngalamat pasrah aja sama nasib kalau begini. Meringis nahan perih dan pusing. Akhirnya gresek-gresek di warung lagi dan dapat penawar, susu cair rasa coklat. Kata teman-teman yang cowok, itu wajar aja sakitnya karena keracunan. Nanti juga hilang sendiri. Tampaknya mereka jauh lebih berpengalaman ya? Hahaha.

Temen sekamar bilang katanya aku pucet banget, trus disuruh bobok aja. Beneran rasanya nano-nano keringet dingin mau bobok kayaknya gak bisa. Akhirnya bisa bobok walau sebentar dan udah bisa keringetan. Alhamdulillah ya Allah masih dikasih perpanjangan nyawa.

Setelah itu aku diem-diem aja kalau ditanya kabar sama orang rumah. Pas udah pulang KKN baru berani cerita kalau punya pengalaman gak sengaja minum oplosan, jadi kan cuma dapet omelan doang gak bikin khawatir, hahahaha. Beneran jangan pernah mencoba kekonyolan semacamnya ya!

Akhirnya ke Lembang Juga

Senin, 02 Januari 2017

Liburan akhir tahun 2016 memang sudah aku niatkan untuk mengunjungi tempat yang sejuk. Jatuhlah pilihanku pada Kota Bandung. Berhasil mengajak Mbak Puput yang dulu kuliah di ITB, membuatku merasa aman, paling nggak, nggak akan nyasar-nyasar amat lah ya, hahahaha.

Jumat malam, 23 Desember 2016, aku terbang dari Palu ke Jakarta. Sabtu pagi, aku janjian bertemu Mbak Puput di Stasiun Gambir, pukul 08.00 WIB. Kereta Argo Parahyangan membawa kami ke Kota Kembang dengan melewati beberapa stasiun, seperti Jatinegara, Bekasi, Purwakarta, dan Cimahi. Sesampainya di Stasiun Bandung, aku masih harus mengurus pembatalan tiket KA Malabar jurusan Bandung - Solo karena memutuskan untuk kembali ke Jakarta setelah selesai liburan di Bandung. 

Kami memesan Gocar dengan tarif Rp60.000,00 yang kemudian abang Gocarnya curhat kalau tarifnya terlalu murah dengan kondisi jalanan macet dan berujung pada minta tambahan seikhlasnya. Karena memang jauh dan macet, kami sampai harus melewati jalan alternatif, akhirnya kami bayar Rp75.000,00. Pun abangnya sempat menyarankan mengunduh aplikasi Grab karena dikhawatirkan gak akan ada Gokar yang standby di daerah Lembang yang jauh dari pusat kota itu.

Kami menginap di Seruni Guest House, di Jalan Maribaya, bisa jalan kaki dari objek wisata De Ranch. Malam harinya kami jalan kaki menyusuri Pasar Panorama Lembang, minum susu segar di Susu Murni Lembang dan makan ramen di Basmal Steak House. Sebenarnya masih lapar mata melihat banyak tempat makan di sepanjang jalan, tapi apa daya, perut sudah kenyang.
Ramainya Tangkuban Perahu

Lemu? Yoben :p
Minggu pagi kami hendak ke Tangkuban Perahu dengan naik angkot. Tetapi resepsionis penginapan menawarkan jasa sewa motor Rp100.000,00 saja. Katanya sih biasanya seratus lima puluh ribu. Berhubung anaknya suka tantangan, akhirnya sewa motor saja. Kapan lagi bisa keliling kota Bandung motoran, hahaha. Naik-naik ke puncak gunung dengan bekal ikut arus, akhirnya sampai juga kami di objek wisata tujuan. Kami membayar uang masuk Rp77.000,00 untuk dua orang, plus jasa parkir Rp5.000,00. 


Tuh, bener kan maksimal 80 kg, hahaha.
Tak lama kemudian, kami memutuskan turun ke Floating Market yang nggak kalah padatnya. Sesungguhnya ingin lanjut ke Kawah Putih Ciwidey, namun katanya terlalu jauh dan medan jalannya lebih berat daripada ke Tangkuban Perahu. Dengan motor, kami membayar tiket masuk Floating Market Rp45.000,00. Lima ribu untuk parkir, dan dua puluh ribu untuk dua tiket masuk yang nantinya bisa ditukar dengan minuman gratis. Kalau mau makan di Floating Market ini harus beli coin dulu. Kayak kemarin kami coba mendoan, harus menukarkan coin senilai 20 ribu dulu.



Terlalu banyak yang antri foto di situ, tante lelah dek~

Maksud hati ingin lanjut ke Observatorium Bosscha, yang letaknya pas di jalur pintu keluar dari Floating Market itu. Namun apa daya, ternyata tutup sampai tanggal 3 Januari 2017. Akhirnya memutuskan ke Pasar Baru Squre saja. Memecah padatnya kendaraan di Jalan Setiabudi, melewati tempat hits macam Farmhouse dan sampailah di tempat tujuan. Pusat belanja andalan dari zaman kuliah, kalau ke Bandung, hukumnya fardhu 'ain buat mampir, hahaha.

Selesai belanja baru ingat dari siang belum sempat makan. Karena udah kepikiran pasta akhirnya ke Warung Pasta di Jalan Ganeca. Pulang ke penginapan lewat Dago dan lagi-lagi jalan alternatif via Bukit Pluncut Ciumbuleuit yang jalannya sepi macam tempat jin buang anak. Motor sempat nggak kuat nanjak, akhirnya terpaksa aku minta Mbak Puput turun sebentar dari boncengan dan jalan kaki, hehehe. Sampai penginapan sudah jam sembilan malam.

Hari terakhir di Lembang, kami manfaatkan ke De Ranch yang bisa jalan kaki dari penginapan. Tiket masuknya berdua cuma dua puluh ribu saja, lagi-lagi bisa ditukarkan dengan minuman. De Ranch ini seharusnya tutup di Hari Senin, tetapi karena kemarin waktu berkunjung kesana adalah libur panjang, mungkin memang pengecualian. Ada banyak wahana permainan di dalamnya. Yang paling ramai adalah menunggang kuda, yang setiap orangnya dikenai tarif Rp25.000,00. Oh ya, berat badan maksimal penunggang kuda 80 kg ya, mungkin kasian kudanya kalau terlalu berat, hahaha. Karena antriannya panjang dan katanya sampai 1,5 jam, akhirnya kami memilih naik delman. Kami membayar Rp30.000,00 bisa untuk berdua atau bertiga katanya. Bapak kusir bercerita kalau di dekat situ adalah Taman Bunga Begonia yang bisa ditempuh dengan naik delman juga. Namun, waktu kami terbatas dan belum packing untuk kembali ke Jakarta, akhirnya belum sempat ke Taman Bunga Begonia.
Akhirnya pilih naik delman.
Satu lagi wahana permainan yang kami ikuti, yaitu flying fox. Aku memang menyukai permainan yang bikin deg-degan gitu. Apalagi untuk naiknya harus meniti batu demi batu macam anak Pecinta Alam latihan panjat tebing. Oh iya, kami membayar Rp20.000,00 per orang untuk mainan flying fox ini. Sebenarnya ada wahana lain yang aku ingin, trampoline, tetapi berat badan maksimal 45 kg. Memang bukan buat tante-tante kayaknya, huhuhuhu...

Pulangnya kami pesan Gocar lagi, yang sama bapak Gocarnya diminta cancel aja diaplikasi tapi dibayar tunai dan ditambah gocap lagi. Jadi di aplikasi harganya Rp42.000,00 tambah Rp50.000,00, macam carteran gitu lho. Bener juga kata abang Gocar yang nganterin kemarin ternyata, susah cari Gocar di Lembang. Dan anggap saja memang harga liburan ya segitu, daripada ketinggalan kereta, hahaha.
 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS