Pages

Solo-ku Sayang, Semoga Aman

Jumat, 31 Agustus 2012

Surakarta atau yang lebih akrab disebut Solo adalah sebuah kota kecil di bagian timur Provinsi Jawa Tengah. Karesidenan Surakarta dikelilingi oleh 6 kabupaten, yaitu Kabupaten Sukoharjo, Wonogiri, Klaten, Boyolali, Sragen, dan Karanganyar. Bagaimanapun, aku dan Solo tak dapat dipisahkan. Kedua orang tuaku berasal dari Sragen, dan sekarang kami menetap di Sukoharjo. Aku menempuh pendidikan menengah pertama dan atas di Solo. Kota yang benar-benar menjadi saksi tumbung kembangku. Sekarang, Solo dengan slogannya "BERSERI" sedang diguncang teror.

Terhitung sudah terjadi 3 kali teror yang menghantui Kota Solo sejak akhir bulan ramadhan lalu. Pertama, penembakan di Pos 5 Pengamanan Lebaran di perempatan Gemblegan tanggal 17 Agustus 2012. Disusul pelemparan granat di Pos 6 Pengamanan Lebaran di Gladak sehari setelahnya. Kemudian, baru saja beberapa jam tadi, kembali terjadi penembakan di Pos Polisi Singosaren. Kali ini memakan korban jiwa, Briptu Dwi Data, yang sedang berada di pos jaga sendirian.

Banyak orang berpendapat bahwa ini adalah permainan politik karena Pak Jokowi akan maju pada putaran kedua Pilgub DKI Jakarta. Apapun motifnya, menurutku tindakan tidak bertanggung jawab seperti ini tidak berperikemanusiaan dan tak boleh dibiarkan.

Solo adalah kota yang aman, tentram dan nyaman. Warganya ramah dan halus budi pekertinya. Aku bangga menjadi bagian darinya. Menurutku, siapapun yang pernah merasakan keramahan kota Solo, tak akan rela Solo dijahati seperti ini.

Tuhan, pada-Mu aku berlindung. Pada-Mu aku titipkan kotaku dan seisinya. Keluarga dan orang-orang tersayang yang menjadi bagian hidupku ada di dalamnya. Tolong lindungi kota itu, saat aku berada dekat atau jauh darinya. Aku sayang Solo dan seisinya. Tolong jangan biarkan tangan-tangan jahat merusaknya. Aku percaya pada-Mu Tuhanku. Sebaik-baik penjagaan adalah penjagaan Allah semata. Amin.

#savesolo

Tak Harus Baju Baru

Senin, 27 Agustus 2012


Haloha…!

Mumpung belom lupa, aku mau cerita sedikit tentang lebaran kemarin. Bukan tentang makanan atau ketupat atau kue nastar dan sebangsanya lho ya, tapi tentang baju. Wowowo…! Lebaran gak harus pakai baju baru. Itu yang coba aku lakuin kemarin.

Ceritanya, sekarang kan lagi tren ya, yang namanya gamis atau maxi dress, yang gitu-gitu deh pokoknya. Kepengen sih, cuma kalau dipikir lagi, nanti setelah lebaran mau buat apa? Toh kalau kemana-mana aku sukanya simple aja, jeans sama kaos dikasih jilbab. Udah deh, ready to go!

Karena terlalu banyak pertimbangan kayak biasanya, kagak jadi deh itu rencana beli baju baru yang unyu-unyu. Sebagai gantinya, aku pake itu baju zaman dahulu kala yang bahkan aku tak tau kapan tahun pembuatannya. Sebuah dress berwarna kuning kunyit milik budeku yang sekarang tinggal di Papua. Sebagai keponakan paling centil, aku hobi banget nyobain baju-bajunya yang masih tersimpan rapi di lemari yang ada di rumah kakek nenek.

Dressnya you-can-see pendek, cuma selutut doang. Rompinya juga tanggung gitu lengannya. Sebagai bahan pelengkap, aku pakein legging hitam dan jilbab coklat tua yang senada sama rompinya. Tidak lupa kalung ewer-ewer kalau kata Nunung sebagai pemanis buatan. Tara…! Jadi deh!
Not bad kan ya? :D

Esensi Idul Fitri

Rabu, 22 Agustus 2012

Assalamu'alaikum... 
Mumpung masih hari-hari awal di bulan syawal, izinkan saya mengucapkan taqabbalallahu minna wa minkum, selamat idul fitri, mohon maaf lahir dan batin :)

Anyway, jadi inget sama postingan beberapa hari sebelum idul fitri kemarin yang nyinyir abis. Maaf yaa...

Saking keponya sama esensi idul fitri, saya sampai tanya ke salah satu teman yang sempat menimba ilmu di pondok pesantren lho! Katanya arti idul fitri itu ya makan-makan, jadi di hari lebaran itu kita sebagai umat muslim disunnahkan untuk bersyukur, dengan cara makan-makan itu, walaupun sedih juga ditinggal bulan ramadhan yang resmi berlalu. Kalau tentang mudik, bisa diniatkan sebagai salah satu cara untuk keep in touch alias menjaga tali silaturahim. Kalau di hari biasa kita sibuk dengan pekerjaan dan kehidupan masing-masing, makanya pas momen idul fitri saat orang-orang libur itu dipake buat saling mengunjungi satu sama lain. Kurang lebih kayak gitu deh penjelasan singkatnya. Kemudian saya jadi berpikir, pantas saja saya ga terlalu excited, lha wong saya ga terlalu suka makan, kalau disuruh makan-makan jadinya ya biasa saja, hehehe...


Ayam Resto Solo is NOT RECOMMENDED

Sabtu, 18 Agustus 2012

Assalamu’alaikuuum…! Waaa~ lama banget ya aku ga posting. Selama ramadhan baru tiga kali ini. Tenang, aku bukan sibuk I’tikaf kok, hihihi. Mumpung masih detik-detik terakhir ramadhan, mau ah sharing tentang bau-bau ramadhan. Monggo disimak yaaa…!

Begini ceritanya, kemarin aku dan beberapa teman SMP iseng pengen ngadain buka bersama. Nah, menurut estimasi kami, kalau yang diundang seangkatan, ada lah ya kira-kira nanti yang datang 50 orang. That’s why kita milih Ayam Resto sebagai tempatnya, katanya sih luas, cozy dan terjangkau gitu. Aku pribadi sih belum pernah kesana, dan berhubung aku buta tentang tempat makan di Solo, jadi ya aku setuju saja.

Pertama, temanku survey kesana, nanyain gimana prosedurnya kalau mau reservasi. Karena acara kita pas weekend, kami disuruh reservasi maksimal seminggu sebelumnya, dengan membayar seratus ribu rupiah sebagai tanda jadi. Temanku itu juga dikasih daftar menu dan harganya.
Ini nih daftar menu hari biasa yang akhirnya menjebak kami :(

Kedua, karena pesanan awal kami hanya 30 porsi, makanya by phone aku telepon buat nambah jumlah makanan dan minuman. Nah, disini mulai kagak enak. Masa ya, mbaknya yang nerima telepon itu jutek banget, rasa-rasanya selalu kepingin buru-buru nutup telepon gitu. Untung dengan sigap aku memotong pembicaraannya. Eh, ternyata di akhir, pas aku masih mau nanya, dia motong balik omonganku dengan bilang “terima kasih” terus langsung ditutup gitu teleponnya! Gak sopan banget kan ya?!

Ketiga, kami dapet tempat lesehan, huhuhu… Mungkin karena kami kebanyakan orang, jadi ditaruh di lesehan. Mana itu lesehan yang maksa banget. Kayaknya tempat parkir deh itu harusnya. Jadinya kita berasa di barak pengungsian, huhuhuhu… Kagak ada cozy-nya sama sekaleeee…!

Keempat, jeng jeng jeeeng…! Ini nih gongnya ketidakpuasaan dan kekecewaan. Waktu kami membayar di kasir setelah selesai acara, ternyata totalnya banyak banget sodara-sodara! Melebihi budget! Gue tekoooor! Setelah dihitung dengan seksama dan berulang kali, ternyata kesalahan ada di DAFTAR MENU! Kami, yang berbekal daftar menu yang dikasih waktu reservasi, menghitung anggarannya tidak akan defisit. Ternyata kasir menghitung dengan acuan DAFTAR MENU HARGA LEBARAN yang harganya lebih mahal! Kami udah ngejelasin dan mereka cuma bilang maaf. Ngehe banget kan!

Males memperpanjang urusan, kami bayar aja itu semua. Akhirnya kita yang masih tersisa di situ patungan lagi deh. Solid juga ya teman-teman lama tuh, hehe…

Pesan moral episode ini yaitu berhati-hatilah dengan jebakan restoran. Lain kali kalau mau reservasi tempat makan, dipastikan dulu ya harganya biar nggak kayak iklan provider yang “syarat dan ketentuan berlaku”. Okesip!

Idul Fitri, Apa Esensinya?

Seperti yang kita tahu, perayaan Idul Fitri di negeri ini sudah menjadi tradisi. Baju, kue-kue, makanan enak, kendaraan, gadget, dan yang serba baru lainnya tak pernah hilang dari pandangan. Mudik atau kembali ke kampung halaman juga seperti menjadi hal yang wajib saat Idul Fitri tiba.

Saat kecil, seperti umumnya anak lainnya, aku bersuka cita menyambutnya. Namun, perasaan berbeda mulai muncul ketika lulus SMA. Setelah 18 tahun pulang ke tempat yang sama, tetiba aku merasa bosan. Aku bosan dengan rutinitas seperti itu melulu, sholat ied, salam-salaman, berkunjung atau dikunjungi oleh orang-orang yang bahkan tak pernah dilihat dan dikenal sebelumnya.

Tahun ini, aku merasa semakin muak. Melihat begitu berjubelnya mall oleh orang-orang yang menghabiskan rupiah demi terlihat “wow” di depan keluarga mereka sendiri. Apa sih yang ada di pikiran mereka? Membeli baju baru kan tidak harus saat Idul Fitri tiba? Juga orang-orang yang bahkan berusaha mati-matian kejar setoran demi tuntutan tetek bengek perayaan lebaran. Uang yang mereka kumpulkan dengan susah payah habis dalam hitungan detik, demi membeli barang-barang yang sebenarnya tak dibutuhkan.

Baju, kendaraan, gadget yang serba baru itu sebenarnya untuk apa? Mengapa orang-orang begitu ingin menunjukkannya bahkan rela kredit? Untuk menunjukkan bahwa sebagai perantauan mereka telah sukses? Hanya untuk pamer seperti itukah? Apa sebenarnya esensi Idul Fitri itu sendiri? Kembali ke fitri? Kembali suci seperti apa yang dimaksud? Aku penasaran, apakah zaman Nabi Muhammad S.A.S dulu juga seperti ini?

Ini murni pikiranku tentang perayaan Idul Fitri yang semakin tak masuk akal lho ya. Jangan sedih jangan tersinggung, apalagi sampai dimasukin ke hati. Mungkin nanti saat aku sudah bekerja dan menghasilkan uang sendiri aku akan haus pengakuan dan tertawa membaca tulisanku sendiri ini. Tetapi semoga saja tidak. Amin.
 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS