Pages

Proyeksiku Sebagai Seorang Ibu Nanti

Kamis, 30 Juni 2016

Akhir-akhir ini aku banyak berpikir tentang apa yang aku ingin lakukan dalam kehidupanku, baik kini maupun masa mendatang. Salah satunya adalah keinginan naluriah seorang wanita untuk menjadi ibu. Sudah sejak keponakan pertamaku lahir sembilan tahun yang lalu, aku belajar merawat bayi hingga tumbuh kembangnya seperti sekarang ini. Belajar mengganti popoknya sampai menanyakan PR nya sekarang.

Hal yang sama juga kulakukan pada keponakan kedua dan adik bungsuku. Khusus si bungsu, aku menjadi tertarik untuk membaca artikel tentang parenting. Bukan apa-apa, selisih umur dua dekade membuatku merasa dia seperti adik sekaligus anak untukku sendiri. Bahkan dia pun lebih menurut kepadaku jika dibandingkan dengan orang tua kami sendiri.

Sering aku mendapat kabar kalau dia susah diajak tidur siang dan paling malas belajar. Namun hal sebaliknya terjadi jika aku di rumah. Tanpa diminta dia akan tidur siang dan mengambil buku-buku pelajarannya untuk dikerjakan di dekatku. Mungkin itulah yang dinamakan semangat. Dia semangat belajar jika ada aku. Aku pun selama ini semangat bekerja untuk masa depan keluarga kami, terutama untuk bekal pendidikannya nanti.

Aku mendampinginya belajar sembari membaca artikel tentang parenting di layar handphone. Mungkin lebih kurang seperti inilah proyeksiku jika menjadi seorang ibu nanti. Mendampingi anak belajar sambil melakukan hobiku sendiri. Bukankah menyenangkan bisa melakukan beberapa tugas sekaligus dalam satu waktu?

Selesai belajar, aku menyuruhnya tidur siang. Sedangkan aku akan melanjutkan belajar memasak untuk hidangan berbuka puasa nantinya. Ini yang ingin kulakukan juga saat sudah berkeluarga nanti. Semoga bisa tercapai impian sederhana ini.

Nuggets Ikan Champ

Sabtu, 25 Juni 2016

Weekend gak kemana-mana selain nganter jemput senior ke bandara kemarin sore dan tadi pagi. Daripada tidur lagi, iseng dance workout di ruang tamu mumpung masih sepi. Setelan volume juga sengaja ga dikencengin takut ganggu warga mess yang lain. Setengah jam berlalu, sarapan lauk nuggets ikan merk Champ yang dibeli tempo hari.

Pertama kali coba nuggets yang bukan daging ayam. Karena dilarang kebanyakan makan daging ayam potong dan olahannya sama dokter, atau jerawat itu bakal pada muncul lagi.

Baunya amis waktu gorengnya, teksturnya lebih kenyal daripada nuggets ayam. Rasanya biasa saja. Karena aku makan pakai saos dan mayones Mayumi kok rasanya jadi pahit di akhir. Atau mungkin perasaanku saja yang tak terlalu suka saos.

Pingin buat stok aja makannya nggak sering, eh malemnya laper banget. Padahal sore udah makan spaghetti. Mau masak nasi dikit, eh magic com nya udah ada yang pakai. Mungkin ada yang mau sahur besok. Akhirnya goreng nuggets dan bikin hot chocolate Cadbury. Barulah perut tenang, pusing hilang.

Selamat malam selamat menjelang hari Senin esok hari. Kalau lapar makan, kalau bosen bilang, jangan langsung ngilang.

Menuju Morowali; Perjalanan Terjauh Kedua di Sulawesi

Morowali adalah sebuah kabupaten yang terletak di perbatasan Provinsi Sulawesi Temgah dan Sulawesi Tenggara. Untuk menjangkaunya kami harus menempuh perjalanan udara via Makassar dan turun di Bandara Haluoleo Kendari. Hujan deras menyambut kedatangan kami di bumi anoa tersebut. Beruntung hujan segera reda dan mobil penjemput datang, sehingga kami bisa langsung melanjutkan perjalanan ke Morowali. Kami berangkat pukul 14.00 WITA dari Kendari, beristirahat untuk buka puasa sekitar satu jam dan sampai di Hotel Metro Morowali pukul 22.00 WITA. Jalur yang kami lalui adalah jalur khas perbatasan yang 'dianaktirikan', jauh dari kata layak untuk sebuah jalur antarkota antarprovinsi.


Salah satu penampakan ruas jalan Kendari - Bungku.

Ada yang membuat rombongan kami sempat deg-degan di perjalanan. Tepat di tugu perbatasan antarporovinsi, mobil yang kami tumpangi gagal melewati tanjakan dengan baik. Di tengah hutan yang gelap tanpa penerangan, tak ada mobil lain yang melintas selain kami, sampai tercium bau menyengat hasil gesekan ban dan terjalnya batu di jalan. Akhirnya sopir memutuskan untuk mundur dan turun mencari jalan alternatif yang tak semenanjak itu. Salah satu alasan kuat mengapa kami lebih suka menggunakan jasa sopir untuk perjalanan daerah adalah selain menghemat tenaga, juga mereka lebih profesional dan mengenali medan jalan.


Early Birthday Gift

Selasa, 07 Juni 2016

Masih tentang menuju 26. Kemarin sore datanglah paket hp dari Tokopedia yang sudah ditunggu kedatangannya sejak konsinyering belum berakhir. Ceritanya impulsive beli hp baru karena merasa hp yang ada sudah rusak dan belum ada waktu untuk memperbaikinya. Pasalnya sejak awal di Poso, hp itu tetiba tak mendeteksi kartu sim. Kemudian daripada ribet ngurus kartu sim yang baru, memilih untuk membeli nomor baru di sana. Akhirnya terselamatkanlah komunikasi selama pemeriksaan. Namun ternyata tak sampai di situ saja, beberapa hari setelah sampai di Palu, belum sempat ke Grapari Telkomsel untuk mengganti kartu sim yang terindikasi rusak dengan yang baru, tetiba kartu sim yang dibeli di Poso pun ikut tak terdeteksi. Alhasil komunikasi melalui aplikasi chatting dan media sosial lainnya bergantung pada keberadaan sinyal WiFi.




Karena sudah dua kartu sim yang tetiba tidak terdeteksi, dengan tingkat sotoy nomor satu seprovinsi, aku menyimpulkan bahwa hp itu rusak dan harus diganti. Kemudian mbingungi cari referensi membeli hp baru dengan satu doa; semoga lebih awet. Setelah minta pendapat teman ke sana ke mari, diputuskanlah membeli hp termahal sepanjang abad versi Fatikong. Maklum anaknya sayang duit banget, tetapi kali kalah dengan dalih 'nggak papa, mumpung belum berkeluarga dipuas-puasin dulu aja beli baraang-barang mahal yang diinginkan.' Berhubung barang yang diincar belum masuk secara resmi ke Indonesia, terpaksa membelinya secara online. Itu pun juga melalui proses permintaan rekomendasi dari beberapa teman yang terpercaya sepak terjangnya di jagat per-online shop-an. Terima kasih mas Bim dan mas Echa.

Setelah si mainan baru datang, bersemangatlah memasang kartu sim yang harus dipotong dari ukuran micro menjadi nano. Dan taraaa! TERNYATA KARTU SIMNYA TIDAK TERBACA JUGA SAUDARA-SAUDARA! Di situ aku merasa bodoh. Kartu sim yang rusak kenapa yang dibeli baru malah hpnya? ( ._.)/|

Untuk menghibur diri dari rekening yang sudah terlanjur berkurang, mari kita anggap hp baru sebagai hadiah ulang tahun yang datang lebih awal dari diri sendiri, dengan ucapan yang kurang lebihnya sebagai berikut. 

"Happy 26th birthday Fatikong, terima kasih sudah menjadi lebih sabar dan dewasa dari dirimu yang sebelumnya. Terima kasih sudah belajar menjaga kesehatanmu sendiri. Terima kasih sudah belajar berjuang di tanah orang selama kurang lebih enam bulan terakhir ini, semoga menjadi awal yang baik untuk tahap kehidupan selanjutnya. Tetaplah menjadi anak mamah dan bapak yang selalu terbuka apa adanya, dan jangan pernah sekalipun berpikir untuk meninggalkan kewajiban sebagai hamba Tuhan Maha Penguasa Alam Semesta. Tetaplah menjadi kakak dan adik yang baik untuk saudara-saudaramu. Tetaplah menjadi orang yang menyayangi sahabat-sahabatmu dengan setulus hati. Tetaplah berotak China dan tidak impulsive menghabiskan uang. Tetaplah belajar dari orang-orang dan hal-hal kehidupan yang terjadi di sekitarmu. Tetaplah menjadi manusia yang merasakan dengan nurani. Tetaplah memantaskan diri untuk bertemu dengan seseorang yang tepat saling mendampingi nanti. Tambahkanlah syukur dan terima kasih pada Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang atas semua yang kau dapatkan dalam kehidupan ini."

Ternyata sudah lama juga aku tak memberi reward kepada diri sendiri. Rasanya selalu menyenangkan. Terima kasih, Tuhan.

Menuju 26

Minggu, 05 Juni 2016

H-1 Ramadhan pertama di perantauan,
Yeay besok puasa, semoga bisa menjadi ladang menambah pahala dan pelebur dosa.
Ceritanya lagi ba scan SPJ buat KKP sambil baca hipwee, trus tertohok sama quote Alm. Muhammad Ali yang ini.

Ngomong-ngomong soal umur, lagi jadi topik sensitif di hati. Teringat beberapa hari lalu di ruang konsi sempat menulis draft tentang ini. Hmmm... Tak terasa delapan hari lagi umurku bakal nambah satu dari seperempat abad. Super bikin baper. Karena selain di keluargaku tak pernah ada perayaan bertambahnya usia, juga sejak semester akhir kuliah aku tak ingin mengingat umurku berapa. Apalagi kalau dilihat belum ada pencapaian apa-apa atas bertambahnya usia. Berasa telah membuang waktu yang sudah ada. Seperti setahun belakangan ini, progres apa yang sudah aku buat dalam meningkatkan kualitas diri? Gimana kalau ke depannya ga dikasih kesempatan yang sama? Gimana kalau menghadap Ilahi dan ditanya ngapain aja waktu di dunia? Duh, Gusti...

Bicara soal quote di atas, menohoknya adalah... Aku masih merasa umur belasan. Padahal sudah hampir satu dasawarsa masa itu terlewati. Untuk menghadapi masalah dan memikirkan solusi dari hal yang sulit, mungkin aku sudah bisa dipercaya dan diperlakukan seperti orang dewasa, tapi kalau dari kelakuan yang masih kekanakan, seperti nari gak jelas kalau lagi jalan di lorong dan berasa sendirian dan ga ada yang lihat padahal ya cctv dimana-mana. Jadi... pantas aja belom ketemu jodoh. Siapa juga yang mau nikahin anak kecil, Fat? So, please belajar buat act as your age, Fat!

Jadi teringat nasehat dari Pak Baw kemarin sore, ''kamu kan tumbuh, pasti bisa belajar buat mengurangi perilaku kekanakan itu." Terima kasih Pak Baw buat wejangannya, yang bikin adem dan nggak menggurui. Jadi, alih-alih pingin nikah besok sore, mending aku belajar bersikap sesuai umur dulu saja. Nanti kalau sudah lebih matang dan siap, pasti diketemuin kok sama jodohnya, iya kan Tuhan Yang Maha Baik Hati?
 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS