Pages

Tampilkan postingan dengan label Story of Life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Story of Life. Tampilkan semua postingan

When Covid-19 Hits Me

Kamis, 17 Februari 2022

 I got the booster vaccine on Monday, February 7, 2022. I got half the dose of Astra Zeneca. 

The side effects that I feel are drowsiness, pain in the arm after the injection, and fever at night. I think this is milder than the side effects when I got first and second Sinovac vaccines last year. 

But suddenly on the weekend after my morning run, I felt my throat getting uncomfortable. I think I just caught a cold. I still had lunch with my friends. That night, my cold got worse. I couldn't sleep well and always woke up after a few hours. 

Eat the food I ordered through Gofood and take the cold medicine and multivitamin that I have. I always have a multivitamin and paracetamol ready.

 

Monday morning February 14, 2022, I did an antigen test and it was reactive. Then I was referred for a PCR test. When I came home from the PCR test, my body felt very weak. All day I just eat, take medicine and sleep. I received the PCR results on Tuesday morning. I'm positive for Covid-19 with a CT value of 14.34. I immediately prepare for isolation at the hotel that has been appointed by my office.  I received many medicines and vitamins, including the anti-virus Favipiravir which is said to be able to be a Covid-19 drug.

This is the 3rd day of isolation at the hotel. Alhamdulillah I feel healthier, only the phlegm trapped in the throat is still bothering me. Hopefully on the 7th day, I will have no symptoms and my PCR result will be negative, aamiin.

Diary Work From Home Day 52 : Finally, This Is My Last Day Of WFH

Jumat, 05 Juni 2020

Alhamdulillah akhirnya fase Work From Home (WFH) ini berakhir juga! Bukannya aku tidak suka, tetapi ku rasa sistem pekerjaanku belum siap untuk dijalankan secara WFH, karena sewaktu WFH malah banyak jam kerja yang melebihi seharusnya. Bahkan aku sering sengaja tidak membaca grup chat kantor jika sudah malam, benar-benar melelahkan seperti 24 jam sehari harus memikirkan pekerjaan!

Bahkan pada hari terakhir WFH ini, atasanku masih menginstruksikan untuk zoom meeting dari jam 1 siang sampai jam 5 sore. OH MY GOD! Tentu saja aku lalui putus sambung karena kebetulan sabungan Wifi di kos sedang tak bersahabat. Pun pastinya lagi-lagi hal seperti ini menjadi hambatanku dalam menyelesaikan design diseminasi secepatnya, padahal atasan baru saja menambahiku tanggung jawab menjadi PIC acara yang melibatkan para pejabat. Rasanya inginku protes atas ketidakadilan ini, karena atasanku pernah bilang bahwa yang akan menjadi Person In Charge (PIC) setiap acara akan bergantian setiap staf. Tetapi apa kenyataannya? Insya Allah ini akan menjadi kegiatan ketiga yang aku handle pada semester pertama, padahal seingatku masih ada teman lain yang belum menjadi PIC. Entah memang beliau menaruh kepercayaan padaku, atau memang tak mau membiarkanku sedikit bernapas dan bersantai.

Saking sudah lelahnya, aku pun tak ikut menimpali sewaktu chat grup kantor masih ramai dengan perbincangan perihal persiapan WFO. Bagiku seharusnya setiap orang sudah mempersiapkan diri baik mental maupun perlengkapan untuk pergi perang melawan keadaan ini. Aku pribadi sudah punya beberapa masker kain dan beberapa botol hand sanitizer, juga alat sholat, sajadah, dan alat makan pribadi. Aku tak memakai face shield karena tugasku bukan di bagian pelayanan sehingga tak perlu mempersulit diri dengan atribut yang menyiksa. Lebih simple lebih baik, yang penting tetap physical distancing.

Angka positif COVID-19 pada Kamis (4/6) kemarin adalah 28.818 kasus. Angka positif COVID-19 yang diumumkan pada Kamis (4/6/2020) ini menjadi 29.521 kasus. Berarti ada lonjakan 703 kasus positif COVID-19 dalam sehari.

Terima kasih WFH, tahun 2020 yang tak disangka mengubah paksa gaya hidup manusia di seluruh dunia ini, juga menjadi tahun terproduktif menulis blog untukku, karena ini menjadi tulisanku ke-52 tahun ini. Jumlah postingan terbanyak dalam waktu yang belum ada satu tahun, mengalahkan rekor menulisku sendiri pada tahun 2012 yang berjumlah sebanyak 33 postingan dalam setahun itu. Wow! Aku takjub pada diriku sendiri! Ternyata aku bisa juga konsisten menulis sejumlah hari kerja selama WFH. Walaupun dengan tema tulisan yang random dan awalnya hanya aku niatkan sebagai salah satu stress relief dan sarana belajar untuk mengasah kemampuanku merangkai kata agar tak menumpul begitu saja. Semoga sewaktu WFO nanti aku masih rajin menulis, walaupun aku tak yakin akan bisa serutin selama WFH ini. Terima kasih untuk kalian yang sudah mau membaca tulisan-tulisanku selama ini. Semoga ada manfaat yang dapat aku bagikan pada kalian ya.

See ya on the next post, my friends! Stay sane and healthy, semoga wabah covid 19 segera pergi, aamiin.

Diary Work From Home Day 48 : Tips Tetap Waras, Sehat, dan Bahagia Selama WFH

Jumat, 29 Mei 2020

Sudah dua bulan lebih kita menjalani kehidupan Work From Home, tentu banyak hal yang berubah dari keseharian kita. Aku adalah salah satu perantau yang memilih untuk stay di Jakarta saja sejak hari pertama WFH, walaupun kalau mau nekat, selalu ada cara untuk pulang ke rumah dari bulan Maret lalu. Namun aku sengaja tidak melakukannya karena aku berpikir inilah saatnya untuk aku belajar menjalani kehidupan secara mandiri. Walaupun sudah belajar hidup terpisah dari keluarga inti sejak kuliah, namun baru kali ini aku benar-benar hanya bisa mengandalkan diri sendiri karena sebelumnya saat penempatan kerja di Palu, Sulawesi Tengah, aku pun masih tinggal bersama teman-teman di mess yang sudah seperti keluarga sendiri, jadi jika aku sakit atau butuh bantuan, aku masih bisa minta tolong kepada mereka, pun aku tak kesepian karena dulu sekamar berdua jadi selalu ada teman menjalani hari-hari yang penuh warna.

Memang ga mudah sih, tapi alhamdulillah aku sampai detik ini berhasil menjalaninya. Setidaknya aku berhasil menjalani puasa Ramadhan 1441 H dengan menyiapkan makanan sahur sendiri, plus bayar hutang puasa sampai lunas dimulai pada hari ketiga bulan Syawal. Alhamdulillah ini rekor aku tercepat membayar hutang puasa, karena dengan pertimbangan masih WFH dan belum banyak pekerjaan yang menyita banyak tenaga dan pikiran, hihihihi.

Karena WFH ini bukan sesuatu yang normal untuk kehidupan kita, pasti setiap individu merasakan bebannya, entah dalam bentuk stres, psikosomatis atau lainnya. Aku sendiri merasakan lebih sering kambuh alergi gatal seperti kaligata selama WFH ini, sampai sudah menghabiskan stok obat ketiga atau keempat selama dua bulan terakhir ini. It's okay, aku berusaha untuk tidak ketergantungan obat alergi dan hanya minum obatnya jika benar-benar tak bisa menahan rasa gatalnya.

Tips dariku agar tetap waras, sehat dan bahagia selama WFH adalah :
  1. Selalu bersyukur kepada Allah SWT, terutama untuk kesehatan, pekerjaan dan tempat tinggal yang nyaman sampai sekarang. Aku juga bersyukur Allah SWT selalu menjagaku dan keluarga serta teman-teman yang kusayangi sehingga kami sehat semua walaupun belum bisa saling bertatap muka.
  2. Video call dengan keluarga sesering mungkin. Satu hal yang dulu sebelum pandemi sangat jarang kulakukan karena sudah terlalu lelah dengan kegiatan sehari-hari dan ingin me time di hari libur. Bertatap muka dengan mereka memberikan rasa tenang dan mengobati rasa rindu, yang penting semuanya sehat selalu.
  3. Keep in touch with my people. Selain keluarga, aku juga selalu bertukar kabar dan intens bercerita bersama sahabat-sahabatku seperti yang pernah aku ceritakan di tulisan ini. Lumayan menjaga kewarasan dengan mengobrol banyak hal kan?
  4. Berjalan kaki keliling kompleks yang rutin kulakukan hampir setiap hari bersama Mbak Yuyun. Kami melakukan ini selain agar badan kami tidak kaku dan pegal karena kurang gerak dan terlalu banyak rebahan di kamar kos, juga agar mendapatkan sinar matahari langsung. Selama ini kami jalan kaki sekalian refreshing mengamati keadaan sekitar. It much help to keep us sane!
  5. Melakukan hobi menulis blog dan menonton Netflix. Banyak sekali tontonan bagus di Netflix yang bisa aku pilih agar aku tak melulu terpapar berita tentang Covid 19 yang berpotensi menambah beban pikiran dan menurunkan sistem imun karena stres. Menulis blog ini juga menjadi stress relief yang ampuh untukku. Walaupun aku memutuskan hanya menulis pada hari kerja dan kadang merasa kehabisan ide apalagi yang akan kutulis, karena aku berusaha berbagi lewat tulisan, agar tak sia-sia waktu orang lain membaca blogku ini.
  6. More and more donation. Aku menulis poin ini bukan untuk pamer atau riya, tapi sebagai ajakan untuk kita sebagai makhluk sosial membantu sesama. Di luar sana, banyak sekali orang-orang yang tak seberuntung kita untuk menjalani WFH dan punya penghasilan dan kehidupan yang layak seperti kita. Sudah saatnya kita saling membantu meringankan beban saudara-saudara kita, walaupun bulan Ramadhan yang penuh berkah telah lewat, namun semangat kebaikan kita semoga selalu membara. Setelah berbagi dengan sesama, rasanya bahagia, berasa sedikit bermanfaat jadi manusia.
  7. Selalu berdoa agar semuanya sehat dan segera ditemukan obat atau vaksin untuk Covid 19 ini. Berdoa itu sangat penting untuk menjaga kewarasan karena siapalah kita? Kita hanya makhluk Allah SWT yang sangat kecil, dan  tak ada yang tak mungkin bagi-Nya jika Allah SWT sudah berkendak maka "kun fayakun".
Angka positif COVID-19 pada Kamis (28/5) kemarin adalah 24.538 kasus. Angka positif COVID-19 yang diumumkan pada Jumat (29/5/2020) ini menjadi 25.216 kasus. Berarti ada lonjakan 678 kasus positif COVID-19 dalam sehari.

Stay sane and stay safe ya teman-teman, semoga kita sehat selalu dan wabah Covid 19 ini segera berlalu, aamiin.

Diary Work From Home Day 45 : Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 Hijriyah

Selasa, 26 Mei 2020

Selamat  Hari Raya Idul Fitri 1441 Hijriyah
Taqabbalallahu Minna Wa Minkum Shiyamana Wa Shiyamakum
Mohon dimaafkan lahir dan batin atas banyak salah kata, perbuatan dan postingan yang tidak berkenan selama ini ๐Ÿ™๐Ÿป

Merayakan Hari Raya Idul Fitri di tengah pandemi Covid 19 ini memang tak mudah. Banyak momen yang biasanya dilalui bersama menjadi harus dijalani sendirian, pun melaksanakan sholat Ied yang biasanya beramai-ramai di lapangan dan diakhiri dengan bersalam-salaman.

Selamat dan terus semangat untuk teman-teman sesama perantau yang tidak mudik. We did it! Terima kasih buat Mbak Yuyun yang setia menemani jalan kaki keliling di sekitar sini demi menjaga kewarasan selama Working From Home agar lebih banyak membakar kalori, mendapat sinar matahari langsung dan mengetahui keadaan sekitar, daripada badan kaku dan pegal karena terlalu banyak rebahan dan lesehan di kamar kos saja.

Semoga kita sehat selalu dan keadaan ini lekas membaik. Mari kita bersiap menjalani hidup #newnormal dengan tetap mematuhi protokol kebersihan dan kesehatan, juga tetap semangat untuk saling bantu sesama di sekitar kita.

Angka positif COVID-19 pada Senin (25/5) kemarin adalah 22.750 kasus. Angka positif COVID-19 yang diumumkan pada Selasa (26/5/2020) ini menjadi 23.165 kasus. Berarti ada lonjakan 415 kasus positif COVID-19 dalam sehari.

Menjelang rencana akan dilonggarkannya kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan persiapan menuju cara hidup dengan #newnormal, kita harus tetap waspada dengan cara menjaga kebersihan dan kesehatan, juga selalu berdoa semoa pandemi covid 19 ini akan berakhir segera, aamiin.

Diary Work From Home Day 44 : Say No To Sexual Harrasment!

Jumat, 22 Mei 2020

Hello people! It's Friday and we're still working karena cuti bersama Idul Fitri 1441 H yang dibatalkan sehari. Sedih ga sih? Udah ga bisa mudik, disuruh tetap WFH jadi hawa-hawanya otomatis ga semangat sama sekali. Kali ini aku akan cerita kejadian kemarin sore, Kamis (21/05/2020) saat aku dan Mbak Yuyun melakukan rutinitas kami buat jalan kaki membeli makanan untuk buka puasa. Kalian bacalah hasil tangkapan layar dari story Instagram-ku ini ya.
Awalnya aku ingin melupakan saja kejadian buruk itu, namun aku pikir aku harus menuliskannya agar teman-temanku juga lebih waspada. Setelah kejadian itu aku langsung membeli pepper spray di Shopee walaupun pengirimannya akan tertunda karena libur Idul Fitri.

Angka positif COVID-19 pada Kamis (21/5) kemarin adalah 20.162 kasus. Angka positif COVID-19 yang diumumkan pada Jumat (22/5/2020) ini menjadi 20.796 kasus. Berarti ada lonjakan 634 kasus positif COVID-19 dalam sehari.

Meskipun angka lonjakan kasus positif Covid 19 tidak setinggi hari sebelumnya yang bertambah sampai 973 orang, kita tetap harus waspada karena sekarang banyak penderita Covid 19 yang merupakan Orang Tanpa Gejala (OTG) yang semakin besar potensinya untuk menularkan virus ini kepada orang-orang di sekitarnya. Yuk kita tetap ikhitar menjaga kesehatan dan berdoa agar sehat selalu dan tidak terpapar Covid 19 dan selalu waspada agar tidak terkena keburukan lainnya, aamiin.

Diary Work From Home Day 37 : Sore yang Cerah untuk Jiwa yang Sepi

Selasa, 12 Mei 2020

Pagi ini aku ke kantor tanpa minta izin ke atasanku, karena kupikir aku hanya akan mencari berkas yang kubutuhkan dan memfotonya saja setelah itu pulang. Jadi, aku hanya menghubungi petugas kebersihan yang membawa kunci ruangan untuk menemaniku selama mencari berkas. Kantor benar-benar sepi, hanya terlihat beberapa petugas keamanan berjaga seperti biasanya. Saat melewati sudut-sudut kantor di mana aku pernah bertemu dengan beliau, rasanya tak akan sama lagi. Tak akan lagi aku melihatnya dari kejauhan saat baru datang. Atau kami bertatapan mata dan aku akan sok cuek pura-pura tak melihatnya. Bodoh, harusnya aku menyapa dengan ramah seperti kepada senior lainnya.
Grieving Loss Quote by Mandy Hale
Hari ini aku benar-benar masih belum bisa kerja dengan produktif. Badanku masih sakit efek kurang tidur. Aku bahkan tidak fokus sampai melewatkan jadwal zoom meeting karena salah mengira waktu. Sore ini pun aku jalan kaki sendirian dan menggunggah foto dengan caption "Sore yang cerah untuk jiwa yang sepi" sampai seorang kawan yang tahu tangisku karena kepergian beliau kemarin bertanya apa aku masih sedih? Aku pun menjawab apa adanya. Aku harus menerima perasaan sedih ini agar bisa melewati fasenya. I am a mess

Angka positif COVID-19 pada Senin (11/5) kemarin adalah 14.265 kasus. Angka positif COVID-19 yang diumumkan pada Selasa (12/5/2020) ini menjadi 14.749 kasus. Berarti ada lonjakan 484 kasus positif COVID-19 dalam sehari.

Semoga kita semua baik-baik saja. Aamiin. 

Diary Work From Home Day 36 : Walau Bukan Siapa-Siapa, Rasa Sedih itu Nyata

Senin, 11 Mei 2020

Ini sudah hari Senin lagi. Awalnya aku merasa tak ingin menulis apa-apa lagi. Aku merasa tak bersemangat dan masih merasa sedih. Walau bukan siapa-siapa, rasa sedih itu nyata. Aku bahkan masih menangisi di hari kedua kemarin. Maaf ya Pak. Semoga penyesalanku tak membuat Bapak sedih juga di sana, toh Panjenengan tak sempat mengenalku.

Aku masih sulit tidur, sampai menjelang subuh baru bisa terlelap. Setiap memejamkan mata, bayangan pesan Whatsapp pada Sabtu pagi kemarin akan berkelebat. Rasa sedih itu kembali datang. Aku juga tak menyangka mengapa aku bisa sesedih ini, bahkan melebihi sedihku saat kakek kandungku berpulang. Seingatku, saat itu mataku hanya berkaca-kaca, karena aku tahu doa-doaku akan lebih menenangkan kakek di sana. Rasanya ini adalah rasa kesedihan pertamaku atas orang yang berpulang ke Rahmatullah.
Sumber: Buku Digital "Tidak Ada yang Kemana-mana Hari Ini"
Karena ini hari kerja, maka aku harus terjaga di pagi hari. Dengan badan yang tak karuan rasanya karena kurang tidur, aku melewati hari Senin ini dengan perasaan yang embuh banget. Namun setidaknya aku bisa menenangkan hatiku dengan mendoakan beliau. Aku yakin doaku pasti sampai karena kami seiman. Dalam Islam, doa untuk orang yang sudah berpulang, akan tetap sampai kepada yang bersangkutan. 

Aku harus kembali bersemangat. Aku punya hidupku sendiri yang harus ku jalani dengan hati-hati. Setidaknya kepergian beliau mengingatkanku yang hampir berumur tiga dekade ini untuk menjalani hidup dengan baik dan lebih bermanfaat untuk sesama.

Angka positif COVID-19 pada Minggu (10/5) kemarin adalah 14.023 kasus. Angka positif COVID-19 yang diumumkan pada Senin (11/5/2020) ini menjadi 14.265 kasus. Berarti ada lonjakan 242 kasus positif COVID-19 dalam sehari.

Mari menjalani hidup dengan berhati-hati dan sebaik-baiknya, agar kelak jika kita sudah kembali menghadap-Nya dapat mempertanggungjawabkan semua ini dengan baik. Tetap sehat dan semangat ya teman-teman, aamiin.

Diary Work From Home Day 35 : Sugeng Tindak, Pak Abi

Sabtu, 09 Mei 2020

Hari ini hari Sabtu, 16 Ramadhan 1441 H. Selayaknya weekend, aku bangun siang, terlebih karena sedang tidak berpuasa. Aku bangun karena mendengar adzan dan kaget ternyata sudah jam 12 siang. Memang aku baru tidur jam 2 dini hari. Seperti biasa, aku mengaktifkan jaringan internet di hp dan banyak pesan masuk di Whatsapp. Tetapi ada berita duka yang membuatku tak percaya. Pak Abi berpulang, pagi ini. Aku masih tak percaya. Aku baca chat grup yang lain, juga memberitakan hal serupa.

Innalillahi wa inna ilaihi roji'un... He gone too soon.
Allahumaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fu'anhu...

Pak Abi adalah salah seorang senior di kantor. Meskipun umur kami terpaut 15 tahun, tetapi karena sama-sama belum menikah, teman-teman di ruanganku sering menjodohkan. Belum sempat berkomunikasi secara personal, wabah covid 19 sudah membuat kami work from home. Seingatku kami bertemu dua kali, pertama saat ada beliau ke perpustakaan dan aku membantunya memfotokopi literatur yang dibutuhkan, kedua saat sosialisasi perpustakaan dan beliau duduk di depanku. 

The one who wear glasses in the left
Sebenarnya ada seorang teman yang mengusulkan aku untuk say hello duluan via Whatsapp, sekedar untuk care apalagi di masa pandemi ini orang-orang stay at home dan mungkin tak saling berkabar seperti postinganku di awal masa isolasi mandiri ini. Bodohnya, aku menolak dengan alasan classic harusnya cowok yang mulai kontak duluan dan toh nanti setelah WFH berakhir bakal ketemu lagi di kantor.

Sekarang aku hanya bisa menangisi penyesalanku. Seharusnya aku mencoba say hello duluan, walaupun itu mungkin tak akan mengubah takdir kepergiannya, setidaknya mungkin beliau tak akan pergi dalam kesendirian seperti ini. I'm so sorry... 

Aku jadi teringat akhir-akhir ini aku selalu merasa deg-degan melihat Whatsapp story atas nama "Mas Abi" namun aku buru-buru menepis kekhawatiran dengan mengingat itu bukan nomornya Pak Abi karena kami tak saling menyimpan kontak. Padahal sebelumnya, aku biasa aja melihat Whatsapp story atas nama "Mas Abi". Entah pertanda atau bukan, aku makin merasa bersalah...

Sugeng tindak Pak Abi, semoga Panjenengan husnul khotimah karena berpulang ke Rahmatullah di bulan suci Ramadan dan semoga Allah memberikan tempat terbaik di sisi-Nya. Semoga Panjenengan berkumpul dengan roh-roh orang sholeh lainnya di sisi Allah, dan tidak sendirian lagi. Aamiin ya robbal'alamiin...

Diary Work From Home Day 26 : Marhaban ya Ramadhan 2020/1441 H

Kamis, 23 April 2020

Marhaban yaa Ramadan~ Marhaban yaa Ramadan~

Alhamdulillah we meet again with this holy month, a month full of blessing and forgiveness. Although this time we have to undergo a fasting Ramadan that is different from usual. There are no taraweeh prayers in congregation, no iftar together, not even going home to celebrate Eid al-Fitr with family.

Sumber: https://www.instagram.com/p/B_UqPuoh8ky/

Covid 19 epidemic has made us have to refrain from things we used to do everyday. Although this is not my first Ramadan away from home, it is really different. When I was in college, usually my friends and boarding house bought Suhoor food together. At work placement in Palu, I usually eat Suhoor and break the fast with my friends at the official residence. But for this Ramadan, I must eat Suhoor alone. Hopefully next year's Ramadan, I can already eat Suhoor with my husband, Aamiin.

Angka positif COVID-19 pada Rabu (22/4) kemarin adalah 7.418 kasus. Angka positif COVID-19 yang diumumkan pada Kamis (23/4/2020) ini menjadi 7.775 kasus. Berarti ada lonjakan 357 kasus positif COVID-19 dalam sehari. 

Hopefully we can fast and worship well and blessedly in this Ramadan month. May the Covid 19 epidemic end soon and we can live normally again, Aamiin.

Selamat dari Gempa Palu (Part 4 ~ end)

Jumat, 05 Oktober 2018

Pada hari Minggu (30/09/2018) pukul 03.20 WITA dini hari, kami mendapat kabar bahwa akan ada pesawat Hercules masuk ke Palu membawa bantuan dan bisa membawa penumpang keluar dari Palu ke Makassar. Tanpa pikir panjang aku langsung memutuskan ikut ke bandara membawa ransel berisi laptop dan mukena, tas berisi dompet dan hp, serta satu kantong plastik berisi sepatu dan satu setel pakaian yang berhasil kuambil dari mess pada hari sebelumnya. Aku bersama teman-teman yang mayoritas perempuan tiba di bandara yang sudah dipenuhi banyak orang. Prosedur pendaftaran untuk naik pesawat Hercules pun tampaknya belum diatur dengan jelas sehingga banyak orang mengantri di dekat pagar landasan pesawat.

Kami mengantri dari menjelang shubuh di Bandara Mutiara Sis Al-Jufri Kota Palu. Foto diambil 30/09/2018.
Petugas berusaha menertibkan masyarakat yang ingin dievakuasi dengan pesawat Hercules. Foto diambil 30/09/2018.
Pesawat yang mari sebut saja Hercules. Foto diambil 30/09/2018.

Petugas mengedarkan daftar presensi selama penerbangan Palu - Makassar. Foto diambil 30/09/2018.

Beberapa mobil ambulans langsung mendekati pesawat begitu mendarat di Makassar. Foto diambil 30/09/2018.
Aku dan beberapa teman yang merasa tidak kuat untuk berdiri lama, memilih menunggu di dalam mobil saja. Saat waktu shubuh tiba pun kami terpaksa sholat di dalam mobil juga. Sampai akhirnya matahari bersinar terang dan semakin banyak orang, kami memutuskan ikut mengantri dari jarak dengan pagar. Sempat terjadi aksi dorong-mendorong yang menyebabkan kami bisa masuk ke area landasan pesawat dan memancing emosi petugas yang berusaha menertibkan antrian yang carut-marut ini. Petugas bilang bahwa kami duduk saja dan nanti namanya akan dipanggil. Namun tidak jelas kepada siapa kami harus mendaftarkan diri. 

Ketika sudah ada suara pesawat mendarat, ternyata tujuan terbangnya adalah ke Manado, bukan Makassar. Kembali terjadi aksi dorong-mendorong di antrian yang membuat anak-anak kecil yang berada di tengah kerumuman tergencet dan hampir pingsan. Beberapa kali kami duduk-duduk dan berdiri lagi mendekat ke kerumunan antrian tanpa kepastian. Aku berusaha untuk tidak terpisah dari teman-temanku. Sampai para petugas membuat pagar betis untuk memprioritaskan hanya ibu-ibu dan anak-anak yang boleh masuk ke kawasan landasan pesawat terlebih dahulu.

Pada saat itulah aku bersama Fariz (4 tahun) dan Mas Jae terpisah dari rombongan teman-teman kami. Tiba-tiba di depanku melintas seorang petugas memakai seragam rescue berwarna merah dan menanyakan tujuan kami, ke Manado atau ke Makassar. Aku dengan pasrah menjawab, "terserah kemana aja yang penting keluar dari Kota Palu ini dulu". Ternyata bapak tersebut mengajak kami bertiga untuk ikut bersamanya masuk ke kawasan landasan pesawat. Aku sudah berusaha mengatakan bahwa ada seniorku yang sedang hamil (ibunda Fariz) yang ketinggalan di rombongan belakang. Bapak itu bilang, "yang penting selamat dulu, jangan bawa-bawa teman, nanti petugas marah". 

Kami mengikuti bapak itu untuk menuliskan nama, kemudian digabungkan dengan orang-orang yang sudah bergerombol dan dihitung. Sekitar 80 orang waktu itu diminta langsung masuk ke pesawat TNI yang sepertinya terlalu kecil untuk disebut Hercules tapi karena aku tidak paham nama-nama pesawat, jadi mari kita sebut saja Hercules. Di dalam pesawat tidak semua orang dapat tempat duduk, diutamakan untuk wanita dan anak-anak. Aku duduk dengan Fariz di pangkuanku, sementara mas Jae lesehan selama penerbangan berdurasi 1 jam 20 menit itu. Di dalam pesawat yang lepas landas sekitar pukul 8.50 WITA tersebut, petugas mengedarkan kertas untuk kami isi nama masing-masing termasuk nama anak yang kami bawa.

Begitu mendarat di Bandara Hasanuddin Makassar, kami diminta menuliskan lagi nama dan alamat tujuan. Sementara menunggu mas Jae yang sedang menulis, Fariz sudah berteriak memanggil ayahnya. Alhamdulillah ternyata sudah banyak teman-teman dari Perwakilan Sulsel yang menjemput kami. Aku terharu dengan kekompakan dan kebaikan teman-teman di kantor ini, yang sudah saling bantu dengan tulus ikhlas, semoga Allah membalas kebaikan mereka dengan pahala dan keberkahan yang lebih banyak lagi. Ternyata ibunda Fariz beserta teman-teman serombongan harus bersabar untuk menanti penerbangan jam 2 siang karena kabarnya menunggu rombongan Presiden Jokowi selesai dahulu.

Setelah istirahat semalam di Makassar, aku dan dua rombongan keluarga lain bertolak menuju domisili masing-masing. Aku yang sama sekali tidak menangis saat gempa mungkin efek terlalu syok juga malah tersedu-sedu sendirian di pesawat menjelang pendaratan di Jogja. Rasanya sangat rapuh, sedih sekaligus mengkhawatirkan teman-teman yang masih ada di Palu. Bertemu keluarga pun seperti orang linglung, tidak fokus pada apa yang mereka bicarakan karena pikiran dan hatiku masih pilu mengingat teman-teman di Palu.

End.

 

Selamat dari Gempa Palu (Part 3)

Hari Sabtu (29/09/2018) sebagian besar dari kami yang mengungsi di kantor telah berpindah ke mess. Di halaman mess, teman-teman membuat tenda darurat dari terpal yang dikaitkan ke ranting pohon. Aku juga sempat masuk ke dalam kamarku di mess untuk mengambil laptop, satu setel pakaian, mukena, sajadah, alat mandi, bantal, dan selimut. Aku hanya membawa peralatan yang benar-benar penting karena dikhawatirkan ada gempa susulan, sehingga setiap orang hanya diberi waktu selama lima menit di dalam bangunan. Sama seperti di kantor, orang-orang masuk ke mess dengan menggunakan helm dan bergantian dengan beberapa teman yang berjaga di luar bangunan.



Dapur mess yang porak poranda. Foto diambil 29/09/2018.
Lampu penerangan yang tumbang dan pagar kompleks yang roboh. Foto diambil 29/09/2018.
Tenda darurat dari terpal yang kami buat. Foto diambil 29/09/2018.
Lantai garasi yang menganga dan tandon air yang jatuh. Foto diambil 29/09/2018.
Gazebo di tengah kompleks yang telah roboh. Foto diambil 29/09/2018.

























Secara fisik keadaan mess lebih parah daripada kantor. Gazebo di tengah halaman dan pagar yang mengelilingi mess roboh, permukaan tanah tempat ground tank di mess terangkat, bangunan dan beberapa garasi rumah dinas retak sampai menganga, muncul lumpur di beberapa titik, serta tangga penyangga tandon air dan beberapa tiang lampu penerangan di kompleks mess patah. Namun suasana di mess lebih hidup sehingga kami lebih semangat ketika berada di sana.

Seperti sudah terbagi, ada teman-teman yang menyiapkan makanan dengan stok yang masih ada dari mess dan rumah-rumah dinas, ada juga yang melanjutkan pencarian terhadap beberapa keluarga teman-teman yang belum ada kabarnya. Aku sempat ikut rombongan yang berkunjung ke kantor lagi karena di mess tidak ada ada sinyal. Kami membeli tambahan bahan makanan dan sayuran di warung yang masih buka. Kami saling menguatkan dengan saling bertukar kabar dan diselingi becanda bersama. Kami makan dengan nasi dan lauk seadanya dengan daun pisang yang "dipincuk". Itupun pincuknya kami simpan untuk sesi makan berikutnya. Meskipun makan dengan porsi mini, namun kebersamaan memang menguatkan dan menambah kenikmatan.

Saat malam menjelang, kami bersama-sama tidur di bawah tenda karena kami tidak berani berada di bawah bangunan meskipun hanya di teras atau di garasi perumahan. Guncangan-guncangan gempa lebih terasa jika kita berada di lantai bangunan daripada duduk di atas paving blok. Semuanya teratur, ibu-ibu dan anak-anak tidur di atas kasur yang dikeluarkan dari rumah-rumah dinas, sisanya menempatkan diri masing-masing dan ada pula yang tidur di dalam mobil dengan kaca terbuka. Sempat hujan juga di tengah malam sehingga yang tidur beratapkan langit karena panjangnya terpal tidak dapat menaungi kami semua harus kembali mencari tempat yang lebih aman. 

Bersambung~

Selamat dari Gempa Palu (Part 2)


Jumat malam itu terasa sangat panjang. Tak terhitung berapa kali kami saling berpegangan tangan dan menyebut nama Allah saat tiba-tiba bumi kembali berguncang. Jaringan telepon, internet dan listrik yang mati total membuat kami semakin panik dan takut tak dapat mengabari keluarga masing-masing di luar kota hanya untuk mengabarkan keselamatan kami. Kami pun mendapat kabar bahwa tsunami telah menyerang Pantai Talise yang pasti sedang dipenuhi banyak orang berkaitan dengan pembukaan acara Palu Nomoni 2018. 

Halaman belakang kantor tempat kami bermalam setelah gempa besar hari Jumat. Foto diambil Sabtu (29/09/2018)

Seorang warga berjalan di Jalan Dewi Sartika Kota Palu. Foto diambil Sabtu (29/09/2018)

Bangunan yang miring akibat gempa di Jalan Dewi Sartika Kota Palu. Foto diambil Sabtu (29/09/2018)
Aku merasa bersyukur bahwa kami masih diberi keselamatan, sekaligus was-was dan takut jika tiba-tiba muncul bencana yang lebih besar dan saat itu menjadi saat terakhirku di dunia ini. Aku benar-benar takut amalanku belum cukup untuk kembali pada-Nya. Waktu itu terasa sekali bahwa yang paling dekat dengan manusia adalah kematian, namun aku merasa lalai dalam mempersiapkannya. Aku beneran merasa takut, tak berdaya dan menyesal selama ini masih sering sombong dan melakukan hal-hal tak berguna.

Sepanjang malam itu kami saling menguatkan dan berdoa bersama-sama. Jika ada orang yang datang, kami langsung terjaga. Pun jika ada gempa susulan yang besar, kami langsung duduk waspada dari posisi tidur masing-masing, karena setiap akan ada gempa yang besar dan terasa, kami seperti mendengar suara dentuman entah dari mana asalnya. Jangan ditanya berapa kali gempa susulan, karena sepanjang malam kami merasa seperti dalam ayunan. Kami sampai tidak bisa membedakan apakah itu benar-benar gempa atau kami yang pusing karena lelah dan kurang tidur. Aku sangat memohon pada Allah agar malam itu tidak hujan, karena aku takut malam akan semakin mencekam jika tak ada sinar bulan. Alhamdulillah bintang dan bulan menemani tidur ayam kami sampai pagi. Saat melaksanakan sholat shubuh pun aku masih sempat takut kalau matahari tak bersinar. Alhamdulillah hari Sabtu (29/09/2018) matahari bersinar terik sebagaimana biasanya di atas Kota Palu.

Ketika cahaya matahari pagi sudah mulai menerangi, kami memberanikan diri untuk jalan-jalan di sekitar kantor. Mengamati dan mengabadikan beberapa kerusakan kantor dari jarak aman. Waktu itu, dengan menggunakan helm, beberapa orang termasuk aku, memberanikan diri untuk masuk kembali ke dalam bangunan kantor. Posisi mejaku yang tidak mendapat jendela langsung keluar gedung, gelap dengan almari kaca yang telah jatuh mengunci kursiku sehingga sulit dipindahkan. Aku merasa takut dan hanya bisa membawa barang seperlunya. Alhamdulillah tasku sudah di bawah meja dan dompet serta hp sudah ada di dalamnya, tinggal ambil saja karena memang pada hari sebelumnya aku sudah bersiap akan pulang. 

Dari malam aku tidak enak makan, sehingga hanya mengganjal perut dengan sekotak sari kacang hijau dan air putih. Saking takut dan was-was, aku merasa tidak lapar. Pagi hari baru aku makan mie instan yang dimasak oleh teman-teman pada tengah malam dan teh hangat buatan mbak Ika yang kami dapatkan dari stok kantin kantor. Sekiranya cukup untuk menenangkan dan memberi energi untuk melanjutkan hidup. Alhamdulillah aku sempat tidur beberapa saat sebelum abang-abang datang dan menginstruksikan bahwa sebaiknya kami pindah ke mess saja karena di mess sedang diusahakan menyalakan genset untuk menyalakan pompa air dan mengisi batre hp. Beberapa teman yang menggunakan XL dan Telkomsel sesekali mendapat sinyal sehingga kami bisa mengirimkan kabar kepada keluarga masing-masing.

Bersambung~

Selamat dari Gempa Palu (Part 1)

Kamis, 04 Oktober 2018

Sore itu hari Jumat (28/09/2018) menjelang Maghrib aku masih di kantor, menginput beberapa surat tugas yang baru ditandatangi oleh kepala kantor. Sebenarnya ada keinginan untuk pulang ke mess, namun kupikir nanggung, sekalian saja aku selesaikan dulu pekerjaan daripada hari Sabtu aku harus ke kantor lagi. Namun tiba-tiba gempa mengguncang bangunan kantor kami. Awalnya aku masih tenang, karena dari jam 2 siang sudah ada tiga kali gempa berkekuatan lebih dari 5 SR dan kami tidak apa-apa. Tetapi aku salah, gempa yang terjadi kekuatannya lebih besar dan durasinya lebih lama dari tiga gempa yang terjadi sebelumnya pada hari itu, sehingga aku berlari dengan panik untuk segera keluar gedung kantor.

ATM depan kantor kami rubuh seketika. Foto diambil Sabtu (29/09/2018).

Bangunan kantin dan ruang genset kantor yang terbelah menjadi 3 bagian. Foto diambil Sabtu (29/09/2018).

Permukaan tanah yang bergelombang terlihat dari paving blok yang sudah tidak rata lagi. Foto diambil Sabtu (29/09/2018).

Pintu depan kantor di sisi selatan. Foto diambil Sabtu (29/09/2018).

Aku berlari tanpa alas kaki, dalam kondisi panik dan takut, aku terus menyebut nama Allah.  Tak peduli terpeleset karena dalam otakku saat itu adalah bagaimana caranya agar aku bisa segera keluar dari gedung itu. Tepat di depan tangga lantai 1, aku melihat seorang lelaki berjaket hitam yang terpeleset dan ada air entah dari mana. Dilema antara ingin menolong dan menyelamatkan diri, akhirnya aku memutuskan keluar dari pintu kaca di belakang kantor. Karena lantai depan pintu sudah bergeser ke atas, membuat pintu itu tak bisa dibuka secara sempurna. Akhirnya aku terperosok di taman dan parit kecil di dekatnya. Pikiranku masih dihantui ketakutan akan kemungkinan robohnya gedung dan pecahan kaca yang bisa mengenaiku kapan saja. Aku langsung bangkit dari dan melompat sehingga badanku jatuh berguling di paving blok di halaman belakang kantor. 

Aku segera bangkit dan menghampiri seorang satpam senior yang sedang menenangkan dua remaja putri peserta latihan karate di kantor kami. Kemudian dari pintu tempatku keluar, muncul tiga orang teman yang baru saja keluar gedung. Kami langsung berkumpul bersama di dekat mushola. Beberapa saat kemudian muncul Pak Heri yang menyebut namaku. Aku langsung merespon bahwa aku selamat dan aku bilang kalau ada lelaki berjaket hitam terpeleset di lantai 1 yang tiba-tiba berair. Ternyata lelaki itu adalah Bang Ipang. Alhamdulillah dia selamat setelah keluar dari lobby depan. Air yang tetiba muncul ternyata adalah air akuarium besar yang kacanya telah pecah. Jangan tanyakan kami bagaimana nasib ikan arwana seharga 40 juta rupiah yang menjadi penghuninya. Entah bertahan atau tidak.

Ternyata masih banyak orang yang belum pulang. Akhirnya kami menggelar karpet mushola di halaman belakang tempat yang biasanya digunakan untuk latihan karate. Kami juga mengeluarkan seluruh isi almari mushola berupa mukena, sajadah dan sarung. Beruntung air di tandon mushola masih ada sehingga dapat kami gunakan untuk wudhu dan bersuci setelah buang air. Mukena-mukena juga sangat bermanfaat untuk kami menghangatkan diri dari dinginnya malam. Kami tidur memakai mukena sepanjang malam.

Bersambung~
 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS