Pages

Oplosan

Senin, 30 Januari 2017

Ini adalah kisah nyata, yang tidak perlu direka ulang apalagi dicoba.

Ini ceritaku saat KKN tahun 2011 lalu. Barusan ingat karena chat sama adek soal Sprite sama Promag, hahaha. Alkisah suatu siang saat mengajar di SD tempat KKN, tetiba perutku merasa perih. Saat itu teman-teman pun sedang sibuk mengajar kelas yang lain sehingga tak ada yang bisa dimintai tolong untuk membeli obat maag. Beruntung selang tak berapa lama akhirnya sekolah pun usai juga. Kami kembali ke pondokan dan aku segera minum Promag yang sudah menjadi persediaan buat jaga-jaga.

Waktu itu aku ingat ada teman yang baru datang dari kota iya soalnya kami KKN di puncak bukit dimana jajanan paling mewah adalah bakso, mie ayam, dan sate serta alfamart di kota kecamatan dan membawa beberapa bungkus bakso. Karena memang sudah jam makan siang akhirnya aku ikut menyantap bakso dengan nikmatnya. Sampai suapan terakhir dan merasa butuh minum, akhirnya ke dapur tanpa mendapatkan air putih atau teh botol. Di kulkas warung Bu Lurah hanya tersedia beberapa botol Fanta dan Sprite. Karena kebiasaan kami adalah minum dulu baru totalan kemudian jadi aku pilih Sprite aja yang kupikir lebih segar di teriknya siang, hahahaha.

Selang satu setengah jam, saat ikut jama'ah sholat dzuhur yang sudah mepet waktunya karena kebanyakan bercanda, aku merasa ada yang aneh. Pusing-pusing lemes aneh gimana gitu. Dan saat sholat itu pun aku baru ingat kalau ternyata tadi minum Promag, makan bakso dan minum Sprite. Hahahahahahahaha pinter emang! Bikin oplosan kecil-kecilan.

Selesai sholat, nanya ke Bu Lurah di mana ada dokter atau puskesmas. Kata beliau, ada puskesmas di bawah sana tapi bidannya sedang rapat di kecamatan. Ngalamat pasrah aja sama nasib kalau begini. Meringis nahan perih dan pusing. Akhirnya gresek-gresek di warung lagi dan dapat penawar, susu cair rasa coklat. Kata teman-teman yang cowok, itu wajar aja sakitnya karena keracunan. Nanti juga hilang sendiri. Tampaknya mereka jauh lebih berpengalaman ya? Hahaha.

Temen sekamar bilang katanya aku pucet banget, trus disuruh bobok aja. Beneran rasanya nano-nano keringet dingin mau bobok kayaknya gak bisa. Akhirnya bisa bobok walau sebentar dan udah bisa keringetan. Alhamdulillah ya Allah masih dikasih perpanjangan nyawa.

Setelah itu aku diem-diem aja kalau ditanya kabar sama orang rumah. Pas udah pulang KKN baru berani cerita kalau punya pengalaman gak sengaja minum oplosan, jadi kan cuma dapet omelan doang gak bikin khawatir, hahahaha. Beneran jangan pernah mencoba kekonyolan semacamnya ya!

Sebuah Muhasabah di Sabtu Malam

Sabtu, 21 Januari 2017

Sabtu malam ini seperti biasa aku browsing, chatting, buka-tutup berbagai aplikasi di hp. Sampai pada akhirnya membaca sebuah pesan broadcast di sebuah group yang membuatku terhenyak. Begini isinya:

MENEMANI MAYAT SELAMA 40 HARI

Alkisah seorang Konglomerat yang sangat kaya raya menulis surat wasiat: "Barang siapa yang mau menemaniku selama 40 hari di dalam kubur setelah aku mati nanti, akan aku beri warisan separuh dari harta peninggalanku."

Lalu ditanyakanlah hal itu kepada anak-anaknya apakah mereka sanggup menjaganya di dalam kubur nanti.
Tapi anak-anaknya menjawab, "Mana mungkin kami sanggup menjaga ayah, karena pada saat itu ayah sudah menjadi mayat."

Keesokan harinya, dipanggillah semua adik-adiknya. Dan beliau kembali bertanya, “Adik-adikku, sanggupkah diantara kalian menemaniku di dalam kubur selama 40 hari setelah aku mati nanti? Aku akan memberi setengah dari hartaku!"

Adik-adiknya pun menjawab, “Apakah engkau sudah gila? Mana mungkin ada orang yang sanggup bersama mayat selama itu di dalam tanah.”

Lalu dengan sedih Konglomerat tadi memanggil ajudannya, untuk mengumumkan penawaran istimewanya itu ke se-antero negeri.

Akhirnya, sampai jugalah pada hari di mana Konglomerat tersebut kembali ke Rahmatullah. Kuburnya dihias megah laksana sebuah peristirahatan termewah dengan semua perlengkapannya.

Pada waktu yang hampir bersamaan, seorang Tukang Kayu yang sangat miskin mendengar pengumuman wasiat tersebut. Lalu Tukang Kayu tersebut dengan tergesa-gesa segera datang ke rumah Konglomerat tersebut untuk memberitahukan kepada ahli waris akan kesanggupannya.

Keesokan harinya dikebumikanlah jenazah Sang Konglomerat. Si Tukang Kayu pun ikut turun ke dalam liang lahat sambil membawa Kapaknya. Yang paling berharga dimiliki si Tukang Kayu hanya Kapak, untuk bekerja mencari nafkah.

Setelah tujuh langkah para pengantar jenazah meninggalkan area pemakaman, datanglah Malaikat Mungkar dan Nakir ke dalam kubur tersebut.

Si Tukang kayu menyadari siapa yang datang, ia segera agak menjauh dari mayat Konglomerat. Di benaknya, sudah tiba saatnya lah si Konglomerat akan diinterogasi oleh Malaikat Mungkar dan Nakir.

Tapi yang terjadi malah sebaliknya, Malaikat Mungkar-Nakir malah menuju ke arahnya dan bertanya, "Apa yang kau lakukan di sini?"

Aku menemani mayat ini selama 40 hari untuk mendapatkan setengah dari harta warisannya", jawab si Tukang kayu.

Apa saja harta yang kau miliki?", tanya Mungkar-Nakir.
"Hartaku cuma Kapak ini saja, untuk mencari rezeki", jawab si Tukang Kayu.

Kemudian Mungkar-Nakir bertanya lagi, "Dari mana kau dapatkan Kapakmu ini?"
"Aku membelinya", balas si Tukang Kayu.
Lalu pergilah Mungkar dan Nakir dari dalam kubur tersebut.

Besok di hari kedua, mereka datang lagi dan bertanya, "Apa saja yang kau lakukan dengan Kapakmu?"
"Aku menebang pohon untuk dijadikan kayu bakar, lalu aku jual ke pasar", jawab tukang kayu.

Di hari ketiga ditanya lagi, "Pohon siapa yang kau tebang dengan Kapakmu ini?"
"Pohon itu tumbuh di hutan belantara, jadi nggak ada yang punya", jawab si Tukang Kayu.
"Apa kau yakin?", lanjut Malaikat.
Kemudian mereka menghilang.

Datang lagi di hari ke empat, bertanya lagi "Adakah kau potong pohon-pohon tersebut dengan Kapak ini sesuai ukurannya dan beratnya yang sama untuk dijual?"
"Aku potong dikira-kira saja, mana mungkin ukurannya bisa sama rata", tegas tukang kayu.

Begitu terus yang dilakukan Malaikat Mungkar Nakir, datang dan pergi sampai tak terasa sekarang 39 hari sudah. Dan yang ditanyakan masih berkisar dengan Kapak tersebut.

Di hari terakhir yang ke 40, datanglah Mungkar dan Nakir sekali lagi bertemu dengan Tukang kayu tersebut. Berkata Mungkar dan Nakir, "Hari ini kami akan kembali bertanya soal Kapakmu ini".

Belum sempat Mungkar-Nakir melanjutkan pertanyaannya, si Tukang kayu tersebut segera melarikan diri ke atas dan membuka pintu kubur tersebut. Ternyata di luar sudah banyak orang yang menantikan kehadirannya untuk keluar dari kubur tersebut.

Si Tukang Kayu dengan tergesa-gesa keluar dan lari meninggalkan mereka sambil berteriak, "Kalian ambil saja semua bagian harta warisan ini, karena aku sudah tidak menginginkannya lagi."

Sesampai di rumah, si Tukang Kayu berkata kepada istrinya, "Aku sudah tidak menginginkan separuh harta warisan dari mayat itu. Di dunia ini harta yang kumiliki padahal cuma satu Kapak ini, tapi Malaikat Mungkar-Nakir selama 40 hari yang mereka tanyakan dan persoalkan masih saja di seputar Kapak ini. Bagaimana jadinya kalau hartaku begitu banyak? Entah berapa lama dan bagaimana aku menjawabnya."

Dari Ibnu Mas’ud RA dari Nabi Muhammad SAW bahwa beliau bersabda, "Tidak akan bergerak tapak kaki anak Adam pada hari kiamat, hingga ia ditanya tentang 5 perkara, yaitu umurnya untuk apa dihabiskannya, masa mudanya kemana dipergunakannya, hartanya darimana ia memperolehnya dan kemana dibelanjakannya, ilmunya sejauh mana diamalkan?" (HR. Turmudzi)

~~~

Menyeramkan.
Itu yang ada di benakku saat membacanya. Kalau kita dimintai pertanggungjawaban misalnya oleh atasan di kantor, kita pasti akan memikirkan jawaban terbaik, poles sana sini, agar tidak salah omongan.
Sedangkan di alam kubur nanti, kita akan ditanya oleh para malaikat Allah tentang kehidupan dunia yang telah dijalani. Apakah akan sempat untuk memoles jawaban sana-sini? Apakah malaikat Munkar dan Nakir hanya akan bertanya saja? Bagaimana dengan adab dan siksa kubur?

Aku mencoba bertanya kepada salah seorang teman dan inilah jawaban yang kudapatkan:

"Wallahu a'lam....
bagaimana dan siapa yg melakukan siksa kubur itu.

Cara kerjanya diluar batas pengetahuan kita. Ini sudah masuk ke ranah iman. Kita diminta mengimani adanya "kehidupan" di alam kubur... Cuman bagaimananya, kita ndak tau."

Ya Allah sesungguhnya Engkau MahaPengampun lagi MahaMengetahui...

Mari Kita Berkunjung ke Museum

Rabu, 04 Januari 2017

Menurut artikel parenting ini, salah satu hak anak adalah rekreasi. Ingat dulu setiap liburan sekolah pasti orang tua mengajak piknik entah kemana, walau tidak terlalu jauh dari rumah dan mungkin sudah pernah dikunjungi. Yang namanya piknik tetap saja menarik. Mungkin itu yang membuatku suka berpetualang dan jalan-jalan. Karena sekarang sudah punya keponakan, gantian aku yang dinanti oleh tiga krucil di rumah untuk mengajak mereka jalan-jalan mengisi hari libur sekolah. Padahal jauh hari aku sudah pamit dan bilang, "Jangan dinanti, aku mau jalan-jalan sendiri. Kalau mau pada piknik ya piknik saja nggak usah nunggu aku pulang." Buliknya nggak mau banget ngasih kepastian bahkan sama keluarga sendiri, mihihihi.
Welcome to Museum Purba Sangiran yang sudah penuh orang :p
Senin libur dulu ya museumnya.


Pintu masuk display area pertama. Ada ABG pacaran di museum, sekalian belajar sejarah ya?
Namun tetap saja mereka menanti. Duh, jadi trenyuh di hati. Bahkan adik bungsu sudah ngambek sama ibu karena aku dijanjikan pulang hari itu. Aku sendiri pun tak ingin buru-buru pulang kalau si bungsu masih menginap di tempat keponakan-keponakan tercinta. Kemudian adikku yang satunya berkata, "Ya kalau tunggu-tungguan terus kapan kelarnya." Berasa ngebahas apa gitu ya, yang tunggu-tungguan terus nggak ketemu. Ihik. Baper.

(Bukan) ibu dua anak.
Alhamdulillah sampai rumah tepat saat tiga krucil lengkap semua. Keponakan sulung bilang ingin ke museum. Langsung saja aku iyakan. Kapan lagi anak yang tiap hari nge-game ini minta jalan-jalan di dunia nyata. Ye kan? Setelah sepakat waktu dengan adik partner pengantar, berangkatlah kami menuju lokasi yang dituju, yaitu Museum Sangiran. Sebenarnya tempat ini sering dilewati untuk pulang kampung ke tempat kakek nenek. Kok ya kebangetan kalau sampai belum pernah masuk ke dalamnya.

Penampakan adik partner dan temannya. Susah diajak foto bersama.

Saat kami tiba, sudah banyak orang yang di sana. Aku nggak tahu pasti berapa harga tiket masuk perorangnya. Karena waktu aku, ibu, adik, dan dua keponakan, kok dibilang empat orang? Hahaha. Saat itu kami diminta membayar Rp20.000,00. Di dekat tempat parkir, banyak kios-kios yang menawarkan cinderamata dan warung-warung yang menjual makanan berat dan ringan. Ada beberapa hewan primata yang dikandang di area tersebut. Kan kasihan ya.
Salah satu penampakan di dalam display area.
Untuk ruang pameran, terdiri dari tiga bagian yang saling terhubung. Ibu, adik bungsu dan keponakan yang kecil menyerah duluan di area kedua. Sedangkan si sulung kuajak berkeliling sampai selesai. Bahkan di awal thawwaf, aku mengharuskannya membaca setiap keterangan yang ada. Mungkin karena merasa dia yang minta ke sana, mau nggak mau harus bertanggung jawab pada pilihannya dan menuruti perintahku, hahaha. Namun di akhir perjalanan saat sudah merasa lelah, aku membiarkannya hanya melihat-lihat saja.

Ayo, harus dibaca ya semuanya!
Selesai berkeliling berdua, kami bingung mencari rombongan yang entah di mana. Kebetulan handphone ku dibawa si bungsu buat main game biar dia nggak rewel, jadi kami hanya berbekal handphone buat foto-foto yang nggak ada sim card-nya. Setelah sholat dhuhur di mushola yang letaknya di bagian belakang deretan warung makan, kami menuju ke pintu keluar dan menemukan rombongan sedang asyik makan siang. Welhadalah, dolan adoh-adoh kok mung pindah mangan soto karo ngombe es teh doang, hahaha. Si sulung pun langsung ikut pesan dan makan dengan lahap. Mungkin dia sangat lapar setelah "dipaksa" menyelesaikan perjalanan, hahaha. Maaf ya, Le, bulikmu galak. Hahaha.

Luwe banget ya, Le? :))
Dalam perjalanan pulang kami sempatkan sekalian berkunjung ke rumah kakek, nenek dan nenek buyut, selagi mereka masih sehat. Selalu menjadi kebahagiaan tersendiri jika bisa mengunjungi keluarga besar walau hanya sebentar. Yah walaupun selalu dibonusi pertanyaan yang belum terpecahkan *iykwim*. Kalau kayak gini memang beneran berasa, "Maka nikmat-Nya yang manakah yang kamu dustakan?" dan cuma bisa berucap alhamdulillah wa syukurillah ya Robb.

Tak lupa aku menanyakan bagaimana perasaan keponakanku setelah jalan-jalan ke museum. Katanya dia senang dan rasa penasarannya telah terjawab. Alhamdulillah ya Le, Lik Tika merasa nggak sia-sia. Sampai jumpa pada edisi piknik-piknik selanjutnya!

Akhirnya ke Lembang Juga

Senin, 02 Januari 2017

Liburan akhir tahun 2016 memang sudah aku niatkan untuk mengunjungi tempat yang sejuk. Jatuhlah pilihanku pada Kota Bandung. Berhasil mengajak Mbak Puput yang dulu kuliah di ITB, membuatku merasa aman, paling nggak, nggak akan nyasar-nyasar amat lah ya, hahahaha.

Jumat malam, 23 Desember 2016, aku terbang dari Palu ke Jakarta. Sabtu pagi, aku janjian bertemu Mbak Puput di Stasiun Gambir, pukul 08.00 WIB. Kereta Argo Parahyangan membawa kami ke Kota Kembang dengan melewati beberapa stasiun, seperti Jatinegara, Bekasi, Purwakarta, dan Cimahi. Sesampainya di Stasiun Bandung, aku masih harus mengurus pembatalan tiket KA Malabar jurusan Bandung - Solo karena memutuskan untuk kembali ke Jakarta setelah selesai liburan di Bandung. 

Kami memesan Gocar dengan tarif Rp60.000,00 yang kemudian abang Gocarnya curhat kalau tarifnya terlalu murah dengan kondisi jalanan macet dan berujung pada minta tambahan seikhlasnya. Karena memang jauh dan macet, kami sampai harus melewati jalan alternatif, akhirnya kami bayar Rp75.000,00. Pun abangnya sempat menyarankan mengunduh aplikasi Grab karena dikhawatirkan gak akan ada Gokar yang standby di daerah Lembang yang jauh dari pusat kota itu.

Kami menginap di Seruni Guest House, di Jalan Maribaya, bisa jalan kaki dari objek wisata De Ranch. Malam harinya kami jalan kaki menyusuri Pasar Panorama Lembang, minum susu segar di Susu Murni Lembang dan makan ramen di Basmal Steak House. Sebenarnya masih lapar mata melihat banyak tempat makan di sepanjang jalan, tapi apa daya, perut sudah kenyang.
Ramainya Tangkuban Perahu

Lemu? Yoben :p
Minggu pagi kami hendak ke Tangkuban Perahu dengan naik angkot. Tetapi resepsionis penginapan menawarkan jasa sewa motor Rp100.000,00 saja. Katanya sih biasanya seratus lima puluh ribu. Berhubung anaknya suka tantangan, akhirnya sewa motor saja. Kapan lagi bisa keliling kota Bandung motoran, hahaha. Naik-naik ke puncak gunung dengan bekal ikut arus, akhirnya sampai juga kami di objek wisata tujuan. Kami membayar uang masuk Rp77.000,00 untuk dua orang, plus jasa parkir Rp5.000,00. 


Tuh, bener kan maksimal 80 kg, hahaha.
Tak lama kemudian, kami memutuskan turun ke Floating Market yang nggak kalah padatnya. Sesungguhnya ingin lanjut ke Kawah Putih Ciwidey, namun katanya terlalu jauh dan medan jalannya lebih berat daripada ke Tangkuban Perahu. Dengan motor, kami membayar tiket masuk Floating Market Rp45.000,00. Lima ribu untuk parkir, dan dua puluh ribu untuk dua tiket masuk yang nantinya bisa ditukar dengan minuman gratis. Kalau mau makan di Floating Market ini harus beli coin dulu. Kayak kemarin kami coba mendoan, harus menukarkan coin senilai 20 ribu dulu.



Terlalu banyak yang antri foto di situ, tante lelah dek~

Maksud hati ingin lanjut ke Observatorium Bosscha, yang letaknya pas di jalur pintu keluar dari Floating Market itu. Namun apa daya, ternyata tutup sampai tanggal 3 Januari 2017. Akhirnya memutuskan ke Pasar Baru Squre saja. Memecah padatnya kendaraan di Jalan Setiabudi, melewati tempat hits macam Farmhouse dan sampailah di tempat tujuan. Pusat belanja andalan dari zaman kuliah, kalau ke Bandung, hukumnya fardhu 'ain buat mampir, hahaha.

Selesai belanja baru ingat dari siang belum sempat makan. Karena udah kepikiran pasta akhirnya ke Warung Pasta di Jalan Ganeca. Pulang ke penginapan lewat Dago dan lagi-lagi jalan alternatif via Bukit Pluncut Ciumbuleuit yang jalannya sepi macam tempat jin buang anak. Motor sempat nggak kuat nanjak, akhirnya terpaksa aku minta Mbak Puput turun sebentar dari boncengan dan jalan kaki, hehehe. Sampai penginapan sudah jam sembilan malam.

Hari terakhir di Lembang, kami manfaatkan ke De Ranch yang bisa jalan kaki dari penginapan. Tiket masuknya berdua cuma dua puluh ribu saja, lagi-lagi bisa ditukarkan dengan minuman. De Ranch ini seharusnya tutup di Hari Senin, tetapi karena kemarin waktu berkunjung kesana adalah libur panjang, mungkin memang pengecualian. Ada banyak wahana permainan di dalamnya. Yang paling ramai adalah menunggang kuda, yang setiap orangnya dikenai tarif Rp25.000,00. Oh ya, berat badan maksimal penunggang kuda 80 kg ya, mungkin kasian kudanya kalau terlalu berat, hahaha. Karena antriannya panjang dan katanya sampai 1,5 jam, akhirnya kami memilih naik delman. Kami membayar Rp30.000,00 bisa untuk berdua atau bertiga katanya. Bapak kusir bercerita kalau di dekat situ adalah Taman Bunga Begonia yang bisa ditempuh dengan naik delman juga. Namun, waktu kami terbatas dan belum packing untuk kembali ke Jakarta, akhirnya belum sempat ke Taman Bunga Begonia.
Akhirnya pilih naik delman.
Satu lagi wahana permainan yang kami ikuti, yaitu flying fox. Aku memang menyukai permainan yang bikin deg-degan gitu. Apalagi untuk naiknya harus meniti batu demi batu macam anak Pecinta Alam latihan panjat tebing. Oh iya, kami membayar Rp20.000,00 per orang untuk mainan flying fox ini. Sebenarnya ada wahana lain yang aku ingin, trampoline, tetapi berat badan maksimal 45 kg. Memang bukan buat tante-tante kayaknya, huhuhuhu...

Pulangnya kami pesan Gocar lagi, yang sama bapak Gocarnya diminta cancel aja diaplikasi tapi dibayar tunai dan ditambah gocap lagi. Jadi di aplikasi harganya Rp42.000,00 tambah Rp50.000,00, macam carteran gitu lho. Bener juga kata abang Gocar yang nganterin kemarin ternyata, susah cari Gocar di Lembang. Dan anggap saja memang harga liburan ya segitu, daripada ketinggalan kereta, hahaha.
 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS