Pages

THE NAP LOVER

Senin, 07 Desember 2009

Aku di-tag oleh Ontin pada sebuah gambar yang bertuliskan “the nap lover”. Aku tahu, ia melakukannya bukan tanpa alasan. Aku memang tukang tidur, lebih tepatnya aku mudah sekali tertidur di manapun aku berada. Aku tidur di depan tv, di kursi ruang tamu, di kelas, di kasurku sendiri, di kost sendiri, di kost teman, di boncengan motor, bahkan aku pernah tertidur dengan posisi berdiri di dalam bus dan kereta Prambanan Ekspress yang penuh sesak.

Dari sekian banyak tempat aku tertidur, yang paling tidak kukehendaki adalah tidur di kelas. Kalau tidak salah, aku memulai kebiasaan tidur di kelas sejak aku masuk SMP. Karena SMP-ku adalah sebuah SMP swasta Islam, maka banyak pelajaran agama yang mengharuskan kami membaca Al Qur’an bersama-sama. Pada saat teman-teman sekelasku mengaji bersama dengan khusyuk, aku pun mulai tertidur dengan khidmat. Hal itu masih berlanjut sampai aku SMA. Walaupun SMA ku adalah SMA Negeri yang tidak ada lagi kegiatan mengaji bersama, aku tetap tertidur. Aku tidak ingat saat pelajaran apa saja aku tertidur, yang jelas bukan pada saat pelajaran olahraga dimana kami harus berbaris di lapangan atau makan bersama di kantin. Kalaupun aku tidak tertidur di sekolah, aku tertidur di les.

Selama ini, kebiasaan tidur tak pernah menjadi masalah serius untukku. Sampai pada sore tadi, saat aku mengikuti kelas Hubungan Masyarakat yang diampu oleh Mas Ngurah yang sangat senang bercerita. Seperti biasa, beberapa menit setelah kelas dimulai, rasa kantuk mulai menerjangku dan aku pun menyerah sehingga aku tertidur. Sampai pada waktu pertengahan sebelum kelas berakhir, salah seorang teman yang duduk di depanku memutar badan untuk menghadapku. Mas Ngurah tidak menegur tingkah lakunya sama dengan beliau tidak menegurku setiap kali aku tertidur di kelasnya.

Temanku tadi bertanya, aku tidur jam berapa? Kujawab saja kalau aku tidur jam 12, walaupun semalam aku tidur lebih awal, tetapi biasanya aku memang tidur sekitar jam 12. Lalu ia bertanya lagi, aku bangun jam berapa? Kujawab saja jam 5, walaupun setelah sholat Subuh yang kesiangan itu aku tidur lagi sampai jam setengah sembilan. Kemudian temanku itu bertanya lagi, bukankah jam tidurku itu sudah cukup? Tetapi mengapa aku selalu tertidur setiap ada teman lain yang presentasi di depan kelas? Dan aku tidak punya kata-kata lagi untuk menjawabnya, jadi aku hanya tersenyum. Senyum kecut karena merasa tertohok dan di dalam hati merasa sebal mengapa harus ada orang seperti dia di kelas yang aku ikuti…

Tetapi, di luar itu, aku merasa perkataan temanku itu ada benarnya juga. Mengapa aku masih saja tertidur di kelas kalau jam tidurku sudah mencukupi? Adakah yang salah dengan diriku? Apa aku mengidap suatu penyakit yang membuatku merasa cepat lelah dan mengantuk? Aku masih bertanya-tanya…

Number Not In Use

Senin, 16 November 2009

Kenapa aku menamai posting kali ini dengan judul seperti itu? Jawabannya tidak lain dan tidak bukan adalah karena kalimat itulah yang tertera di layar Nokia 3210 Classic-ku setiap kali aku berusaha menghubungi nomor seseorang.
Sudah lebih dari sepekan ini aku tidak menghubungi nomer tersebut, karena setiap aku menghubungi tak pernah ada jawaban. Nada sambung selalu berakhir dengan no answer atau bunyi tu la lit.

Walaupun aku kecewa dan selalu kecewa karena setiap kali aku menghubunginya selalu seperti itu, aku tetap bersyukur. Paling tidak ia tidak ganti nomor dan masih hidup. Aku selalu berusaha berpikiran positif dan menganggap ia sibuk setiap kali tak menjawab teleponku. Mungkin ia tidak mau menerima teleponku karena biasanya aku akan lama berbicara di telepon, dan mungkin ia sedang benar-benar tidak punya waktu untuk mendengar ocehanku.

Tetapi keadaan semalam sangat lain. Walau aku benar-benar merasa capek karena seharian menemani Ontin berkeliling Jogja, aku tetap merasa harus menelepon ia dan keluargaku. Karena aku tahu ia biasanya tidak menjawab teleponku, aku memutuskan untuk menelepon ibuku. Setelah puas berkicau dengan keluargaku, aku mencoba menghubungi nomornya. Tetapi, nomornya tidak dapat dihubungi. Tidak biasanya ia mematikan hp, karena setahuku ia tidak pernah mematikan hp. Aku mulai tidak tenang dan mengkhawatirkannya.

Sepanjang hari ini aku masih mencoba menghubunginya. Nihil. Entah mengapa aku seperti punya firasat kalau hpnya hilang. Sebelumnya ia sudah beberapa kali kehilangan hp.

Malam ini, aku online. Seperti biasa, aku tidak lupa membuka facebook dan berkunjung ke profilenya. Aku kaget sewaktu membaca wall paling atas dari temannya yang menanyakan hpnya yang hilang! Mengapa bisa sama persis antara feelingku dan kenyataannya?

Aku tidak tahu. Mungkin karena aku memang benar-benar menyayanginya...

Terlepas dari betapa kuat perasaanku padanya, aku berharap ia bisa segera membeli hp lagi (tidak perlu baru, yang penting bisa digunakan untuk menelepon dan sms)dan mengurus nomornya agar kami bisa kembali berkomunikasi. Atau jika ia memutuskan membeli nomor perdana, semoga ia bisa memberitahuku secepatnya.

Target Operasi

Sabtu, 14 November 2009

Ini tentang seseorang yang kukenal di UKM yang kuikuti. Awalnya, aku berteman secara biasa saja dengannya. Kami bahkan satu tim di dalam sebuah kepanitiaan penyambutan mahasiswa baru beberapa bulan yang lalu. Selama kami bekerja sama, hubungan kami baik-baik saja. Menjalankan tugas masing-masing dan berkomunikasi sesuai keperluan. Tidak ada acara kumpul-kumpul di luar konteks kepanitiaan. Sampai pada akhir pelaksanaan, sosok itu mulai susah dihubungi. Baik olehku atau teman satu tim yang lain. Salah satu rekan menyebutkan, ia sedang sibuk mengurusi saudaranya yang menjadi mahasiswa juga. Kebetulan penghujung pelaksanaan acara bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri 1430 H. Ada yang bilang ia mudik lebih awal, karena memang tempat tinggalnya paling jauh di antara rekan satu tim yang lain, yaitu di Bima, Nusa Tenggara Barat. Aku dan teman-teman yang lain berusaha memakluminya dan tidak menaruh sedikitpun kecurigaan terhadapnya.


Sebelum libur lebaran, aku dan teman-teman yang lain berkumpul untuk berbagi hasil kerja keras kami, bisa dikatakan sebagai THR karena waktu itu menjelang hari raya Idul Fitri. Namun, kami belum bisa menerima sepenuhnya hak kami karena sebagian uangnya masih berada di tangan teman kami yang berasal dari NTB tersebut. Saat lebaran, ia mengirimiku sms ucapan Idul Fitri dan aku pun membalasnya seperti aku membalas ucapan teman-teman yang lain.


Libur lebaran berakhir sudah dan saatnya kami kembali ke kampus. Saat bertemu dengan salah seorang rekan satu tim, aku bertanya tentang jatah uang yang belum kami terima sebagaimana mestinya. Temanku itu ternyata juga tidak tahu. Akhirnya aku bertanya kepada ketua panitia kami, dan hasilnya nihil. Uang masih ditangan teman kami yang berasal dari NTB itu dan yang bersangkutan tidak berhasil dihubungi.


Kemudian aku berusaha mengirim sms langsung ke dia. Pending, tetapi kemudian terkirim. Tidak ada balasan. Aku berusaha menelepon, tetapi tidak pernah dijawab. Ternyata, aku dan teman-teman satu timku bukanlah satu-satunya kelompok orang yang berurusan dengannya. Teman-teman satu UKM pun juga tidak berhasil menghubunginya. Bahkan ada yang bilang, pemilik kost tempat ia tinggal pun juga mencarinya, sampai membobol kamar kontrakannya karena ia menghilang dan belum membayar uang kost selama berbulan-bulan. Padahal, sepengetahuan teman satu UKM yang lebih senior dan kurasa lebih mengenalnya daripada aku, ia berasal dari keluarga yang mampu, paling tidak berkecukupan, karena orangtuanya bisa mengirimnya untuk kuliah di universitas tempat kami menuntut ilmu.


Aku tidak mau tahu tentang urusannya dengan pemilik kostnya atau siapapun juga. Yang penting bagiku adalah ia harus mengembalikan uang hasil jerih payah tim kami kepadaku dan teman-teman satu timku yang lain. Jika memang ia sedang dalam kesusahan dan terpaksa menggunakan uang kami, maka sebaiknya ia jujur dan tidak melarikan diri seperti sekarang ini. Aku dan teman-teman ynag lain pasti akan lebih menghargainya.
Sekarang yang aku lakukan bersama teman-temanku adalah menjadikannya target operasi. Kami berusaha mengumpulkan berbagai informasi yang berkaitan dengannya. Kami bertekad untuk mencarinya sampai ketemu dan meminta pertanggungjawabannya. Tidak menutup kemungkinan kami akan menempuh jalur hukum jika memang diperlukan.

Corporate Social Responsibility

Jumat, 30 Oktober 2009

Dirut PT Sido Muncul, Irwan Hidayat, pertama kali melepas rombongan mudik gratis pada tanggal 29 Oktober 2005. Program mudik gratis yang ditujukan untuk para pedagang jamu gendong beserta keluarganya ini masih berlangsung pada Hari Raya Lebaran tahun 2009. Ini merupakan program berkelanjutan dari tahun ke tahun dari manajemen PT Sido Muncul untuk para pedagang jamu yang telah berjasa memasarkan produk mereka. Program tersebut bahkan diikuti oleh beberapa perusahaan lain seperti PT Indofood, PT Sinde Budi Sentosa, PT Gudang Garam, Telkomsel, Indosat, Excelcomindo (XL), dan Bank Negara Indonesia (BNI).
Aqua sebagai perusahaan air minum dalam kemasan terbesar di Indonesia juga tidak mau kalah untuk menunjukkan kepeduliannya terhadap masyarakat. Mulai tahun 2007, Aqua membuat program Satu untuk Sepuluh. Pihak Aqua akan menyediakan 10 liter air bersih ba¬gi komunitas di daerah Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur yang kesulitan air untuk kebutuhan me¬ma¬sak, mencuci, dan mandi dari setiap 1 liter bo¬tol Aqua ukuran 600 mililiter dan 1.500 mi¬liliter berlabel khusus yang terjual se¬jak Juli 2007 sampai dengan September 2007.
Kedua program yang telah disebutkan di atas merupakan contoh bentuk Corporate Social Responsibility (CSR). CSR merupakan bentuk perhatian perusahaan untuk menciptakan kesejahteraan dan kebaikan bagi para pihak luar terkait (external stakeholders). Yang merupakan bagian dari external stakeholders dari suatu perusahaan ialah pelanggan (customers/consumers), pemasok (suppliers/distributor), lingkungan (environment), masyarakat sekitar (community, society), pesaing (competitors), dan pemerintah (goverment). Sebuah perusahaan tidak boleh memperhatikan catatan keuangan perusahaan semata (single bottom line), melainkan sudah meliputi aspek keuangan, aspek sosial, dan aspek lingkungan biasa disebut triple bottom line. Ketiga aspek tersebut dapat diilustrasikan dengan gambar di bawah ini.
Secara pribadi, saya setuju dengan fenomena aplikasi CSR ini karena dengan adanya CSR akan terjadi hubungan timbal balik yang saling menguntungkan antara perusahaan dengan masyarakat. Masyarakat bisa mendapatkan keuntungan dan peningkatan kesejahteraan dari program CSR yang diadakan oleh perusahaan. Dan sebaliknya, walaupun beberapa program CSR tidak berimbas terhadap kenaikkan angka penjualan produk secara langsung, perusahaan akan tetap mendapat keuntungan karena produk mereka dikenal oleh masyarakat luas dan mereka mendapat image positif. Image positif merupakan asset perusahaan yang tak ternilai sebagai daya tarik utama bagi para pelanggan, karyawan dan investor.
Selain program CSR yang telah disebutkan sebelumnya, masih banyak program CSR lainnya dari berbagai perusahaan yang terbukti membawa manfaat bagi masyarakat. Sebut saja beberapa perusahaan seperti:
1. PT Unilever yang melakukan pendampingan terhadap para petani kedelai untuk produksi kecap Bango
2. Indosat dengan program “Satukan Cinta Negri” yang terdiri dari Indonesia Belajar, Indonesia Sehat, Indonesia Hijau, Berbagi Bersama Indosat, dan Indosat Peduli
3. HM Sampoerna yang mengembangkan pendidikan melalui Sampoerna Foundation
4. PT Astra Internasional yang membangun Politeknik Manufaktur Astra
5. PT Bogasari yang melakukan pendampingan terhadap para pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) berbasis terigu, dan lain-lain.
Pemerintah juga mengatur program CSR ini di dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (PT), pasal 47. Dalam pasal tersebut, CSR merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan perusahaan yang mengeksploitasi sumber daya alam dalam rangka menjaga hubungan harmonis dengan masyarakat sekitar.

Pramex-ku sayang, kemanakah engkau?

Sabtu, 23 Mei 2009

Kamis pagi (21/5), aku dan mbak Puput pulang ke Solo. Kami bermaksud menumpang kereta Prambanan Express (Pramex) yang berangkat pukul 06.55 dari Stasiun Tugu, Yogyakarta. Karena aku harus menyelesaikan cucianku yang menumpuk dan mbak Puput juga menyelesaikan piket mengepel lantai, maka kami berangkat dari kost kesiangan, sudah lebih dari jam setengah tujuh. Padahal, bus jalur 4 biasanya berhenti di depan Seven Resto, sebelaj selatan Mirota Kampus, cukup lama. Jadi, di dalam bus aku sama sekali tidak merasa tenang karena takut tertinggal oleh Pramex.

Tetapi, sesampainya di stasiun ternyata Pramex belum datang dan kami harus menunggu. Setelah sekitar 15 menit kemudian, datanglah rangkaian kereta Senja Utama. Para penumpang Pramex harus naik kereta ekonomi jurusan Jakarta-Solo tersebut karena ternyata kereta Pramex tidak datang.

Kereta itu adalah kereta terburuk yang pernah kutumpangi. Lantainya sangat kotor karena tertutup dengan banyak sekali sampah Koran, mungkin bekas orang tidur semalam. Banyak juga penumpang yang merokok di dalamnya. Selain itu, para pedagang asongan yang tak pernah berhenti menjajakan dagangannya menambah kesan negative yang kudapat dari rangkaian Senja Utama. Bayangkan saja, seorang pedagang yang sama bisa lewat sekitar 5 kali selama perjalanan Jogja-Solo! It’s really annoying!

Jika saja kereta tersebut lebih bersih dan tidak ada perokok di dalamnya, aku pasti tidak keberaatan untuk menumpanginya lagi. Aku tidak terlalu mempermasalahkan keberadaan para pengasong, karena aku paham mereka juga butuh uang untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka dan pekerjaan mereka itu adalah pekerjaan yang halal.

Kelangkaan Pramex ini mungkin bisa dijadikan masukan kepada PT KAI agar lebih memperhatikan para penumpang. Karena Pramex termasuk sarana transportasi terlaris untuk menempuh jarak Solo-Jogja, yaitu dengan 6000 orang penumpang di hari biasa dan 8000 orang penumpang pada saat weekend, alangkah akan jauh lebih baik jika ditambah jumlah gerbongnya. Para penumpang pasti akan lebih puas dengan pelayanan PT KAI karena mobilitas mereka akan semakin lancar.

Bukankah begitu, para pramekers sejati?!

Film Biola Tak Berdawai

Kamis, 14 Mei 2009

Film yang bagus memang, namun terkesan membosankan. Hal itu ditandai dengan pernyataan “bla bla bla adalah teka-teki…” yang selalu diucapkan oleh tokoh Mbak Wid yang diperankan oleh Jajang C. Noer. Acting yang menarik dan dalam coba ditunjukkan oleh Nicholas Saputra yang berperan sebagai Bisma dan Ria Irawan yang memainkan peran sebagai Renjani.

Secara alur, film ini mudah dimengerti karena menggunakan alur maju, sehingga tidak membingungkan penonton. Film ini bercerita tentang kehidupan seorang penari balet bernama Renjani yang memilih mengakhiri kariernya setelah ia melakukan aborsi karena diperkosa, dan akhirnya memilih pindah dari Jakarta ke Yogyakarta dan mendirikan rumah yatim piatu khusus untuk anak yang cacat dari rumah warisan neneknya. Dari sekian banyak anak-anak cacat yang ia tampung, Renjani sangat menyayangi seorang anak bernama Dewa.

Di panti asuhan tersebut Renjani bekerja sama dengan seorang dokter anak yang biasa dipanggil Mbak Wid. Wid adalah anak seorang pelacur yang ibunya telah menggugurkan kandungannya sebanyak enam kali. Maka dari itu, Wid bertekad untuk menjadi dokter anak, karena ia ingin menebus dosa yang telah dilakukan ibunya terhadap anak-anak.
Hampir setiap hari selalu ada saja anak di panti asuhan itu yang meninggal. Untuk menghindari stress karena sering menghadapi kematian pasiennya, Wid memiliki hobi meramal lewat kartu-kartunya. Biasanya ramalannya memang benar terjadi. Seperti saat Renjani bertemu dengan Bisma saat menonton pertunjukkan musik. Awalnya, niat Renjani adalah melakukan terapi musik untuk Dewa tetapi ia malah jatuh cinta pada seorang pemain biola bernama Bisma. Namun, takdir berkata lain. Cinta Renjani dan Bisma tidak bisa bersatu. Renjani meninggal karena kanker yang disebabkan oleh tindakan aborsi yang dilakukannya dulu.

Dari segi amanat, film ini mengandung berbagai pesan moral untuk para penontonnya. Di antaranya ialah kita sebagai manusia yang terlahir dengan normal hendaknya tidak menghina dan merendahkan saudara kita yang terlahir kurang sempurna, kita juga tidak boleh menyerah dalam berusaha dan menjalani cobaan hidup karena suatu saat keajaiban akan terjadi untuk menolong kita. Pesan tersirat lain dari film ini adalah jangan pernah melakukan aborsi, karena tindakan itu akan menyeret kita ke dalam penyesalan dan dosa yang mendalam, serta dapat merusak kesehatan dann membahayakan nyawa yang kita punya.

Euphoria of the new laptop (part 2)

Selasa, 12 Mei 2009

Wah, ternyata euphoria of the new laptop masih berlanjut…. Malah lebih seru! Ini dia kisahnya…. Selamat membaca!

Gue pulang dari rumah pakde dijemput mama dan adik gue, Isal. Karena siang itu gue ada janji ama Tias, sahabat gue, maka laptop gue bawa. Maklum, laptop baru! Kan ga lucu kalau laptop baru diambil dari toko 24 jam yang lalu udah ilang. ih, jangan sampai deh… gue bener-bener parno, gara-gara sebelumnya pernah kehilangan hp yang belom genap berumur 2 minggu. Pelajaran yang gue ambil, berhati-hatilah dengan barang baru, terutama gadget baru lo!

Sorenya waktu gue ama Usi, adik gue yang cewek, sedang asik-asiknya menikmati si lappie, eh, Isal tertanya baru tau klo tu lappie barang pribadi gue. Disangkanya tu lappie pinjeman gitu. Gile nie adik gue, emang gue kagak ada tampang pantes punya laptop gitu ya???

Mama sama Bapak gue juga gak ketinggalan buat ikutan euphoria lho, walopun mereka gaptek gitu tetep aja ikutan narsis foto-foto pake webcam! Oh my God, dan pose beliau berdua tu gak banget! Sama sekali tidak mencerminkan wibawa sebagai orang tua, hahahahaha….

Klo Usi laen lagi, foto-fotonya yang kemungkinan dimaksudkan agar terlihat (sok) imut malah terlihat bagai penampakan kuntilanak di malam hari. Abis dia tuh uda tau ga fotogenik bukannya nyadar malah maksa, hehehehehe….
Ini semua belum seberapa sodara-sodara!

Masih ada yang lebih dahsyat, kakak dan keponakan gue! Mereka tuh benar-benar sepasang ibu dan anak yang minta ampun narsisnya. Karena kakak gue termasuk dalam golongan orang gaptek di rumah gue, sebelumnya dia ga tau klo webcam di lappie gue tu bisa buat foto. Pas gue kasih liat foto-foto bonyok dan adik-adik dikiranya tu foto pake hp, trus gue jelasin klo mereka foto pake webcam. Dan tentu saja dia langsung ingin mencoba dan mencoba lagi!

Waktu dia ngajak Chelsea, anaknya, eh si anak malah ketagihan! Dengan gaya bicara khas anak umur 2,5 tahun, dia bilang “mote-mote!” sambil tak henti-hentinya berusaha tuk menggapai lappie gue. Usut punya usut, tertanya dia pengen difoto pake webcam lagi! Oh my God, gue semakin penasaran, apakah keluarga-keluarga lain pada bertingkah seperti ini saat ada sebuah laptop baru di rumahnya?

Euphoria of the new laptop

Jumat, 08 Mei 2009

Alhamdulillah, akhirnya jadi juga gue dibeliin laptop, thanks God, thanks Mom… I love u…
Dengan semangat 45 aku dan Lulu menuju toko Oslo Computama tempat aku memesan Acer E-Machines type D-725. Saat itu hujan deras beserta angin kencang, sehingga kami terpaksa berteduh sebentar di Kopma UGM. Awalnya kami belum tahu pasti di mana letak toko tersebut, karena sehari sebelumnya aku memesannya di NIX Computer Expo yang diselenggarakan di Jogja Expo Center. Tetapi untungnya tidak sulit untuk menemukan lokasi tokonya. Dari arah UGM, di perempatan Jetis belok kanan, arah ke Monjali, tepatnya di depan Mie Pasar Baru.
Syukurlah hujan sudah reda sewaktu kami menempuh perjalanan pulang. Sesampainya di kost, Lulu langsung pamit ke basecamp Bulaksumur Post, sedangkan aku asyik membongkar laptop baru. Namun beberapa saat kemudian lulu kembali ke kost-ku karena acaranya di Bulpost sudah selesai. Karena setelah itu kami sama-sama mempunyai acara di Kopma, maka kami sepakat untuk berangkat bersama. Tiba-tiba aku ingin pulang sore itu juga, langsung dari Kopma. Walaupun lelah, tetapi semangat untuk pulang kampong tak pernah reda. Aku tidak sabar untuk memamerkan laptop baruku kepada kedua adikku di rumah, pasti mereka akan senang sekali karena mulai sekarang kami sudah bisa menyewa film dalam bentuk CD dan DVD.
Tetapi kepulanganku sedikit tertunda oleh briefing Dikorg Lulu yang tak kunjung usai, sehingga aku terpaksa pulang dengan Pramex terakhir, aku sampai lupa meminta jadwal Pramex pesanan mbak Fatma. Di dalam pramex aku tetap bisa tidur walaupun ada perasaan was-was karena membawa laptop baru yang lengkap dengan tas latopnya. Untungnya, penumpang Prameks kali ini tidak seramai biasanya, mungkin karena bukan weekend.
Karena hari sudah malam, maka aku memutuskan untuk meminta sepupuku menjemputku di Stasiun Purwosari saja. Sesampainya di rumah Pakdeku, aku menelepon mamaku, tetapi ternyata beliau tidak bersedia menjemputku malam itu juga karena hari sudah malam, sehingga aku terpaksa menginap di rumah Pakdeku. Walaupun niat tulusku untuk menikmati laptop baru bersama kedua adikku tertunda, tetapi aku masih bisa ber-euphoria bersama sepupuku.
Oh, wahai laptop baruku… semoga engkau selalu setia menemani langkahku… semoga engkau selalu dalam keadaan sehat wal afiat agar tugas-tugas yang kukerjakan bersamamu senantiasa terselesaikan dengan baik… amin….!

bad weekend, ughh...

Kamis, 05 Maret 2009

hari ini gw terpaksa pulang gara-gara ga enak badan gitu dech...
untung temen2 kelompok terkom berbaik hati mau menunda kerja kelompok ampe pekan depan...
tapi yach, tetep aja gw gag bisa nonton teater gadjah mada yg mo pentas besok, jumat malem... gara2 teparisme, huh...

sampe di rumah, malah jadi bete gara2 compie kesayangan dirusakin ama si adek dodol! mana tugas buat minggu depan lumayan banyak... padahal, gw udah berniat buat nyanyangin and ngerawat tu compie ampe hampir hayat, sebelum gw dapet laptop gitu... ehh, malah ada kejadian tak terduga! nambah kerjaan aja nich...

tapi weekend nie lumayan panjang loh, mpe senin! hmm... sepertinya gw harus menyusun beberapa planning yar hari2 ke depan ga terlewati dengan sia2...

yah, semoga...

Sekelumit Cerita Tentang Dia

Jumat, 13 Februari 2009

Saya tidak menyangka, ternyata seseorang yang selama ini saya harapkan telah memilih orang lain. Yang lebih menyebalkan lagi, saya mengetahui hal itu dari orang lain, bukan dari dia secara langsung. Saya tidak tahu secara pasti apa yang ada di benaknya, sehingga dia menjadi begitu pengecut, bahkan sekadar untuk mengakui status barunya tersebut. Seandainya saja dia mau berkata jujur kepada saya, pastilah saya akan menghargai dan menghormati tindakannya. Tentu saya juga tidak perlu sekecewa ini terhadapnya. Nasi sudah menjadi bubur. Tak ada yang perlu disesali. Ternyata bukan saya yang menjadi pilihan hatinya. Saya hanya bisa berdoa semoga mereka bahagia dan saya bisa segera bangkit untuk menatap masa depan saya sendiri. Saya yakin Tuhan telah memberikan jalan yang terbaik untuk kami lalui. Saya yakin saya akan bertemu dengan orang yang tepat suatu saat nanti, walaupun untuk sementara waktu ini hati saya seperti mati rasa. Let by gone be by gone…

Akhir Libur Panjangku

Aku tidak jadi pergi ke tempat Nenek dan Kakek di Sragen, karena aku tidak mau pergi sendirian naik angkutan umum. Bukan apa-apa, aku hanya sedang tidak mood saja. Kalaupun dipaksakan mungkin nanti malah tidak baik. Aku lebih suka pergi ke sana jika ditemani Ibu.


Sebagai closing liburan kali ini, aku dan sahabat-sahabatku berencana akan menonton film Twilight di Solo Grand Mall. Film yang sudah booming di Jogja beberapa bulan sebelumnya dan baru diputar di kota kecil seperti Solo. Jadi, mungkin kedengarannya agak ketinggalan zaman. Sebenarnya dulu aku dan teman-teman kuliahku berencana menonton film itu di Ambarukmo Plaza, Jogja. Tetapi karena waktu itu mendekati musim ujian dan sedang banyak tugas di kampus jadi kuputuskan untuk menunggunya di putar di Solo. Akhirnya, kesabaranku berbuah manis juga.


Selain itu, aku punya agenda untuk bertemu dengan Guru Bahasa Jepang-ku sewaktu SMA. Ada sebuah lomba penulisan tentang sosok “Ibu” tetapi bukan ibu kandung. Karena menurutku guruku tersebut adalah orang yang sangat menyenangkan, maka kuputuskan untuk mewawancarai beliau dan mengangkat profil beliau ke dalam lomba yang ingin kuikuti.


Sepertinya penghujung liburan harus kuhabiskan di kost bersama teman-teman di Lembaga Penerbitan (LP) Koperasi ‘Kopma UGM’, suatu gugus yang kuikuti, karena kami harus meliput berita sepanjang Rapat Anggota Tahunan (RAT) Kopma yang diadakan pada tanggal 13-15 Februari 2009 ini. Kami harus meliput jalannya RAT dan langsung mengetiknya untuk kemudian mengedit dan menerbitkan keesokkan harinya, terus-menerus selama tiga hari. Aku rasa ini akan membutuhkan kerja keras. Semoga saja anggota teamwork-ku nanti adalah orang-orang yang menyenagkan dan bisa diajak bekerja sama, agar aku bisa bekerja sama dengan baik pula dengan mereka dan kami bisa mencapai hasil yang maksimal.

Kost-ku apa kabar ya? Pasti kamarku sangat berdebu dan masih acak-acakan seperti terakhir kali aku melihatnya. Maka dari itu, aku berencana untuk berangkat ke Jogja pada pagi hari agar aku bisa membersihkan kamarku terlebih dahulu sebelum aku harus ke Kopma siang harinya. Agar sepulang dari Kopma aku bisa beristirahat dengan nyaman di kamar yang sudah bersih dan rapi sehingga bisa bersemangat untuk menjalankan aktifitas untuk keesokkan harinya lagi.


SMAGA EDU EXPO 2009

Senin, 09 Februari 2009

Last Saturday, January 31, 2009 there was an event in SMA N 3, Surakarta, a city in Central Java, Indonesia. In a great number of ex student from that Senior High School came back to share there experiences about their college for the Smaga students, especially for the third year students.

This event started from 7 a.m. and finished at 1 p.m. In that day, the students were free from their study schedule. The teachers were also free from their work for a while. Just there was the happiness there and everyone was smile and laugh.

The ex students came from many universities in Indonesia, not only the state universities, but also the self-universities. They came from many kinds of department in their each college, so they could tell their juniors based on their own talent and interest.

The main aim of this event was to give informations to the students about study in the university. Beside that, this event was also directed to take care the unity between the Smaga’s graduated students.

My Boring Holiday

Huuuh, benar-benar liburan yang membosankan!

Bayangkan saja, sudah 3 minggu di rumah tetapi tak juga bisa pergi kemana-mana!

Rumah, rumah dan rumah! Tak ada tempat lain untukku pada liburan kali ini! Tidak ke tempat nenek di Semarang yang terakhir kali kudatangi sewaktu kelas 1 SMP dengan alasan di sana sedang terkena banjir. Keinginan ke rumah Pakde dan Bude di Kuningan, Jawa Barat, juga pupus lantaran Mama tidak mengizinkanku bepergian jauh sendirian. Masih dengan alasan yang sama, aku juga tidak boleh ke tempat Om di Surabaya. Beliau selalu bilang, “Kamu adalah satu-satunya anak Mama yang sejak kecil tidak pernah lepas dari sisi Mama. Jadi, Mama tidak bisa melepasmu sendirian ke tempat yang jauh.” Kata-kata yang mengharukan memang, tetapi sekaligus juga sangat menyebalkan di telingaku saat ini!

Mencuci baju, menyapu, dan mengepel lantai adalah beberapa kegiatan positif yang bisa kulakukan untuk mengisi waktuku di rumah. Selain itu aku hanya menonton TV, tidur dan mengasuh keponakanku jika ia sedang di rumahku. Kadang aku punya beberapa jam untuk ke warnet. Tetapi tetap saja tak banyak yang kulakukan selain membuka portal akademik, friendster, facebook, email, dan beberapa situs berita. Membuka blog saja aku tidak pernah, malas meng-up date karena tidak ada hal yang menarik yang bisa kubagi di blog.

Seingatku, sejauh ini hanya ada tiga kesempatan aku keluar rumah. Pertama, sewaktu ada Smaga Edu Expo di SMA-ku, akhir Januari lalu. Itulah satu-satunya kesempatan yang kunikmati sebagai pengisi liburan yang menyenangkan. Aku bertemu teman-teman lamaku dan aku benar-benar merasa happy. Setelah itu, 2 Februari lalu, aku ke Pameran Buku di Grha Wisata Niaga bersama Mama dan 2 keponakan kecilku. Tidak seperti jalan-jalan, lebih berasa jadi baby sitter. Aku tidak begitu konsentrasi pada buku-buku yang ingin kubeli, sehingga aku hanya membeli 2 novel untuk mengisi hari-hariku ke depan. Salah satu dari novel tersebut membuat aku menyesal telah membelinya, karena isinya tidak begitu bagus menurutku. Terakhir, 4 Februari, waktu aku ke UNS untuk mengembalikan buku kenangan Smansa milik Abe, temanku, lagi-lagi sama Mama. Coba bayangkan lagi, main ke kampus teman didampingi Mama tercinta. Oh, benar-benar anak mami! Setidaknya begitulah yang kutangkap dari sorot mata kawan-kawanku. Aku jadi sama sekali tidak bebas berinteraksi dengan teman-temanku, yang biasanya dekat terpaksa menjadi agak berjarak. How a pity me…

Tinggal sepekan lagi, liburanku usai sudah. Aku akan kembali ke rutinitas di kost dan kuliahku. Tidak banyak yang bisa kulakukan untuk menghabiskan sisa hari-hari bebasku. Mungkin aku akan mengunjungi Kakek dan Nenek di Sragen, karena pastilah aku akan dianggap keterlaluan jika sampai tidak meluangkan sedikit waktu untuk mereka padahal libur sebulan. Ya sudahlah, mungkin next holiday aku akan bisa lebih bersenang-senang. I hope so…

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS