Diary Work From Home Day 47 : Novel The Architecture of Love by Ika Natassa
Kamis, 28 Mei 2020
Kamis, 02 Januari 2014
![]() |
| Sumber gambar http://www.imdb.com/title/tt1389137/ |
Selasa, 22 Maret 2011
Halo semua…! Setelah sekian lama tidak memposting apapun, aku akan memulainya dengan tulisan ringan saja ya..
Awalnya aku tak sengaja menemukan film ini di laptop teman kostku. Seperti biasanya, aku copy saja dan aku pindah ke laptop, entah mau ditonton kapan. Karena sore ini hujan dan aku merasa selo, akhirnya aku memilih untuk menonton film Eat Pray Love. Ternyata filmnya sangat membosankan. Satu hal yang membuat aku bertahan menontonnya sampai selesai adalah rasa nasionalisme, karena ada adegan film itu yang diambil di Bali, Indonesia.
Setelah jeda makan malam dan aku masih merasa malas untuk menyentuh proposal KKN, aku memutuskan untuk menonton film lagi. Pilihanku jatuh pada sebuah film Korea yang berjudul Speedy Scandal. Aku tidak tahu siapa saja pemainnya, tetapi film ini sangat menyenangkan untuk ditonton. Sangat tidak membosankan dan membuatku tertawa terbahak-bahak sendirian, cocok untuk penghilang galau.
Film ini menceritakan tentang Nam Hyeon-su seorang penyiar radio yang membawakan acara semacam curahan hati para pendengarnya. Salah seorang dari pendengar yang menelpon adalah Jeong Nam, seorang single mother yang membesarkan anaknya seorang diri dan ingin mencari ayahnya. Di luar dugaan, ternyata Nam Hyeon-su, si penyiar radio, adalah ayah biologis yang selama ini dicarinya. Dari sinilah mereka memulai kehidupan sebagai keluarga, walaupun harus berpura-pura jika di hadapan orang lain. Apalagi ada wartawan Bong Pil-Choong yang suka mencari kelemahan orang dan membeberkannya ke khalayak.
Kisah keluarga tiga generasi yang sangat konyol. Nam Hyeon-su yang ternyata mempunyai anak saat kelas 3 SMA, Jeong Nam yang mempunyai anak saat kelas 1 SMP dan Hwang Gi-dong, si cucu yang tidak kalah genit dengan kakeknya. Ia jatuh cinta pada pandangan pertama di hari pertamanya masuk TK. Si kakek juga malah memanfaatkan cucunya untuk mendekati ibu guru yang cantik di sekolah Hwang Gi-dong. Masalah mulai terjadi saat Jeong Nam bertemu dengan Sang Min, mantan kekasih sekaligus ayah biologis putranya, Hwang Gi-dong. Jeong Nam bingung bagaimana meluruskan kesalahpahaman antara dirinya dengan Sang Min. Sang Min seorang fotografer yang mempunyai foto Jeong Nam bersama Nam Hyeon-su. Tanpa sepengetahuan mereka, wartawan Bong Pil-Choong mengetahui foto-foto itu dan menjadikannya bahan gosip.
Karir Nam Hyeon-su terancam. Secara emosional ia mengusir anak dan cucunya pergi. Jeong Nam merasa sangat menderita. Ia kehilangan kasih sayang seorang ayah yang baru dirasakannya sebentar dan Sang Min dalam satu waktu. Ia dan Hwang Gi-dong menyambung hiduo dengan menjadi waitress sebuah restoran dan tidur disana saat restoran tutup.
Walaupun film ini membuat kita tertawa dengan berbagai adegan konyolnya, namun tetap ada amanat yang dapat diambil dari dalamnya. Keluarga adalah kado terindah yang Tuhan beri untuk umatnya. Kita tidak bisa memilih siapa yang akan menjadi anggota keluarga kita, namun kita pasti akan sangat menyayangi mereka bagaimanapun keadaannya. So, kalian harus nonton film ini ya..! Benar-benar sayang untuk dilewatkan!
Kamis, 14 Mei 2009
Secara alur, film ini mudah dimengerti karena menggunakan alur maju, sehingga tidak membingungkan penonton. Film ini bercerita tentang kehidupan seorang penari balet bernama Renjani yang memilih mengakhiri kariernya setelah ia melakukan aborsi karena diperkosa, dan akhirnya memilih pindah dari Jakarta ke Yogyakarta dan mendirikan rumah yatim piatu khusus untuk anak yang cacat dari rumah warisan neneknya. Dari sekian banyak anak-anak cacat yang ia tampung, Renjani sangat menyayangi seorang anak bernama Dewa.
Di panti asuhan tersebut Renjani bekerja sama dengan seorang dokter anak yang biasa dipanggil Mbak Wid. Wid adalah anak seorang pelacur yang ibunya telah menggugurkan kandungannya sebanyak enam kali. Maka dari itu, Wid bertekad untuk menjadi dokter anak, karena ia ingin menebus dosa yang telah dilakukan ibunya terhadap anak-anak.
Hampir setiap hari selalu ada saja anak di panti asuhan itu yang meninggal. Untuk menghindari stress karena sering menghadapi kematian pasiennya, Wid memiliki hobi meramal lewat kartu-kartunya. Biasanya ramalannya memang benar terjadi. Seperti saat Renjani bertemu dengan Bisma saat menonton pertunjukkan musik. Awalnya, niat Renjani adalah melakukan terapi musik untuk Dewa tetapi ia malah jatuh cinta pada seorang pemain biola bernama Bisma. Namun, takdir berkata lain. Cinta Renjani dan Bisma tidak bisa bersatu. Renjani meninggal karena kanker yang disebabkan oleh tindakan aborsi yang dilakukannya dulu.
Dari segi amanat, film ini mengandung berbagai pesan moral untuk para penontonnya. Di antaranya ialah kita sebagai manusia yang terlahir dengan normal hendaknya tidak menghina dan merendahkan saudara kita yang terlahir kurang sempurna, kita juga tidak boleh menyerah dalam berusaha dan menjalani cobaan hidup karena suatu saat keajaiban akan terjadi untuk menolong kita. Pesan tersirat lain dari film ini adalah jangan pernah melakukan aborsi, karena tindakan itu akan menyeret kita ke dalam penyesalan dan dosa yang mendalam, serta dapat merusak kesehatan dann membahayakan nyawa yang kita punya.

