Pages

Tampilkan postingan dengan label Books. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Books. Tampilkan semua postingan

Diary Work From Home Day 47 : Novel The Architecture of Love by Ika Natassa

Kamis, 28 Mei 2020

Selama Work From Home, selain menonton berbagai serial dan film di Netflix, aku juga membaca buku. Salah satu buku yang telah selesai aku baca adalah sebuah novel karya pengarang Ika Natassa. Aku memang sengaja meminjam novel ini sebelum mulai WFH dari perpustakaan tempatku bekerja karena aku mengikuti Instagram kak Ika dan ada pengumuman kalau novelnya bakal dijadikan film lagi, kali ini yang berjudul Architecture of Love.
Novel Architecture of Love

Sebelumnya aku sudah pernah membaca dan menonton film yang ceritanya diangkat dari novel Kak Ika, di antaranya Antalogi Rasa, Critical Eleven dan Twivortiare. Aku sudah membaca hampir semua novelnya kecuali Underground dan Susah Sinyal. Tapi untuk film, aku baru menonton Critical Eleven dan Twivortiare saja. Seakan tak ingin ketinggalan untuk Architecture of Love, aku langsung gercep membaca biar nanti kalau filmnya sudah tayang, tinggal nonton saja.

Novel Architecture of Love bercerita tentang seorang penulis bernama Raia Risjad yang mengalami writer's block atau kebuntuan menulis dan 'melarikan diri' ke New York. Di sana, Raia bertemu dengan River Jusuf, seorang arsitek yang ternyata juga sedang 'melarikan diri' dari kehidupannya di Jakarta. Buku ini seakan mengingatkan kita bahwa dibalik perangai atau tingkah laku seseorang, pasti ada alasan atau histori yang melandasi mengapa seseorang berlaku seperti itu. Penasaran seperti apa ceritanya? Silakan baca sendiri ya teman-teman, jangan lupa untuk membeli atau meminjam buku yang original!

Angka positif COVID-19 pada Rabu (27/5) kemarin adalah 23.851 kasus. Angka positif COVID-19 yang diumumkan pada Kamis (28/5/2020) ini menjadi 24.538 kasus. Berarti ada lonjakan 687 kasus positif COVID-19 dalam sehari.

Tetap jaga kebersihan dan patuhi protokol kesehatan ya teman-teman, semoga kita sehat selalu dan wabah Covid 19 ini segera berlalu, aamiin.




Diary Work From Home Day 46 : Membuat Katalog dengan Microsoft Publisher

Rabu, 27 Mei 2020

Saat ini aku sedang diberi mandat untuk membuat sebuah diseminasi koleksi perpustakaan, bahasa umumnya katalog buku-lah ya. Aku sudah meminta bantuan temanku yang pandai design untuk membuatkan sebuah template layout. Tinggal nanti aku isi per halaman. Dulu zaman awal kuliah aku pernah membuat sebuah design buku saku untuk mahasiswa baru dengan CorelDraw. Itu sudah lebih dari satu dekade yang lalu, namun aku masih punya gambaran kasarnya dalam ingatanku. Sewaktu diberi tugas menyusun katalog ini aku membayangkan akan membuatnya dengan menggunakan program yang sama daripada mematuhi arahan atasanku untuk membuatnya dengan Microsoft Word karena aku merasa ya ampun, ini benar-benar penghinaan dalam bidang design dan aku tak akan melakukannya, namun apa daya laptopku untuk menjalankan CorelDraw X7 Portable saja sudah lambatnya minta ampun.

Akhirnya aku memutuskan untuk menyusun katalog itu dengan program Microsoft Publisher. Setidaknya itu program bawaan Windows dan aku tak perlu meng-install lagi dan walaupun sederhana, program itu bisa menyajikan layout seperti yang aku bayangkan. Dengan bantuan template layout buatan temanku, aku mulai menyusunnya seperti ini.
Sepertinya design di atas harus lebih disesuaikan lagi background-nya per halaman agar lebih memenuhi kriteria estetik. Sakit mata juga aku melihatnya seperti tumpang tindih begini. Haduh maafkan designer abal-abal ini ya, I will try my best.

Angka positif COVID-19 pada Selasa (26/5) kemarin adalah 23.165 kasus. Angka positif COVID-19 yang diumumkan pada Rabu (27/5/2020) ini menjadi 23.851 kasus. Berarti ada lonjakan 686 kasus positif COVID-19 dalam sehari.

Walaupun kita mulai disosialisasikan cara hidup #newnormal, dengan angka positif Covid 19 yang masih tinggi seperti sekarang, berarti kita harus lebih waspada. Karena dengan kenyataan kurva penderita Covid 19 yang belum melandai untuk di Indonesia, kita akan dipaksa menjalani hidup seperti biasa. Tidak lagi bisa bersembunyi #dirumah saja, melainkan berhadapan langsung dengan virus tak kasat mata di luar sana. Mengerikan menurutku, jadi mari kita tetap waspada dengan mematuhi protokol kebersihan dan kesehatan, juga tak berhenti berdoa agar Allah SWT segera mengakhiri ujian berupa pandemi ini, aamiin.

Diary Work From Home Day 29 : Bedah Buku Online "The End of Accounting" Part 2

Selasa, 28 April 2020

Hai gaes, apa kabar? Seperti yang aku janjikan kemarin, hari ini aku bakal lanjutin sharing materi acara bedah buku online yang berjudul "The End of Accounting and the Path Forward for Investors and Managers". So, please check this out!
Sumber: https://www.instagram.com/p/B_E0nS-DbF6/
Bapak Yusuf John menyampaikan isi buku ini dengan poin sebagai berikut. (Lanjutan)
  1. Bagian 2 dari buku, Penulis mengatakan bahwa Akuntansi kehilangan relevansi. Kalau selama ini kita mengenal bahwa laporan keuangan tidak hanya sekedar angka, Penulis mengatakan “Numbers without comprehension are just that – numbersyang berarti angka tanpa kemampuan yang mendalam maka itu hanya tetap sekedar angka.
    • Bab 8 Penulis menyatakan kekurangan relevansi itu yang pertama adalah ketidakjelasan perlakuan Akuntansi atas intangible asset. Mengapa perlakuannya tidak sama antara intangible asset dan tangible asset? Di dalam Akuntansi kalau kita mengakui suatu intangible asset itu sebagai aset, apabila kita melakukan transaksi atau membeli dari pihak eskternal. Jadi kalau perusahaan akan mengakui intangible asset itu sebagai aset, apabila terjadi transaksi pembelian atau penjualan. Tetapi perusahaan tidak mengakui itu sebagai aset apabila intangible itu diperoleh dari dirinya sendiri misalnya kita mendidik SDM yang ada di perusahaan kita maka peningkatan kompetensi itu adalah intangible asset. Menurut Prof. Baruch Lev dan Prof. Feng Gu tidak diakui dalam laporan keuangan. Kemudian Litbang yang melakukan penelitian yang bermanfaat bagi perusahaan juga tidak diakui aset. Kemudian juga misalnya paten, merk, pengetahuan kita atas customer itu juga tidak diakui aset. Padahal pada banyak perusahaan yang makin berkembang saat ini, intangible asset itu menjadi aset yang paling strategis itu menurut Prof. Baruch Lev dan Prof. Feng Gu dalam buku ini. Jadi akibat intangible asset itu perlakuannya tidak jelas menurut mereka, salah satunya adalah intangible asset diakui sebagai aset apabila kita beli dari luar, tetapi kalau kita hasilkan atau produce sendiri, dia tidak diakui aset itu adalah salah satu kelemahan dari Akuntansi. Itulah sebabnya Akuntansi menjadi kehilangan relevansi. 
    • Bab 9 Penulis menyatakan ternyata Akuntansi tidak selalu menyajikan fakta. Penulis mengatakan di dalam Akuntansi banyak sekali ada judgmental, pertimbangan-pertimbangan, ada estimasi, ada prediksi. Padahal judgment itu, estimasi itu, prediksi itu adalah subject to errors, dan error yang bertumpuk-tumpuk akan memengaruhi earnings. Karena judgment, estimasi, dan prediksi itu adalah kebijakan internal perusahaan sehingga subject to errors kalau error-nya bertumpuk maka akan memengaruhi penyajian earnings dalam laporan keuangan. Yang kedua, judgment, estimasi, prediksi itu seringkali dimanipulasi untuk make the numbers jadi manajer mengolah itu estimasi supaya menampilkan laporan keuangan yang sehat. Jadi Penulis mengatakan bahwa ini adalah rawan manipulasi. Sehingga Penulis menyimpulkan bahwa Akuntansi menghasilkan laporan keuangan yang tidak selalu menampilkan fakta.
    • Bab 10 Penulis mengkaji lagi ternyata masih banyak transaksi non Akuntansi yang tidak dapat disajikan dalam laporan keuangan. Jadi selain Akuntansi bermasalah di intangible asset, tidak menampilkan fakta, makanya Penulis menyebut laporan keuangan ini fakta atau fiksi. Misalnya jika kita punya produk dan produk kita gagal, atau ada peraturan baru, atau ada kontrak baru yang akan menguntungkan kita, itu tidak tersaji dalam laporan keuangan. Banyak informasi yang pengakuannya terlambat. Kalaupun itu disajikan, pengakuannya itu terlambat atau tidak memiliki relevan dengan kebutuhan investor pada waktu tertentu.
  2. Bagian  3 Penulis  menawarkan solusi yang dapat dilakukan. Penulis menyimpulkan perlu ada laporan model baru yang disebut sebagai laporan sumber daya strategis dan konsekuensi. Ini adalah model laporan yang diungkapkan Penulis.
    • Bab 11 Penulis berusaha berbicara tentang model laporan yang baru ini yaitu laporan sumber daya strategis dan konsekuensi. Laporan ini berisi tentang sumber daya strategis, jadi manajer perusahaan harus mengidentifikasi sumber daya strategis apa saja yang diperlukan oleh para manajer dan investor dalam menyajikan laporan keuangan. Dalam buku ini Penulis tidak pernah mengatakan bahwa laporan keuangan harus dihilangkan, tetapi laporan baru ini yaitu laporan sumber daya strategis dan konsekuensi ini merupakan komplementer dari laporan keuangan. Laporan keuangan tetap dibutuhkan walaupun nilai gunanya berkurang. Untuk menambah nilai guna supaya menstabilkan nilai guna bagi investor, perlu ada laporan tambahan.
    • Bab 12-15 Penulis memberikan contoh cara penyajian laporan keuangan dari perusahaan yang diteliti. Bab 12 perusahaan  media dan hiburan, Bab 13 perusahaan properti dan asuransi, Bab 14 perusahaan farmasi dan biotek, serta Bab 15 perusahaan minyak dan gas. Setelah kami amati, ternyata laporan-laporan keuangan yang dibuat memiliki format yang sama, informasi atau grup informasinya sama jadi kita perlu mengidentifikasi sumber daya strategis dan menyimpulkan nilai yang diciptakan oleh sumber daya strategis itu seperti apa. Tetapi komponen-komponennya, bagian dari sumber daya strategisnya apa saja, value-nya apa saja yang diciptakan, itu berbeda untuk setiap perusahaan.
  3. Bagian 4 Penulis menjawab kegalauan orang kalau seandainya laporan sumber daya strategis ini tidak dapat dibuat. Bagaimana cara mengimplementasikan, mengeksekusi laporan sumber daya strategis dan konsekuensi?

Diary Work From Home Day 28 : Bedah Buku Online "The End of Accounting" Part 1

Senin, 27 April 2020


Hai gaes, how's your fasting? Belum ada yang bolong kah? Alhamdulillah...

Kali ini aku mau sharing tentang pengalamanku mengikuti acara bedah buku online melalui aplikasi Zoom Meeting. Buku yang dibedah dalam acara yang diadakan oleh BPK RI ini adalah buku dengan tema Akuntansi yang berjudul "The End of Accounting and the Path Forward for Investors and Managers". Acara ini dilaksanakan pekan lalu, tepatnya pada hari Kamis, 23 April 2020 dengan narasumber Bapak Yusuf John, pembahas Ibu Vivi, dan moderator Bapak Dian Primartanto.
Sumber: https://www.instagram.com/p/B_E0nS-DbF6/

 Bapak Yusuf John menyampaikan isi buku ini dengan poin sebagai berikut.
  1. The End of Accounting and the Path Forward for Investors and Managers ini membahas tamatnya Akuntansi dan jalan ke depan untuk investor dan manajer. Buku ini tidak hanya membahas tamatnya Akuntansi tetapi memberikan jalan ke depan dan solusi seperti apa, khusus bagi investor dan manajer.
  2. Ulasan tentang penulis buku yaitu Prof. Baruch Lev dan Prof. Feng Gu, keduanya adalah Profesor Akuntansi. Penulis merupakan akademisi dan konsultan di beberapa perusahaan terutama setelah Kasus Enron melanda. Hal ini menunjukkan bahwa Penulis tidak hanya menguasai teori, namun juga kondisi nyata di lapangan. Keduanya bukan merupakan Anggota Dewan Standard sehingga di dalam buku ini terdapat kritisi terhadap Standar GAAP. 
  3. Bagian prolog yang terdiri dari 2 bab, Penulis mengatakan akan memberikan banyak kejutan tentang bukti-bukti yang telah ditemukan oleh Penulis sehingga ia dapat menyimpulkan Akuntansi akan tamat bagi investor dan manajer. 
  4. Buku ini terdiri dari 18 bab yang terbagi menjadi beberapa bagian. Sebelum masuk ke prolog, terdapat pernyataan cara membaca buku ini agar tidak salah interpretasi dalam membaca keseluruhan isi buku ini. 
    • Bab 1 Akuntansi dan pelaporan keuangan itu cenderung konstan, dan tidak banyak perubahan signifikan dari waktu ke waktu. Penulis meneliti laporan keuangan US Field Corporation dari tahun 1902 s.d. 2012. Penulis mempelajari laporan keuangan dalam jangka waktu 110 tahun. Penulis mengatakan bahwa laporan keuangan dari tahun ke tahun tidak mengalami perubahan signifikan, kebijakan Akuntansi tidak mengalami kebijakan signifikan, substansinya juga tidak mengalami perubahan signifikan. Jadi perkembangan Akuntansi tidak signifikan dan cenderung konstan.
    • Bab 2 Ada fenomena lain yaitu keputusan investasi dari para investor berbasis prediksi dan analisis yang cenderung mencari pendekatan baru. Jadi keputusan investasi terus berkembang, tidak hanya menggunakan informasi dari laporan keuangan, informasi Akuntansi, tetapi cenderung berkembang. Sedangkan Akuntansi tadi cenderung stabil. Jadi ini ada satu fenomena di mana Akuntansi itu mengatakan bahwa laporan keuangan ini adalah sistem informasi yang menyajikan informasi keuangan untuk keputusan ekonomi masa depan. Tetapi di sisi lain di Bab 2, mengatakan bahwa investor untuk memprediksi keputusan ekonominya di masa depan itu terus berkembang, sedangkan Akuntansi tidak berkembang. Akibatnya terjadilah the phase diminishing dari nilai guna informasi laporan keuangan itu. Jadi percepatan penurunan terjadi dari tahun ke tahun terkait penggunaan informasi laporan keuangan.
  5. Bagian 1 ada 5 bab yang menjelaskan mengapa ada fenomena terjadinya penurunan nilai guna informasi keuangan bagi investor.
 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS