Pages

One Little Thing About Me #1

Kamis, 31 Mei 2012

Tadi waktu perjalanan pulang dari makan di tempat Mbah Salamun, tetiba aku punya ide buat nulis tentang diri sendiri. Basically, i am  a kind of the selfish person, who loved to talk to others about my life and my self, whatever i feel and i think. Narsis gak harus lewat foto doang kan ya, hohoho.

Jadi, boleh yaaa aku sedikit curcol tentang... berat badan.  Badanku terdiri dari tinggi yang lebih dari satu setengah meter tapi tepatnya entah berapa, nggak pernah ngukur dan inget, dipadu dengan berat sekitar 40 kilogram. Kenapa aku bilang sekitar? Karena bisa turun jadi 39 kg dan naiknya tak pernah melebihi angka 44.

No, no, no...! Tolong jangan salah paham dulu. Aku bukannya mau pamer dengan berat badan sekecil ini, melainkan mau sharing tentang pengalaman hidupku dengan this so tiny body, versi nggak banget ya tapinya...

Dengan badan kecil ini, aku pernah dikatain sama seorang teman, dan dia COWOK, buat makan banyak dan nggedein badan. Katanya, salah satu penyebab aku kelamaan jomblo adalah karena badanku terlalu kerempeng dan "tidak menarik". Parah banget ya? Entah yang parah temanku yang tega bilang gitu secara blak-blakan atau akunya yang memang dari sononya nggak pernah bisa gede. 

Padahal, dilihat dari kemampuan memasukkan makanan ke dalam perut, aku tuh "bentuk lady porsi kuli" banget. Aku sampai bikin istilah "cacing naga" saking gampangnya merasa lapar dan susahnya merasa kenyang. Aku pikir makanan yang masuk ke perutku dimakan oleh entah berapa koloni cacing naga yang buas sehingga berat badanku tak pernah berhasil naik secara signifikan. Bahkan, beberapa teman lain berpikir aku cacingan dan menyarankanku buat minum obat cacing. Tetapi perutku tidak membuncit dan harga obat cacing rasa buah yang enak sekarang mahal, bisa sampai 12 ribu rupiah per botol sekali minum. Kalau dipikir, dengan uang segitu aku bisa makan kenyang berkali-kali kalau beli makanan di warung Bu Hasyim atau Mbak Wik dekat kosan, jadi aku belum mencoba saran yang ini. Oh iya, fenomena cacing naga menjadi salah satu point penting kenapa banyak teman sering memintaku menemani mereka makan. Karena aku nggak pernah kenyang. Kalaupun aku sudah makan, kalau diajak makan pasti juga cemil-cemil lagi.

Aku juga sering dipanggil "Dek" dan dikira masih pelajar SMP atau SMA. Ah, senangnya masih kelihatan imut, hihihi. Tapi aku tak jarang pula jadi bahan tertawaan dan keibaan orang-orang kalau lewat pintu kaca. Ya, tau kan pintu kaca tebal yang kayak di bekas World Bank di Perpustakaan Fisipol, atau yang lebih umum, pintu kaca di ATM, yang bisa menutup otomatis itu. Nah, buat makhluk seunyu (baca: sekecil) aku, pintu kayak gitu susah buat dilewatin. Butuh perjuangan ekstra buat berhasil melewatinya karena lebih sering aku kejepit pintu dan aku yang "didorong" bukan "mendorong" pintu. Tadi sore bahkan aku sekali lagi diketawain Lulu dan Bapak Tukang Parkir di depan ATM hampir menghampiriku. Mungkin sangat jelas terlihat betapa susahnya perjuanganku melewatinya. Kalian boleh ketawa kok baca ini, aku rela... *menatap nanar ke lantai*

foto diambil dari blog orang



Hmmm... Apalagi ya bullying yang pernah kuterima karena kemungilan ini? Oh ya, waktu mboncengin aku pakai motor, Isal, adekku, pernah bilang kalau rasanya dia kayak naik motor sendirian, nggak berasa ketambahan beban sama sekali. Teman lesku zaman SMP - SMA, Intan Saraswati, kalau aku mau nebeng pulang pasti nunggu agak lama baru ngejalanin motornya sembari nanya, "Udah naik to, Tik? Aku kira belum". What the...


Waktu KKN, aku juga sering jadi bahan sirikan teman-teman, terutama para cewek, karena jam berapapun aku makan berat a.k.a nasi, berat badanku tak pernah naik. Pas itu,  waktu maghrib aku ikut buka bersama di Dusun Nerang, Sub Unit-ku. Jam 9 malam aku makan nasi sop dan ayam goreng jatah dari Mbak Anik, tempat katering kami. Terakhir, jam 12 malam aku makan nasi sop dan ayam goreng lagi karena masih ada sisa lauk, sayang kan ya kalau mubazir, hahaha.

Jadi ya gitu deh, selalu ada positif negatif dari sesuatu. Aku yang kecil susah naikin berat badan walau sudah makan porsi besar. Sedangkan teman-temanku makan sedikit saja berat badannya langsung naik beberapa kilogram. Mungkin mereka iri sama aku yang bisa makan sebanyak apapun tanpa harus takut kelebihan berat badan. Sedangkan aku malah sebaliknya, sering bertanya-tanya bagaimana cara yang ampuh buat naikin berat badan. Gak usah dimasukin ke hati ya teman-teman, berapapun berat badan kita, yang penting sehat wal afiat kan? ;-)

*** Selesainya nulis postingan ini, eh, udah laper lagi aja, hahaha.


Ayam Bakar Solo a.k.a Mbah Salamun

Hari ini aku nggak kemana-mana, kecuali makan bareng Lulu. Seperti biasa, kita kalau lagi lapar malah bingung mau makan di mana. Pengin cari tempat yang belum pernah dicoba, tapi bersahabat di kantong dan mantap di lidah. Satu lagi, masalah porsi juga harus diperhitungkan, mengingat entah ada berapa cacing naga yang hidup di perutku yang membuatku punya standar kenyang di atas rerata. Banyak syarat ya, hahaha. #rakus

Awalnya pengin nyoba Sushi Kaki Lima di depan Galeria Mall, tapi urung karena teman yang kami sms tak kunjung membalas. Kami kan mahasiswi #ogi (ogah rugi), jadi butuh referensi yang lengkap perihal harga dan porsinya. Akhirnya pilihan kami jatuh di Ayam Bakar Mbah Salamun. Aku sendiri sudah pernah mencicipinya waktu nitip mbak Puput dan Koh Sony. Dulu waktu Kokoh masih di Jogja, mereka sering pacaran di sana. Aku sebagai high quality jomblo se-Muti'ah pastinya jadi penitip makanan setia. Masa iya, udah jomblo, mau beli makan di luar sendirian? That is a big NO!

Ayam Bakar Mbah Salamun adalah nama sebuah tempat makan di Jalan Gejayan Ruko nomer 4, Jogja. Tempatnya mungil ada di pojokan dan pada plangnya tertulis "Ayam Bakar Solo". Itu yang membuat kami agak ragu waktu masuk kesana, apakah itu benar-benar Mbah Salamun yang ingin kami coba? Tapi keraguan itu sirna setelah di dalamnya kami temukan cermin besar yang dibingkai dengan tempelan foto-foto pengunjung bertuliskan mbahsalamun.com. Biarpun icon-nya seorang simbah-simbah, tapi gaul gila! Simbah ini suka update di twitter @mbahsalamun. Kabarnya Mbah Salamun ini dulunya koki keraton Surakarta. Makanya rasa makanan di sini pakai bumbu rahasia gitu, beda dari yang lain.

Sebenarnya nggak cuma menu ayam saja, ada juga tempe, telur, dan tahu. Karena yang terkenal ayamnya jadi kami pesan 1 ayam bakar dan 1 ayam goreng kota. Ayam kota disini adalah ayam potong, untuk membedakannya dengan ayam kampung. Unik ya namanya, untung nggak di labeli ayam gaul dan ayam ndeso, hahaha. Kasian nanti ayamnya jadi nggak pede dan mengalami krisis identitas, kalau dia malah jadi ayam alay kan kacau. Oke, ini mulai melantur, maaf.

Sembari menunggu pesanan datang, kami yang sudah lapar pun mencomot baceman yang ada di meja. Tahu bacemnya enak, nggak terlalu manis, tapi tetap berasa. Kalau tempe bacemnya kurang oke, selain karena bumbunya kurang merasuk, tempenya juga belum terlalu jadi. Mungkin ekspresi kami terlihat sangat menikmati bacemannya, sampai adik kecil Alifah, anak pemilik warung, ikut mengambil tahu bacem juga. Asal tahu saja Dik Alifah, mbak Tika ini selalu lapar, jadi yang rakus gitu makannya, hahaha.

Paket ayam kota bakar

Paket ayam kota goreng


Tak lama kemudian kami berdua sudah khusyuk menikmati hidangan masing-masing. Lulu dengan ayam bakar, aku dengan ayam goreng. Bumbunya kayak ditambahi apa gitu, aku nggak tahu karena memang nggak pinter masak, mungkin semacam rempah, jadi beda dan lebih enak daripada ayam goreng dan bakar yang biasanya. Murah meriah lho, dengan paket ayam kota yang satuannya berharga 8 ribu rupiah, minumannya teh manis dan jahe hangat serta 3 buah bacem, kami cukup membayar Rp 20.500,00 saja. Kalau teh manis Rp 1.000,00 dan jahe hangat Rp 2.500,00 berarti bacemannya cuma lima ratus rupiah per biji. Kalau ada Mamahku, pasti sudah diborong itu baceman, secara beliau dan Isal suka banget sama baceman, hohoho.

Pokoknya recommended banget deh tempat ini! Rasa mantap, harga bersahabat, kurang apa coba? Cocok banget buat kalian yang bosen sama ayam yang rasanya gitu-gitu aja. ​ƪ(˘ڡ˘)ʃ




Printero oh Printero~

Rabu, 30 Mei 2012

Printero adalah nama yang aku berikan untuk sebuah printer jadul HP Deskjet 3920. Dia dibeli saat aku kelas XI SMA. Sudah hampir 5 tahun dia bersamaku. Dia sempat mati suri selama aku kelas XII SMA dan sibuk mempersiapkan Ujian Nasional dan UM UGM. Saat mulai kuliah semester 1, aku membawanya ke Jogja. Waktu itu aku bahkan belum mempunyai laptop. Jadi, aku numpang nginstall printer pada mbak-mbak kost yang untungnya baik hati. Sebagai gantinya, Printero kami pakai bersama. Hampir semua laptop di lantai 2 Asrama Muti'ah ada install-an Printero waktu itu.

Seperti selayaknya manusia, Printero tak selamanya sehat. Dia kadang bisa sakit juga. Bukan demam atau apa, tapi sering terdengar bunyi jedag-jedug dan satu-satunya lampu indikatornya tak mau menyala dengan stabil. Kalau sudah begitu aku bisa sampai stres dibuatnya. Pernah juga Printero tiba-tiba ngambek ditengah menjalankan tugas mencetak. Benar-benar harus sabar kalau mau awet sama dia. Udah kayak pacaran aja ya, hmmm~

Printero dengan umurnya yang sudah tua untuk sebuah printer, wajar saja kalau sakit-sakitan. Banyak temanku yang mempunyai printer sebaya Printero sudah ditukarkan dengan printer keluaran yang lebih baru. Beberapa waktu lalu, saat aku mulai putus asa dengan sikapnya yang moody, aku sempet googling dan menemukan kenyataan pahit. Harga jual Printero cuma 100-200 ribu rupiah, sedangkan harga beli cartidge-nya sekitar 100 ribu rupiah per biji. Padahal, cartidge Printero ada 2, hitam dan warna yang keduanya mungkin sudah butuh diganti. Nah lho, dilema kan kalau kayak gitu, mau dijual sudah tak seberapa harganya, mau dibeliin cartridge baru mahal juga, jadi bingung kan?

Tapi, aku punya alasan tertentu buat bertahan sama Printero. Selain hubungan kami yang sudah lama, aku juga tak tega melepasnya begitu saja. Nilai historis yang telah kami lalui tak akan bisa tergantikan oleh apapun. Mungkin kalian menganggap aku lebay, tapi aku punya kebiasaan sayang sama barang. Makanya itu aku kasih nama, dan aku rawat kayak ngerawat manusia disayang-sayang gitu. Ditambah aku orangnya susah move on, kasihan kan kalau aku nantinya aku punya printer baru tapi hatiku masih tertinggal di Printero. #tsaah

Jadi, sebandel-bandelnya Printero berulah, aku tetap berusaha sabar dan setia sama dia. Bagaimanapun, dia telah banyak berjasa dalam kelangsungan pendidikan yang kujalani. Contohnya, malam ini, Printero ngambek nggak mau nyetak warna. Karena aku pemilik yang punya ide dan kreativitas tinggi, aku langsung googling tindakan apa yang harus dilakukan kalau tinta printer tidak mau keluar. Ketemulah link ini dan itu.

#prayforPrintero

Tanpa menunggu Printero semakin parah, aku langsung mengambil air panas ditermos. Aku celupin head cartidge Printero. Air menjadi kebiruan. Kemuadian aku pasang lagi dan aku coba nge-print. Tinta warna mulai terlihat walau tidak signifikan. Aku ulangi sampai 2/3 kali proses yang sama. Tinta warna Printero mulai terlihat agak jelas, tapi warnanya jadi pink keunguan saja, padahal di file warna-warni. 

Merasa belum puas, kuulangi lagi proses yang sama. Kali ini dengan merendamnya agak lama. Semua badan cartidge warna Printero aku celupin ke air hangat. Setelah kupasang di Printero, eh dia tak mau bereaksi walaupun lampu indikatornya menyala stabil. NAH LHO! APA YANG BARU SAJA KULAKUKAN PADA PRINTERO YANG MALANG?
(T_T)

Aku sendiri juga tidak tahu. Maksudku kan ingin mengobati penyakitnya, biar dia bisa bertugas dengan lancar lagi. Siapa sangka malah begini jadinya? Huhuhuhu... Printero, maafkan aku ya... Semoga kamu gak tambah parah. Aku janji malam ini kamu boleh istirahat dulu. Besok kita coba lagi, apa kamu sudah sembuh atau perlu dibawa ke dokter. Get well soon, my Printero... :(

P.S. Kalau nggak tahu jangan sotoy! *toyor diri sendiri*
***Oh iya, lupa nambahin kalau demi Printero aku rela tetap menginstall Windows XP di laptopku walaupun sekarang sudah ada Windows 7. Betapa kucinta padamu~ 

Seberapa Kacau Hidupku Sebenarnya?

Rabu, 23 Mei 2012

Hello! Hari ini aku memulai hidup dari pagi hari. Aku bangun sekitar jam setengah 6 dan tidak tidur lagi. Tumben banget kan ya? Pagi-pagi diisi dengan browsing artikel kesehatan. Jam 8 aku keluar kamar dan memasak sarapan. Bukan menu istimewa sih, aku cuma bikin omlette mie instan. Setelah teman kosku selesai membereskan kamar, baru kami sarapan bersama. Sekitar pukul 10 kurang 15 menit, dia kembali ke kamarnya dan aku menelpon teman lamaku.

Namanya Dika. Dia teman SMPku. Niat awal aku menelepon adalah untuk mengucapkan selamat ulang tahun, karena kemarin aku lupa. Tapi dasarnya doyan ngobrol, jadilah kami ngomongin ini itu. Mulai dari progress skripsi masing-masing, keadaan sosial masyarakat, pemerintah, sampai ranah pribadi seperti relationship status.

Nah! Tema "kenapa @fatikong masih single" selalu jadi topik hangat perbincangan! Dasarnya kami berdua suka saling mengejek, dia bersikeras bilang aku gak laku. Nyebelin banget kan punya teman kayak gitu! *buang muka*

Entah gimana caranya, dia berhasil memancingku curcol, jadilah aku dinasehati ini itu. Dibilangnya aku sekarang jadi penganut liberalisme dan hedonisme, jadi pikirannya duniawi doang. Masa iya aku sampai dites, hafal enggak syair adzan dan iqamah? Dan taraaaa! Aku emang nggak hafal, huhuhuhuhu. Kemudian dilanjutkan dengan tes bacaan takbir dan tahmid itu yang kayak gimana. Untungnya yang kayak gitu masih hafal, alhamdulillah…

Sekitar 1,5 jam percakapan telepon barusan bikin aku sadar. Aku emang lagi jauh dari Yang Maha Penguasa. Pantas akhir-akhir ini aku merasa ada yang kurang. Kalau beribadah tuh kayak gak nampol ke hati dan jiwa gitu. Kayak sekedar formalitas doang. Astaghfirullah… :'(

Mamah sering ngingetin aku buat banyak sholat malam dan ngaji, tapi waktu nasehat kayak gitu diulang sama teman yang seumuran, baru tersadar kalau memang ada sesuatu yang salah dengan diriku. Memang aku butuh kembali mendekatkan diri pada-Nya. Maafkan aku ya Allah, sudah begitu jauh dari-Mu…

Ini dia si jelek Dika. Foto diambil dari Fbnya http://www.facebook.com/dika.pradana.14


P.S. Dik, kayaknya aku memang butuh teman sepertimu buat ngingetin kalau aku harus senantiasa menapak di bumi ini. Ternyata tak ada kesia-siaan dari ciptaan Allah, buktinya orang se-enggak-banget kayak kamu tetap berguna buat ngingetin aku. Thanks a lot ya jelek! Tapi kapan-kapan kau juga perlu mencicipi indahnya dunia, hahahaha.

Selamat Wisuda!

Selasa, 22 Mei 2012

Hari ini aku menghabiskan waktu untuk sebuah perayaan besar bernama wisuda. Eits, tenaaang...! Bukan aku yang wisuda kok, aku belum sampai tahap itu, doakan saja agar bisa menyusul tahun ini. Amiiin...

Rencananya, aku pengen ngasih selamat ke Mbak Ifa, Mbak Arin, Dimas, Ketrin, dan Rinandita. Dari kelimanya cuma Ketrin yang gak berhasil aku temui. Buat ketemu keempatnya saja harus muterin GSP, bolak-balik FIB, Fakultas Psikologi dan Fisipol. Berpanas-panas ria demi menemukan teman yang sedang melewati hari bahagianya.

Esensi terpenting dari menghadiri wisuda teman adalah foto-foto, hahahaha. Gimana enggak? Dia udah lulus, mungkin kita ga akan ketemu lagi kalau dia udah kerja di luar kota. Nah, foto bakal jadi pengingat sebuah persahabatan. Ini dia fotoku bersama yang wisuda hari ini, semoga lekas menyusul secepatnya! Amiiin...

Bersama keluarga Plosorejo, congrats Dimas Caraka Ramadhani, S.IP !

Selamat ya mbak Alifah Hidayatunnisa, S.Psi.  Akhirnyaaaa....! :)
 

Single Talks About Marriage

Senin, 21 Mei 2012

Hari ini ada yang berbeda, tak seperti kepulanganku biasanya. Sebuah pesan masuk di hapeku saat sedang mencuci piring. Dari sahabatku di bangku sekolah menengah pertama. Isinya pemberitahuan kalau salah satu teman kami ada yang akan melangsungkan akad nikah minggu depan.

I’m shocked! I never hear any news from that person and she will be marry in 7 days! Insting pencari fakta-ku langsung bekerja. Segera aku menekan nomer telepon rumahnya, aku tak punya nomer hapenya dan untunglah aku masih ingat berapa nomer telepon rumahnya. Diangkat oleh suara ibunya di seberang sana. Beliau bilang putrinya sedang tidur siang. Jadi, aku telepon lagi sorenya yang langsung diangkat oleh yang bersangkutan.

Tanpa tedeng aling-aling, langsung kutanyakan kebenaran kabar tersebut dan diiyakan secara malu-malu oleh calon mempelai wanita di seberang sana. Disela kangen-kangenan kami, terlontar satu pertanyaan menohok darinya, “Gimana kabarnya Si Itu?”. Dengan perubahan raut muka yang untungnya tak terlihat via telepon rumah aku berhasil menjawab dengan diplomatis, “Oh, dia. Udah lost contact dari jaman kapan taun gitu. Udah gak tahu lagi deh gimana kabarnya”.

Aku gak tahu kenapa hampir semua teman SMP yang ngobrol sama aku setelah sekian lama tak jumpa gak ada yang lupa buat nanyain tentang satu nama itu. Jadi mikir, emang segimana kembar siamnya kami sih? Oke, bagian ini intermezzo. #Abaikan

Aku ga akan bahas itu, terlalu melelahkan and so last year. Yang menjadi poin penting disini adalah pernikahan. Sudah banyak teman sekolahku yang mengikat janji suci dan bahkan sudah punya momongan. Tapi aku sekarang masih single. Gak ada pacar atau gebetan. Yang ada hanya keluarga dan teman-teman. Lingkungan kampusku bukan berisi orang-orang alim yang ingin bersegera menggenapkan separuh agama. Jadi, aku terbawa santai dan wajar saja. Aku bahkan berpikir untuk menikah 3 atau maksimal 5 tahun lagi.
Di usia 21 menjelang 22 tahun. aku merasa masih terlalu muda untuk berkomitmen menghabiskan sisa hidup dengan satu orang. Jadi ingat obrolan bersama teman kos beberapa hari lalu saat kami makan siang. Kami membahas kenapa aku masih betah menjomblo. Ada beberapa kemungkinan. Pertama, aku masih trauma atas luka yang pernah ada. Kedua, aku belum menemukan contoh pernikahan ideal di sekelilingku, jadi aku tidak tergerak untuk ikut-ikutan. Ketiga, aku terlalu egois untuk membagi hidupku dengan orang lain. Keempat, aku belum bertemu orang yang bisa membuatku ingin menikah dengannya. Dulu, keinginan untuk menikah malah muncul di usia 19 tahun, sangat muda dan belum tahu apa-apa, hahaha…

Belum memikirkan pernikahan bukan berarti aku antipati iri dengki terhadap teman-teman yang akan menikah. Aku sangat menghargai undangan mereka dan sebisa mungkin menghadiri dengan senang hati. Karena bagiku, hadir di acara pernikahan seorang teman adalah ajang reuni, sekaligus pembuktian eksistensi. Dengan menghadiri pernikahan teman, aku jadi bisa bertemu teman-teman lain yang mungkin sudah sangat lama tidak berjumpa. Selain itu, aku bisa menunjukkan proses metamorfosisku kepada mereka, sebagai seorang @fatikong yang selalu ingin memperbaiki dan berbenah diri. Siapa tahu saya bakal ketemu jodoh di pernikahan teman, hehehehe…

So guys, don’t forget to invite me! I’ll enlighten your day! \(´▽`)/


H-39 Family

Jumat, 11 Mei 2012

Selamat Malam Jumat Kliwon!

Tenang, sodara-sodara! Tak usah takut, gundah, apalagi gelisah, saya gak hobi nulis cerita horor kok. Kalau kemarin saya sudah cerita tentang teman-teman sejurusan yang saja kepoin postingannya di #31HariMenulis, sekarang saya mau cerita tentang teman-teman saya yang lain. 

Keluarga Mutiah H-39 adalah sebutan buat teman-teman tersayang di kosan terpencil dekat rumpun bambu ini. Mereka adalah mbak Puput, mbak Ifa, Nunung, dan Firdha. Dulu ada mbak Wening, mbak Fifi, Mbak Neneng, mbak Anis, mbak Ida, Tami, mbak Fatma, Era dan Nce. Tapi mereka udah hijrah kemana-mana menapaki jalan hidup masing-masing. Jadi, kita bahas beberapa aja ya…! 

Firdha, aku, mbak Puput dan Nunung waktu dine in sensasi delight PH di Malioboro Mall ƪ(˘ڡ˘)ʃ
  • Mbak Puput.
Ini dia baby sitter-ku selama hampir 4 tahun aku di sini. Dia jurusan HI ’07, jadi kita sering ke kampus bareng. Aku sering bilang dia salah jurusan. Seharusnya dia kuliah di keperawatan aja, soalnya dia selalu “ngemong” (merawat) orang lain kayak induk burung ke anak-anaknya. Dia udah kayak kakakku sendiri, kita berbagi apa aja, mulai dari suka duka, makan minum, tempat tidur, kecuali pacar lho ya. Ga mungkin kan pacar dia yang cuma seorang dibagi buat berdua, haha. Mbak Puput ini punya kembaran yang kuliah di ITB. Kalau kita bertiga lagi bareng bisa disangka kembar tiga. Entah kenapa dan dari mana asalnya, aku dan mbak Puput sering dibilang kembar, padahal dia kan udah punya kembaran asli. Ga jarang orang-orang pada kebalik manggil nama kami. Suatu ketika saat aku wifian sendiri di perpus, ada anak HI yang berhenti dan manggil aku, “mbak Puput”. Aku Cuma senyum dan bilang “bukan…”. Si anak HI malu banget deh karena salah orang, hihihi.

  • Mbak Ifa.
Mbak Ifa ini penghuni lantai 1. Teman SMA-nya mbak Puput, jadi aku keikut deket karena kita sering cerita bareng sampe malem. Dia baru aja meraih gelar Sarjana Psikologi untuk kado ulang tahunnya yang ke-23 kemarin. Walaupun kuliah di Psikologi, tapi dia cuek bebek dan gak peka, gak ada tampang kepedulian seorang psikolog deh, haha. Kesukaannya K-Pop. Sebagian besar hard disk netbooknya berisi lagu, video, drama, dan tentu saja film-film Korea. Sssttt… Sedikit bocoran ya, mbak Ifa ini masih single lho. Jadi buat para ikhwan yang mau cari jodoh, mungkin bisa pedekate sama dia. Syaratnya cuma 1, bertampang mirip para personel Suju atau actor Korea lainnya, hahahaha. Eh, tapi aku curiga lho, mungkin mbak Ifa ini belum ketemu jodohnya karena saking tebelnya kacamata yang dia pake, minus 7 gitu matanya. Gilak! Kaga keliatan apa-apa kayaknya kalau tanpa kacamata. Saranku, dia kerja terus nabung buat operasi lasik deh, biar ketemu jodoh. Kasian juga anaknya nanti kalau emaknya minus sebanyak itu.

  • Nunung.
Nunung adalah penghuni kamar di sebelahku. Bentuknya kecil gempal tapi enerjik. Dia kuliah di Jurusan Sastra Nusantara FIB UGM. Hobinya guling-guling sambil telponan sama pacarnya yang ada di Semarang. Kita baru deket satu sama lain setelah ditinggal para “sesepuh” kosan dan baru sadar bahwa tinggal kami berdua yang harus bertahan hidup bersama. Kalau udah terinspirasi sama 1 hal, dia bakal maksa orang lain buat mendukung. Contohnya kemarin dia tiba-tiba pengen jualan pulsa, dia langsung gerak cepat minta tolong didaftarin buat deposit ama pacarnya, terus maksa aku dan Firdha buat beli pulsa dan segera membayarnya. Tapi suka anget-anget tai ayam sih. Kalau idenya ga keburu dilaksanain, bakal nguap gitu di udara.

  • Firdha.
Firdha ini adik angkatan ’09 yang kuliah di D3 Akuntansi UGM. Dia udah wisuda bulan Februari, terus nikah tanggal 24 Maret kemarin. Kagak sopan banget kan ya ngelangkahin kakak-kakaknya gitu? Tapi Firdha ini udah aku anggep kayak adek sendiri. Aku ga keberatan kalau dia minjem ini itu, padahal kalau sama adek kandungku sendiri belum tentu aku sepemurah itu, haha. Dia pernah beberapa kali nginep di rumahku, jadi kenal deket juga sama keluargaku. Anaknya kecil tinggi gitu. Jadi kalau dia jalan sama Nunung jadi keliatan kayak angka 10, hahaha. Tapi aku salut sama keberaniannya buat nikah muda. Apapun yang akan menghadang di depan jalan panjangmu nanti, pasti akan ada kebahagiaan di akhirnya, nak! Selamat mengarungi bahtera rumah tangga, be strong ya!

Ya, mereka adalah teman-teman seperjuangan di perantauan. Kami pernah makan enak bareng, tidur bareng, gak punya uang bareng, kelaparan bareng, pokoknya segala kebersamaan a la anak kost. Mereka yang telah mengajariku belajar tentang kehidupan. Terima kasih teman-teman, aku sayang kalian semua! Aku nggak tahu nanti kalau kita sudah dewasa dan punya kehidupan masing-masing, apa masih bisa ketemu dan nggosip bareng lagi.

#31HariMenulis

Rabu, 09 Mei 2012

Di jurusan saya dalam dua tahun terakhir ini ada kegiatan rutin bernama “#31HariMenulis”. Jadi, #31HariMenulis itu kegiatan menulis di blog masing-masing peserta, setiap hari selama bulan Mei. Kalau ada peserta yang absen menulis, akan dikenakan denda sebesar 20 ribu rupiah. Nominal yang tidak begitu besar tapi lumayan berpengaruh di kantong para mahasiswa, hehe. Saya tidak tahu pasti siapa yang menggagas ide tersebut, kalau tidak salah mas Awe, seorang kakak tingkat angkatan ‘06. Sahabat saya, Lulu, adalah peserta kegiatan ini selama 2 tahun berturut-turut. Rasanya, baru kemarin malam saya membantunya memposting tulisan karena dia harus ke luar kota. Eh, sekarang sudah ada lagi. Time goes too fast... (⌣˛⌣)


Pada awalnya, dia tak mau ikut tahun ini, tetapi akhirnya tergoda juga. Kalian pasti bertanya-tanya, mengapa saya sendiri malah tidak ikut kegiatan ini? Jawabannya adalah tahun lalu saya terlalu banyak tugas kuliah dan kebanyakan praktek, jadi saya khawatir tidak sempat menulis setiap hari. Tahun ini kan sudah selo, mengapa tidak ikut juga? Jawabannya adalah saya terlalu banyak mikir. Ya, saya mikir kalau setiap weekend saya sibuk dengan kegiatan di rumah yang biasanya sampai benar-benar tak sempat menyalakan laptop, berapa denda yang harus saya bayar nanti? Belum lagi setiap hari saya harus berpikir akan mengangkat topik apa untuk dijadikan tulisan. Walaupun sebenarnya banyak sekali ide-ide yang kadang bermunculan begitu saja saat menjalani kegiatan setiap hari. Sayang, hanya sedikit yang dibarengi dengan passion menulis yang kuat, jadi kebanyakan ide akan hilang begitu saja. (⌣˛⌣)


Tidak mendaftar menjadi peserta bukan berarti saya melewatkan kegiatan #31HariMenulis ini. Setiap hari saya aktif mengikuti postingan teman-teman saya, terutama punya Lulu, melalui blog #31HariMenulis. Di situ ada daftar tulisan teman-teman yang update setiap hari, lumayan kan untuk bacaan sebelum tidur? Bagi saya, membaca tulisan teman-teman seperti melihat sisi lain dari mereka yang biasanya saya lihat sehari-hari di kampus. Somehow, that makes me feel closer with the author. Tanpa sadar, saya mengamati gaya tulisan mereka, beberapa ada yang membuat saya jatuh hati dan jadi pengunjung tetap di blognya.


Menurut saya, kegiatan semacam ini memang penting untuk mahasiswa jurusan komunikasi, masa iya kuliah di komunikasi tapi nggak bi(a)sa nulis? Mungkin tahun depan saya akan ikut juga. So, semangat ya teman-teman peserta #31Hari Menulis, semoga selalu menghadirkan tulisan bermanfaat! \(´▽`)/
 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS