Pages

Tampilkan postingan dengan label The Colours of Life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label The Colours of Life. Tampilkan semua postingan

When Covid-19 Hits Me

Kamis, 17 Februari 2022

 I got the booster vaccine on Monday, February 7, 2022. I got half the dose of Astra Zeneca. 

The side effects that I feel are drowsiness, pain in the arm after the injection, and fever at night. I think this is milder than the side effects when I got first and second Sinovac vaccines last year. 

But suddenly on the weekend after my morning run, I felt my throat getting uncomfortable. I think I just caught a cold. I still had lunch with my friends. That night, my cold got worse. I couldn't sleep well and always woke up after a few hours. 

Eat the food I ordered through Gofood and take the cold medicine and multivitamin that I have. I always have a multivitamin and paracetamol ready.

 

Monday morning February 14, 2022, I did an antigen test and it was reactive. Then I was referred for a PCR test. When I came home from the PCR test, my body felt very weak. All day I just eat, take medicine and sleep. I received the PCR results on Tuesday morning. I'm positive for Covid-19 with a CT value of 14.34. I immediately prepare for isolation at the hotel that has been appointed by my office.  I received many medicines and vitamins, including the anti-virus Favipiravir which is said to be able to be a Covid-19 drug.

This is the 3rd day of isolation at the hotel. Alhamdulillah I feel healthier, only the phlegm trapped in the throat is still bothering me. Hopefully on the 7th day, I will have no symptoms and my PCR result will be negative, aamiin.

Diary Work From Home Day 45 : Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 Hijriyah

Selasa, 26 Mei 2020

Selamat  Hari Raya Idul Fitri 1441 Hijriyah
Taqabbalallahu Minna Wa Minkum Shiyamana Wa Shiyamakum
Mohon dimaafkan lahir dan batin atas banyak salah kata, perbuatan dan postingan yang tidak berkenan selama ini ๐Ÿ™๐Ÿป

Merayakan Hari Raya Idul Fitri di tengah pandemi Covid 19 ini memang tak mudah. Banyak momen yang biasanya dilalui bersama menjadi harus dijalani sendirian, pun melaksanakan sholat Ied yang biasanya beramai-ramai di lapangan dan diakhiri dengan bersalam-salaman.

Selamat dan terus semangat untuk teman-teman sesama perantau yang tidak mudik. We did it! Terima kasih buat Mbak Yuyun yang setia menemani jalan kaki keliling di sekitar sini demi menjaga kewarasan selama Working From Home agar lebih banyak membakar kalori, mendapat sinar matahari langsung dan mengetahui keadaan sekitar, daripada badan kaku dan pegal karena terlalu banyak rebahan dan lesehan di kamar kos saja.

Semoga kita sehat selalu dan keadaan ini lekas membaik. Mari kita bersiap menjalani hidup #newnormal dengan tetap mematuhi protokol kebersihan dan kesehatan, juga tetap semangat untuk saling bantu sesama di sekitar kita.

Angka positif COVID-19 pada Senin (25/5) kemarin adalah 22.750 kasus. Angka positif COVID-19 yang diumumkan pada Selasa (26/5/2020) ini menjadi 23.165 kasus. Berarti ada lonjakan 415 kasus positif COVID-19 dalam sehari.

Menjelang rencana akan dilonggarkannya kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan persiapan menuju cara hidup dengan #newnormal, kita harus tetap waspada dengan cara menjaga kebersihan dan kesehatan, juga selalu berdoa semoa pandemi covid 19 ini akan berakhir segera, aamiin.

Diary Work From Home Day 37 : Sore yang Cerah untuk Jiwa yang Sepi

Selasa, 12 Mei 2020

Pagi ini aku ke kantor tanpa minta izin ke atasanku, karena kupikir aku hanya akan mencari berkas yang kubutuhkan dan memfotonya saja setelah itu pulang. Jadi, aku hanya menghubungi petugas kebersihan yang membawa kunci ruangan untuk menemaniku selama mencari berkas. Kantor benar-benar sepi, hanya terlihat beberapa petugas keamanan berjaga seperti biasanya. Saat melewati sudut-sudut kantor di mana aku pernah bertemu dengan beliau, rasanya tak akan sama lagi. Tak akan lagi aku melihatnya dari kejauhan saat baru datang. Atau kami bertatapan mata dan aku akan sok cuek pura-pura tak melihatnya. Bodoh, harusnya aku menyapa dengan ramah seperti kepada senior lainnya.
Grieving Loss Quote by Mandy Hale
Hari ini aku benar-benar masih belum bisa kerja dengan produktif. Badanku masih sakit efek kurang tidur. Aku bahkan tidak fokus sampai melewatkan jadwal zoom meeting karena salah mengira waktu. Sore ini pun aku jalan kaki sendirian dan menggunggah foto dengan caption "Sore yang cerah untuk jiwa yang sepi" sampai seorang kawan yang tahu tangisku karena kepergian beliau kemarin bertanya apa aku masih sedih? Aku pun menjawab apa adanya. Aku harus menerima perasaan sedih ini agar bisa melewati fasenya. I am a mess

Angka positif COVID-19 pada Senin (11/5) kemarin adalah 14.265 kasus. Angka positif COVID-19 yang diumumkan pada Selasa (12/5/2020) ini menjadi 14.749 kasus. Berarti ada lonjakan 484 kasus positif COVID-19 dalam sehari.

Semoga kita semua baik-baik saja. Aamiin. 

Diary Work From Home Day 36 : Walau Bukan Siapa-Siapa, Rasa Sedih itu Nyata

Senin, 11 Mei 2020

Ini sudah hari Senin lagi. Awalnya aku merasa tak ingin menulis apa-apa lagi. Aku merasa tak bersemangat dan masih merasa sedih. Walau bukan siapa-siapa, rasa sedih itu nyata. Aku bahkan masih menangisi di hari kedua kemarin. Maaf ya Pak. Semoga penyesalanku tak membuat Bapak sedih juga di sana, toh Panjenengan tak sempat mengenalku.

Aku masih sulit tidur, sampai menjelang subuh baru bisa terlelap. Setiap memejamkan mata, bayangan pesan Whatsapp pada Sabtu pagi kemarin akan berkelebat. Rasa sedih itu kembali datang. Aku juga tak menyangka mengapa aku bisa sesedih ini, bahkan melebihi sedihku saat kakek kandungku berpulang. Seingatku, saat itu mataku hanya berkaca-kaca, karena aku tahu doa-doaku akan lebih menenangkan kakek di sana. Rasanya ini adalah rasa kesedihan pertamaku atas orang yang berpulang ke Rahmatullah.
Sumber: Buku Digital "Tidak Ada yang Kemana-mana Hari Ini"
Karena ini hari kerja, maka aku harus terjaga di pagi hari. Dengan badan yang tak karuan rasanya karena kurang tidur, aku melewati hari Senin ini dengan perasaan yang embuh banget. Namun setidaknya aku bisa menenangkan hatiku dengan mendoakan beliau. Aku yakin doaku pasti sampai karena kami seiman. Dalam Islam, doa untuk orang yang sudah berpulang, akan tetap sampai kepada yang bersangkutan. 

Aku harus kembali bersemangat. Aku punya hidupku sendiri yang harus ku jalani dengan hati-hati. Setidaknya kepergian beliau mengingatkanku yang hampir berumur tiga dekade ini untuk menjalani hidup dengan baik dan lebih bermanfaat untuk sesama.

Angka positif COVID-19 pada Minggu (10/5) kemarin adalah 14.023 kasus. Angka positif COVID-19 yang diumumkan pada Senin (11/5/2020) ini menjadi 14.265 kasus. Berarti ada lonjakan 242 kasus positif COVID-19 dalam sehari.

Mari menjalani hidup dengan berhati-hati dan sebaik-baiknya, agar kelak jika kita sudah kembali menghadap-Nya dapat mempertanggungjawabkan semua ini dengan baik. Tetap sehat dan semangat ya teman-teman, aamiin.

Diary Work From Home Day 35 : Sugeng Tindak, Pak Abi

Sabtu, 09 Mei 2020

Hari ini hari Sabtu, 16 Ramadhan 1441 H. Selayaknya weekend, aku bangun siang, terlebih karena sedang tidak berpuasa. Aku bangun karena mendengar adzan dan kaget ternyata sudah jam 12 siang. Memang aku baru tidur jam 2 dini hari. Seperti biasa, aku mengaktifkan jaringan internet di hp dan banyak pesan masuk di Whatsapp. Tetapi ada berita duka yang membuatku tak percaya. Pak Abi berpulang, pagi ini. Aku masih tak percaya. Aku baca chat grup yang lain, juga memberitakan hal serupa.

Innalillahi wa inna ilaihi roji'un... He gone too soon.
Allahumaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fu'anhu...

Pak Abi adalah salah seorang senior di kantor. Meskipun umur kami terpaut 15 tahun, tetapi karena sama-sama belum menikah, teman-teman di ruanganku sering menjodohkan. Belum sempat berkomunikasi secara personal, wabah covid 19 sudah membuat kami work from home. Seingatku kami bertemu dua kali, pertama saat ada beliau ke perpustakaan dan aku membantunya memfotokopi literatur yang dibutuhkan, kedua saat sosialisasi perpustakaan dan beliau duduk di depanku. 

The one who wear glasses in the left
Sebenarnya ada seorang teman yang mengusulkan aku untuk say hello duluan via Whatsapp, sekedar untuk care apalagi di masa pandemi ini orang-orang stay at home dan mungkin tak saling berkabar seperti postinganku di awal masa isolasi mandiri ini. Bodohnya, aku menolak dengan alasan classic harusnya cowok yang mulai kontak duluan dan toh nanti setelah WFH berakhir bakal ketemu lagi di kantor.

Sekarang aku hanya bisa menangisi penyesalanku. Seharusnya aku mencoba say hello duluan, walaupun itu mungkin tak akan mengubah takdir kepergiannya, setidaknya mungkin beliau tak akan pergi dalam kesendirian seperti ini. I'm so sorry... 

Aku jadi teringat akhir-akhir ini aku selalu merasa deg-degan melihat Whatsapp story atas nama "Mas Abi" namun aku buru-buru menepis kekhawatiran dengan mengingat itu bukan nomornya Pak Abi karena kami tak saling menyimpan kontak. Padahal sebelumnya, aku biasa aja melihat Whatsapp story atas nama "Mas Abi". Entah pertanda atau bukan, aku makin merasa bersalah...

Sugeng tindak Pak Abi, semoga Panjenengan husnul khotimah karena berpulang ke Rahmatullah di bulan suci Ramadan dan semoga Allah memberikan tempat terbaik di sisi-Nya. Semoga Panjenengan berkumpul dengan roh-roh orang sholeh lainnya di sisi Allah, dan tidak sendirian lagi. Aamiin ya robbal'alamiin...

Review BB Cream Etude House

Sabtu, 05 Oktober 2019

Hello gaes, selamat berakhir pekan ya!
Aku mau sharing pengalamanku pakai BB Cream Etude House for daily use nih, mana tau ada teman-teman yang bingung nyari BB Cream yang tepat dan tipe kulitnya kayak aku.

Ini pakai BB cream blooming fit. Kena basuh air wudhu tanpa touch up.

BB cream blooming fit & BB cream moist. Tuh udah sampai pudar yang blooming fit, pertanda beneran daily use.
Ini udah pake yang BB cream moist, setelah yang blooming fit habis, tanpa basuhan air wudhu juga.

Ini pakai BB cream moist dan berpanas polusi udara ibukota tanpa kena basuh air wudhu. Abu-abu banget ya, mungkin karena kadar SPF-nya yang tinggi.
Sebagai wanita kita sudah terbiasa kan ya pakai make up buat dandan tiap pagi. Hmmm aku pakai ini hampir tiap pagi ke kantor ga mungkin ga pakai ya. Aku pilih BB cream for daily use karena menurutku teksturnya ga sepadat dan seberat foundation kalau dipakai. Pertama yang aku coba adalah varian Precious Mineral BB Cream Blooming Fit yang ada SPF 30-nya. 

Aku beli di Toko Mutiara Palu dan pakai sudah lama banget, sekitar tahun 2017. Waktu itu harganya sekitar 350 ribu dengan kemasan 60 gram. Baru habis di tahun 2019 ini, padahal aku pakai hampir tiap hari lho. Selama pemakaian dua tahun itu aku ga merasa ada yang aneh, kecuali akhir-akhir ini pas udah mau habis rasanya di muka agak panas. Hahahaha mungkin sebenernya udah expired ya? Tapi gak sampai bikin bruntusan atau jerawatan sih jadi ya aku beneran pakai sampai habis. Kemasan tube-nya yang tinggal pencet itu praktis banget. SPF 30-nya udah cukup banget buat dipakai berpanas ria di pantai Sulawesi Tengah lho!

Biasanya, aku kalau udah cocok sama suatu brand, apalagi buat muka, pasti aku repurchase lagi dan lagi. Nah karena susah cari Etude House di mall, akhirnya aku beranikan diri cari di online shop. Ketemulah sama Cherrychup Store di Shopee. Aku sempat tanya dulu, lebih bagus mana BB cream untuk kulit kering, Misscha atau Etude, terus warna yang paling mendekati sama BB cream-ku yang lama warna yang mana. Hahahaha ribet ya? Jelas dong, demi engga beli kucing dalam karung gitu, apalagi ini buat muka, yang setiap orang bisa liat, buat daily use pula. Alhamdulillah ya adminnya sabar jawab satu per satu pertanyaanku. Akhirnya belilah aku Precious Mineral BB Cream Moist yang ada SPF 50-nya. Kemasan 45 gram dan lebih ramping daripada yang blooming fit series. Sebelumnya pakai SPF 30 aja udah oke, apalagi sekarang pakai SPF 50, semoga lebih mantap menghadapi panas ibukota.

Setahun Pascagempa Palu: Sebuah Perjalanan Kehidupan

Rabu, 02 Oktober 2019

Hai, teman-teman nyata di dunia maya! Ternyata sudah lebih dari setahun aku tak menulis di blog ini. Maaf kalau nanti bahasanya masih kaku ya.

Setahun lalu aku mengalami gempa bumi di Palu, Sulawesi Tengah, cerita selengkapnya bisa kalian baca di postingan sebelum ini. Bulan Oktober tahun lalu, aku masih di rumah karena kantor kami libur tanggap darurat bencana sampai 26 Oktober 2018. Aku lebih banyak di rumah, masih takut bepergian dan mudah kaget mendengar suara dan getaran yang datang tiba-tiba. Aku masih ingat, senyum pertamaku setelah gempa adalah di pernikahan sahabatku, Steffy, yang diadakan di Bali pada 20 Oktober 2018. Itupun aku datang setelah membulatkan tekad untuk melawan rasa takut. Sewaktu jalan-jalan sendirian ke Ubud, aku menantang diri sendiri untuk naik wahana ayunan yang tinggi itu. Ternyata aku masih berani, syukur alhamdulillah.
My first smile at Stef's Wedding (20/10/18)

Harusnya aku gak pakai baju warna hijau juga biar lebih keliatan ya.
Aku kembali ke Palu setelah transit Makassar untuk mengikuti seleksi beasiswa Bappenas 2019. Kami tinggal di kantor dengan tidur berjamaah di mushola, masak dan makan bersama di dapur umum, antri mandi, berebut tempat di bangunan semi permanen yang berguna sebagai kantara (kantor sementara), dan pergi kemana-mana hampir selalu ada temannya. Saat itu, bahkan sampai sekarang, gempa masih tiba-tiba mengguncang meski dengan skala kecil yang bahkan kadang tak kami rasakan.

Lalu tibalah libur akhir tahun. Saat itu aku tak ingin berlibur karena pasti di mana-mana akan sama saja, macet. Tiba-tiba aku ingin pergi umroh saja. Ya, tiba-tiba saja terpikir dan berkeinginan kuat untuk mewujudkannya itu juga. Padahal sudah sejak tahun 2017 teman dan keluarga menyarankan untuk ke sana, tetapi selalu saja ada alasanku untuk menolaknya. Akhirnya setelah menemukan travel yang jadwalnya langsung berangkat dan pesawatnya bukan Lion Air, aku langsung mengurus semua perlengkapannya. Alhamdulillah semuanya lancar sampai aku kembali ke tanah air lagi.
Rindu ke sana lagi ya Allah... Semoga nanti ke sana lagi sama suami ya. Aamiin.
Januari tahun ini aku kembali ke Palu lagi, meskipun sudah ada SK mutasi ke Jakarta, namun aku masih bertugas di Palu sampai bulan Mei sebelum Idul Fitri. Alhamdulillah kami sudah bisa menempati rumah dinas yang telah selesai diperbaiki, tak perlu memperpanjang durasi masuk angin hampir tiap malam dan menahan rasa pegal di badan karena terlalu lama tidur di dalam tenda dengan alas kasur tipis seadanya. Kembali bisa tidur di atas springbed adalah suatu kemewahan karena teman-teman yang lelaki masih harus tidur di kantara karena mess baru bisa dipakai kembali setelah libur lebaran.

And here I am! Aku mensyukuri perpanjangan usiaku setahun setelah gempa Palu, dengan mencicipi pedasnya gas air mata sisa demonstrasi yang sampai anarki dan merusak kantor kami. Ternyata kejutan dalam hidup ini juga mengajarkan tentang melawan ketakutan demi ketakutan dalam menjalaninya, ya? But don't worry, kita punya Allah kok, kita bisa merapal "Lฤ haula wa lฤ quwwata illฤ billฤh" yang artinya, “Tiada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Allah" untuk melawan rasa takut itu dan biar lebih tenang hati. Sungguh aku setuju dengan tagline Chitato yang enak tapi aku tak bisa makan itu: life is never flat!

Selamat dari Gempa Palu (Part 4 ~ end)

Jumat, 05 Oktober 2018

Pada hari Minggu (30/09/2018) pukul 03.20 WITA dini hari, kami mendapat kabar bahwa akan ada pesawat Hercules masuk ke Palu membawa bantuan dan bisa membawa penumpang keluar dari Palu ke Makassar. Tanpa pikir panjang aku langsung memutuskan ikut ke bandara membawa ransel berisi laptop dan mukena, tas berisi dompet dan hp, serta satu kantong plastik berisi sepatu dan satu setel pakaian yang berhasil kuambil dari mess pada hari sebelumnya. Aku bersama teman-teman yang mayoritas perempuan tiba di bandara yang sudah dipenuhi banyak orang. Prosedur pendaftaran untuk naik pesawat Hercules pun tampaknya belum diatur dengan jelas sehingga banyak orang mengantri di dekat pagar landasan pesawat.

Kami mengantri dari menjelang shubuh di Bandara Mutiara Sis Al-Jufri Kota Palu. Foto diambil 30/09/2018.
Petugas berusaha menertibkan masyarakat yang ingin dievakuasi dengan pesawat Hercules. Foto diambil 30/09/2018.
Pesawat yang mari sebut saja Hercules. Foto diambil 30/09/2018.

Petugas mengedarkan daftar presensi selama penerbangan Palu - Makassar. Foto diambil 30/09/2018.

Beberapa mobil ambulans langsung mendekati pesawat begitu mendarat di Makassar. Foto diambil 30/09/2018.
Aku dan beberapa teman yang merasa tidak kuat untuk berdiri lama, memilih menunggu di dalam mobil saja. Saat waktu shubuh tiba pun kami terpaksa sholat di dalam mobil juga. Sampai akhirnya matahari bersinar terang dan semakin banyak orang, kami memutuskan ikut mengantri dari jarak dengan pagar. Sempat terjadi aksi dorong-mendorong yang menyebabkan kami bisa masuk ke area landasan pesawat dan memancing emosi petugas yang berusaha menertibkan antrian yang carut-marut ini. Petugas bilang bahwa kami duduk saja dan nanti namanya akan dipanggil. Namun tidak jelas kepada siapa kami harus mendaftarkan diri. 

Ketika sudah ada suara pesawat mendarat, ternyata tujuan terbangnya adalah ke Manado, bukan Makassar. Kembali terjadi aksi dorong-mendorong di antrian yang membuat anak-anak kecil yang berada di tengah kerumuman tergencet dan hampir pingsan. Beberapa kali kami duduk-duduk dan berdiri lagi mendekat ke kerumunan antrian tanpa kepastian. Aku berusaha untuk tidak terpisah dari teman-temanku. Sampai para petugas membuat pagar betis untuk memprioritaskan hanya ibu-ibu dan anak-anak yang boleh masuk ke kawasan landasan pesawat terlebih dahulu.

Pada saat itulah aku bersama Fariz (4 tahun) dan Mas Jae terpisah dari rombongan teman-teman kami. Tiba-tiba di depanku melintas seorang petugas memakai seragam rescue berwarna merah dan menanyakan tujuan kami, ke Manado atau ke Makassar. Aku dengan pasrah menjawab, "terserah kemana aja yang penting keluar dari Kota Palu ini dulu". Ternyata bapak tersebut mengajak kami bertiga untuk ikut bersamanya masuk ke kawasan landasan pesawat. Aku sudah berusaha mengatakan bahwa ada seniorku yang sedang hamil (ibunda Fariz) yang ketinggalan di rombongan belakang. Bapak itu bilang, "yang penting selamat dulu, jangan bawa-bawa teman, nanti petugas marah". 

Kami mengikuti bapak itu untuk menuliskan nama, kemudian digabungkan dengan orang-orang yang sudah bergerombol dan dihitung. Sekitar 80 orang waktu itu diminta langsung masuk ke pesawat TNI yang sepertinya terlalu kecil untuk disebut Hercules tapi karena aku tidak paham nama-nama pesawat, jadi mari kita sebut saja Hercules. Di dalam pesawat tidak semua orang dapat tempat duduk, diutamakan untuk wanita dan anak-anak. Aku duduk dengan Fariz di pangkuanku, sementara mas Jae lesehan selama penerbangan berdurasi 1 jam 20 menit itu. Di dalam pesawat yang lepas landas sekitar pukul 8.50 WITA tersebut, petugas mengedarkan kertas untuk kami isi nama masing-masing termasuk nama anak yang kami bawa.

Begitu mendarat di Bandara Hasanuddin Makassar, kami diminta menuliskan lagi nama dan alamat tujuan. Sementara menunggu mas Jae yang sedang menulis, Fariz sudah berteriak memanggil ayahnya. Alhamdulillah ternyata sudah banyak teman-teman dari Perwakilan Sulsel yang menjemput kami. Aku terharu dengan kekompakan dan kebaikan teman-teman di kantor ini, yang sudah saling bantu dengan tulus ikhlas, semoga Allah membalas kebaikan mereka dengan pahala dan keberkahan yang lebih banyak lagi. Ternyata ibunda Fariz beserta teman-teman serombongan harus bersabar untuk menanti penerbangan jam 2 siang karena kabarnya menunggu rombongan Presiden Jokowi selesai dahulu.

Setelah istirahat semalam di Makassar, aku dan dua rombongan keluarga lain bertolak menuju domisili masing-masing. Aku yang sama sekali tidak menangis saat gempa mungkin efek terlalu syok juga malah tersedu-sedu sendirian di pesawat menjelang pendaratan di Jogja. Rasanya sangat rapuh, sedih sekaligus mengkhawatirkan teman-teman yang masih ada di Palu. Bertemu keluarga pun seperti orang linglung, tidak fokus pada apa yang mereka bicarakan karena pikiran dan hatiku masih pilu mengingat teman-teman di Palu.

End.

 

Selamat dari Gempa Palu (Part 3)

Hari Sabtu (29/09/2018) sebagian besar dari kami yang mengungsi di kantor telah berpindah ke mess. Di halaman mess, teman-teman membuat tenda darurat dari terpal yang dikaitkan ke ranting pohon. Aku juga sempat masuk ke dalam kamarku di mess untuk mengambil laptop, satu setel pakaian, mukena, sajadah, alat mandi, bantal, dan selimut. Aku hanya membawa peralatan yang benar-benar penting karena dikhawatirkan ada gempa susulan, sehingga setiap orang hanya diberi waktu selama lima menit di dalam bangunan. Sama seperti di kantor, orang-orang masuk ke mess dengan menggunakan helm dan bergantian dengan beberapa teman yang berjaga di luar bangunan.



Dapur mess yang porak poranda. Foto diambil 29/09/2018.
Lampu penerangan yang tumbang dan pagar kompleks yang roboh. Foto diambil 29/09/2018.
Tenda darurat dari terpal yang kami buat. Foto diambil 29/09/2018.
Lantai garasi yang menganga dan tandon air yang jatuh. Foto diambil 29/09/2018.
Gazebo di tengah kompleks yang telah roboh. Foto diambil 29/09/2018.

























Secara fisik keadaan mess lebih parah daripada kantor. Gazebo di tengah halaman dan pagar yang mengelilingi mess roboh, permukaan tanah tempat ground tank di mess terangkat, bangunan dan beberapa garasi rumah dinas retak sampai menganga, muncul lumpur di beberapa titik, serta tangga penyangga tandon air dan beberapa tiang lampu penerangan di kompleks mess patah. Namun suasana di mess lebih hidup sehingga kami lebih semangat ketika berada di sana.

Seperti sudah terbagi, ada teman-teman yang menyiapkan makanan dengan stok yang masih ada dari mess dan rumah-rumah dinas, ada juga yang melanjutkan pencarian terhadap beberapa keluarga teman-teman yang belum ada kabarnya. Aku sempat ikut rombongan yang berkunjung ke kantor lagi karena di mess tidak ada ada sinyal. Kami membeli tambahan bahan makanan dan sayuran di warung yang masih buka. Kami saling menguatkan dengan saling bertukar kabar dan diselingi becanda bersama. Kami makan dengan nasi dan lauk seadanya dengan daun pisang yang "dipincuk". Itupun pincuknya kami simpan untuk sesi makan berikutnya. Meskipun makan dengan porsi mini, namun kebersamaan memang menguatkan dan menambah kenikmatan.

Saat malam menjelang, kami bersama-sama tidur di bawah tenda karena kami tidak berani berada di bawah bangunan meskipun hanya di teras atau di garasi perumahan. Guncangan-guncangan gempa lebih terasa jika kita berada di lantai bangunan daripada duduk di atas paving blok. Semuanya teratur, ibu-ibu dan anak-anak tidur di atas kasur yang dikeluarkan dari rumah-rumah dinas, sisanya menempatkan diri masing-masing dan ada pula yang tidur di dalam mobil dengan kaca terbuka. Sempat hujan juga di tengah malam sehingga yang tidur beratapkan langit karena panjangnya terpal tidak dapat menaungi kami semua harus kembali mencari tempat yang lebih aman. 

Bersambung~

Selamat dari Gempa Palu (Part 1)

Kamis, 04 Oktober 2018

Sore itu hari Jumat (28/09/2018) menjelang Maghrib aku masih di kantor, menginput beberapa surat tugas yang baru ditandatangi oleh kepala kantor. Sebenarnya ada keinginan untuk pulang ke mess, namun kupikir nanggung, sekalian saja aku selesaikan dulu pekerjaan daripada hari Sabtu aku harus ke kantor lagi. Namun tiba-tiba gempa mengguncang bangunan kantor kami. Awalnya aku masih tenang, karena dari jam 2 siang sudah ada tiga kali gempa berkekuatan lebih dari 5 SR dan kami tidak apa-apa. Tetapi aku salah, gempa yang terjadi kekuatannya lebih besar dan durasinya lebih lama dari tiga gempa yang terjadi sebelumnya pada hari itu, sehingga aku berlari dengan panik untuk segera keluar gedung kantor.

ATM depan kantor kami rubuh seketika. Foto diambil Sabtu (29/09/2018).

Bangunan kantin dan ruang genset kantor yang terbelah menjadi 3 bagian. Foto diambil Sabtu (29/09/2018).

Permukaan tanah yang bergelombang terlihat dari paving blok yang sudah tidak rata lagi. Foto diambil Sabtu (29/09/2018).

Pintu depan kantor di sisi selatan. Foto diambil Sabtu (29/09/2018).

Aku berlari tanpa alas kaki, dalam kondisi panik dan takut, aku terus menyebut nama Allah.  Tak peduli terpeleset karena dalam otakku saat itu adalah bagaimana caranya agar aku bisa segera keluar dari gedung itu. Tepat di depan tangga lantai 1, aku melihat seorang lelaki berjaket hitam yang terpeleset dan ada air entah dari mana. Dilema antara ingin menolong dan menyelamatkan diri, akhirnya aku memutuskan keluar dari pintu kaca di belakang kantor. Karena lantai depan pintu sudah bergeser ke atas, membuat pintu itu tak bisa dibuka secara sempurna. Akhirnya aku terperosok di taman dan parit kecil di dekatnya. Pikiranku masih dihantui ketakutan akan kemungkinan robohnya gedung dan pecahan kaca yang bisa mengenaiku kapan saja. Aku langsung bangkit dari dan melompat sehingga badanku jatuh berguling di paving blok di halaman belakang kantor. 

Aku segera bangkit dan menghampiri seorang satpam senior yang sedang menenangkan dua remaja putri peserta latihan karate di kantor kami. Kemudian dari pintu tempatku keluar, muncul tiga orang teman yang baru saja keluar gedung. Kami langsung berkumpul bersama di dekat mushola. Beberapa saat kemudian muncul Pak Heri yang menyebut namaku. Aku langsung merespon bahwa aku selamat dan aku bilang kalau ada lelaki berjaket hitam terpeleset di lantai 1 yang tiba-tiba berair. Ternyata lelaki itu adalah Bang Ipang. Alhamdulillah dia selamat setelah keluar dari lobby depan. Air yang tetiba muncul ternyata adalah air akuarium besar yang kacanya telah pecah. Jangan tanyakan kami bagaimana nasib ikan arwana seharga 40 juta rupiah yang menjadi penghuninya. Entah bertahan atau tidak.

Ternyata masih banyak orang yang belum pulang. Akhirnya kami menggelar karpet mushola di halaman belakang tempat yang biasanya digunakan untuk latihan karate. Kami juga mengeluarkan seluruh isi almari mushola berupa mukena, sajadah dan sarung. Beruntung air di tandon mushola masih ada sehingga dapat kami gunakan untuk wudhu dan bersuci setelah buang air. Mukena-mukena juga sangat bermanfaat untuk kami menghangatkan diri dari dinginnya malam. Kami tidur memakai mukena sepanjang malam.

Bersambung~

Hai Makassar!

Sabtu, 25 Februari 2017

Seminggu yang lalu aku berkesempatan buat kondangan nikahan teman sekamar ke Makassar, ibukota Provinsi Sulawesi Selatan, yang bisa dibilang sebagai kota paling maju sepulau Sulawesi ini. Yes akhirnya ke peradaban, hahaha. Bukan berarti aku nggak bersyukur tinggal di Palu yang ga ada macet ini, hanya saja rasa bosan kerap melanda jika yang kulihat dan kumakan itu-itu saja.
Semoga semua segera gantian dikondangin biar ga cuma kondangan terus~
Destinasi pertama setelah kondangan adalah Benteng Fort Rotterdam. Aku dan Itty kesana masih pakai riasan dan kostum lengkap kondangan hahaha. Tidak ada tarif resmi tiket masuk ke sana, kami hanya diminta menuliskan nama di daftar tamu dan memberi seikhlasnya kepada bapak-bapak penjaga di pintu masuk. Ada juga bapak-bapak yang menawarkan jasanya sebagai guide untuk menjelaskan perihal sejarahnya, namun kami lebih suka mengeksplorasi sendiri a.k.a jepret narsis sana-sini mumpung masih pake dandanan cetar, biar ga sayang ongkos ke salonnya kalau cuma dipake njagong doang trus dihapus, hahaha dasar ogi (ogah rugi) banget. Kalau menurutku benteng ini semacam Benteng Vredeburg kalau di Jogja namun agak kurang terawat. Ada dua sumur tua dan beberapa semacam sanggar seni di lokasi ini. Kalau piawai mencari angle yang tepat, sangat bisa digunakan sebagai tempat foto prewedding. 

Malam harinya janji ketemuan sama teman-teman yang dari Manado, Ambon dan Manokwari di RM Seafood Losari. Jangan ditanya itu di mana, pokoknya pas di pertigaan jalan. Tempat makannya rame, rasa masakannya enak, harganya nggak mahal-mahal amat, dan CUMI BAKARNYA RECOMMENDED! Ingetin aku kalau ke Makassar buat mampir kesana lagi. Lalu kami lanjut ke Mall Panakkukang yang katanya sekarang lebih mirip pertokoan. Memang penampakannya seperti itu, tapi tetap saja lebih banyak pilihan gerainya. Kami berada di sana sampai mallnya tutup, hahahaha.

Hari berikutnya, tujuan pertama adalah Monumen Mandala. Monasnya Makassar kalau kata Itty. Sayang liftnya rusak, jadi kami cuma bisa menjelajah sampai lantai tiga saja. Awalnya kami nggak yakin tempat ini dibuka untuk umum karena gerbang depan terkunci. Namun ternyata ada satu pintu di samping yang terbuka. Kami masuk lewat situ dan disambut oleh seorang penjaga yang membawa kunci bangunan kokoh tersebut. Kami cukup membayar lima ribu rupiah per orang kepada beliau. Penampakan di dalamnya tidak terawat dan lebih terlihat seperti gudang. Sedih melihatnya. Alangkah lebih baik jika dirawat dan difungsikan kembali lift yang rusak itu, agar masyarakat bisa melihat pemandangan kota Makassar dari puncak towernya.
Monumen Mandala ga terawat :(

Pemandangan di Sumba Opu dari dalam becak.
Udah sah ke Makassar kan ya? Hahahaha.

Kami melanjutkan petualangan ke Somba Opu, semacam pusat oleh-oleh di sana. Yang menarik adalah kami naik becak! Ah senangnya setelah sekian lama akhirnya bisa naik becak lagi. Daeng (sebutan untuk laki-laki yang lebih tua) yang baik menunggu kami di depan toko dan bersedia mengantarkan ke Pantai Losari. Ternyata penampakannya semacam Anjungan Nusantara di Pantai Talise kalau di Palu. Setelah puas pose berpanas ria, akhirnya kami beranjak ke Trans Studio Makassar. Karena Daeng nggak sanggup mengantar, kami naik bentor. Bahagia akhirnya kesampaian juga mencoba naik bentor meski sepanjang jalan banyak debu dan anginnya lebih kencang dibanding naik becak.

Naik bentor yang anginnya kaga santai hahaha
Sesampainya di mall megah di lokasi elit itu, kami memutuskan makan siang dulu di Ichiban Sushi lagi-lagi karena di Palu nggak ada hahahaha. Baru kami masuk ke wahana bermain di TSM. HTM untuk weekdays 150 ribu, dan weekend 200 ribu. Aku coba semua wahana bermain yang ada. Puas banget bisa deg-degan dan teriak sepuasnya hahahaha. Kalau pas naik wahana yang ekstrim dan bikin pusing, aku langsung merem dan pikirin hal-hal yang mau dibuang dari pikiran biar lepas teriaknya hahahaha. 
Lunch dulu kita baru berpetualang lagi..

Sushi... So yummy :9
Horeeee Trans Studio Makassar!
Hari sudah sore saat kami selesai bermain dengan riang gembira dan mampir ke satu lagi tempat oleh-oleh yaitu Mantao Pare. Roti berbentuk seperti bakpao yang tidak ada isinya. Cara makannya bisa diiris dan digoreng begitu saja atau digoreng dengan lapisan telur. Bisa juga disajikan dengan berbagai macam selai, tergantung selera.

Sebenarnya masih ingin jalan-jalan lagi tapi apa daya akhir pekan sudah berakhir dan harus kembali ke realita hahahaha. Terima kasih tak terhingga buat Itty dan keluarganya yang sudah baik banget mau direpoti. See ya, Makassar!

Oplosan

Senin, 30 Januari 2017

Ini adalah kisah nyata, yang tidak perlu direka ulang apalagi dicoba.

Ini ceritaku saat KKN tahun 2011 lalu. Barusan ingat karena chat sama adek soal Sprite sama Promag, hahaha. Alkisah suatu siang saat mengajar di SD tempat KKN, tetiba perutku merasa perih. Saat itu teman-teman pun sedang sibuk mengajar kelas yang lain sehingga tak ada yang bisa dimintai tolong untuk membeli obat maag. Beruntung selang tak berapa lama akhirnya sekolah pun usai juga. Kami kembali ke pondokan dan aku segera minum Promag yang sudah menjadi persediaan buat jaga-jaga.

Waktu itu aku ingat ada teman yang baru datang dari kota iya soalnya kami KKN di puncak bukit dimana jajanan paling mewah adalah bakso, mie ayam, dan sate serta alfamart di kota kecamatan dan membawa beberapa bungkus bakso. Karena memang sudah jam makan siang akhirnya aku ikut menyantap bakso dengan nikmatnya. Sampai suapan terakhir dan merasa butuh minum, akhirnya ke dapur tanpa mendapatkan air putih atau teh botol. Di kulkas warung Bu Lurah hanya tersedia beberapa botol Fanta dan Sprite. Karena kebiasaan kami adalah minum dulu baru totalan kemudian jadi aku pilih Sprite aja yang kupikir lebih segar di teriknya siang, hahahaha.

Selang satu setengah jam, saat ikut jama'ah sholat dzuhur yang sudah mepet waktunya karena kebanyakan bercanda, aku merasa ada yang aneh. Pusing-pusing lemes aneh gimana gitu. Dan saat sholat itu pun aku baru ingat kalau ternyata tadi minum Promag, makan bakso dan minum Sprite. Hahahahahahahaha pinter emang! Bikin oplosan kecil-kecilan.

Selesai sholat, nanya ke Bu Lurah di mana ada dokter atau puskesmas. Kata beliau, ada puskesmas di bawah sana tapi bidannya sedang rapat di kecamatan. Ngalamat pasrah aja sama nasib kalau begini. Meringis nahan perih dan pusing. Akhirnya gresek-gresek di warung lagi dan dapat penawar, susu cair rasa coklat. Kata teman-teman yang cowok, itu wajar aja sakitnya karena keracunan. Nanti juga hilang sendiri. Tampaknya mereka jauh lebih berpengalaman ya? Hahaha.

Temen sekamar bilang katanya aku pucet banget, trus disuruh bobok aja. Beneran rasanya nano-nano keringet dingin mau bobok kayaknya gak bisa. Akhirnya bisa bobok walau sebentar dan udah bisa keringetan. Alhamdulillah ya Allah masih dikasih perpanjangan nyawa.

Setelah itu aku diem-diem aja kalau ditanya kabar sama orang rumah. Pas udah pulang KKN baru berani cerita kalau punya pengalaman gak sengaja minum oplosan, jadi kan cuma dapet omelan doang gak bikin khawatir, hahahaha. Beneran jangan pernah mencoba kekonyolan semacamnya ya!

Sebuah Muhasabah di Sabtu Malam

Sabtu, 21 Januari 2017

Sabtu malam ini seperti biasa aku browsing, chatting, buka-tutup berbagai aplikasi di hp. Sampai pada akhirnya membaca sebuah pesan broadcast di sebuah group yang membuatku terhenyak. Begini isinya:

MENEMANI MAYAT SELAMA 40 HARI

Alkisah seorang Konglomerat yang sangat kaya raya menulis surat wasiat: "Barang siapa yang mau menemaniku selama 40 hari di dalam kubur setelah aku mati nanti, akan aku beri warisan separuh dari harta peninggalanku."

Lalu ditanyakanlah hal itu kepada anak-anaknya apakah mereka sanggup menjaganya di dalam kubur nanti.
Tapi anak-anaknya menjawab, "Mana mungkin kami sanggup menjaga ayah, karena pada saat itu ayah sudah menjadi mayat."

Keesokan harinya, dipanggillah semua adik-adiknya. Dan beliau kembali bertanya, “Adik-adikku, sanggupkah diantara kalian menemaniku di dalam kubur selama 40 hari setelah aku mati nanti? Aku akan memberi setengah dari hartaku!"

Adik-adiknya pun menjawab, “Apakah engkau sudah gila? Mana mungkin ada orang yang sanggup bersama mayat selama itu di dalam tanah.”

Lalu dengan sedih Konglomerat tadi memanggil ajudannya, untuk mengumumkan penawaran istimewanya itu ke se-antero negeri.

Akhirnya, sampai jugalah pada hari di mana Konglomerat tersebut kembali ke Rahmatullah. Kuburnya dihias megah laksana sebuah peristirahatan termewah dengan semua perlengkapannya.

Pada waktu yang hampir bersamaan, seorang Tukang Kayu yang sangat miskin mendengar pengumuman wasiat tersebut. Lalu Tukang Kayu tersebut dengan tergesa-gesa segera datang ke rumah Konglomerat tersebut untuk memberitahukan kepada ahli waris akan kesanggupannya.

Keesokan harinya dikebumikanlah jenazah Sang Konglomerat. Si Tukang Kayu pun ikut turun ke dalam liang lahat sambil membawa Kapaknya. Yang paling berharga dimiliki si Tukang Kayu hanya Kapak, untuk bekerja mencari nafkah.

Setelah tujuh langkah para pengantar jenazah meninggalkan area pemakaman, datanglah Malaikat Mungkar dan Nakir ke dalam kubur tersebut.

Si Tukang kayu menyadari siapa yang datang, ia segera agak menjauh dari mayat Konglomerat. Di benaknya, sudah tiba saatnya lah si Konglomerat akan diinterogasi oleh Malaikat Mungkar dan Nakir.

Tapi yang terjadi malah sebaliknya, Malaikat Mungkar-Nakir malah menuju ke arahnya dan bertanya, "Apa yang kau lakukan di sini?"

Aku menemani mayat ini selama 40 hari untuk mendapatkan setengah dari harta warisannya", jawab si Tukang kayu.

Apa saja harta yang kau miliki?", tanya Mungkar-Nakir.
"Hartaku cuma Kapak ini saja, untuk mencari rezeki", jawab si Tukang Kayu.

Kemudian Mungkar-Nakir bertanya lagi, "Dari mana kau dapatkan Kapakmu ini?"
"Aku membelinya", balas si Tukang Kayu.
Lalu pergilah Mungkar dan Nakir dari dalam kubur tersebut.

Besok di hari kedua, mereka datang lagi dan bertanya, "Apa saja yang kau lakukan dengan Kapakmu?"
"Aku menebang pohon untuk dijadikan kayu bakar, lalu aku jual ke pasar", jawab tukang kayu.

Di hari ketiga ditanya lagi, "Pohon siapa yang kau tebang dengan Kapakmu ini?"
"Pohon itu tumbuh di hutan belantara, jadi nggak ada yang punya", jawab si Tukang Kayu.
"Apa kau yakin?", lanjut Malaikat.
Kemudian mereka menghilang.

Datang lagi di hari ke empat, bertanya lagi "Adakah kau potong pohon-pohon tersebut dengan Kapak ini sesuai ukurannya dan beratnya yang sama untuk dijual?"
"Aku potong dikira-kira saja, mana mungkin ukurannya bisa sama rata", tegas tukang kayu.

Begitu terus yang dilakukan Malaikat Mungkar Nakir, datang dan pergi sampai tak terasa sekarang 39 hari sudah. Dan yang ditanyakan masih berkisar dengan Kapak tersebut.

Di hari terakhir yang ke 40, datanglah Mungkar dan Nakir sekali lagi bertemu dengan Tukang kayu tersebut. Berkata Mungkar dan Nakir, "Hari ini kami akan kembali bertanya soal Kapakmu ini".

Belum sempat Mungkar-Nakir melanjutkan pertanyaannya, si Tukang kayu tersebut segera melarikan diri ke atas dan membuka pintu kubur tersebut. Ternyata di luar sudah banyak orang yang menantikan kehadirannya untuk keluar dari kubur tersebut.

Si Tukang Kayu dengan tergesa-gesa keluar dan lari meninggalkan mereka sambil berteriak, "Kalian ambil saja semua bagian harta warisan ini, karena aku sudah tidak menginginkannya lagi."

Sesampai di rumah, si Tukang Kayu berkata kepada istrinya, "Aku sudah tidak menginginkan separuh harta warisan dari mayat itu. Di dunia ini harta yang kumiliki padahal cuma satu Kapak ini, tapi Malaikat Mungkar-Nakir selama 40 hari yang mereka tanyakan dan persoalkan masih saja di seputar Kapak ini. Bagaimana jadinya kalau hartaku begitu banyak? Entah berapa lama dan bagaimana aku menjawabnya."

Dari Ibnu Mas’ud RA dari Nabi Muhammad SAW bahwa beliau bersabda, "Tidak akan bergerak tapak kaki anak Adam pada hari kiamat, hingga ia ditanya tentang 5 perkara, yaitu umurnya untuk apa dihabiskannya, masa mudanya kemana dipergunakannya, hartanya darimana ia memperolehnya dan kemana dibelanjakannya, ilmunya sejauh mana diamalkan?" (HR. Turmudzi)

~~~

Menyeramkan.
Itu yang ada di benakku saat membacanya. Kalau kita dimintai pertanggungjawaban misalnya oleh atasan di kantor, kita pasti akan memikirkan jawaban terbaik, poles sana sini, agar tidak salah omongan.
Sedangkan di alam kubur nanti, kita akan ditanya oleh para malaikat Allah tentang kehidupan dunia yang telah dijalani. Apakah akan sempat untuk memoles jawaban sana-sini? Apakah malaikat Munkar dan Nakir hanya akan bertanya saja? Bagaimana dengan adab dan siksa kubur?

Aku mencoba bertanya kepada salah seorang teman dan inilah jawaban yang kudapatkan:

"Wallahu a'lam....
bagaimana dan siapa yg melakukan siksa kubur itu.

Cara kerjanya diluar batas pengetahuan kita. Ini sudah masuk ke ranah iman. Kita diminta mengimani adanya "kehidupan" di alam kubur... Cuman bagaimananya, kita ndak tau."

Ya Allah sesungguhnya Engkau MahaPengampun lagi MahaMengetahui...

Akhirnya ke Lembang Juga

Senin, 02 Januari 2017

Liburan akhir tahun 2016 memang sudah aku niatkan untuk mengunjungi tempat yang sejuk. Jatuhlah pilihanku pada Kota Bandung. Berhasil mengajak Mbak Puput yang dulu kuliah di ITB, membuatku merasa aman, paling nggak, nggak akan nyasar-nyasar amat lah ya, hahahaha.

Jumat malam, 23 Desember 2016, aku terbang dari Palu ke Jakarta. Sabtu pagi, aku janjian bertemu Mbak Puput di Stasiun Gambir, pukul 08.00 WIB. Kereta Argo Parahyangan membawa kami ke Kota Kembang dengan melewati beberapa stasiun, seperti Jatinegara, Bekasi, Purwakarta, dan Cimahi. Sesampainya di Stasiun Bandung, aku masih harus mengurus pembatalan tiket KA Malabar jurusan Bandung - Solo karena memutuskan untuk kembali ke Jakarta setelah selesai liburan di Bandung. 

Kami memesan Gocar dengan tarif Rp60.000,00 yang kemudian abang Gocarnya curhat kalau tarifnya terlalu murah dengan kondisi jalanan macet dan berujung pada minta tambahan seikhlasnya. Karena memang jauh dan macet, kami sampai harus melewati jalan alternatif, akhirnya kami bayar Rp75.000,00. Pun abangnya sempat menyarankan mengunduh aplikasi Grab karena dikhawatirkan gak akan ada Gokar yang standby di daerah Lembang yang jauh dari pusat kota itu.

Kami menginap di Seruni Guest House, di Jalan Maribaya, bisa jalan kaki dari objek wisata De Ranch. Malam harinya kami jalan kaki menyusuri Pasar Panorama Lembang, minum susu segar di Susu Murni Lembang dan makan ramen di Basmal Steak House. Sebenarnya masih lapar mata melihat banyak tempat makan di sepanjang jalan, tapi apa daya, perut sudah kenyang.
Ramainya Tangkuban Perahu

Lemu? Yoben :p
Minggu pagi kami hendak ke Tangkuban Perahu dengan naik angkot. Tetapi resepsionis penginapan menawarkan jasa sewa motor Rp100.000,00 saja. Katanya sih biasanya seratus lima puluh ribu. Berhubung anaknya suka tantangan, akhirnya sewa motor saja. Kapan lagi bisa keliling kota Bandung motoran, hahaha. Naik-naik ke puncak gunung dengan bekal ikut arus, akhirnya sampai juga kami di objek wisata tujuan. Kami membayar uang masuk Rp77.000,00 untuk dua orang, plus jasa parkir Rp5.000,00. 


Tuh, bener kan maksimal 80 kg, hahaha.
Tak lama kemudian, kami memutuskan turun ke Floating Market yang nggak kalah padatnya. Sesungguhnya ingin lanjut ke Kawah Putih Ciwidey, namun katanya terlalu jauh dan medan jalannya lebih berat daripada ke Tangkuban Perahu. Dengan motor, kami membayar tiket masuk Floating Market Rp45.000,00. Lima ribu untuk parkir, dan dua puluh ribu untuk dua tiket masuk yang nantinya bisa ditukar dengan minuman gratis. Kalau mau makan di Floating Market ini harus beli coin dulu. Kayak kemarin kami coba mendoan, harus menukarkan coin senilai 20 ribu dulu.



Terlalu banyak yang antri foto di situ, tante lelah dek~

Maksud hati ingin lanjut ke Observatorium Bosscha, yang letaknya pas di jalur pintu keluar dari Floating Market itu. Namun apa daya, ternyata tutup sampai tanggal 3 Januari 2017. Akhirnya memutuskan ke Pasar Baru Squre saja. Memecah padatnya kendaraan di Jalan Setiabudi, melewati tempat hits macam Farmhouse dan sampailah di tempat tujuan. Pusat belanja andalan dari zaman kuliah, kalau ke Bandung, hukumnya fardhu 'ain buat mampir, hahaha.

Selesai belanja baru ingat dari siang belum sempat makan. Karena udah kepikiran pasta akhirnya ke Warung Pasta di Jalan Ganeca. Pulang ke penginapan lewat Dago dan lagi-lagi jalan alternatif via Bukit Pluncut Ciumbuleuit yang jalannya sepi macam tempat jin buang anak. Motor sempat nggak kuat nanjak, akhirnya terpaksa aku minta Mbak Puput turun sebentar dari boncengan dan jalan kaki, hehehe. Sampai penginapan sudah jam sembilan malam.

Hari terakhir di Lembang, kami manfaatkan ke De Ranch yang bisa jalan kaki dari penginapan. Tiket masuknya berdua cuma dua puluh ribu saja, lagi-lagi bisa ditukarkan dengan minuman. De Ranch ini seharusnya tutup di Hari Senin, tetapi karena kemarin waktu berkunjung kesana adalah libur panjang, mungkin memang pengecualian. Ada banyak wahana permainan di dalamnya. Yang paling ramai adalah menunggang kuda, yang setiap orangnya dikenai tarif Rp25.000,00. Oh ya, berat badan maksimal penunggang kuda 80 kg ya, mungkin kasian kudanya kalau terlalu berat, hahaha. Karena antriannya panjang dan katanya sampai 1,5 jam, akhirnya kami memilih naik delman. Kami membayar Rp30.000,00 bisa untuk berdua atau bertiga katanya. Bapak kusir bercerita kalau di dekat situ adalah Taman Bunga Begonia yang bisa ditempuh dengan naik delman juga. Namun, waktu kami terbatas dan belum packing untuk kembali ke Jakarta, akhirnya belum sempat ke Taman Bunga Begonia.
Akhirnya pilih naik delman.
Satu lagi wahana permainan yang kami ikuti, yaitu flying fox. Aku memang menyukai permainan yang bikin deg-degan gitu. Apalagi untuk naiknya harus meniti batu demi batu macam anak Pecinta Alam latihan panjat tebing. Oh iya, kami membayar Rp20.000,00 per orang untuk mainan flying fox ini. Sebenarnya ada wahana lain yang aku ingin, trampoline, tetapi berat badan maksimal 45 kg. Memang bukan buat tante-tante kayaknya, huhuhuhu...

Pulangnya kami pesan Gocar lagi, yang sama bapak Gocarnya diminta cancel aja diaplikasi tapi dibayar tunai dan ditambah gocap lagi. Jadi di aplikasi harganya Rp42.000,00 tambah Rp50.000,00, macam carteran gitu lho. Bener juga kata abang Gocar yang nganterin kemarin ternyata, susah cari Gocar di Lembang. Dan anggap saja memang harga liburan ya segitu, daripada ketinggalan kereta, hahaha.
 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS