Pages

Tampilkan postingan dengan label Scholarship. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Scholarship. Tampilkan semua postingan

Setahun Pascagempa Palu: Sebuah Perjalanan Kehidupan

Rabu, 02 Oktober 2019

Hai, teman-teman nyata di dunia maya! Ternyata sudah lebih dari setahun aku tak menulis di blog ini. Maaf kalau nanti bahasanya masih kaku ya.

Setahun lalu aku mengalami gempa bumi di Palu, Sulawesi Tengah, cerita selengkapnya bisa kalian baca di postingan sebelum ini. Bulan Oktober tahun lalu, aku masih di rumah karena kantor kami libur tanggap darurat bencana sampai 26 Oktober 2018. Aku lebih banyak di rumah, masih takut bepergian dan mudah kaget mendengar suara dan getaran yang datang tiba-tiba. Aku masih ingat, senyum pertamaku setelah gempa adalah di pernikahan sahabatku, Steffy, yang diadakan di Bali pada 20 Oktober 2018. Itupun aku datang setelah membulatkan tekad untuk melawan rasa takut. Sewaktu jalan-jalan sendirian ke Ubud, aku menantang diri sendiri untuk naik wahana ayunan yang tinggi itu. Ternyata aku masih berani, syukur alhamdulillah.
My first smile at Stef's Wedding (20/10/18)

Harusnya aku gak pakai baju warna hijau juga biar lebih keliatan ya.
Aku kembali ke Palu setelah transit Makassar untuk mengikuti seleksi beasiswa Bappenas 2019. Kami tinggal di kantor dengan tidur berjamaah di mushola, masak dan makan bersama di dapur umum, antri mandi, berebut tempat di bangunan semi permanen yang berguna sebagai kantara (kantor sementara), dan pergi kemana-mana hampir selalu ada temannya. Saat itu, bahkan sampai sekarang, gempa masih tiba-tiba mengguncang meski dengan skala kecil yang bahkan kadang tak kami rasakan.

Lalu tibalah libur akhir tahun. Saat itu aku tak ingin berlibur karena pasti di mana-mana akan sama saja, macet. Tiba-tiba aku ingin pergi umroh saja. Ya, tiba-tiba saja terpikir dan berkeinginan kuat untuk mewujudkannya itu juga. Padahal sudah sejak tahun 2017 teman dan keluarga menyarankan untuk ke sana, tetapi selalu saja ada alasanku untuk menolaknya. Akhirnya setelah menemukan travel yang jadwalnya langsung berangkat dan pesawatnya bukan Lion Air, aku langsung mengurus semua perlengkapannya. Alhamdulillah semuanya lancar sampai aku kembali ke tanah air lagi.
Rindu ke sana lagi ya Allah... Semoga nanti ke sana lagi sama suami ya. Aamiin.
Januari tahun ini aku kembali ke Palu lagi, meskipun sudah ada SK mutasi ke Jakarta, namun aku masih bertugas di Palu sampai bulan Mei sebelum Idul Fitri. Alhamdulillah kami sudah bisa menempati rumah dinas yang telah selesai diperbaiki, tak perlu memperpanjang durasi masuk angin hampir tiap malam dan menahan rasa pegal di badan karena terlalu lama tidur di dalam tenda dengan alas kasur tipis seadanya. Kembali bisa tidur di atas springbed adalah suatu kemewahan karena teman-teman yang lelaki masih harus tidur di kantara karena mess baru bisa dipakai kembali setelah libur lebaran.

And here I am! Aku mensyukuri perpanjangan usiaku setahun setelah gempa Palu, dengan mencicipi pedasnya gas air mata sisa demonstrasi yang sampai anarki dan merusak kantor kami. Ternyata kejutan dalam hidup ini juga mengajarkan tentang melawan ketakutan demi ketakutan dalam menjalaninya, ya? But don't worry, kita punya Allah kok, kita bisa merapal "Lā haula wa lā quwwata illā billāh" yang artinya, “Tiada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Allah" untuk melawan rasa takut itu dan biar lebih tenang hati. Sungguh aku setuju dengan tagline Chitato yang enak tapi aku tak bisa makan itu: life is never flat!

Belum Waktunya Sekolah Lagi

Selasa, 07 Agustus 2018

Awal Agustus ini adalah hari-hari yang penuh kejutan untukku. Betapa tidak? Dari hari pertama yang sudah senang sekali dengan pengumuman kampus dan alhamdulillah lolos yang kupikir otomatis lolos juga beasiswa yang kuajukan karena begitulah yang kutahu dari keterangan instansi pemberi beasiswa ketika pertama kali aku bertanya kepada contact center mereka dan menanyakan tentang prosedur pendaftaran beasiswa tersebut, sampai kemudian di hari berikutnya harus menghadapi kenyataan bahwa aku tidak lolos beasiswa karena penyebutan jabatan pemeriksa. Setidaknya begitulah jawaban dari contact person instansi pemberi beasiswa ketika aku mencoba menghubunginya dan mengonfirmasi alasan ketidaklolosanku.

CP tersebut mengatakan pimpinannya selaku pengambil keputusan tidak memilihku sebagai kandidat yang layak menerima beasiswa karena jika jabatanku pemeriksa maka dikhawatirkan aku akan kembali kepada tugas pemeriksaan begitu selesai studi magister Ilmu Komunikasi sehingga tidak mempraktekan ilmu kehumasan. Padahal aku sudah mencoba menjelaskan bahwa di instansi tempatku bekerja memang semua pegawai yang telah menyelesaikan pendidikan S1 dan mengikuti diklat jabatan fungsional pemeriksa maka akan disebut pemeriksa, terlepas dia memang bertugas di pemeriksaan maupun di penunjang/pendukung perkantoran. Aku pun telah mengirimkan SK penempatanku di Subbagian Humas sejak 2016 dan menyebutkan beberapa nama temanku yang sesama instansi dan jabatannya juga pemeriksa namun bisa lolos mendapat beasiswa tersebut.

Setelah berusaha menjelaskan dan tidak ada tanggapan lagi dari pihak pemberi beasiswa tersebut, aku memutuskan untuk menerima kenyataan. Sedih dan kecewa memang, bayangan kembali menuntut ilmu di Kota Pelajar yang dekat dengan keluarga yang sudah di depan mata, menguap begitu saja. Sesungguhnya ini bukan pertama kalinya aku gagal dalam mengajukan beasiswa. Tahun lalu aku juga mengalami hal yang sama namun aku masih bisa menerima karena waktu itu beasiswanya memang diperuntukkan bagi ASN yang bertugas di bidang perencanaan. Sedangkan aku memenuhi semua syarat administrasi kecuali satu hal itu, karena aku bertugas pada bidang kehumasan.

Terlepas dari rasa kecewa dan kesal karena ketidakjelasan pemberi beasiswa, aku memutuskan untuk segera bangkit. Walaupun hidup tidak berjalan sesuai rencanaku, setidaknya aku masih punya banyak hal untuk disyukuri. Aku masih punya pekerjaan yang bisa aku lakukan, aku punya keluarga dan teman-teman yang baik dan selalu mendukungku, aku punya segala fasilitas hidup yang nyaman dan aman. Terima kasih Tuhan, mungkin Kau belum mengizinkanku mewujudkan mimpi yang ini, namun aku yakin Kau pasti akan wujudkan mimpiku yang lain yang lebih aku butuhkan.
 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS