Pages

Tampilkan postingan dengan label My Beloved Family. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Beloved Family. Tampilkan semua postingan

Diary Work From Home Day 48 : Tips Tetap Waras, Sehat, dan Bahagia Selama WFH

Jumat, 29 Mei 2020

Sudah dua bulan lebih kita menjalani kehidupan Work From Home, tentu banyak hal yang berubah dari keseharian kita. Aku adalah salah satu perantau yang memilih untuk stay di Jakarta saja sejak hari pertama WFH, walaupun kalau mau nekat, selalu ada cara untuk pulang ke rumah dari bulan Maret lalu. Namun aku sengaja tidak melakukannya karena aku berpikir inilah saatnya untuk aku belajar menjalani kehidupan secara mandiri. Walaupun sudah belajar hidup terpisah dari keluarga inti sejak kuliah, namun baru kali ini aku benar-benar hanya bisa mengandalkan diri sendiri karena sebelumnya saat penempatan kerja di Palu, Sulawesi Tengah, aku pun masih tinggal bersama teman-teman di mess yang sudah seperti keluarga sendiri, jadi jika aku sakit atau butuh bantuan, aku masih bisa minta tolong kepada mereka, pun aku tak kesepian karena dulu sekamar berdua jadi selalu ada teman menjalani hari-hari yang penuh warna.

Memang ga mudah sih, tapi alhamdulillah aku sampai detik ini berhasil menjalaninya. Setidaknya aku berhasil menjalani puasa Ramadhan 1441 H dengan menyiapkan makanan sahur sendiri, plus bayar hutang puasa sampai lunas dimulai pada hari ketiga bulan Syawal. Alhamdulillah ini rekor aku tercepat membayar hutang puasa, karena dengan pertimbangan masih WFH dan belum banyak pekerjaan yang menyita banyak tenaga dan pikiran, hihihihi.

Karena WFH ini bukan sesuatu yang normal untuk kehidupan kita, pasti setiap individu merasakan bebannya, entah dalam bentuk stres, psikosomatis atau lainnya. Aku sendiri merasakan lebih sering kambuh alergi gatal seperti kaligata selama WFH ini, sampai sudah menghabiskan stok obat ketiga atau keempat selama dua bulan terakhir ini. It's okay, aku berusaha untuk tidak ketergantungan obat alergi dan hanya minum obatnya jika benar-benar tak bisa menahan rasa gatalnya.

Tips dariku agar tetap waras, sehat dan bahagia selama WFH adalah :
  1. Selalu bersyukur kepada Allah SWT, terutama untuk kesehatan, pekerjaan dan tempat tinggal yang nyaman sampai sekarang. Aku juga bersyukur Allah SWT selalu menjagaku dan keluarga serta teman-teman yang kusayangi sehingga kami sehat semua walaupun belum bisa saling bertatap muka.
  2. Video call dengan keluarga sesering mungkin. Satu hal yang dulu sebelum pandemi sangat jarang kulakukan karena sudah terlalu lelah dengan kegiatan sehari-hari dan ingin me time di hari libur. Bertatap muka dengan mereka memberikan rasa tenang dan mengobati rasa rindu, yang penting semuanya sehat selalu.
  3. Keep in touch with my people. Selain keluarga, aku juga selalu bertukar kabar dan intens bercerita bersama sahabat-sahabatku seperti yang pernah aku ceritakan di tulisan ini. Lumayan menjaga kewarasan dengan mengobrol banyak hal kan?
  4. Berjalan kaki keliling kompleks yang rutin kulakukan hampir setiap hari bersama Mbak Yuyun. Kami melakukan ini selain agar badan kami tidak kaku dan pegal karena kurang gerak dan terlalu banyak rebahan di kamar kos, juga agar mendapatkan sinar matahari langsung. Selama ini kami jalan kaki sekalian refreshing mengamati keadaan sekitar. It much help to keep us sane!
  5. Melakukan hobi menulis blog dan menonton Netflix. Banyak sekali tontonan bagus di Netflix yang bisa aku pilih agar aku tak melulu terpapar berita tentang Covid 19 yang berpotensi menambah beban pikiran dan menurunkan sistem imun karena stres. Menulis blog ini juga menjadi stress relief yang ampuh untukku. Walaupun aku memutuskan hanya menulis pada hari kerja dan kadang merasa kehabisan ide apalagi yang akan kutulis, karena aku berusaha berbagi lewat tulisan, agar tak sia-sia waktu orang lain membaca blogku ini.
  6. More and more donation. Aku menulis poin ini bukan untuk pamer atau riya, tapi sebagai ajakan untuk kita sebagai makhluk sosial membantu sesama. Di luar sana, banyak sekali orang-orang yang tak seberuntung kita untuk menjalani WFH dan punya penghasilan dan kehidupan yang layak seperti kita. Sudah saatnya kita saling membantu meringankan beban saudara-saudara kita, walaupun bulan Ramadhan yang penuh berkah telah lewat, namun semangat kebaikan kita semoga selalu membara. Setelah berbagi dengan sesama, rasanya bahagia, berasa sedikit bermanfaat jadi manusia.
  7. Selalu berdoa agar semuanya sehat dan segera ditemukan obat atau vaksin untuk Covid 19 ini. Berdoa itu sangat penting untuk menjaga kewarasan karena siapalah kita? Kita hanya makhluk Allah SWT yang sangat kecil, dan  tak ada yang tak mungkin bagi-Nya jika Allah SWT sudah berkendak maka "kun fayakun".
Angka positif COVID-19 pada Kamis (28/5) kemarin adalah 24.538 kasus. Angka positif COVID-19 yang diumumkan pada Jumat (29/5/2020) ini menjadi 25.216 kasus. Berarti ada lonjakan 678 kasus positif COVID-19 dalam sehari.

Stay sane and stay safe ya teman-teman, semoga kita sehat selalu dan wabah Covid 19 ini segera berlalu, aamiin.

Mari Kita Berkunjung ke Museum

Rabu, 04 Januari 2017

Menurut artikel parenting ini, salah satu hak anak adalah rekreasi. Ingat dulu setiap liburan sekolah pasti orang tua mengajak piknik entah kemana, walau tidak terlalu jauh dari rumah dan mungkin sudah pernah dikunjungi. Yang namanya piknik tetap saja menarik. Mungkin itu yang membuatku suka berpetualang dan jalan-jalan. Karena sekarang sudah punya keponakan, gantian aku yang dinanti oleh tiga krucil di rumah untuk mengajak mereka jalan-jalan mengisi hari libur sekolah. Padahal jauh hari aku sudah pamit dan bilang, "Jangan dinanti, aku mau jalan-jalan sendiri. Kalau mau pada piknik ya piknik saja nggak usah nunggu aku pulang." Buliknya nggak mau banget ngasih kepastian bahkan sama keluarga sendiri, mihihihi.
Welcome to Museum Purba Sangiran yang sudah penuh orang :p
Senin libur dulu ya museumnya.


Pintu masuk display area pertama. Ada ABG pacaran di museum, sekalian belajar sejarah ya?
Namun tetap saja mereka menanti. Duh, jadi trenyuh di hati. Bahkan adik bungsu sudah ngambek sama ibu karena aku dijanjikan pulang hari itu. Aku sendiri pun tak ingin buru-buru pulang kalau si bungsu masih menginap di tempat keponakan-keponakan tercinta. Kemudian adikku yang satunya berkata, "Ya kalau tunggu-tungguan terus kapan kelarnya." Berasa ngebahas apa gitu ya, yang tunggu-tungguan terus nggak ketemu. Ihik. Baper.

(Bukan) ibu dua anak.
Alhamdulillah sampai rumah tepat saat tiga krucil lengkap semua. Keponakan sulung bilang ingin ke museum. Langsung saja aku iyakan. Kapan lagi anak yang tiap hari nge-game ini minta jalan-jalan di dunia nyata. Ye kan? Setelah sepakat waktu dengan adik partner pengantar, berangkatlah kami menuju lokasi yang dituju, yaitu Museum Sangiran. Sebenarnya tempat ini sering dilewati untuk pulang kampung ke tempat kakek nenek. Kok ya kebangetan kalau sampai belum pernah masuk ke dalamnya.

Penampakan adik partner dan temannya. Susah diajak foto bersama.

Saat kami tiba, sudah banyak orang yang di sana. Aku nggak tahu pasti berapa harga tiket masuk perorangnya. Karena waktu aku, ibu, adik, dan dua keponakan, kok dibilang empat orang? Hahaha. Saat itu kami diminta membayar Rp20.000,00. Di dekat tempat parkir, banyak kios-kios yang menawarkan cinderamata dan warung-warung yang menjual makanan berat dan ringan. Ada beberapa hewan primata yang dikandang di area tersebut. Kan kasihan ya.
Salah satu penampakan di dalam display area.
Untuk ruang pameran, terdiri dari tiga bagian yang saling terhubung. Ibu, adik bungsu dan keponakan yang kecil menyerah duluan di area kedua. Sedangkan si sulung kuajak berkeliling sampai selesai. Bahkan di awal thawwaf, aku mengharuskannya membaca setiap keterangan yang ada. Mungkin karena merasa dia yang minta ke sana, mau nggak mau harus bertanggung jawab pada pilihannya dan menuruti perintahku, hahaha. Namun di akhir perjalanan saat sudah merasa lelah, aku membiarkannya hanya melihat-lihat saja.

Ayo, harus dibaca ya semuanya!
Selesai berkeliling berdua, kami bingung mencari rombongan yang entah di mana. Kebetulan handphone ku dibawa si bungsu buat main game biar dia nggak rewel, jadi kami hanya berbekal handphone buat foto-foto yang nggak ada sim card-nya. Setelah sholat dhuhur di mushola yang letaknya di bagian belakang deretan warung makan, kami menuju ke pintu keluar dan menemukan rombongan sedang asyik makan siang. Welhadalah, dolan adoh-adoh kok mung pindah mangan soto karo ngombe es teh doang, hahaha. Si sulung pun langsung ikut pesan dan makan dengan lahap. Mungkin dia sangat lapar setelah "dipaksa" menyelesaikan perjalanan, hahaha. Maaf ya, Le, bulikmu galak. Hahaha.

Luwe banget ya, Le? :))
Dalam perjalanan pulang kami sempatkan sekalian berkunjung ke rumah kakek, nenek dan nenek buyut, selagi mereka masih sehat. Selalu menjadi kebahagiaan tersendiri jika bisa mengunjungi keluarga besar walau hanya sebentar. Yah walaupun selalu dibonusi pertanyaan yang belum terpecahkan *iykwim*. Kalau kayak gini memang beneran berasa, "Maka nikmat-Nya yang manakah yang kamu dustakan?" dan cuma bisa berucap alhamdulillah wa syukurillah ya Robb.

Tak lupa aku menanyakan bagaimana perasaan keponakanku setelah jalan-jalan ke museum. Katanya dia senang dan rasa penasarannya telah terjawab. Alhamdulillah ya Le, Lik Tika merasa nggak sia-sia. Sampai jumpa pada edisi piknik-piknik selanjutnya!

Padamu Aku Selalu Rindu

Minggu, 21 Agustus 2016

"Padamu, aku selalu rindu." 
Kalimat yang mungkin akan ditafsirkan sebagai penggambaran betapa beratnya menahan rindu pada seseorang yang spesial. Kalimat ini terngiang di otakku sejak kemarian siang. Saat aku melepas kepulangan ibu dan dua adik lelakiku di bandara Mutiara Sis Al-Jufri Palu. Setelah mereka boarding, aku menunggu panggilan untuk penumpang JT 857 tujuan Surabaya untuk memastikan bahwa mereka tidak tertinggal oleh pesawat kepulangan.
Sesaat sebelum boarding, sempetin wefie dulu.




Apa yang lebih membahagiakan daripada dikunjungi oleh keluarga tercinta saat di perantauan? Ah Tuhan, entah bagaimana ku harus berterima kasih pada-Mu atas semua takdir baik ini. Aku selalu percaya bahwa Allah tak pernah kehabisan sumber untuk membahagiakan makhluk-Nya. Salah satu buktinya adalah sedikit cerita konyol dibalik kedatangan mereka kesini. Here we go!


Masih ingat cerita tiga minggu lalu saat aku terpaksa opname, kan? Saat itu, Selasa pagi tanggal 2 Agustus 2016, mereka bertiga sudah boarding di Bandara Internasional Juanda Surabaya untuk terbang ke Palu. Namun, petugas melarangnya karena ternyata tiket tertera tanggal 16 Agustus 2016. Aku yang hari itu sudah diizinkan pulang dari rumah sakit, tak kuasa mentertawakan kejadian konyol tersebut. Saking paniknya sama keadaanku, mereka sampai nggak teliti melihat tanggal tiket yang dibeli. Disitu aku merasa dicintai, sekaligus baru sadar bahwa kekonyolan itu ternyata genetik juga, hahaha :')

Butuh beberapa hari untuk mereka memutuskan refund atau tetap kesini. Dengan pertimbangan Fahmi yang ingin sekali naik pesawat, akhirnya jadi juga mereka terbang. Aku membelikan tiket pulang untuk hari Sabtu, 20 Agustus 2016 dengan pertimbangan masih ada hari Minggu untuk Fahmi beristirahat sebelum masuk sekolah. Jadi aku sudah mewanti-wantinya untuk tidak membolos sekolah di hari Senin dengan alasan kelelahan setelah perjalanan jauh. Maklum, dari Surabaya mereka harus menempuh perjalanan darat sekitar 6 jam untuk sampai di Solo.

Selama mereka di Palu, aku hanya bisa mengajak jalan-jalan ke Pantai Tanjung Karang setelah mengikuti Upacara HUT RI Ke-71 di kantor. Kalau nggak ikut upacara, konsekuensi potongan tunjangannya kejam sekali, huhuhu. Selain itu, mereka hanya kuajak keliling Kota Palu dengan melewati beberapa icon-nya seperti Anjungan Nusantara di Pantai Talise, kampus Universitas Tadulako, dan Jembatan McD. Oh iya, kami juga sempat berkunjung ke rumah salah seorang kerabat jauh yang ternyata sudah lama tinggal di Palu. Tidak lupa juga mereka mencicipi makanan khas di sini, yaitu Kaledo dan ikan bakar di RM Terminal Indah, Donggala. Bisa ditebak, sama sepertiku, mereka tak terlalu menyukai kaledonya, hahaha.
Fahmi nggak peduli teriknya sinar matahari di Pantai Tanjung Karang.

Selebihnya, mereka aku tinggalin motor saja biar pada bereksplorasi sendiri. Benar saja, ibuku bisa sampai ke Pasar Biromaru dan Gong Perdamaian, padahal aku sendiri pun belum pernah kesana. Semua berkat Ibu Andri yang baik hati mau menjadi guide emak-emak kurang piknik dari Sukoharjo itu, hehehe. Terima kasih Bu Andri, semoga Allah membalas kebaikan Ibu dengan berkah yang berlebih. Aamiin.
Mamah yang asyik JJS sementara anaknya masih di kantor, haha.

Sedangkan Faizal, yang sudah jauh diajak ke Pantai Tanjung Karang tetapi tak terkena air pun jalan-jalan sore sendiri di Pantai Talise. Konyolnya, ia memotret STNKnya yang katanya sudah sampai di Palu, walau motornya masih di rumah, hahaha. Kami gagal ke Gong Perdamaian karena susah bangun pagi dan aku selalu buru-buru ke kantor.

Terima kasih gengs, sudah mau jauh-jauh kesini. Ya, walaupun aku tahu kalian lebih bahagia karena bisa jalan-jalan meski kutinggal kerja, hahaha. Aku langsung bingung mau makan apa setelah mereka pulang, karena selama ibuku disini, beliau selalu memasak untukku. Bahkan aku bawa ke kantor untuk dinikmati bersama teman-teman yang kangen masakan Jawa juga. See you soon, all! (Walau mungkin lebaran haji aku akan tetap disini).

Idul Fitri Pertama Setelah Merantau

Jumat, 15 Juli 2016



Yeay akhirnya aku merasakan mudik. Walaupun bukan literally mudik macet-macetan berjam-jam seperti yang selama ini aku bayangkan. Tapi kasian juga kalau macetnya sampai berhari-hari macam di Brexit kemarin. Eh, aku pernah ngerasain macet juga ding lebaran ini, sewaktu di Grobogan, tapi kan bukan aku yang nyetir jadi ya woles aja aku masih bisa bobok di mobil hahaha. Pernah ngerasain nyelip-nyelip juga di antara kendaraan besar termasuk Bus Mira sewaktu motoran di jalan raya Sragen – Solo. Capek sih, pegel pegang gas dan kopling plus harus waspada injak rem. Bahkan sempat ditertawai mas-mas penunggang Vixion waktu aku beberapa kali mati mesin karena sudah gagal fokus.

Idul fitri ini aku merasa lebih bahagia daripada yang pernah aku lalui sebelumnya. Aku senang bisa bertemu dengan teman-temanku dari zaman SMP, SMA, kuliah, dan diklat. Dari yang masih sama-sama jomblo sampai yang sudah punya momongan. Bahkan ada beberapa yang belum sempat aku temui namun mereka sudah harus kembali ke tanah perantuan masing-masing. Senang rasanya bisa bertemu dengan mereka setelah sekian lama. Saling berbagi kabar terkini di kehidupan masing-masing sampai mendengarkan masukan yang tulus dan tidak menggurui.

Pun aku masih diminta menemani ibuku sowan kepada kerabat yang lebih tua. Saat aku mencoba protes kenapa harus aku yang ikut dan bukan saudaraku yang lain, ibuku menjawab dengan enteng, “Biar nanti kalau kamu nikah, mereka tahu kamu yang mana.”

Yaelah masih jomblo juga. Cobaan jomblo di hari lebaran memang luar biasa. Bisa ditebak dong pasti pertanyaan seperti apa yang diajukan para kerabat kepadaku setelah, “Ini yang kerja di Sulawesi itu?” Dan aku Cuma bisa nyengir kuda dan gelendotan di pundak orang tua. Biar dibilang masih masih muda dan belum pantes buru-buru nikah. Beberapa orang terutama yang tidak tahu aku kelahiran tahun berapa, memang terjebak dengan image manis manja itu hahaha.

Tuhan, terima kasih Kau izinkan aku menikmati Idulfitri ini bersama keluargaku. Siapa tahu tahun depan aku bisa merayakan dengan keluarga yang lebih lengkap lagi. Kau tahu maksudku kan, Tuhan Yang Maha Baik?

Tentang Rumahku

Sengaja memilih judul yang sama dengan judul lagu band indie Dialog Dini Hari. Kali ini memang aku ingin sedikit bercerita tentang rumahku. Menyadari tinggal hitungan puluhan jam kesempatanku di rumah, membuatku lebih melankolis dari hari-hari sebelumnya. Sebenarnya tak banyak kegiatan istimewa yang kulakukan selama di rumah. Kalau sedang tidak ada janji untuk bertemu teman-teman lamaku, aku akan melakukan tugas rumah seperti yang biasa kulakukan sedari dulu. Bangun tidur kalau tidak tidur lagi, biasanya aku akan ikut ibuku ke pasar atau membeli sarapan di penjual makanan pagi. Kalau sedang tak memiliki bahan makanan, ibuku akan lebih memilih membeli beberapa nasi bungkus sekaligus berbelanja sayur-mayur. Nasi bungkus dengan lauk urap dan oseng, ditambah beberapa tempe goreng, sudah cukup untuk amunisi di pagi hari. Khusus untukku dan adik bungsuku, biasanya ibuku akan membungkuskan dua porsi bubur dengan lauk telur ayam opor yang terpisah.

Selesai sarapan, ibuku akan sibuk di dapur sementara aku di kamar mandi. Mandi sekaligus mencuci adalah salah satu tugas wajib tak tertulis yang harus kukerjakan.  Di sela-sela itu, ibu bisa memberi tugas tambahan seperti mencuci piring dan menyapu lantai. Kalau menyapu lantai biasanya aku melakukannya sesuka hatiku, setiap aku merasa lantai terlalu ngeres. Menjelang siang biasanya ibuku berangkat bekerja, tinggalkan aku di rumah bersama adik bungsu dan keponakan-keponakanku kalau kebetulan sedang dititipkan di rumahku. Mengasuh tiga anak lelaki berumur lima, tujuh dan sembilan tahun yang tingkahnya minta ampun membuatku harus belajar sabar namun tetap tegas. Membiarkan mereka bermain asalkan tidak berbahaya dan tetap mengingatkan kapan harus sholat dan makan siang. Biasanya, mereka minta disuapi bersama tiga anak sekaligus jadi tetap bisa bermain dan tetap kenyang.

Jika beruntung, beberapa atau bahkan semua dari ketiganya akan tidur siang. Saat momen melegakan itu terjadi, biasanya aku bisa me time, sekadar browsing dan chatting atau menulis blog seperti ini, hihihi. Tuhan, terima kasih untuk kesempatan berlebaran bersama mereka. Terima kasih telah melahirkan aku di tengah keluarga ini, yang walaupun sangat biasa, namun selalu bersama dan saling percaya. Mohon jagalah mereka selagi aku kembali merantau nanti.

Proyeksiku Sebagai Seorang Ibu Nanti

Kamis, 30 Juni 2016

Akhir-akhir ini aku banyak berpikir tentang apa yang aku ingin lakukan dalam kehidupanku, baik kini maupun masa mendatang. Salah satunya adalah keinginan naluriah seorang wanita untuk menjadi ibu. Sudah sejak keponakan pertamaku lahir sembilan tahun yang lalu, aku belajar merawat bayi hingga tumbuh kembangnya seperti sekarang ini. Belajar mengganti popoknya sampai menanyakan PR nya sekarang.

Hal yang sama juga kulakukan pada keponakan kedua dan adik bungsuku. Khusus si bungsu, aku menjadi tertarik untuk membaca artikel tentang parenting. Bukan apa-apa, selisih umur dua dekade membuatku merasa dia seperti adik sekaligus anak untukku sendiri. Bahkan dia pun lebih menurut kepadaku jika dibandingkan dengan orang tua kami sendiri.

Sering aku mendapat kabar kalau dia susah diajak tidur siang dan paling malas belajar. Namun hal sebaliknya terjadi jika aku di rumah. Tanpa diminta dia akan tidur siang dan mengambil buku-buku pelajarannya untuk dikerjakan di dekatku. Mungkin itulah yang dinamakan semangat. Dia semangat belajar jika ada aku. Aku pun selama ini semangat bekerja untuk masa depan keluarga kami, terutama untuk bekal pendidikannya nanti.

Aku mendampinginya belajar sembari membaca artikel tentang parenting di layar handphone. Mungkin lebih kurang seperti inilah proyeksiku jika menjadi seorang ibu nanti. Mendampingi anak belajar sambil melakukan hobiku sendiri. Bukankah menyenangkan bisa melakukan beberapa tugas sekaligus dalam satu waktu?

Selesai belajar, aku menyuruhnya tidur siang. Sedangkan aku akan melanjutkan belajar memasak untuk hidangan berbuka puasa nantinya. Ini yang ingin kulakukan juga saat sudah berkeluarga nanti. Semoga bisa tercapai impian sederhana ini.

Hai Kamu, Aku Sudah Move On

Minggu, 08 Mei 2016

Pagi ini aku sedikit tak percaya melihat postinganmu tiba di Indonesia. Sedang berlibur atau memang sudah selesaikah studimu disana? Sekarang aku tak lagi peduli. Aku hanya ingin sedikit menceritakan kembali hikmahnya kau pernah ada dalam hidup ini.

Kepadamu yang hampir satu dasawarsa menjadi penghuni hati, aku ingin berterima kasih atas semua yang pernah kita lalui. Terima kasih atas semua pembelajaran hidup yang pernah ada sehingga menjadikan aku tak terlalu terpuruk walau setelah kamu, ada beberapa orang yang sempat membuatku meneteskan air mata. Aku yakin dapat melalui itu semua karena aku pernah menjalani hal yang jauh lebih berat sebelumnya.

Tak dapat kupungkiri, kau memang satu-satunya orang yang pernah membuatku jatuh cinta. Aku pun memutuskan meninggalkanmu karena aku tak mau menjadi gila karena terlalu mencintaimu. Jadi apapun yang pernah kurasakan saat bersamamu, aku menamainya sebagai kenangan dan pembelajaran.

Darimu aku belajar untuk menjadi lebih sabar dan lebih mendengarkan, hal yang tak pernah kulakukan zaman dulu. Darimu aku belajar untuk sangat berhati-hati menginvestasikan hati, agar tak membuang waktu dengan orang yang salah lagi. Kau paham betul kan aku bukan orang yang bisa dengan mudahnya berpindah ke lain hati, walau banyak yang dekat dalam keseharian.

Aku belajar banyak hal setelah aku memutuskan pergi darimu. Aku belajar melakoni peran dalam realita kehidupan. Terima kasih sudah pernah ada dalam prosesku. Maaf jikalau dulu aku masih terlalu egois dan merepotkanmu. Terima kasih kita masih bisa berteman sebagai kawan lama.

Aku berdoa semoga kita bahagia di jalan hidup masing-masing. Aku turut senang mendengar kau awet dengan orang yang kau pacari beberapa tahun belakangan ini. Semoga disegerakan ke tahap selanjutnya. Tak perlu kau tanya bagaimana tentangku. Jika hari bahagiaku datang, tentu aku ingin mengundangmu. Biar bagaimanapun kita masih teman baik kan?


Begini Sakit Jadi Bujangan

Kamis, 14 April 2016

Okay lirik lagunya "begini nasib jadi bujangan" hahaha. Maaf emang sengaja diplesetin biar sesuai sama kondisi sekarang. Emang sakit itu ga pernah ada enaknya. Apalagi di perantauan.

Biasanya kalau sakit di Jogja tinggal pulang, atau minta mamah yang datang. Kalau disini gimana ceritanya? Huhuhuhu... Yang biasanya disuapin, dipukpuk, plus diomelin, sekarang tetep sih diomelin via telpon tapi kaga ada yang manjain. Untung punya temen-temen yang super baik, yang mau nganterin beli makan sesuai selera yang ternyata terlalu pedas hahaha dan bawain obat yang ketinggalan di kantor. Tiap malam udah minum obat langsung tepar aja. Kebangun buat sholat isya udah tengah malam dan masih lemes pula.

Jadi ingat quote temen "jadi jomblo dilarang sakit nanti ngrepotin orang" yang sepertinya benar adanya. Masih untung ini sakitnya ga terlalu parah ga sampai opname, jangan sampai ya Allah gak kebayang gimana repotnya kalau harus impor mamah kesini kan kasian Fahmi, hiks..

Intinya sehat, kuat, tetep semangat. Untung belom jadi berangkat ke luar kota. Biar sembuh dulu kali yaaa... Mohon sembuh segera yaa Allah.. Aamiin yaa Allah yaa robbal'alamiin...

Kimchi Korean Restaurant

Rabu, 12 November 2014

Akhirnya aku bisa icip-icip lagi setelah sekian lama, hahaha. Yang lebih istimewa, kali ini aku ditemenin sama Mbak Puput dan Fahmi, setelah seharian kami muter-muter Solo, hahaha. Pakai ada adegan Fahmi bobok, nangis, minta digendong dan pulang juga, tapi untungnya aman terkendali dan happy ending :D

Udah lama sih pingin nyobain resto korea di Solo. Sebenarnya ada 2, satunya Daegu Korean Grill di Jalan Dr. Radjiman tapi sepertinya mahal dan kantong kami belum cukup buat kesana. Akhirnya kami searching dan nemu tempat yang lebih friendly harganya, hahaha. Namanya Kimchi Korean Restaurant tempatnya di Jalan Veteran timur SD Al-Islam 2 Jamsaren. Tempatnya bersih, keliatan lux, tapi di luar gak ada tukang parkirnya jadi parkir gratis dan helm dibawa masuk yaaa..! :D

Kita duduk di kursi yang empuk, maksudnya biar bisa naruh Fahmi bobok disitu tapi dia malah bangun. Trus banyak cermin gede yang bikin over narsis gitu, hahaha. Kita pilih Jajangmeyon sama Bento Box soalnya aku nyari menu yang aman buat balita macam Fahmi. Secara menu Korea kan kebanyakan asam sama pedas gitu rasanya. 

Setelah pesen makan, kita foto-foto narsis dulu, eh, mbaknya dateng bawain kudapan. Lumayan ada buahnya yang langsung abis dilahap Fahmi. Nunggu makanan utamanya lumayan lama sih, sampai si Fahmi bete gitu minta pulang. Akhirnya dialihin perhatiannya sama mbak Puput, diajakin foto-foto baru deh dia semangat lagi. Lumayan Fahmi lahap maemnya hampir sebento box itu bisa habis semua.

P. S. Sebenarnya ini postingan lama banget tapi hampir lupa ga dikelarin tulisannya jadi sebagian besar udah menguap dari ingatan. Lupa range harganya berapa tapi seingatku kita bertiga (2 porsi) abisnya sekitar 60-70ribu. 

A Day With My Beloved Ones

Minggu, 02 Maret 2014

Ceritanya hari Sabtu kemarin aku rencana mau pergi bareng sama Mbak Puput. Walaupun sekabupaten tapi jarak rumah kami dari ujung ke ujung, jadi ya sama aja gak bisa sering-sering ketemu. Perjalanan dari rumahku ke rumahnya aja sejam, maklum lah dari ujung selatan ke ujung barat. Apalagi cuaca di Solo seringnya siang panas banget terus sore sama malam hujan. Makin lengkap deh alasan buat tetap ngendon di goa aja, hahahaha..

Awalnya kami mau ketemu di Sami Luwes aja dengan agenda setelah itu ke pameran komputer di Center Point, mampir ke rumah Dita, nyamperin anak-anak Impactus yang lagi ketemuan sama nyobain sebuah restoran Korea bernama Kimchi. Tapi semuanya berubah ketika negara api menyerang. Fahmi minta ikut serta dan aku gak mungkin bawa dia sendiri motoran. Kalau mau naik bis kasian Fahmi nanti capek diajak ke berbagai tempat di Kota Solo. Akhirnya dengan segenap kerendahan hati aku minta mbak Puput ke rumahku dulu biar kita bisa motoran bertiga. Karena mbak Puput adalah ibu peri yang diutus ke dunia maka dia mengabulkan permintaanku. Thanks so much mbaaak *hug

Akhirnya kami berangkat dari rumahku sekitar jam 11 siang. Tujuan pertama ke Sami Luwes dan ternyata disana antriannya bejibun masya Allah. Kami baru keluar dari sana sekitar jam 1 lebih 15 menit. Setelah itu kami mampir di Rest Area, tempat anak-anak yang udah pada kumpul duluan. Gak lama sih, cuma sampai jam 2 kami pamit. Tujuan berikutnya adalah rumah Dita di Pajang. Kami disana numpang sholat dan leyeh-leyeh. Sumpe capek banget aku gak biasa motoran tiba-tiba jadi tukang ojek keliling Solo. Pengennya numpang boci juga, tapi itu tak mungkin. Aku harus ingat perjalanan yang masih panjang itu.
Foto dulu biar Fahmi gak bete :p
Karena aku cuma butuh beli fan dan cairan pembersih laptop akhirnya Dita menemaniku ke toko dekat rumahnya. Iyalah daripada ke pameran, capek lagi nanti muter-muternya. Lumayan lho di toko itu harganya terjangkau juga. Fahmi dan Mbak Puput bisa istirahat sebentar bersama adiknya Dita, Dinda. Aku lihat Fahmi sangat adaptif disana, gak tau malu buat ambil jajanan, ikut wudhu tapi aku tau sebenarnya dia pingin main air keran, plus tidur-tiduran santai di depan tv. Sumpe bukan aku yang ngajarin lho ya, hahahaha..

Sekitar jam 4 kami pamit pulang dan mampir ke tujuan utama yaitu Kimchi Korean Restaurant. Letaknya di Jalan Veteran 190 Surakarta. Sampai disini Fahmi ternyata udah bobok dong ya, kayaknya dia capek banget abis jalan-jalan seharian. Sempet nangis juga karena dibangunin dari tidurnya, untung pengunjung disana gak banyak, jadi gak terlalu merusak suasana, hehehe..

Akhirnya kami pulang dan sampai di rumah menjelang maghrib. Mbak Puput jadi gak pulang karena hujan. Tambah panjang aja quality time kami dan waktu capernya si Fahmi, hahaha.. Makasih banget ya mbak udah mau direpotin dan diajakin momong Fahmi yang sama sekali gak kalem itu. We love you! :*

Tomodachi Takoyaki

Selasa, 18 Februari 2014

Setelah berminggu-minggu cuma bisa ngelap iler kalau lagi online, akhirnya kesampaian juga jajan Tomodachi Takoyaki. Tapi sayang cuma bisa ngicip takoyakinya aja soalnya okonomiyakinya udah habis. Bersama kedua adek lelaki yang ganteng, meluncurlah aku ke depan SMA Al-Islam 1 Surakarta di Jalan Honggowongso. Kabarnya, Tomodachi Takoyaki ini punya beberapa cabang, yaitu di depan Smalsa, Pajang, Kampus ISI, Cafedangan Manahan, Mojosongo, UMS sama Car Free Day. Katanya sih mau nambah cabang lagi di Gading, tapi belum tahu kapan.

Ternyata... Isiannya bisa di-mix sodara-sodara, jadi bisa pilih beberapa rasa dalam satu porsi, hahaha.. *girang* Ada takoyaki isi kornet, cumi-cumi, tuna, keju, kepiting, sama udang. Terus okonomiyakinya ada keju dan campur. Harganya 10-11 ribu aja. Karena bingung mau pilih rasa apa, akhirnya kami beli 3 porsi campur semuanya. Jadi bisa rata deh icip-icip rasanya :D

Tomodachi Takoyaki
Dari segi rasa sih enak, soalnya lupa kapan terakhir makan Takoyaki, jaman masih di Jogja. Kayaknya sih rasanya sama hahahaha. Bagusnya sih dia gak kopong ya, jadi bulatan takoyakinya padat berisi gitu, bikin kenyang! That's the point, hahaha..

Pengen lagi sih tapi belom ada kesempatan buat jajan dan males banget keluar rumah di saat jalan masih berdebu gini. Penasaran sama cabang yang di Cafedangan Manahan karena konon disana menunya lebih lengkap. Gak cuma takoyaki sama okonomiyaki aja tapi juga ada sushi sama onigiri *ngiler*

Bisa dibilang recommended lah ini, apalagi buat yang suka ngemil tapi gak suka cemilan PHP yang gampang bikin laper lagi, hohoho. Buat kalian yang ada di sekitaran kota Solo, monggo dicoba! :D

Finally, The Graduation!

Kamis, 28 November 2013

Nah, itulah tag line hidupku bulan ini. Setelah 5 tahun di Jogja, akhirnya tiba saatnya aku dikeluarkan secara terhormat dari kampus tercinta a.k.a diwisuda. Acaranya hari Selasa tanggal 19 November 2013 kemarin. Rangkaian acara wisuda ini tidak sendirian sodara-sodara, sebelumnya ada pembekalan di Auditorium Fakultas Pertanian dan Gladi Bersih, setelahnya ada job hunting preparation dari fakultas. Sebagai mahasiswa yang baik dan susah move on dari kampus aku ikuti semua acara itu dengan semangat ‘45. Intinya sih buat negesin kalau kita udah bukan mahasiswa lagi, udah bukan anak bawang yang bisanya minta ke orang tua lagi, tetapi kita udah resmi berdiri sendiri sebagai seorang manusia bergelar sarjana beserta hak dan kewajiban yang melekat padanya kayak di ijazah hahaha. Kita harus jadi manusia berguna buat orang lain di sekitar kita. Kita harus bekerja dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat, bukannya jadi pengangguran dan malah menambah beban orang tua serta bangsa Indonesia #makjleb.

Udah ah, mau cerita selebrasi selama wisuda aja biar gak mellow galau. Ada ceritanya juga nih, sehari sebelumnya aku sama mbak Puput udah belajar buat mau digimanain mukaku nanti. Make up udah oke, tinggal jilbabnya yang belum. Apalagi gak ada mbak Maida di kosannya, jadilah aku belajar bikin jilbab seadanya dibantuin anak-anak Mutiah. Setelah mainan jilbab dirasa cukup, aku tidur lebih awal malam itu. Paginya tepat jam 4 aku ditelpon Doni. Aku sengaja minta dibangunin soalnya tahu banget gak akan bisa denger alarm hapeku sendiri, hahaha.

Pagi itu Jogja hujan sodara-sodara. Ibu, bapak, paman, adik dan nenekku sudah berangkat dari rumah setelah sholat Shubuh. Tepat jam 6 mereka udah sampai di kosan aja dong ya, sedangkan aku untung udah selesai didandani sama mbak Puput. Aku lari-lari menyongsong Fahmi yang belum mandi. Sementara aku make topi dan toga, Fahmi dimandiin di kosan. Setelah itu aku dianterin pake mobil, aku minta diturunin di depan kampus dan lari-lari menerjang gerimis yang menghadang. Gagal anggun banget deh hari itu, udah didandanin dan pake kebaya wedges begitu rupa, tetap aja lari-lari cincing rok segala, hahaha.

Sesampainya di GSP udah banyak yang kumpul, tapi untung karena hujan jadi dikasih kelonggaran. Aku masih bisa absen dan celingak-celinguk nyari teman-teman seangkatan sejurusan. Hujannya sempat tambah deres waktu kita mulai disuruh baris perfakultas buat masuk ke dalam gedung. Aku sempat liat mamah sama pamanku di barisan para orang tua dan pendamping wisuda yang hendak masuk ke dalam gedung juga.

Ternyata fakultasku dipanggil urutan akhir gitu, jadilah aku dan beberapa wisudawan wisudawati lain tidur dulu, hahaha. Saat kita di dalam gedung, sempat hujan deres lagi. Benar-benar berkah yaa…
Di dalam gedung selama acara tuh aku masih bisa smsan dengan lancer jaya, jadi gak bosen-bosen banget juga. Eh begitu acara selesai, aku lost contact deh sama semuanya… Keluar gedung aku linglung sapa yang harus aku cari, jadi aku duduk cantik di deket pos satpam deket perpus. Ternyata anak-anak kos udah pada nungguin di depan Bank Mandiri.

Setelah foto-foto cantik, aku lari ke depan gedung Hardjosoemantri dimana mobil rombongan keluargaku parkir disitu. Karena mobilnya gak bisa keluar, jadi aku cuma ngajak Ibu, Fahmi sama Nenekku buat acara di fakultas dan ketemu teman-teman kos lagi. Aku juga ketemu Dena disana. Ada Luki sama Ocha juga, tapi mereka buru-buru jadi langsung pulang, kita gak sempet foto-foto dulu, huhuhu. Aku juga gak sempet foto sama Aul, temen KKN-ku, tapi si Aul udah bahagia bisa foto sepuasnya sama Fahmi (-_-")

Iya, bintang hari itu emang  Fahmi, bukan aku. Dia ngeksis abis deh ikut semua sesi foto dan SKSD sama mbak-mbak, hahaha. Dia seneng juga bisa naik alat berat yang ada di depan kosan, soalnya lagi ada proyek Sungai Samirono gitu. Setelah ngangkutin barang-barang yang mau dibawa pulang, kita pulang dengan senang walaupun lagi-lagi Jogja diguyur hujan. Tak lupa aku mampir ke tempat Unin buat ngasih kado wisuda yang tertunda. Iya gimana gak tertunda, dia wisuda Mei 2013 baru aku kasih November, hihihi… Maaf ya Mam… (^.^)v

Setelah itu kami mampir Kartasura dulu nganterin mbak Puput ke rumahnya sekalian aku sama nenek nebeng sholat Ashar. Dan lagi-lagi Fahmi eksis abis. Dia mainan sama Kris, kucingnya mbak Puput yang gendut. Kris digendong Fahmi mau dibawa pulang. Sampai di deket mobil, si Kris berontak dan nyakar tangannya Fahmi, untung Fahmi gak nangis, hohoho..

Segimana-gimananya wisuda, walaupun awalnya aku sangat amat malas dan gak menaruh minat, tetep aja asyik buat dijalani. Soalnya itu moment seumur hidup sekali, yang gak bisa diulang. Daripada merusaknya dengan mood yang jelek, emang lebih baik menikmatinya sembari melihat senyum lega dan bahagia orang tua dimana kita yang jadi alasannya. Rasanya ikut lega juga. 

P.S. Thanks a lot buat anak-anak bu Misbah di H-39, especially for mbak Puput. Make up nya bagus lho, kalau mau liat segimana itik buruk rupa ini menjelma jadi angsa, intip  foto-foto di Facebook yaa.. Ga diposting disini biar ga berat loadingnya padahal males upload lagi :p
 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS