Pages

Pengemis yang Menjijikan di Solo

Minggu, 28 September 2008

Ini adalah pengalaman paling buruk ketika aku pertama kali pulang kampung ke Solo. Sabtu sore (27/ 9), aku dan teman-teman akrab SMA-ku janjian buka bersama di Bestik Harjo, salah satu warung kaki lima di Jalan DR. Radjiman, tepatnya barat Matahari Singosaren, sebelum bangjo Pasar Kembang. Aku, Tias, Visca, Eka, Dita, dan Paulina sengaja memesan menu bestik yang berbeda.

Kami menyantap menu masing-masing sambil ngobrol ngalor-ngidul, menceritakan habitat baru masing-masing. Aku sering berteriak Roaming! Roaming!” kalau Tias dan Eka membicarakan orang-orang atau hal-hal yang tidak ku tahu, maklum mereka satu jurusan, satu kampus, namun beda kelas di Fakultas Ekonomi UNS. Dita asyik bercerita tentang kuliahnya di Jurusan Sastra Inggris UNS. Paulina yang sekarang kuliah di Jurusan Akuntansi Satya Wacana Salatiga pun tak ketinggalan bertukar pengalaman. Hanya Visca yang tidak bercerita tentang dunia kampus, karena dia memang belum kuliah, melainkan menjadi guru di salah satu TK Kanisius dan di sebuah lembaga bimbingan belajar bahasa Inggris bernama English Lover di daerah Solo bagian timur. Tetapi tahun depan ia akan mencoba mengikuti SNMPTN, sekarang ia baru menabung untuk biaya kuliahnya tahun depan. Aku salut dengan semangat sahabatku yang satu ini, dia tak pernah menyerah walaupun beban hidupnya begitu berat.

Disela-sela obrolan kami ada saja pengemis yang menghampiri. Pertama, ibu dan dua orang anaknya yang masih kecil. Jelas saja kami memberi mereka uang receh, karena kami tidak tega dengan keadaan mereka yang menyedihkan itu. Kedua, seorang bapak tua berbadan bungkuk. Kami juga memberi recehan padanya masih dengan alasan yang sama, tidak tega. Ketiga, seorang perempuan tua dengan baju yang sangat kumal dan mungkin sudah bertahun-tahun tidak mandi, sampai kukira dia orang gila. Karena uang receh kami sudah habis maka kami tidak memberinya, tetapi dia masih berdiri dan meludah di dekat kami. Awalnya aku tidak ngeh dan mengiranya hanya batuk biasa, lama-kelamaan kok dia sengaja meludah di dekat sandal Paulina. Lalu aku menyingkirkan sandal itu sebelum benar-benar terkena air ludah si pengemis. Tiba-tiba si pengemis yang sangat menjijikkan itu sengaja menadahi air ludahnya dan dilempar ke arahku! Gila! Benar-benar gila! Bisa dibayangkan kan betapa menjijikkannya? Untung saja tidak kena! Uff… It was really disgusting!!!

Setelah itu kami buru-buru membayar pesanan kami dan memutuskan pindah tempat ke Matahari Singosaren yang kami anggap lebih higenis dan lebih aman. Namun, aku sempat bertanya ke tukang parkir yang kebetulan menjaga motor-motor kami tentang pengemis yang meludahi jika tidak diberi uang, dan dia langsung melaporkan complainku ke pemilik warung. Aku benar-benar kapok makan di kaki lima yang rame seperti itu! Mending ke tempat Mbah Ribut, angkringan favorit anak-anak Smaga. Atau ke mall atau restoran sekalian!

Adakah fenomena seperti ini di tempat kamu? Please share with me…!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentator tolong tinggalin nama ya..! Makasih :)

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS