Pages

Fatikong & Skripsyong (Part 5)

Kamis, 28 November 2013

Yes! Saat yang dinanti akhirnya datang juga. Hari besar bernama pendadaran. Di jadwal aku mendapat jatah pendadaran hari Kamis tanggal 19 September 2013, namun ternyata diundur jadi hari Senin tanggal 23 September 2013. Persiapan yang tidak banyak karena saat itu keluargaku sedang mendapat musibah berupa bapakku kecelakaan pada hari jumat tanggal 14. Jadi jangankan mempelajari apa yang sudah aku tulis di skripsiku dan membuat file presentasi, menyalakan laptop saja aku tidak sempat. Waktu dan pikiran kami sekeluarga tersita untuk mengurusi rumah karena ibuku harus merawat bapak di rumah sakit. Untung saat itu ada mamah budeku yang jauh-jauh berkunjung dari Papua, jadi aku tidak sendirian mengurusi ketiga adikku di rumah.

Aku baru bisa mempersiapkan diri untuk pendadaran sekitar H-5 atau H-4. Aku membuat powerpoint presentasi dan berkonsultasi pada dua temanku, Ontin dan Doni. Aku sampai menginap di rumah Ontin demi menyelesaikan file presentasi dan latihan pendadaran. Setelah pulang dari rumah Ontin pun aku harus latihan pendadaran part 2 bersama Doni. Bersyukurnya aku punya banyak teman yang baik dan tulus membantuku untuk menyelesaikan tugas besar ini.

Tibalah saatnya aku berbaju putih hitam ke kampus. Meminjam laptop Ontin untuk presentasi karena laptopku sudah bocor batreinya, takut di dalam ruangan tidak disediakan colokan. Hari itu ada Ontin, mbak Puput, Doni, Unin, Ocha, Yungki, Aul, dan Acid. Kabarnya Luki sedang ada acara sehingga berhalangan hadir di hari besarku. Lulu yang sudah bekerja di Jakarta juga mengirimkan semangatnya untukku menghadapi hari itu. Bagai ibu peri, Ocha membawakan macaroni schotel untukku dan mbak Puput. Tau aja aku laper banget habis sidang, hehehe…

Alhamdulillah waktu sidang aku dibantu dosbingku mempertahankan skripsi di depan para penguji. Aku sempat melongo waktu dosbing dan salah satu penguji bersitegang sendiri, hihihi… Ternyata dibalik kegalakannya, dosbingku menyimpan hati yang baik dan mau membantu anak bimbingannya ketika dibantai di ruang siang. Thank you, daddy! *sungkem*

Lengkaplah kebahagiaanku hari itu karena dinyatakan lulus sebagai sarjana setelah tepat 5 tahun menyandang gelar mahasiswa S1. Terima kasih ya Allah, terima kasih mamah dan keluargaku tercinta, terima kasih teman-temanku tersayang, terima kasih dosbing dan para pegawai perusahaan plat merah, terima kasih semuanya...! Berkat doa, bantuan dan dukungan dari kalian akhirnya aku bisa berhasil menyelesaikan tugas besar ini. Alhamdulillahirrobbil’alamiin… :')

Fatikong & Skripsyong (Part 4)

Eh, baru aja nyalain ac (iya kosannya mahal ada ac-nya, soalnya kamarnya tinggal yang itu. Worth it lah sama harganya, fasilitasnya oke, selain ac ada tv kabel sama kamar mandi dalam juga lho!)dan mau gegoleran karena barusan jalan kaki, aku dapet telpon disuruh ke kantor lagi saat itu juga buat wawancara. Akhirnya aku wawancara sampai sore menjelang jam pulang kantor. Pulangnya mampir beli siomay di pojokan SMP 13. Kaget begitu tau harganya 12 ribu buat 6 biji, tapi beneran kenyang banget sampai gak perlu makan malam.

Hari kedua aku nunggu kedatangan Luki buat ke lokasi wawancara yang ada di Gambir, soalnya beneran buat jalan dan arah. Ternyata narasumbernya ganteng cyin! Kayak J Flow yang di Provocative Proactive Metro TV itu lho, acara sama Raditya Dika. Versi lebih bersih dan oke lho! Melting eke cyiiiin~ Sesudah itu kami ke Stasiun Pasar Senen, nyari tiket pulang. Udah laper banget mau makan, udah masuk ke warung udah duduk manis tinggal pesen, eh langsung ngacir tunggang langgang begitu denger bapak-bapak yang baru mau bayar. Masa Cuma makan soto sama es teh 2 porsi aja habisnya 40 ribu?! Akhirnya kami menahan lapar dan menuntaskannya di D’Cost Seafood Blok M. 

Sudah kenyang, kami jalan kaki ke kosan. Naruh barang, istirahat bentar terus jalan kaki lagi ke terminal blok M buat nyegat Kopaja. Kali ini kami mau ketemu Tias, teman SMA-ku yang kerja di Jaksel. Kita janjian ketemuan di Penville. Sampai disini kita makan lagi, mehehehe… Pulang sudah lumayan malam tapi masih rame. Sampai kosan jam setengah 11 malam. Untung dibawain kunci sama ibu kosnya, jadi gak perlu ngebangunin penghuni rumah.

Hari terakhir di ibu kota kami nyobain Kwetiaw Aciap. Konon disini beda sama yang lain, lebih enak gitu. Dan memang faktanya seperti itu. Kata temanku sih di Jakarta susah nyari kwetiaw yang halal. Tapi di rumah makan ini udah ada cap halalnya kok, jadi ya tinggal bismillah aja, hohoho…  terus kami lanjut ke Blok M Square nyari bekal buat makan di kereta. Pas udah siap mau pulang eh malah hujan deras. Nyegat taksi gak ada yang mau berhenti. Akhirnya kami naik bajaj sampai ke Blok M. Di sana, sama abang bajajnya dioperin ke taksi. Karena hujan dan jam orang pulang kerja  yang otomatis macet banget, pengemudinya ngasih tariff flat 70 ribu. Karena tariff biasa dari blok M ke Pasar Senen sekitar 50 ribu, yasudah kami manut aja. Yang penting gak ketinggalan kereta.

Alhamdulillah satu jam kami bisa nyampe di stasiun. Alhamdulillah gak ketinggalan kereta. Pintu masuk peronnya aja belum dibuka. Lumayan nunggu sampai hamper maghrib baru bisa masuk ke peron. Sebelum kereta siap, aku sholat dulu di mushola, sekalian dijama’ sholat isya. Perjalanan kami lancer sampai stasiun Tugu Jogja. Luki sudah dijemput duluan, jadi aku nunggu di peron sendirian. Capeknya gak sia-sia deh, worth it sama pengalaman ke ibu kota. Perjuangan skripsi gak sampai disini. Aku masih harus mentranskrip hasil wawancara dari audio ke bentuk word biar lebih mudah diolah jadi data skripsi. Sampai hampir budeg nih telinga tapi untungnya selesai juga.

Saatnya menuliskan hasil penelitian ke dalam draft skripsi. Seharusnya tanggal 20 Agustus aku sudah mengumpulkan ke jurusan. Tapi dasar akunya yang lemot, baru selesai tanggal 27. Sebagai imbasnya, aku dimarahi habis-habisan sama dosen pembimbing. Meweklah aku karena impian wisuda November sirna sudah. Saat disuruh revisi, aku menyelesaikan dalam dua hari. Waktu tercepat revisi untukku yang biasanya makan waktu 2 minggu. Tetap saja dosbingku kekeuh tidak mengizinkanku ikut pendadaran periode itu. Nangis darahlah lagi walaupun itu sudah terprediksi. Aku Cuma bisa berdoa dan pasrah agar Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang memberiku keajaiban.

Benar saja, saat mataku sudah bengkak dan sembab karena menangis berjam-jam, dosbingku tetiba sms mengizinkanku ikut pendadaran periode itu. It’s really a miracle! Setelah menyelesaikan syarat-syarat di jurusan, aku langsung ngacir pulang. Tak sabar rasanya untuk segera memberitahukan kabar gembira ini ke mamahku tercinta.

To be continue~

Fatikong & Skripsyong (Part 3)

Saat itu Jakarta sedang dilanda bencana banjir yang cukup parah pada awal tahun 2013. Sepupuku yang bekerja di ibu kota tidak merekomendasikanku untuk datang pada saat itu. Sebagai alternatifnya, aku terus-menerus menjalin komunikasi dengan pihak perusahaan provider melalui email agar mereka tidak lupa padaku. Begitu bencana banjir mulai surut dan Jakarta normal kembali, mereka memberiku kepastian bahwa sayang sekali mereka tidak dapat membantu untuk penelitianku. Cukup sudah, runtuh untuk kedua kalinya pengharapanku…

Walaupun aku sudah pernah mengalami penolakan yang sama, namun tetap saja aku down dibuatnya. Aku sampai benar-benar tidak tahu harus bagaimana lagi menyelesaikan skripsiku. Sampai suatu saat, temanku Doni memberi saran untuk mencoba ke suatu BUMN monopoli karena alumni jurusan kami ada yang bekerja disana, mungkin bersedia membantuku. Aku merasa tak sanggup lagi menerima penolakan waktu itu. Namun temanku meyakinkanku untuk mencobanya terlebih dahulu.

Dengan semangat juang yang dikobarkan kembali, dan muka yang dipertebal beberapa centi, aku memberanikan diri untuk menge-add akun Facebook kakak angkatan yang sudah sangat senior itu. Alhamdulillah bapaknya baik dan memberitahuku apa saja syarat yang harus diajukan untuk melakukan penelitian skripsi. Karena bapaknya sudah punya jabatan tinggi disitu, aku dioper ke anak buahnya yang gak kalah baik walaupun sering lama membalas pesanku. Setelah proposalku diterima dan diperbolehkan melakukan penelitian disana, aku lebih intens berhubungan dengan divisi SDM yang memang bertugas membantu anak-anak bawang yang sedang skripsi seperti aku.

Tibalah saatnya aku harus melakukan wawancara dan observasi langsung ke TKP. Aku sempet galau tingkat S2 waktu tak ada teman yang bisa menemaniku. Bisa hilang ditelan kerasnya hidup ibu kota kalau aku sendirian. Akhirnya Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang mengirimkan seorang malaikat bernama Patrisia Luki untuk menemaniku ke Jakarta. Alhamdulillah… Makasih Luki…! *peluk cium*  

Aku dan Luki di Jakarta selama 4 hari. Berangkat hari Senin pagi, tanggal 27 Mei 2013, pulang Kamis malam, sampai di Jogja lagi Jumat shubuh 31 Mei 2013. Kami menginap di sebuah kos yang bisa disewa harian di daerah Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Tepatnya di belakang Wisma PMI di Jalan Wijaya. Kosan ini lumayan dekat dengan kantor pusat tempatku mencari data skripsi, bisa ditempuh dengan 15 menit jalan kaki. Di dekat kos tidak ada jalur busway ato Kopaja. Yang ada taksi dan bajaj yang banyak mangkal di dekat taman yang aku lupa namanya. Jadi kalau mau kemana-mana naik busway atau Kopaja, kami harus jalan kaki sampai ke Terminal Blok M, kira-kira setengah jam dari kos. Sebenarnya bisa naik bajaj, tapi kami memegang teguh prinsip anak kos, mending buat makan, mehehehehe…

Hari pertama kami ke kantor pusat di Trunojoyo Square. Setelah melengkapi wawancara buat Bab 3 sama mas Wawan, yang ternyata alumni jurusan kami juga, aku diajak bertemu pak Bambang dan para alumni lainnya, sedangkan Luki harus pulang duluan karena dia ada urusan ke SMA Sanur. Selesai berkenalan dengan para alumni yang memotivasi bahwa mereka juga lulusnya lama, aku diantar ke divisi SDM untuk melanjutkan wawancara. Sebenarnya ada satu divisi lagi tetapi narasumber yang hendak kuwawancara ada rapat, jadilah diundur jadi hari berikutnya. Yasudah, aku pulang dulu aja ke kosan daripada hilang di jalan, mehehehe..

To be continue~

Fatikong & Skripsyong (Part 2)

Keesokan harinya, aku langsung  ke kantor pusat di jalan Japati. Sendirian. Sama teh Puput Cuma di anterin sampe nunggu angkot yang tepat dan dipesenin ke bapak sopirnya dimana aku harus turun. Setelah nanya ke satpam, nuker kartu identitas ke lobi, baru aku bisa ke divisi tujuan. Ternyata surat dan proposalku memang sudah sampai. Tetapi mereka bingung bagaimana mau membantuku karena job desk mereka tidak sesuai dengan proposalku. Mereka bilang yang job desk nya sesuai itu kantornya di Jakarta, dan itu da terpusat, melainkan terbagi menurut produk masing-masing. Nah lho, bingung dan lemeslah aku. Di benakku tak ada bayangan perusahaan lain.

Setelah selesai, aku ditemani teh Puput dan Cici ke Pasar Baru. Itu tempat memang jadi tempat favorit dan wajib dikunjungi kalau aku ke Bandung. Lumayanlah, bisa jadi mood booster, mihihihi… Setelah berbelanja sampai lapar, kita makan di rumah makan apa ya, lupa namanya. Pokoknya ada di perempatan dekat Kalapa. Terus kita juga numpang sholat sama nyari tiket kereta buat aku pulang di Alfamart dekat situ. Aku putusin naik kereta ekonomi, karena kupikir hasil ke Bandung buat skripsiku nihil dan aku nggak pantes buat senang-senang dulu.

Pagi bener aku udah mandi dan siap-siap berangkat ke Stasiun Kiara Condong. Untung ada Cici yang baik hati mau nganterin di pagi buta yang dingin. Ya gimana gak dingin? Menerobos jalanan Bandung jam 5 pagi bo! Udah gitu sesampainya di stasiun eh loket buat penukaran tiketnya belom buka. Makasih banget buat Cici yang mau nemenin sampai aku boleh masuk peron. Jadi aku ga cengoh nunggu sendirian selama satu jam.

Aku bahagia perjalanan pagiku disambut mentari bersinar. Namun ternyata kebahagiaanku tak bertahan lama ketika semakin banyak orang dan pedagang asongan yang memenuhi kereta. Sebenarnya aku sama sekali nggak mempermasalahkan keberadaan para pedagang asongan, karena aku tahu mereka pun sedang berjuang mencari sesuap nasi demi kehidupan keluarga. Yang bikin aku gak betah waktu itu adalah hawa panas yang bercampur keringat orang-orang di sekelilingku. Iyuh banget pokoknya. Mungkin kalau aku tipe mabuk darat, isi perutku sudah keluar semua. Syukurlah aku cuma eneg aja. Pinginnya cepet turun dan berasa gak nyampe-nyampe ke Lempuyangan. 

Setelah ke Bandung, aku sempat merasa down dan tidak tahu lagi harus dibawa kemana skripsiku yang masih seujung kuku. Namun, dorongan semangat dari keluarga dan sahabat terdekat membuatku bangkit dan tak patah arang. Kemudian aku bertanya ke dosen pembimbingku apa aku boleh ganti obyek. Alhamdulillah diperbolehkan asal masalah yang akan diteliti masih sama. Aku kembali brain storming untuk menemukan sasaran baru dan mempertahankan judul skripsiku. Ada pilihan untuk berganti tema, namun aku sudah membuang banyak waktu dan buntu untuk memikirkan hal baru. Yang ada di benakku waktu itu adalah bagaimana menemukan perusahaan yang mau aku teliti.

Muncullah ide meneliti suatu perusahaan provider telekomunikasi yang baru berkembang. Aku pikir itu menarik, karena dia sebagai anak baru sudah mampu bersaing dengan para pendahulunya di bidang itu. Sama seperti sebelumnya, aku memang tidak punya kenalan yang bekerja di situ. Akhirnya aku lagi-lagi harus berjibaku mencari kontak yang bisa dihubungi dan syukurlah mereka menanggapi. Aku merasa mendapat angin surga saat itu. Namun, saat aku sudah mengirim proposalku, mereka tak kunjung memberi tanggapan lagi seperti sebelumnya. Aku mulai merasa mereka member harapan palsu padaku. Namun, bukan aku kalau menyerah sampai disitu. Aku sempat akan nekat datang ke kantornya yang ada di Jakarta Selatan demi menanyakan konfirmasi penelitianku, dapatkah aku mencari data skripsi disitu?

To be continue~

Fatikong & Skripsyong (Part 1)


Alhamdulillah wa syukurillah akhirnya aku bisa terbebas dari yang namanya skripsyong odong-odong. Sumpe, yang namanya skripsi itu ngebebanin banget. Mau di-skip ga bisa, di-delete juga ga bisa. Skripsi itu ibarat tiket yang mutlak harus ada buat masuk ke level kehidupan selanjutnya. Aku pribadi sih gak bisa ngelamar kerja sebelum skripsi selesai. Soalnya kalau pun mau kerja dulu, juga suatu saat pasti harus menyelesaikan satu syarat itu kan? Jadi mending sekalian dikerjain sekarang aja. Mumpung waktunya juga belum telat-telat amat.

And here we go!

Aku baru memikirkan skripsi setelah KKN selesai, sekitar setelah lebaran 2011. Waktu itu aku masih ngulang 1 mata kuliah dasar sambil nyari ide skripsi. Di akhir semester setelah UAS, aku mengumpulkan proposal skripsi. Sistem di jurusanku mengharuskan mahasiswa ngumpulin proposal dulu. Minimal kalau udah ada 10 biji, baru bisa deh dibahas di rapat jurusan. Setelah itu baru deh keluar pengumuman siapa yang judul skripsinya diterima dan siapa saja yang ditolak.

Saat itu adalah masa-masa penantian yang panjang dan menggalaukan. Bayangin aja, aku ngumpulin dari Desember 2011 sampai bulan Maret 2012 baru ada pengumuman. Mana waktu itu saking dag dig dugnya aku gak kepikiran buat manfaatin waktu dengan magang atau apa gitu. Takutnya sewaktu-waktu judul diterima dan pengennya segera tancap gas ngerjain sampai selesai. Benar-benar tekad yang bulat mahasiswa tingkat akhir. Tapi sayang, bego banget buat ga manfaatin kesempatan yang ada *mengutuk diri sendiri*.

Tapi… gak cuma aku yang ditolak judulnya waktu itu. Ada segerbong teman seperjuangan yang mengalami nasib serupa. Beberapa dari mereka lebih gigih untuk segera bangkit dan sisanya butuh waktu yang lebih banyak, seperti aku. Buat yang rajin, bulan April sudah ada rapat jurusan lagi buat ngelolosin judul-judul yang sempat tertunda acc-nya. Karena penolakan judulku terlalu fatal, masa dibilang “cuma kayak tugas akhirnya anak D3”, pedih banget, huhuhu.. Aku baru bisa masukin lagi bulan Mei, tepatnya tanggal 25. 

Alhamdulillah wa syukurillah banget ini, pokoknya aku harus pertahanin judul yang udah ditangan ini sampai titik darah penghabisan, MERDEKA! Pertama kali aku ambil obyek penelitian itu sebuah BUMN di bidang telekomunikasi. Karena aku pikir kantor pusatnya di Bandung, jadi kalau aku butuh ambil data aku bisa nebeng di kosan Teh Puput. Bandung bagiku lebih familiar dan tidak semenyeramkan ibu kota kalau harus sendirian.

Kenyataannya apa saudara-saudara? Penelitian tanpa koneksi itu tak semudah membalikkan telapak tangan. Berbekal proposal yang telah aku kirim seselesainya bab 1 ku, aku hanya bisa lagi-lagi temangu  menunggu membuang waktu. Aku nggak tahu harus menghubungi nomer telepon yang mana karena sakin banyaknya nomer telepon perusahaan tersebut yang beredar di internet. Sampai aku menemukan titik terang, ada satu nomer telepon yang memberiku sedikit kejelasan. Intinya kalau penelitian atau magang biasanya mahasiswa datang langsung ke kantor pusat yang di dekat Gedung Sate itu.

Dengan bekal tabungan yang ada, berangkatlah aku seorang diri ke Kota Kembang. Di senja itu aku disambut oleh hujan dan seperti biasa dijemput Teh Puput di stasiun. Ah, betapa rindunya aku sama kota yang satu itu…

To be continue~ (biar kayak sinetron gitu)
 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS