Pages

Fatikong & Skripsyong (Part 2)

Kamis, 28 November 2013

Keesokan harinya, aku langsung  ke kantor pusat di jalan Japati. Sendirian. Sama teh Puput Cuma di anterin sampe nunggu angkot yang tepat dan dipesenin ke bapak sopirnya dimana aku harus turun. Setelah nanya ke satpam, nuker kartu identitas ke lobi, baru aku bisa ke divisi tujuan. Ternyata surat dan proposalku memang sudah sampai. Tetapi mereka bingung bagaimana mau membantuku karena job desk mereka tidak sesuai dengan proposalku. Mereka bilang yang job desk nya sesuai itu kantornya di Jakarta, dan itu da terpusat, melainkan terbagi menurut produk masing-masing. Nah lho, bingung dan lemeslah aku. Di benakku tak ada bayangan perusahaan lain.

Setelah selesai, aku ditemani teh Puput dan Cici ke Pasar Baru. Itu tempat memang jadi tempat favorit dan wajib dikunjungi kalau aku ke Bandung. Lumayanlah, bisa jadi mood booster, mihihihi… Setelah berbelanja sampai lapar, kita makan di rumah makan apa ya, lupa namanya. Pokoknya ada di perempatan dekat Kalapa. Terus kita juga numpang sholat sama nyari tiket kereta buat aku pulang di Alfamart dekat situ. Aku putusin naik kereta ekonomi, karena kupikir hasil ke Bandung buat skripsiku nihil dan aku nggak pantes buat senang-senang dulu.

Pagi bener aku udah mandi dan siap-siap berangkat ke Stasiun Kiara Condong. Untung ada Cici yang baik hati mau nganterin di pagi buta yang dingin. Ya gimana gak dingin? Menerobos jalanan Bandung jam 5 pagi bo! Udah gitu sesampainya di stasiun eh loket buat penukaran tiketnya belom buka. Makasih banget buat Cici yang mau nemenin sampai aku boleh masuk peron. Jadi aku ga cengoh nunggu sendirian selama satu jam.

Aku bahagia perjalanan pagiku disambut mentari bersinar. Namun ternyata kebahagiaanku tak bertahan lama ketika semakin banyak orang dan pedagang asongan yang memenuhi kereta. Sebenarnya aku sama sekali nggak mempermasalahkan keberadaan para pedagang asongan, karena aku tahu mereka pun sedang berjuang mencari sesuap nasi demi kehidupan keluarga. Yang bikin aku gak betah waktu itu adalah hawa panas yang bercampur keringat orang-orang di sekelilingku. Iyuh banget pokoknya. Mungkin kalau aku tipe mabuk darat, isi perutku sudah keluar semua. Syukurlah aku cuma eneg aja. Pinginnya cepet turun dan berasa gak nyampe-nyampe ke Lempuyangan. 

Setelah ke Bandung, aku sempat merasa down dan tidak tahu lagi harus dibawa kemana skripsiku yang masih seujung kuku. Namun, dorongan semangat dari keluarga dan sahabat terdekat membuatku bangkit dan tak patah arang. Kemudian aku bertanya ke dosen pembimbingku apa aku boleh ganti obyek. Alhamdulillah diperbolehkan asal masalah yang akan diteliti masih sama. Aku kembali brain storming untuk menemukan sasaran baru dan mempertahankan judul skripsiku. Ada pilihan untuk berganti tema, namun aku sudah membuang banyak waktu dan buntu untuk memikirkan hal baru. Yang ada di benakku waktu itu adalah bagaimana menemukan perusahaan yang mau aku teliti.

Muncullah ide meneliti suatu perusahaan provider telekomunikasi yang baru berkembang. Aku pikir itu menarik, karena dia sebagai anak baru sudah mampu bersaing dengan para pendahulunya di bidang itu. Sama seperti sebelumnya, aku memang tidak punya kenalan yang bekerja di situ. Akhirnya aku lagi-lagi harus berjibaku mencari kontak yang bisa dihubungi dan syukurlah mereka menanggapi. Aku merasa mendapat angin surga saat itu. Namun, saat aku sudah mengirim proposalku, mereka tak kunjung memberi tanggapan lagi seperti sebelumnya. Aku mulai merasa mereka member harapan palsu padaku. Namun, bukan aku kalau menyerah sampai disitu. Aku sempat akan nekat datang ke kantornya yang ada di Jakarta Selatan demi menanyakan konfirmasi penelitianku, dapatkah aku mencari data skripsi disitu?

To be continue~

Fatikong & Skripsyong (Part 1)


Alhamdulillah wa syukurillah akhirnya aku bisa terbebas dari yang namanya skripsyong odong-odong. Sumpe, yang namanya skripsi itu ngebebanin banget. Mau di-skip ga bisa, di-delete juga ga bisa. Skripsi itu ibarat tiket yang mutlak harus ada buat masuk ke level kehidupan selanjutnya. Aku pribadi sih gak bisa ngelamar kerja sebelum skripsi selesai. Soalnya kalau pun mau kerja dulu, juga suatu saat pasti harus menyelesaikan satu syarat itu kan? Jadi mending sekalian dikerjain sekarang aja. Mumpung waktunya juga belum telat-telat amat.

And here we go!

Aku baru memikirkan skripsi setelah KKN selesai, sekitar setelah lebaran 2011. Waktu itu aku masih ngulang 1 mata kuliah dasar sambil nyari ide skripsi. Di akhir semester setelah UAS, aku mengumpulkan proposal skripsi. Sistem di jurusanku mengharuskan mahasiswa ngumpulin proposal dulu. Minimal kalau udah ada 10 biji, baru bisa deh dibahas di rapat jurusan. Setelah itu baru deh keluar pengumuman siapa yang judul skripsinya diterima dan siapa saja yang ditolak.

Saat itu adalah masa-masa penantian yang panjang dan menggalaukan. Bayangin aja, aku ngumpulin dari Desember 2011 sampai bulan Maret 2012 baru ada pengumuman. Mana waktu itu saking dag dig dugnya aku gak kepikiran buat manfaatin waktu dengan magang atau apa gitu. Takutnya sewaktu-waktu judul diterima dan pengennya segera tancap gas ngerjain sampai selesai. Benar-benar tekad yang bulat mahasiswa tingkat akhir. Tapi sayang, bego banget buat ga manfaatin kesempatan yang ada *mengutuk diri sendiri*.

Tapi… gak cuma aku yang ditolak judulnya waktu itu. Ada segerbong teman seperjuangan yang mengalami nasib serupa. Beberapa dari mereka lebih gigih untuk segera bangkit dan sisanya butuh waktu yang lebih banyak, seperti aku. Buat yang rajin, bulan April sudah ada rapat jurusan lagi buat ngelolosin judul-judul yang sempat tertunda acc-nya. Karena penolakan judulku terlalu fatal, masa dibilang “cuma kayak tugas akhirnya anak D3”, pedih banget, huhuhu.. Aku baru bisa masukin lagi bulan Mei, tepatnya tanggal 25. 

Alhamdulillah wa syukurillah banget ini, pokoknya aku harus pertahanin judul yang udah ditangan ini sampai titik darah penghabisan, MERDEKA! Pertama kali aku ambil obyek penelitian itu sebuah BUMN di bidang telekomunikasi. Karena aku pikir kantor pusatnya di Bandung, jadi kalau aku butuh ambil data aku bisa nebeng di kosan Teh Puput. Bandung bagiku lebih familiar dan tidak semenyeramkan ibu kota kalau harus sendirian.

Kenyataannya apa saudara-saudara? Penelitian tanpa koneksi itu tak semudah membalikkan telapak tangan. Berbekal proposal yang telah aku kirim seselesainya bab 1 ku, aku hanya bisa lagi-lagi temangu  menunggu membuang waktu. Aku nggak tahu harus menghubungi nomer telepon yang mana karena sakin banyaknya nomer telepon perusahaan tersebut yang beredar di internet. Sampai aku menemukan titik terang, ada satu nomer telepon yang memberiku sedikit kejelasan. Intinya kalau penelitian atau magang biasanya mahasiswa datang langsung ke kantor pusat yang di dekat Gedung Sate itu.

Dengan bekal tabungan yang ada, berangkatlah aku seorang diri ke Kota Kembang. Di senja itu aku disambut oleh hujan dan seperti biasa dijemput Teh Puput di stasiun. Ah, betapa rindunya aku sama kota yang satu itu…

To be continue~ (biar kayak sinetron gitu)

Saatnya Membuat SKCK

Minggu, 27 Oktober 2013

Assalamu'alaikuuuum...!
*tiupin debu yang ada di blog*
lama bener ya kaga nongol di mari. Sekalinya nongol, mari kita bahas hal yang agak resmian dikiiit.. Biasalah.. Mahasiswa kalau udah lulus kan bawaannya harus mau cari kerja buat bayar hutang ke orang tua. Aku pun jadi salah satu dari begitu banyak mahasiswa yang fresh from the oven, eh, fresh from the campus, hahaha. Karena pendaftaran CPNS di berbagai kementrian di negara tercinta ini udah pada tutup waktu aku mau sidang kemarin, jadi ya aku nyari kerjanya bukan itu. Tapi ada beberapa perusahaan yang aku lamar ngasih syarat suruh ngumpulin copy SKCK. Dan dimulailah petualangan Fatikong bukan anak kingkong  bikin tuh surat sakti. Here we go!
  1. Pertama, kita harus minta surat pengantar dari Kantor Kepala Desa atau Kantor Kelurahan tempat tinggal kita sesuai KTP. Kalau di desaku ini gak bayar, wallahua'lam deh kalau di tempat kalian, hihihi.
  2. Selanjutnya kita minta cap dan tanda tangan Camat ke Kantor Kecamatan, ini gratis juga. Oh iya, jangan lupa fotokopi KTP sama Kartu Keluarga. Masing-masing selembar aja cukup.
  3. Kemudian kita ke Polsek setempat. Kita minta surat rekomendasi buat bikin SKCK. Kemarin aku dodol banget dan langsung ngacir aja ke Polres, jadi Polres gamau bikinin SKCK, soalnya belum ada surat rekomendasi dari Polsek. Dua kali kerja deh, huhuhu.. Di Polsek sebenarnya juga bisa bikin SKCK, tapi berhubung aku butuhnya SKCK yang dari Polres jadi di sini cuma minta rekomendasi aja. Aku kemarin dimintain foto berwarna ukuran 3x4 dan 4x6 masing-masing selembar sama disuruh bayar 10 ribu rupiah.
  4. Langkah terakhir kita capcus ke Polres. Nanti ada banyak temannya yang sama-sama mau bikin SKCK disini. Rame bener dah pokoknya. Kita kasih aja syarat-syarat yang udah dibawa tadi trus dikasih ke loket. 
  5. Kalau syarat-syaratnya udah lengkap, kita disuruh ke loket selanjutnya buat ngisi form sama ambil sidik jari. Kesepuluh jari tangan siap-siap kotor ya, hahaha. Kita bakal dimintain foto berwarna ukuran 2x3 sebanyak 2 lembar. Karena kemarin fotoku yang ukuran itu cuma tinggal satu, yang satu aku kasih ukuran 3x4 boleh juga kok. Kalau udah selesai, kita dikasih Kartu Identitas Sidik Jari. Disini disuruh bayar 5 ribu rupiah. Oh ya, Kartu Identitas Sidik Jari itu disimpen aja baik-baik di rumah gak usah dibawa kemana-mana biar gak hilang.
  6. Kita balik ke loket awal dan nyerahin semua berkas termasuk bukti pengambilan sidik jari tadi. Tunggu aja sampai petugasnya selesai. Ntar suruh ngecek lagi nama, tanggal lahir, dll udah bener belom, baru petugasnya ngeprint lagi buat ditandatangani yang resmi. Ini bayarnya 10 ribu rupiah.
  7. Kalau udah dapet, kita bisa ke fotokopian terdekat buat nggandain tuh SKCK trus balik lagi ke loket tadi buat minta legalisir. Kemarin aku copy 5 suruh bayar 3 ribu rupiah.
And this is it! SKCK beserta copyannya sudah siap disebar bersama CV buat nyari penghidupan yang mandiri. Oh ya, hampir kelupaan. Jam pelayanan SKCK buka dari Hari Senin sampai Sabtu dengan rincian sebagai berikut:
  • Senin-Kamis 08.30-14.30
  • Jumat 08.00-15.00
  • Sabtu 08.00-11.00
Itu jam pelayanan SKCK di Polres Sukoharjo lho ya, semoga di tempat lain juga sama. Kemarin hari pertama aku nyari  hari Jumat, makanya rame. Mungkin masyarakat ngira cuma buka sampai Jumat, makanya pada berbondong-bondong gitu. Ternyata hari Sabtu sangat sepi saudara-saudara, cuma aku seorang, jadi cepet deh, hehehehe.

Semoga bermanfaat yaa.. Sampai jumpa di postingan berikutnya! Yang belum dapet kerja (sepertiku) semoga lekas dapet tempat kerja yang halal dan terbaik untuk diri kita masing-masing. Amiiin..

Alhamdulillah S.I.P.

Rabu, 25 September 2013

Alhamdulillah wa syukurillah..
Tak ada kata-kata yang lebih indah untuk menggambarkan rasa syukur kepada-Nya. Setelah perjuangan bertahun-tahun, akhirnya aku diizinkan untuk menjalani sidang skripsi pada hari Senin, tanggal 23 September 2013 yang berakhir dengan indah :)

Selama beberapa hari terakhir aku dibantu Ontin dan Doni untuk menyiapkan diri dan mental untuk menghadapi hari besar ini. Ontin sampai mengajakku menginap di rumahnya demi menyelesaikan powerpoint dan latihan tanya jawab presentasi. Rasanya tidak percaya bahwa sudah saatnya aku untuk mempertanggungjawabkan hasil penelitianku di hadapan dosen pembimbing dan penguji.
SIP, mak! :D

Seperti baru kemarin aku berangkat ke Jakarta ditemani Luki untuk wawancara ke perusahaan. Seperti baru kemarin aku menuliskan transkrip hasil wawancara dengan para subyek penelitian. Seperti baru kemarin aku memohon ke dosen pembimbing agar diperbolehkan mengikuti sidang skripsi periode ini walaupun aku tahu aku telat mengumpulkan final draft dari deadline yang telah ditentukan. Seperti baru kemarin roller coaster akademik itu kujalani.

Sekarang aku sudah berhasil menyandang gelar Sarjana Ilmu Politik seperti harapan kedua orang tua serta keluarga besarku. Rasanya lega sekali mendapati fakta bahwa aku bisa melewati semua ini. Terima kasih ya Allah... Terima kasih teman-teman yang selama ini tak pernah lelah untuk membantu dan menyemangatiku.. I love you all!

P.S. Aku ingin menceritakan lika-liku skripsiku selama ini, tapi kayaknya bukan sekarang. Masih ada revisi yang menunggu untuk diselesaikan.

Mie Ongklok (bukan di) Wonosobo

Minggu, 19 Mei 2013

Ceritanya tentang Dieng kan sudah yaa.. Tinggal Mie Ongkloknya yang belom kesampaian.. Akhirnya kapan hari itu, di malam yang dingin dengan guyuran hujan, aku bisa juga nyobain mie ongklok, nggak di daerah asalnya, Wonosobo, tapi malah di Jogja, hehehe..

Waktu itu aku diajak Fita ke Mie Ongklok Bu Renny, depan Gadjah Wong Resto, Gejayan. Sebelum kesana aku laper banget, saking ga kuatnya nahan laper keburu maag, jadinya makan dulu di kosan. Pikirku mie kan gak terlalu ngenyangin ya, hahaha.

Bener aja dong, mie ongkloknya ternyata porsi mini. Porsi cemilan gitu kalau buatku, hehehe. Ya wajar sih, harganya juga murah meriah, 5 ribu rupiah doang. Sama tempe mendoan gede per bijinya 1500. Minumnya teh anget 2 ribuan. Jadi per orang cuma abis 8500. Lumayan terjangkau kan? :D

Penampakan si mie ongklok mini
Jadi mie ongklok ini terdiri dari mie kecil-kecil sama sayuran yang mendominasi yaitu kol ato kobis. Kuahnya lengket gitu, sama ditaburin remahan kacang tanah.. Agak bingung pertama kali melihatnya, mencoba menebak bagaimana rasanya. Ternyata setelah diicip sedikit kuahnya, enak juga. Gak ada yang aneh walaupun kuahnya gak seencer jenis mie yang lain. Bisa ditambah sambel buat para penyuka makanan pedas. Aku nggak tau sih di daerah asalnya porsinya seberapa, yang jelas disini mini, hehehe.. Pas buat teman ngemil di malam hari yang dingin, apalagi waktu turun hujan, karena efek kuah yang kental dan lengket itu kan bikin panasnya mie jadi awet. Yang pada penasaran juga, monggo lho dicoba..! :D
 

Petualangan ke Dieng (Part 3)

Rabu, 15 Mei 2013

Akhirnya kami dicenglu sama si bapak pake satu motor suprafit dan aku di tengah karena kecilnya (-.-"). Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore ketika kami sampai di Kawah Sikidang. Sebelumnya kami sempat dibekali satu tiket masuk terusan buat jaga-jaga kalau ada pemeriksaan. Entah karena efek famous si bapak tadi yang saling menyapa dengan orang-orang yang kami temui sepanjang jalan atau karena hari hampir gelap, tak apa pemeriksaan tiket apapun dan kami bebas masuk ke kawasan kawah, tanpa mengeluarkan sepeser rupiahpun, alhamdulillah ya, hehehehe.

Ada yang menarik di sini, sebelum masuk kawasan wisata Sikidang, kami melewati semacam gapura gede yang terbentuk dari pipa gas raksasa yang konon menjadi sumber energi listrik untuk warga sekitar. 
Keliatan kan betapa imutnya kami dibanding pipa raksasa :D
Ternyata oh ternyata yang namanya Kawah Sikidang itu luas banget, sampe ke atas juga masih ada kawah yang nyemburin belerang. Kami gak bisa ikut orang-orang yang sampai ke atas, udah capek dan terjal banget medannya, udah sore pula. Yang penting udah nampang di kawah yang kayaknya paling gede, hehehe.
Ini dia kawah belerang yang meletup-letup.
Petualangan kami berlanjut ke Kompleks Candi Arjuna. Di sebrang kompleks candi ada Museum Kailasa Dieng yang sayangnya udah tutup. Kami diturunkan disitu sama si bapak guide dadakan tadi, katanya nanti ditunggu di gerbang yang sebelah sono gitu. Sebelum sampai ke kompleks candi, kami melewati bangunan seperti bekas rumah runtuh yang udah gak ada atapnya lagi. Kata bapaknya sih dulu itu tempat budidaya jamur di zaman Orde Baru, yang sekarang bangkrut dan dibiarkan begitu saja. Sayang ya... Padahal lumayan luas lho!

Di kompleks Arjuna berjajar rapi candi-candi dengan nama tokoh pewayangan Jawa. Di sebelahnya ada tanah lapang yang digunakan oleh anak-anak sekitar untuk bermain bola. Selebihnya nyampur sama perkebunan milik orang-orang sekitar gitu. Waktu kami kepo menyusuri setiap jengkalnya, eh ketemu bapak petani yang mau memupuk tanamannya gitu.

Setelah puas jalan-jalan di sepanjang jalan kenangan, beneran dong kami udah ditunggu si bapak di deretan ruko penjualan oleh-oleh khas Dieng. Ada toko baju, makanan kemasan, dan makanan siap santap macam pisang goreng hangat gitu. Di sana kan dingin, jadi banyak yang jualan makanan siap santap buat penghangat badan. Akhirnya pilihan kami jatuh di cemilan kentang goreng macam Chitato sama semacam opak yang belom digoreng gitu. Abis mau beli carica mahal. Di Mirota juga udah banyak. Kentang gorengnya enak lho, gak kebanyakan msg kayak Chitato, hehehe.

Pulangnya kami dianterin si bapak sampe pertigaan tempat kita turun dari bis tadi. Hari udah berganti malam saat kami menaiki bis kecil yang penuh penumpang untuk turun ke kota Wonosobo. Emang bener ya, bisnya masih ada sampe magrib, untung gak keabisan.

Sampai di kota Wonosobo, kami nunggu bis jurusan Semarang yang bumel kayak tadi siang. Kata orang-orang sekitar, bis ini ada 24 jam, lewatnya 2 jam sekali. Kami nunggu dari sebelum adzan isya berkumandang, berjam-jam, tapi bisnya tak kunjung datang. Kami mulai kelaparan dan memutuskan makan malam di warung sebrang jalan. Batal sudah bayangan berendam cantik di bath up penginapan. Tak kesampaian juga pingin ngicip mie ongklok khas daerah sana, huhuhu.

Beberapa tukang ojek menawarkan jasa dengan upah 20 ribu rupiah sampai ke penginapan. Tapi kami menolak karena alasan keselamatan. Kami kan dua gadis manis polos yang tak tau jalan, jangan sampai diapa-apain kan.. Akhirnya kami milih bersabar bersama puluhan calon penumpang lain. Ada seorang bapak baik hati yang bersedia menunjukkan dimana letak penginapan kami nantinya. Karena kami baru pertama kali datang kesana dan benar-benar belum hafal jalan, takut nanti naik bisnya kebablasan.

Dengan kesabaran yang ekstra dan perlindungan dari Raja Semesta, datanglah bis yang ditunggu lewat tengah malam. Itu pun tak langsung berangkat, karena sepertinya bus masih mengganti ban atau apa, mengetem sekitar setengah jam. Di antara penuh sesak penumpang, alhamdulillah kami masih dapat tempat duduk walaupun tak berdampingan. Sepanjang jalan aku berusaha agar tak terpejam. Namun saking lelahnya tetap saja ketiduran. Dengan panik aku selalu menengok ke belakang, dan si bapak yang baik hati tadi mengatakan bahwa perjalanan masih panjang, nanti kalau hampir sampai beliau akan memberitahu kami.

Benarlah, si bapak membangunkan kami saat sudah hampir sampai di tujuan. Bahkan beliau juga yang bilang ke awak bus agar bus berhenti. Sekitar pukul 1 dini hari, kami sampai di penginapan yang sudah sangat sepi. Pintu depan di lobi pun sudah dikunci. Berasa di kosan aja ya pulang kemalaman trus nggak bisa masuk. Untung ada seorang bapak yang terjaga dari tidurnya karena mendengar suara ketukan kami. Untung bapaknya gak kaya bapak kosan ya yang nanya kami dari mana, tapi ya agak gimana gitu, dua gadis ingusan pulang larut malam. :'(

Saking malamnya, kami nggak berani mandi, keburu capek juga pingin buruan tidur. Surga rasanya liat kasur setelah hampir semalaman berdiri di trotoar nunggu bis yang tak kunjung datang. Paginya kami agak malas-malasan, gantian berendam trus sarapan di restoran depan penginapan, lumayan vocuhernya include breakfast, hohoho.

Setelah itu baru keliling dan foto-foto di sekitar penginapan. Asik juga ternyata, penginapannya diapit pemandangan gunung Sumbing di depan dan Gunung Sindoro di belakang (semoga gak kebalik ya ingatanku, hehe). Ini aku kasih liat yang pingin ngintip keindahannya :D


Gunung Sindoro

Gunung Sumbing

Sayonara... Waktunya pulang... Kami tinggal naik bis dari depan penginapan, bayar 10 ribu, sampai Temanggung dioper ke bis yang jurusan Magelang. Sampai terminal Magelang naik bis jurusan Semarang-Jogja. Sampailah di Terminal Jombor dengan selamat. Kami berdua berpisah disana. Aku lanjut naik Transjogja ke kos, Lulu naik motor pulang kembali ke utara.

Benar-benar unforgettable moment dah, apalagi bagian nunggu bis yang sampe tengah malam itu. Nantikan cerita jalan-jalan cantik kami berikutnya ya! Dadah...! :D

Petualangan ke Dieng (Part 2)

Dari pertigaan kami turun tadi ke lokasi wisata kan masih agak jauh, sebenarnya ada banyak tukang ojek yang nawarin jasa ke kami. Dasar ogi, kami nanya sama yang jual makan juga katanya jalan kaki gak jauh. Jadilah kami milih jalan kaki setelah kita sholat di masjid deket situ. Masjidnya bersih dan bagus, airnya sedingin air es, bbbrrr...


Sepanjang kami jalan, berasa jauh banget gak nyampe-nyampe, gak muncul-muncul itu loket ato papan petunjuk wisata ato apapun. Berasa ngiri banget sama wisatawan yang pada boncengan pake motor, mereka udah pada ngilang dari pandangan aja gitu sekejap mata. Eh, tetiba ada mobil pick up nglaksonin. Kami odong kan ya, gak ngeh itu kode nawarin tumpangan ato apa yaudah cuek aja. Berikutnya ada mobil kijang dengan warna jingga ngejreng nglakson trus berhenti di depan kami. Berisi bapak-bapak dengan anak yang sedang tidur di jok belakang. Kami ditanyain mau kemana, ya kami jawab aja mau ke tempat wisata Dieng.

Taunya si bapak ngasih tebengan. Kami nurut aja, berdua duduk di depan semua, kecil-kecil ini gak papa lah ya, hahaha. Sampai di depan gerbang wisata telaga warna, orang-orang yang jaga di depan pada manggil si bapak dengan sebutan pak Lurah. Nah lho, kita bingung sendiri. Sama si bapak, kami disuruh langsung masuk aja tanpa beli tiket, alhamdulillah, emang rejeki gak kemana ya, hahaha. Jadilah kami cuma bilang makasih sambil cengar-cengir imut ke pak Lurah yang udah gabung sama bapak-bapak di depan tadi.

Pertama, kami langsung ke Telaga Warna. Ini danau warna warni gitu, airnya ada yang warna hijau, biru, tosca, bagus deh pokoknya. Ini dia penampakannya!

Agak rame di telaganya, kami milih jalan terus menyusuri jalan setapak yang entah kemana. Ternyata berujung di sisi lain si telaga itu juga, bagian yang butek dan bau karena banyak kotoran kelelawarnya. Pas kami disitu, ada motor yang lewat di pinggir telaga dong ya. Berasa motor off road kali ya, hahaha. Sepertinya disitu ada jalan penghubung antar desa gitu. Buktinya ada motor yang lewat situ, hehehe. *sotoy abis*

Udah tau disitu ada semacam pantai bau kelelawar, kami jalan balik ke titik semula, terus ngikutin jalan sepetak yang naik menuju Dieng Plateu Theater.  Kami gak tau sih itu apaan, dari namanya mirip bioskop, tapi masa iya di perbukitan ada bioskop, hahaha. Naiknya lumayan cing, kami sempet berhenti sebentar-sebentar gitu buat minum dan foto-foto.
Sesampainya di atas, kami disambut oleh PKL yang menawarkan dagangan kayak kentang goreng dan beragam syal penghalau hawa dingin gitu.

Bener aja dong ya, di situ ada bangunan gede buat gedung bioskopnya. Kita cukup bayar 4 ribu buat nonton semacam video company profile-nya Pegunungan Dieng yang berdurasi sekitar 20 menit. Anginnya kenceng dan dingin banget, bo! Di seberang Dieng Plateu Theater ada pembangkit energi milik PT Geo Dipa Energi.

Nah, keluar dari sini kami bingung mau kemana lagi. Hari udah sore. Gak tau juga kesana kemari naik apa, soalnya gak ada kendaraan umum yang lewat situ. Maka bertanyalah kami pada bapak-bapak penjaga tiket bioskopnya. Dan entah mungkin muka kami memelas ato gimana, bapaknya malah nawarin buat nganterin kami keliling objek wisata Dieng yang lainnya, yaitu kompleks Candi Arjuna dan Kawah Sikidang. Kami sih oke-oke aja tak lupa bismillah dalam hati biar gak diculik, hihihi. 

Tapi sebelumnya kami mau keliling dulu, ada bagian yang belum terjelajah tadi. Oya, si bapak petugas ngajakin kami naik ke atas tebing. Dari sana kami bisa lihat bagusnya pemandangan Telaga Warna dan Telaga Pengilon dari atas. Bagus banget deh!

Di kompleks itu ada goa-goa kecil, namanya Goa Semar, Goa Pengantin, Goa Jaran. Goanya gak bisa dimasukin orang, wujudnya cuma kayak reruntuhan batuan gitu soalnya. Setelah puas ngeliatin goa, akhirnya kami menuju pintu gerbang wisata Telaga Warna. Eh, si bapak tadi udah stand by aja, tinggal dikodein aja

Petualangan ke Dieng (Part 1)

Selasa, 14 Mei 2013

Hello world...!

Lama banget ya aku nggak update. Kemana? Ada deh.. | Udah lulus? Belom.. | Udah punya pacar ya sekarang? Belom jugaa..! | *Nangis di pojokan*

Satu-satunya alasan adalah males. Yup! Penyakit sejuta umat. Padahal banyak lho yang pengen dishare disini. Mulai dari icip-icip menu makan baru, menu makan biasanya, sampai perjalanan ke Dieng kemarin.

Duh, yang mana dulu yaa...

Dieng dulu aja ya? Kayaknya paling menarik deh! Kalau soal makanan kan bisa nyusul kapan-kapan kalau gak males.

Jadi akhir bulan Februari kemarin, aku berkesempatan nemenin Lulu make voucher penginapan Dieng Kledung Pass hadiah dari mana aku lupa, pokoknya si Lulu menang juara harapan nulis tentang wisata gitu deh, hahaha. Sebenarnya udah lama direncanain, tapi baru kejadian di hari-hari terakhir sebelum vouchernya expired, haha.

Setelah searching angkutan umum apa yang bisa membawa kami dari Jogja ke Dieng, akhirnya kami berangkat Minggu pagi tanggal 24 Februari 2013. Aku berangkat dari kosan jalan kaki ke Halte Trans Jogja di depan Kopma UGM, naik Trans Jogja muter-muter sampai Terminal Jombor. Disana udah ada Lulu duduk manis nungguin. Gak pake lama, kita naik bis ekonomi ke Magelang. Bayarnya murah aja kok, 8 ribu rupiah.

Sampai di Terminal Tidar Magelang, kami ganti bis kecil yang jurusan Wonosobo. Tipikal bus masuk desa yang isi penumpangnya bermacam-macam mulai dari anak sekolah sampai dagangan jadi satu. Lumayan sumpek sih, tapi untungnya pemandangan di kanan kiri jalan aduhai bohay jadi perhatian kami teralihkan, hohoho.

Kita terlanjur bayar 14 ribu. Turunnya persis di depan penginapan. Kalau tau gitu sih bayar 10rb aja cukup keknya yaa.. Soalnya penginapannya itu persis di perbatasan antara Temanggung dan Wonosobo. Setelah check-in dan istirahat bentaar banget di kamar yang lumayan banget buat berdua (FYI kami dapat kamar standard dengan satu bed besar, TV, kamar mandi dalam yang ada air hangatnya, pemandangan dari balkon yang OK punya. Alhamdulillah banget gak tuh?), kami langsung capcus ke Dieng.

Dari sebrang penginapan, kami naik bis bumel sampe ke Wonosobo. Bayarnya 4 ribu aja tapi bumelnya beneran gak bohong. Bau solarnya kemana-mana, sampahnya juga berserakan. Setelah turun di sebuah perempatan kalau gak salah inget, kami kembali naik bis kecil yang sampai Dieng. Bayar 8 ribu saja sudah bisa menikmati pemandangan yang subhanallah bagusnya karena kami duduk di depan samping pak sopir. Tapi ya agak lama, soalnya kan bisnya suka ngetem gitu di pasar-pasar yang dilewatin. 

Setelah menempuh perjalanan sekitar 2 jam dari penginapan, sampailah kami ke Dieng. Dalam keadaan kelaparan dan bingung mau makan apa. Akhirnya pilihan kami jatuh ke semacam Jogja Chicken gitu, yang jualan paket nasi ayam sama teh anget. FYI ayamnya gede banget, mungkin sekitar 3 kali lipat dari ayam yang biasanya aku makan di kosan. Jadi kita makan ayam lauk nasi, hahaha. Di luar ada kakek-kakek yang jualan bakso ojek, pengen banget nyobain tapi apa daya perut udah gak muat, huhuhu.

Mahasiswa Sebagai Agent of Change

Rabu, 09 Januari 2013

Agent of change dalam bahasa Indonesia berarti agen perubahan. Saya pernah mendengar kata itu diucapkan oleh dosen di sebuah kelas pada saat masih mengambil mata kuliah dulu. Baru saja saya membacanya kembali di website ECC UGM, situs wajib para job seeker di kampus saya. Walaupun saya belum memasuki tahap itu, tetapi sesekali saya mengintip untuk mencari jawaban atas rasa keingintahuan saya akan masa depan. Saya ingin tahu seperti hutan belantara bernama dunia kerja yang akan saya masuki selulusnya dari perguruan tinggi nanti.

Kembali pada istilah agent of change. Pada umumnya salah satu golongan yang ditunjuk untuk menjadi agent of change dalam kehidupan masyarakat adalah mahasiswa. Mahasiswa dengan tingkatan perguruan tinggi yang sedang mereka jalani dinilai sudah mampu memberikan ide-ide segar dan cukup matang untuk memberikan perubahan. Emosi mahasiswa dinilai lebih stabil dibanding dengan adik-adik kelasnya yang masih duduk di bangku SMP dan SMA, tetapi masih relatif 'polos' dibanding para pejabat, politikus dan kritikus senior yang sudah lebih dulu mewarnai  jagad permasalahan tanah air. Pada titik keseimbangan itulah masyarakat menaruh harapan besar terhadap para mahasiswa.

Masyarakat seakan lupa jika 'pendekar' mereka ini sebenarnya juga harus menghadapi problemanya sendiri. Mahasiswa dituntut untuk memahami ilmu yang disampaikan oleh para dosen, pun dengan nilai yang tidak boleh mengecewakan orang tua yang telah banyak berkorban untuk mengerluarkan biaya yang tidak sedikit. Dalam usia secara fisik dan psikologis, sebenarnya mahasiswa juga sedang berada dalam proses pencarian jati diri yang sebenarnya, penentuan tujuan hidup selanjutnya. Oleh karena itu, banyak mahasiswa mengikuti berbagai macam paham pemikiran dan organisasi yang menurut mereka cocok untuk diyakini. Para mahasiswa tipe inilah yang kemudian dicap sebagai mahasiswa aktivis dan idealis. Sedangkan sebagian yang lain memilih untuk fokus terhadap studi, sambil bekerja atau buka usaha, atau bahkan hanya dengan bersenang-senang menikmati masa indahnya sebagai orang yang belum diwajibkan mencari nafkah karena masih ada kiriman orang tua.

Para mahasiswa yang memiliki pemikiran idealis, berusaha mewujudkan cita-cita mereka untuk perbaikan masyarakat melalui berbagai organisasi yang menaungi. Namun, jika saatnya tiba, mereka pun harus kembali ke fitrah sebagai seorang pelajar, yaitu memahami pelajaran dan mengejar kelulusan. Bahkan sekarang perguruan tinggi memberikan batas waktu maksimal kelulusan jika mahasiswa tidak ingin terkena kebijakan Drop Out (DO). Jika sudah lulus dan tak lagi menggendong label sebagai seorang mahasiswa, masyarakat menuntut mereka untuk mendapat pekerjaan, lebih bagus lagi jika yang bergaji dan berprestise tinggi. Jika seorang alumnus perguruan tinggi belum berhasil mendapat pekerjaan, maka masyarakat akan memberinya sindiran, "Mengapa harus kuliah mahal-mahal jika akhirnya menganggur juga? Mending dari dulu langsung kerja, pasti sekarang sudah mendapat banyak uang. Lihat itu banyak orang yang bisa kaya tanpa harus kuliah mahal-mahal."

Kejam memang, namun begitulah adanya. Sewaktu masih kuliah, masyarakat ingin mahasiswa menyampaikan aspirasi dan pendapat mereka agar pihak pemerintah dan swasta tidak semena-mena. Sedangkan kalau sudah lulus dan masih menganggur, alih-alih dibantu agar bisa bekerja, malah diberi cibiran yang memanaskan hati. Maka dari itu, pada akhirnya seorang mahasiswa yang idealis pun kalau sudah lulus akan menjadi orang yang pragmatis; realistis dalam memandang kehidupan. Kalaupun mereka masih istiqomah terhadap nilai-nilai yang dipegangnya, mereka akan lebih arif untuk dapat menyesuaikannya dengan kenyataan hidup yang ada.

Setiap mahasiswa pasti menjalankan fungsinya sebagai agent of change. Tidak harus mahasiswa aktivis pun pasti juga dapat memberikan perubahan. Perubahan terhadap pandangan masyarakat, misalnya, lulusan perguruan tinggi lebih disegani dan diperhitungkan keberadaannya. Perubahan yang tidak semua orang bisa melihat, contohnya, pola pikir dan pemahaman alumnus perguruan tinggi kelak akan berguna untuk memahami seluk beluk kehidupan selanjutnya. Masyarakat memang tidak salah memilih mahasiswa sebagai agent of change. Seiring dengan pemahamannya tentang kehidupan, mahasiswa akan membawa kehidupan ke arah yang lebih baik, karena pendidikan adalah bekal terbaik untuk masa depan.

Me and Complaint

Tidak seperti lazimnya postingan awal tahun yang berisi flashback kejadian penting tahun lalu atau resolusi tahun ini, i try not to be mainstream :p
I wanna share my experience about complaint. Something that i discuss in my thesis. Maybe it was fate if my life is always related to the complaint, haha.
So, here's the story!

Siang menjelang sore itu aku dan Lulu makan di sebuah kafe dengan voucher diskon yang akan expired beberapa hari lagi. Kalau kata Ocha sih kami fakir perdiskonan. Bodo amat yang penting bisa nyobain makanan enak, haha. Seperti cafe pada umumnya, porsinya lalala cilukba mbak-mbak diet sekali, hahaha. Sedangkan kami berdua adalah kecil-kecil cabe rawit, eh, rakus omnivora pemakan segala. Merasa tidak puas belum kenyang dengan makanan cantik di cafe itu, akhirnya kami memutuskan lanjut ke cafe selanjutnya untuk menggenapkan separuh agama isi di perut biar gak setengah-setengah kayak korban PHP, hahaha.

Sampailah kami pada cafe ke-2. Sudah pesan makanan dan minuman. Sudah menelan suapan pertama ketika hape berdering dari nomor lokal yang tidak dikenal. Aku yang pada dasarnya bolot gak suka ditelpon, akhirnya terpaksa menjawab panggilan tersebut. Samar-samar terdengar bahwa mbak-mbak di seberang adalah pegawai cafe pertama tadi dan bilang kalau voucher kami sudah expired. Aku sempat membela diri menjelaskan bahwa tanggal expired belum terjadi. Intinya kami diminta kembali lagi kesana dan membayar  dengan harga penuh makanan perdiskonan tadi.

Dengan serangan bete yang datang tiba-tiba, akhirnya aku melacak kontak layanan pelanggan penyedia layanan diskon tempat kami membeli voucher diskon itu. Kami telepon nomernya tidak ada jawaban. Akhirnya kami menghubungi lewat sms. Setelah kenyang dalam arti sebenarnya dan 'kenyang'  bete karena telepon tadi, kami memutuskan mampir ke cafe pertama dan akan membayar tagihan seperti yang diminta.

Namun sepertinya semesta tak merestui. Baru saja sampai kami di depan cafe pertama, panggilan telepon masuk dari nomor asing. Ternyata berasal dari penyedia layanan diskon yang menanyakan bagaimana kronologi kejadiannya. Setelah kami jelaskan, pihak penyedia layanan diskon berjanji akan mengkonfirmasi pada cafe pertama. Akhirnya kami nggak jadi masuk ke cafe pertama, padahal sudah tepat berada di parkirannya.

Penyedia layanan cafe kemudian menelpon kembali saat kami melanjutkan perjalanan pulang. Mereka menanyakan apakah kami jadi membayar lagi ke cafe pertama. Kami bilang kami tidak jadi masuk ke cafe pertama karena tadi mereka bilang akan menghubungi pihak cafe. Penyedia layanan cafe menjanjikan akan menghubungi lagi besok bagaimana kelanjutannya. Kami hanya bisa berharap pada janji penyedia layanan diskon agar mengklarifikasikan kepada merchant-nya. Aje gile kan kalau kita disuruh bayar lagi, rugi bandar dan gak akan klik beli voucher diskon disitu lagi kayaknya.

Sehari setelah kejadian itu tak ada panggilan masuk dari kedua belah pihak, baik dari cafe pertama maupun penyedia layanan diskon. Tapi penyedia layanan diskon sebelumnya memang sudah meyakinkan bahwa voucher masih berlaku, jadi kemungkinan terjadi miskomunikasi dari pihak merchant yaitu cafe pertama. Karena tak ada lagi kabar maka kami menganggap case closed. Positifnya kami gak harus kehilangan rupiah lagi buat cafe itu. Coba kalau kemarin kami nggak komplain dan manut-manut saja, pasti bakal sekarat isi dompetnya, hahaha.

Thanks God, we've complained! :D ($_$)

Pesan moral: tak ada salahnya kita memberanikan diri menuntut hak kita padahal kita sudah melaksanakan kewajiban sebagaimana mestinya. Cheers! :)

Morning Call

Jumat, 21 Desember 2012

I miss someone so i called her. Yes, her! No, i am not a lesbian. She is my best friend and i miss her so much. 2 months recently she works in Jakarta, and our last meeting is in her graduation day, September 6, 2012. 4 months no visit each other and  no communication except in some text messages.

You know what did i say first? I said, "I miss you" and she just laughs. I know she's fine there. She said that she'll go home this evening and spend the yearend holiday at home. So i said we must go to somewhere together. Oh, how i miss our togetherness. Our 30 minutes morning call is enough to start this rainy day positively.

Maybe i am single. Maybe i must go to anywhere by myself. But, i never feel the loneliness because my beloved people always there whenever i miss them, when i need them, when i want them. I know they love me sincerely. 

So much thank you for my family, my best friends, and all people around me! I love you so much ♥
 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS