Pages

Oplosan

Senin, 30 Januari 2017

Ini adalah kisah nyata, yang tidak perlu direka ulang apalagi dicoba.

Ini ceritaku saat KKN tahun 2011 lalu. Barusan ingat karena chat sama adek soal Sprite sama Promag, hahaha. Alkisah suatu siang saat mengajar di SD tempat KKN, tetiba perutku merasa perih. Saat itu teman-teman pun sedang sibuk mengajar kelas yang lain sehingga tak ada yang bisa dimintai tolong untuk membeli obat maag. Beruntung selang tak berapa lama akhirnya sekolah pun usai juga. Kami kembali ke pondokan dan aku segera minum Promag yang sudah menjadi persediaan buat jaga-jaga.

Waktu itu aku ingat ada teman yang baru datang dari kota iya soalnya kami KKN di puncak bukit dimana jajanan paling mewah adalah bakso, mie ayam, dan sate serta alfamart di kota kecamatan dan membawa beberapa bungkus bakso. Karena memang sudah jam makan siang akhirnya aku ikut menyantap bakso dengan nikmatnya. Sampai suapan terakhir dan merasa butuh minum, akhirnya ke dapur tanpa mendapatkan air putih atau teh botol. Di kulkas warung Bu Lurah hanya tersedia beberapa botol Fanta dan Sprite. Karena kebiasaan kami adalah minum dulu baru totalan kemudian jadi aku pilih Sprite aja yang kupikir lebih segar di teriknya siang, hahahaha.

Selang satu setengah jam, saat ikut jama'ah sholat dzuhur yang sudah mepet waktunya karena kebanyakan bercanda, aku merasa ada yang aneh. Pusing-pusing lemes aneh gimana gitu. Dan saat sholat itu pun aku baru ingat kalau ternyata tadi minum Promag, makan bakso dan minum Sprite. Hahahahahahahaha pinter emang! Bikin oplosan kecil-kecilan.

Selesai sholat, nanya ke Bu Lurah di mana ada dokter atau puskesmas. Kata beliau, ada puskesmas di bawah sana tapi bidannya sedang rapat di kecamatan. Ngalamat pasrah aja sama nasib kalau begini. Meringis nahan perih dan pusing. Akhirnya gresek-gresek di warung lagi dan dapat penawar, susu cair rasa coklat. Kata teman-teman yang cowok, itu wajar aja sakitnya karena keracunan. Nanti juga hilang sendiri. Tampaknya mereka jauh lebih berpengalaman ya? Hahaha.

Temen sekamar bilang katanya aku pucet banget, trus disuruh bobok aja. Beneran rasanya nano-nano keringet dingin mau bobok kayaknya gak bisa. Akhirnya bisa bobok walau sebentar dan udah bisa keringetan. Alhamdulillah ya Allah masih dikasih perpanjangan nyawa.

Setelah itu aku diem-diem aja kalau ditanya kabar sama orang rumah. Pas udah pulang KKN baru berani cerita kalau punya pengalaman gak sengaja minum oplosan, jadi kan cuma dapet omelan doang gak bikin khawatir, hahahaha. Beneran jangan pernah mencoba kekonyolan semacamnya ya!

Sebuah Muhasabah di Sabtu Malam

Sabtu, 21 Januari 2017

Sabtu malam ini seperti biasa aku browsing, chatting, buka-tutup berbagai aplikasi di hp. Sampai pada akhirnya membaca sebuah pesan broadcast di sebuah group yang membuatku terhenyak. Begini isinya:

MENEMANI MAYAT SELAMA 40 HARI

Alkisah seorang Konglomerat yang sangat kaya raya menulis surat wasiat: "Barang siapa yang mau menemaniku selama 40 hari di dalam kubur setelah aku mati nanti, akan aku beri warisan separuh dari harta peninggalanku."

Lalu ditanyakanlah hal itu kepada anak-anaknya apakah mereka sanggup menjaganya di dalam kubur nanti.
Tapi anak-anaknya menjawab, "Mana mungkin kami sanggup menjaga ayah, karena pada saat itu ayah sudah menjadi mayat."

Keesokan harinya, dipanggillah semua adik-adiknya. Dan beliau kembali bertanya, “Adik-adikku, sanggupkah diantara kalian menemaniku di dalam kubur selama 40 hari setelah aku mati nanti? Aku akan memberi setengah dari hartaku!"

Adik-adiknya pun menjawab, “Apakah engkau sudah gila? Mana mungkin ada orang yang sanggup bersama mayat selama itu di dalam tanah.”

Lalu dengan sedih Konglomerat tadi memanggil ajudannya, untuk mengumumkan penawaran istimewanya itu ke se-antero negeri.

Akhirnya, sampai jugalah pada hari di mana Konglomerat tersebut kembali ke Rahmatullah. Kuburnya dihias megah laksana sebuah peristirahatan termewah dengan semua perlengkapannya.

Pada waktu yang hampir bersamaan, seorang Tukang Kayu yang sangat miskin mendengar pengumuman wasiat tersebut. Lalu Tukang Kayu tersebut dengan tergesa-gesa segera datang ke rumah Konglomerat tersebut untuk memberitahukan kepada ahli waris akan kesanggupannya.

Keesokan harinya dikebumikanlah jenazah Sang Konglomerat. Si Tukang Kayu pun ikut turun ke dalam liang lahat sambil membawa Kapaknya. Yang paling berharga dimiliki si Tukang Kayu hanya Kapak, untuk bekerja mencari nafkah.

Setelah tujuh langkah para pengantar jenazah meninggalkan area pemakaman, datanglah Malaikat Mungkar dan Nakir ke dalam kubur tersebut.

Si Tukang kayu menyadari siapa yang datang, ia segera agak menjauh dari mayat Konglomerat. Di benaknya, sudah tiba saatnya lah si Konglomerat akan diinterogasi oleh Malaikat Mungkar dan Nakir.

Tapi yang terjadi malah sebaliknya, Malaikat Mungkar-Nakir malah menuju ke arahnya dan bertanya, "Apa yang kau lakukan di sini?"

Aku menemani mayat ini selama 40 hari untuk mendapatkan setengah dari harta warisannya", jawab si Tukang kayu.

Apa saja harta yang kau miliki?", tanya Mungkar-Nakir.
"Hartaku cuma Kapak ini saja, untuk mencari rezeki", jawab si Tukang Kayu.

Kemudian Mungkar-Nakir bertanya lagi, "Dari mana kau dapatkan Kapakmu ini?"
"Aku membelinya", balas si Tukang Kayu.
Lalu pergilah Mungkar dan Nakir dari dalam kubur tersebut.

Besok di hari kedua, mereka datang lagi dan bertanya, "Apa saja yang kau lakukan dengan Kapakmu?"
"Aku menebang pohon untuk dijadikan kayu bakar, lalu aku jual ke pasar", jawab tukang kayu.

Di hari ketiga ditanya lagi, "Pohon siapa yang kau tebang dengan Kapakmu ini?"
"Pohon itu tumbuh di hutan belantara, jadi nggak ada yang punya", jawab si Tukang Kayu.
"Apa kau yakin?", lanjut Malaikat.
Kemudian mereka menghilang.

Datang lagi di hari ke empat, bertanya lagi "Adakah kau potong pohon-pohon tersebut dengan Kapak ini sesuai ukurannya dan beratnya yang sama untuk dijual?"
"Aku potong dikira-kira saja, mana mungkin ukurannya bisa sama rata", tegas tukang kayu.

Begitu terus yang dilakukan Malaikat Mungkar Nakir, datang dan pergi sampai tak terasa sekarang 39 hari sudah. Dan yang ditanyakan masih berkisar dengan Kapak tersebut.

Di hari terakhir yang ke 40, datanglah Mungkar dan Nakir sekali lagi bertemu dengan Tukang kayu tersebut. Berkata Mungkar dan Nakir, "Hari ini kami akan kembali bertanya soal Kapakmu ini".

Belum sempat Mungkar-Nakir melanjutkan pertanyaannya, si Tukang kayu tersebut segera melarikan diri ke atas dan membuka pintu kubur tersebut. Ternyata di luar sudah banyak orang yang menantikan kehadirannya untuk keluar dari kubur tersebut.

Si Tukang Kayu dengan tergesa-gesa keluar dan lari meninggalkan mereka sambil berteriak, "Kalian ambil saja semua bagian harta warisan ini, karena aku sudah tidak menginginkannya lagi."

Sesampai di rumah, si Tukang Kayu berkata kepada istrinya, "Aku sudah tidak menginginkan separuh harta warisan dari mayat itu. Di dunia ini harta yang kumiliki padahal cuma satu Kapak ini, tapi Malaikat Mungkar-Nakir selama 40 hari yang mereka tanyakan dan persoalkan masih saja di seputar Kapak ini. Bagaimana jadinya kalau hartaku begitu banyak? Entah berapa lama dan bagaimana aku menjawabnya."

Dari Ibnu Mas’ud RA dari Nabi Muhammad SAW bahwa beliau bersabda, "Tidak akan bergerak tapak kaki anak Adam pada hari kiamat, hingga ia ditanya tentang 5 perkara, yaitu umurnya untuk apa dihabiskannya, masa mudanya kemana dipergunakannya, hartanya darimana ia memperolehnya dan kemana dibelanjakannya, ilmunya sejauh mana diamalkan?" (HR. Turmudzi)

~~~

Menyeramkan.
Itu yang ada di benakku saat membacanya. Kalau kita dimintai pertanggungjawaban misalnya oleh atasan di kantor, kita pasti akan memikirkan jawaban terbaik, poles sana sini, agar tidak salah omongan.
Sedangkan di alam kubur nanti, kita akan ditanya oleh para malaikat Allah tentang kehidupan dunia yang telah dijalani. Apakah akan sempat untuk memoles jawaban sana-sini? Apakah malaikat Munkar dan Nakir hanya akan bertanya saja? Bagaimana dengan adab dan siksa kubur?

Aku mencoba bertanya kepada salah seorang teman dan inilah jawaban yang kudapatkan:

"Wallahu a'lam....
bagaimana dan siapa yg melakukan siksa kubur itu.

Cara kerjanya diluar batas pengetahuan kita. Ini sudah masuk ke ranah iman. Kita diminta mengimani adanya "kehidupan" di alam kubur... Cuman bagaimananya, kita ndak tau."

Ya Allah sesungguhnya Engkau MahaPengampun lagi MahaMengetahui...

Mari Kita Berkunjung ke Museum

Rabu, 04 Januari 2017

Menurut artikel parenting ini, salah satu hak anak adalah rekreasi. Ingat dulu setiap liburan sekolah pasti orang tua mengajak piknik entah kemana, walau tidak terlalu jauh dari rumah dan mungkin sudah pernah dikunjungi. Yang namanya piknik tetap saja menarik. Mungkin itu yang membuatku suka berpetualang dan jalan-jalan. Karena sekarang sudah punya keponakan, gantian aku yang dinanti oleh tiga krucil di rumah untuk mengajak mereka jalan-jalan mengisi hari libur sekolah. Padahal jauh hari aku sudah pamit dan bilang, "Jangan dinanti, aku mau jalan-jalan sendiri. Kalau mau pada piknik ya piknik saja nggak usah nunggu aku pulang." Buliknya nggak mau banget ngasih kepastian bahkan sama keluarga sendiri, mihihihi.
Welcome to Museum Purba Sangiran yang sudah penuh orang :p
Senin libur dulu ya museumnya.


Pintu masuk display area pertama. Ada ABG pacaran di museum, sekalian belajar sejarah ya?
Namun tetap saja mereka menanti. Duh, jadi trenyuh di hati. Bahkan adik bungsu sudah ngambek sama ibu karena aku dijanjikan pulang hari itu. Aku sendiri pun tak ingin buru-buru pulang kalau si bungsu masih menginap di tempat keponakan-keponakan tercinta. Kemudian adikku yang satunya berkata, "Ya kalau tunggu-tungguan terus kapan kelarnya." Berasa ngebahas apa gitu ya, yang tunggu-tungguan terus nggak ketemu. Ihik. Baper.

(Bukan) ibu dua anak.
Alhamdulillah sampai rumah tepat saat tiga krucil lengkap semua. Keponakan sulung bilang ingin ke museum. Langsung saja aku iyakan. Kapan lagi anak yang tiap hari nge-game ini minta jalan-jalan di dunia nyata. Ye kan? Setelah sepakat waktu dengan adik partner pengantar, berangkatlah kami menuju lokasi yang dituju, yaitu Museum Sangiran. Sebenarnya tempat ini sering dilewati untuk pulang kampung ke tempat kakek nenek. Kok ya kebangetan kalau sampai belum pernah masuk ke dalamnya.

Penampakan adik partner dan temannya. Susah diajak foto bersama.

Saat kami tiba, sudah banyak orang yang di sana. Aku nggak tahu pasti berapa harga tiket masuk perorangnya. Karena waktu aku, ibu, adik, dan dua keponakan, kok dibilang empat orang? Hahaha. Saat itu kami diminta membayar Rp20.000,00. Di dekat tempat parkir, banyak kios-kios yang menawarkan cinderamata dan warung-warung yang menjual makanan berat dan ringan. Ada beberapa hewan primata yang dikandang di area tersebut. Kan kasihan ya.
Salah satu penampakan di dalam display area.
Untuk ruang pameran, terdiri dari tiga bagian yang saling terhubung. Ibu, adik bungsu dan keponakan yang kecil menyerah duluan di area kedua. Sedangkan si sulung kuajak berkeliling sampai selesai. Bahkan di awal thawwaf, aku mengharuskannya membaca setiap keterangan yang ada. Mungkin karena merasa dia yang minta ke sana, mau nggak mau harus bertanggung jawab pada pilihannya dan menuruti perintahku, hahaha. Namun di akhir perjalanan saat sudah merasa lelah, aku membiarkannya hanya melihat-lihat saja.

Ayo, harus dibaca ya semuanya!
Selesai berkeliling berdua, kami bingung mencari rombongan yang entah di mana. Kebetulan handphone ku dibawa si bungsu buat main game biar dia nggak rewel, jadi kami hanya berbekal handphone buat foto-foto yang nggak ada sim card-nya. Setelah sholat dhuhur di mushola yang letaknya di bagian belakang deretan warung makan, kami menuju ke pintu keluar dan menemukan rombongan sedang asyik makan siang. Welhadalah, dolan adoh-adoh kok mung pindah mangan soto karo ngombe es teh doang, hahaha. Si sulung pun langsung ikut pesan dan makan dengan lahap. Mungkin dia sangat lapar setelah "dipaksa" menyelesaikan perjalanan, hahaha. Maaf ya, Le, bulikmu galak. Hahaha.

Luwe banget ya, Le? :))
Dalam perjalanan pulang kami sempatkan sekalian berkunjung ke rumah kakek, nenek dan nenek buyut, selagi mereka masih sehat. Selalu menjadi kebahagiaan tersendiri jika bisa mengunjungi keluarga besar walau hanya sebentar. Yah walaupun selalu dibonusi pertanyaan yang belum terpecahkan *iykwim*. Kalau kayak gini memang beneran berasa, "Maka nikmat-Nya yang manakah yang kamu dustakan?" dan cuma bisa berucap alhamdulillah wa syukurillah ya Robb.

Tak lupa aku menanyakan bagaimana perasaan keponakanku setelah jalan-jalan ke museum. Katanya dia senang dan rasa penasarannya telah terjawab. Alhamdulillah ya Le, Lik Tika merasa nggak sia-sia. Sampai jumpa pada edisi piknik-piknik selanjutnya!

Akhirnya ke Lembang Juga

Senin, 02 Januari 2017

Liburan akhir tahun 2016 memang sudah aku niatkan untuk mengunjungi tempat yang sejuk. Jatuhlah pilihanku pada Kota Bandung. Berhasil mengajak Mbak Puput yang dulu kuliah di ITB, membuatku merasa aman, paling nggak, nggak akan nyasar-nyasar amat lah ya, hahahaha.

Jumat malam, 23 Desember 2016, aku terbang dari Palu ke Jakarta. Sabtu pagi, aku janjian bertemu Mbak Puput di Stasiun Gambir, pukul 08.00 WIB. Kereta Argo Parahyangan membawa kami ke Kota Kembang dengan melewati beberapa stasiun, seperti Jatinegara, Bekasi, Purwakarta, dan Cimahi. Sesampainya di Stasiun Bandung, aku masih harus mengurus pembatalan tiket KA Malabar jurusan Bandung - Solo karena memutuskan untuk kembali ke Jakarta setelah selesai liburan di Bandung. 

Kami memesan Gocar dengan tarif Rp60.000,00 yang kemudian abang Gocarnya curhat kalau tarifnya terlalu murah dengan kondisi jalanan macet dan berujung pada minta tambahan seikhlasnya. Karena memang jauh dan macet, kami sampai harus melewati jalan alternatif, akhirnya kami bayar Rp75.000,00. Pun abangnya sempat menyarankan mengunduh aplikasi Grab karena dikhawatirkan gak akan ada Gokar yang standby di daerah Lembang yang jauh dari pusat kota itu.

Kami menginap di Seruni Guest House, di Jalan Maribaya, bisa jalan kaki dari objek wisata De Ranch. Malam harinya kami jalan kaki menyusuri Pasar Panorama Lembang, minum susu segar di Susu Murni Lembang dan makan ramen di Basmal Steak House. Sebenarnya masih lapar mata melihat banyak tempat makan di sepanjang jalan, tapi apa daya, perut sudah kenyang.
Ramainya Tangkuban Perahu

Lemu? Yoben :p
Minggu pagi kami hendak ke Tangkuban Perahu dengan naik angkot. Tetapi resepsionis penginapan menawarkan jasa sewa motor Rp100.000,00 saja. Katanya sih biasanya seratus lima puluh ribu. Berhubung anaknya suka tantangan, akhirnya sewa motor saja. Kapan lagi bisa keliling kota Bandung motoran, hahaha. Naik-naik ke puncak gunung dengan bekal ikut arus, akhirnya sampai juga kami di objek wisata tujuan. Kami membayar uang masuk Rp77.000,00 untuk dua orang, plus jasa parkir Rp5.000,00. 


Tuh, bener kan maksimal 80 kg, hahaha.
Tak lama kemudian, kami memutuskan turun ke Floating Market yang nggak kalah padatnya. Sesungguhnya ingin lanjut ke Kawah Putih Ciwidey, namun katanya terlalu jauh dan medan jalannya lebih berat daripada ke Tangkuban Perahu. Dengan motor, kami membayar tiket masuk Floating Market Rp45.000,00. Lima ribu untuk parkir, dan dua puluh ribu untuk dua tiket masuk yang nantinya bisa ditukar dengan minuman gratis. Kalau mau makan di Floating Market ini harus beli coin dulu. Kayak kemarin kami coba mendoan, harus menukarkan coin senilai 20 ribu dulu.



Terlalu banyak yang antri foto di situ, tante lelah dek~

Maksud hati ingin lanjut ke Observatorium Bosscha, yang letaknya pas di jalur pintu keluar dari Floating Market itu. Namun apa daya, ternyata tutup sampai tanggal 3 Januari 2017. Akhirnya memutuskan ke Pasar Baru Squre saja. Memecah padatnya kendaraan di Jalan Setiabudi, melewati tempat hits macam Farmhouse dan sampailah di tempat tujuan. Pusat belanja andalan dari zaman kuliah, kalau ke Bandung, hukumnya fardhu 'ain buat mampir, hahaha.

Selesai belanja baru ingat dari siang belum sempat makan. Karena udah kepikiran pasta akhirnya ke Warung Pasta di Jalan Ganeca. Pulang ke penginapan lewat Dago dan lagi-lagi jalan alternatif via Bukit Pluncut Ciumbuleuit yang jalannya sepi macam tempat jin buang anak. Motor sempat nggak kuat nanjak, akhirnya terpaksa aku minta Mbak Puput turun sebentar dari boncengan dan jalan kaki, hehehe. Sampai penginapan sudah jam sembilan malam.

Hari terakhir di Lembang, kami manfaatkan ke De Ranch yang bisa jalan kaki dari penginapan. Tiket masuknya berdua cuma dua puluh ribu saja, lagi-lagi bisa ditukarkan dengan minuman. De Ranch ini seharusnya tutup di Hari Senin, tetapi karena kemarin waktu berkunjung kesana adalah libur panjang, mungkin memang pengecualian. Ada banyak wahana permainan di dalamnya. Yang paling ramai adalah menunggang kuda, yang setiap orangnya dikenai tarif Rp25.000,00. Oh ya, berat badan maksimal penunggang kuda 80 kg ya, mungkin kasian kudanya kalau terlalu berat, hahaha. Karena antriannya panjang dan katanya sampai 1,5 jam, akhirnya kami memilih naik delman. Kami membayar Rp30.000,00 bisa untuk berdua atau bertiga katanya. Bapak kusir bercerita kalau di dekat situ adalah Taman Bunga Begonia yang bisa ditempuh dengan naik delman juga. Namun, waktu kami terbatas dan belum packing untuk kembali ke Jakarta, akhirnya belum sempat ke Taman Bunga Begonia.
Akhirnya pilih naik delman.
Satu lagi wahana permainan yang kami ikuti, yaitu flying fox. Aku memang menyukai permainan yang bikin deg-degan gitu. Apalagi untuk naiknya harus meniti batu demi batu macam anak Pecinta Alam latihan panjat tebing. Oh iya, kami membayar Rp20.000,00 per orang untuk mainan flying fox ini. Sebenarnya ada wahana lain yang aku ingin, trampoline, tetapi berat badan maksimal 45 kg. Memang bukan buat tante-tante kayaknya, huhuhuhu...

Pulangnya kami pesan Gocar lagi, yang sama bapak Gocarnya diminta cancel aja diaplikasi tapi dibayar tunai dan ditambah gocap lagi. Jadi di aplikasi harganya Rp42.000,00 tambah Rp50.000,00, macam carteran gitu lho. Bener juga kata abang Gocar yang nganterin kemarin ternyata, susah cari Gocar di Lembang. Dan anggap saja memang harga liburan ya segitu, daripada ketinggalan kereta, hahaha.

Witing Tresna Jalaran Saka Kuliner

Senin, 21 November 2016

Sebuah pepatah Jawa berbunyi, "Witing tresno jalaran saka kulina" yang bisa diartikan sebagai "Cinta ada karena terbiasa". Kalian pasti mengira aku sedang baper-bapernya. Memang iya, untuk pertama kalinya setelah setahun di sini, aku baper pada ikan bakar, hahaha.

Sudah menjadi kebiasaan untukku menginginkan menu makanan yang berbeda setiap hari. Bahkan kalau lama tak pulang, aku bisa kangen banget pada bubur gudeg atau nasi liwet. Jangankan berada jauh seperti ini. Di rumah saja aku bisa kangen makanan di Jogja. Di tempat nenek, aku bisa kangen makanan di rumah, atau sebaliknya. Ya, nyebelin memang. Mamahku melabeliku "ilat keplek", aku tak mau makan dengan menu yang sama dalam beberapa hari alias nget-ngetan kalau di rumah, kalau di kosan sih ya daripada nggak makan hahaha.

Sama seperti di sini. Di antara menu khas daerah Palu yang ada, belum ada yang aku suka. Biasanya aku memakannya di acara tertentu saja. Sebut saja utadada, kapurung, ikan bakar, bubur Manado, binte, sop saudara, cotto, kaledo, ayam bakar Madamba, dan lain sebagainya. Tak ada yang benar-benar menarik perhatianku, kecuali bubur Manado karena pada dasarnya aku penyuka bubur. Pun aku paling jarang makan ikan. Padahal ikan laut di sini masih sangat segar, baru mati sekali. Tidak seperti di Jawa yang ikannya sudah mati berkali-kali.

Tetapi entah mengapa, sejak pekan kemarin aku ingin sekali makan ikan bakar. Memang sering aku tetiba ingin sekali makan sesuatu seperti orang ngidam. Sampai sempat terpikir membuat jamuan rapat kantor dengan menu ikan bakar di RM Sidrap di Jalan Basuki Rahmat. Tetapi urung dilakukan karena nggak yakin mereka bisa take away, kan biasanya ikan dihargai secara kiloan.

Seiring waktu berlalu, dan jamuan rapat akhirnya terwujud dalam bentuk pasta dan dada KFC. Meski pasta dengan saus creamy adalah favoritku, ternyata tak menghilangkan keinginanku menyantap ikan laut bakar. Selesai acara Kelas Inspirasi Palu #1 kemarin, kami makan bersama di RM Sauna Alam Pratama dengan menu ikan mujair bakar. Tumben aku bisa bersih memakannya. Biasanya makan ikan cuma sekedarnya saja.

Penampakan ikan bakar RM Sidrap yang difoto ala kadarnya keburu lapar, hahaha.
Kupikir keinginanku makan ikan bakar sudah tuntas. Ternyata aku salah, di akhir hari, aku spontan mengajak Itty makan ikan bakar di RM Sidrap dekat kantor. Beruntung dia mau menemaniku. Karena apalah arti makan nikmat kalau sendirian. Kami memilih jenis ikan batu dan dibakar dengan rasa yang pedasnya sedang. Aku memang tak bisa makan terlalu pedas, bisa membuat perut terasa panas dan bisa memicu kambuhnya maag.

Selesai makan rasanya bahagia sekali, seperti rasanya lebih enak dari biasanya. Mungkin efek ngidam yang terpenuhi. Mungkin aku sudah mulai jatuh cinta pada ikan bakar. Mungkin levelnya sudah naik dari "nggak suka" menjadi "ya, boleh deh" hahaha. Mungkin ini bekal empat tahun ke depan untuk menikmati kehidupan di sini. Mungkin ini tandanya aku mulai betah di sini. Mungkin.

Lipbalm Andalan

Selasa, 15 November 2016

Lipbalm atau pelembab bibir ini udah lumayan lebih akrab sama aku sejak SMA daripada gincu. Iya, emang punya bakat centil dari zaman dulu kala hahaha. Zaman SMA dulu pake Lip Ice Sheer Color yang strawberry sama orange kalau nggak salah. Meningkat jadi Maybelline Baby Lips di masa kuliah. Seingatku Lip Ice lebih berminyak, makanya begitu pakai Baby Lips yang ga gitu kayak habis makan gorengan jadi ketagihan.

Menjelang ke Palu, yang di perkiraanku bakal lebih panas dari Kota Solo dan Joga dan ternyata memang begitu adanya, aku mulai mencoba varian lipbalm yang lain. Pilihanku jatuh pada brand Nivea Soothe & Protect SPF 15, yang belum habis sampai sekarang karena diselingi dengan Lip Conditioner Pixy waktu ngira si Nivea hilang tetapi ternyata cuma ketinggalan di rumah teman saat menginap. Karena berasa punya ganti akhirnya yang Nivea ditinggal di kantor dengan maksud berjaga kalau butuh touch up, nyatanya selalu lupa dan berakhir dibawa pulang lagi karena yang Pixy udah hampir habis. Yeay, ada alasan beli lagi, hahaha.

Vaseline, Nivea, dan Pixy.
Sebelum menemukan Nivea Soothe & Protect SPF 15 yang waktu itu selalu nggak ada di Mirota Kampus, aku mencoba Nivea Fruity Shine Strawberry. Nivea Fruity Shine Strawberry lebih glossy dan berasa nggak menyatu dengan baik kalau ditambah lipstik. Apalagi dia udah punya warna sendiri. Meski begitu, tetep aku pakai sampai habis. Kan sayang kalau mubazir, berarti buang uang juga, huhuhu.


Tuh kan yang Pixy (paling kiri) udah acakadut, karena paling sering dipakai.
Hampir setiap hari aku pakai Lip Conditioner Pixy yang nggak ada warnanya dan teksturnya ringan, jadi enak kalau mau ditambah lipstik. Sama seperti Nivea Soothe & Protect SPF 15  sih, cuma agak lebih berminyak sedikit. Jadi bikin glossy ke lipstik yang dipake setelahnya. Secara jenis kulitku kering banget dan sering di tempat ber-AC kalau lagi di Palu, biasanya aku makai lipbalm juga sebelum tidur. Lumayan bikin lembab dan mencegah bibir pecah-pecah.

Apalagi sekarang koleksi lipbalmku nambah dengan Vaseline Lip Therapy Rosy Lips. Aku paling suka memakainya sebelum tidur juga. Ini hadiah dari sahabatku Tias sewaktu dia berlibur ke Jepang. Tetiba doi kirim itu sepaket sama mug Starbucks Fukuoka. So sweet, right? Hihihi makasih ya, Cantik!

Newbie di Dunia Pergincuan

Senin, 14 November 2016

Dunia pergincuan memang begitu menggoda, apalagi bagi kaum hawa. Meja penuh pun selalu ada tempat untuk gincu baru, apalagi warnanya lucu. Apalagi kalau belinya atas dasar sekalian ongkirnya cyin~

Dari yang niat awalnya hanya ingin belajar make up, trus melanglang dunia maya mencari review step by step-nya, jadi pingin beli brush set-nya Mineral Botanica. Itu lho brand lokal baru di dunia make up Indonesia. Karena belinya online dan mumpung ada teman yang lagi dinas ke ibukota dan bisa dititipin via Go-Send yang ongkirnya lebih murah daripada JNE Jakarta-Palu, kemudian berasa sayang ongkir kalau cuma beli brush set aja.

Pingin coba Mineral Botanica soft matte lip cream. Dengan rasionalisasi kalau lipstik Coral Matte-nya The One Oriflame udah tinggal sedikit, dan warna Pixy 404 Peach Punch Semi Matte-nya gak bisa kelihatan tanpa didukung oleh lipstik lain. Waktu beli berasa bagus, nude gitu. Ternyata begitu dipake ke kantor terlalu pucat dan malah dikira ga pake gincu. Anyway, sejak resmi ngantor setahun lalu, gincu menjadi must have item, karena kalau ga pake bakal dibilang pucat banget dan dikira sakit.

Zaman diklat sembilan bulan tahun lalu sih cuma punya dua lipstik, Maybelline Colorshow 203 Cherry on Top sama Wardah Exclusive 41 hasil mupeng lip palette Chocoaholic punya adik kos zaman cari kerja. Begitu hijrah ke Palu, habislah sudah Wardah Exclusive 41 walaupun suka banget sama warnanya gak memutuskan beli lagi karena ga tahan lama, dipake makan langsung hilang. Karena aku suka lupa touch up, jadi pingin cari warna senada yang lebih tahan lama. Mungkin Mineral Botanica Soft Matte Lip Cream yang Pinky Beige bisa jadi substitusi.

5 hari kerja 5 lipstik cukup harusnya ya, sayang yang 1 kudu didobel biar keliatan.
Lipstik yang dibeli selanjutnya adalah Oriflame The One Coral Matte. Ini warnanya orange cerah banget dan lumayan tahan lama, tapi berasa tebel banget di bibir. Sedangkan gincu yang paling sering dipake adalah Maybelline MAT1 Bold Matte yang dibeli waktu kalap begitu pulang ke Jogja, hahaha. Pink cerah ceria dan tahan lama. Aku suka lipstik Maybelline karena lumayan tahan lama dari pagi sampai sore, bahkan malam.
Hasil impulsif terbaru adalah Purbasari 95 Amber. Warna pink matte-nya bagus dan tahan lama juga. Lipstick ini stained walau udah dihapus pake Nivea White Make Up Clear 2 in 1 Foam atau seperangkat susu pembersih dan penyegar. Menurutku, warnanya di antara dua lipstik Maybelline yang aku punya. Gincu Maybelline pun stain juga. Mungkin itu yang bikin tahan lama.
Ki-ka: Maybelline 203, Maybelline MAT1, Pixy 404, Purbasari 95, Oriflame The One Coral Matte.
Jadi kalau kerja Senin sampai Jumat dan punya lima warna lipstik yang berbeda, seharusnya bisa ganti setiap hari. Namun berhubung ada satu warna yang nggak seperti harapan, jadi boleh dong ya nambah warna lagi. Hahaha, pembenaran banget sih ini. Gak papa lah, toh masih reasonable price semuanya. Jadi, mari order satu atau dua gincu lagi. Muuuach!

Refleksi Setahun Disini

Selasa, 08 November 2016

Tepat setahun lalu pertama kalinya aku melangkahkan kaki di bumi tadulako ini. Diantar keluarga besar sampai Bandara Juanda Surabaya, berangkat bersama Nikko yang dilepas oleh keluarga dan pacarnya. Dua jam penerbangan terasa tak lama. Dijemput oleh Mbak Anggit, Mbak Itty dan Oled. Diajak ke kantor di hari Minggu untuk bertemu Kasubag SDM, Pak Andriyono yang saat itu sedang lembur. Dilanjutkan jalan-jalan ke Anjungan Nusantara di Talise dan Masjid Apung. Berakhir dengan menonton film James Bond; Spectre, di XXI Palu Grand Mall.

Setahun ini aku merasakan banyak perubahan dalam kehidupan bahkan mungkin kepribadian. Banyak tempat baru yang telah ku kunjungi, pun dengan pengalaman yang menyertainya. Pengalaman terpenting yang kupelajari disini adalah belajar beradaptasi. Entah saking jauhnya terhempas dari zona nyaman atau karena faktor lain, aku pernah bermalam beberapa hari di rumah sakit dengan diagnosa psikosomatis. Saat ditanya oleh psikiater pun, aku merasa tak tahu juga mengapa bisa seperti itu. Aku tak merasa memikirkan apapun secara berlebihan. Namun nampaknya anxiety memang menguasaiku saat itu.

Pulang dari rumah sakit, aku masih sering merasa pusing. Seperti ada beban berat yang kupikirkan namun aku tak tahu bagaimana mengurainya. Aku tahu pikiranku kacau, tetapi aku tak paham bagaimana mengeluarkannya. Akibatnya aku menjadi lebih diam dari biasanya. Mungkin pula lebih cuek kepada sekitar, karena pikiranku terfokus untuk keluar dari jeratan kecemasan itu. Di dalam hati, aku bertekad untuk menyembuhkan diri. Menguatkan mental dan pikiranku kembali.

Beruntung, tepat di saat aku merasa tak sanggup lagi, Allah memberiku kesempatan pulang. Walau hanya sebentar dan dalam rangka menunaikan tugas di ibukota, aku menyempatkan pulang. Sebelum sampai rumah, aku bertekad menemui psikolog. Aku tak mau ke psikiater karena tak ingin diberi obat-obatan dan menjadi ketergantungan. Aku bertekad aku harus dalam keadaan lebih baik saat berjumpa dengan keluarga.

Sengaja kuambil penerbangan paling pagi ke Yogyakarta, langsung menuju kampus tercinta. Sayang, Unit Konsultasi Psikologi tak memungkinkan menerima klien dadakan. Beruntung mereka memberikan alternatif ke sebuah klinik psikolog yang bisa menerimaku hari itu juga. Sekitar dua jam kuhabiskan bersama psikolog yang alhamdulillah sangat menenangkan, dan membuatku merasa jauh lebih baik. Aku siap pulang bertemu keluargaku dengan perasaan bahagia dan kembali ke perantauan dengan pikiran yang lebih tertata.

Sampai saat ini aku masih berusaha melepaskan sisa-sisa kecemasan itu. Belajar mengendalikan pikiran dan menjaga kesehatan. Dulu aku masih selalu ingin pulang, dan segalanya masih kubandingkan. Perlahan aku sadar, hidupku sekarang di sini, dan untuk beberapa tahun ke depan memang di sinilah tempatku berdiri. Aku harus menjalani dan menikmati kehidupanku yang sekarang sedang berlangsung disini, bukan membandingkan dengan segala kenyamanan di masa lalu atau mengandaikan masa depan tanpa mengusahakan kebaikan untuk mencapainya.

Terima kasih Tuhan, telah memberikan pelajaran berharga ke dalam kehidupanku ini, dan mengirimkan teman-teman yang tulus dan baik hati. Terima kasih untuk banyak nasehat dan bantuan yang selalu ada. Semoga ke depannya aku lebih kuat dan dewasa untuk menjalani kehidupan, pun bermanfaat bagi sesama. Aamiin.

Padamu Aku Selalu Rindu

Minggu, 21 Agustus 2016

"Padamu, aku selalu rindu." 
Kalimat yang mungkin akan ditafsirkan sebagai penggambaran betapa beratnya menahan rindu pada seseorang yang spesial. Kalimat ini terngiang di otakku sejak kemarian siang. Saat aku melepas kepulangan ibu dan dua adik lelakiku di bandara Mutiara Sis Al-Jufri Palu. Setelah mereka boarding, aku menunggu panggilan untuk penumpang JT 857 tujuan Surabaya untuk memastikan bahwa mereka tidak tertinggal oleh pesawat kepulangan.
Sesaat sebelum boarding, sempetin wefie dulu.




Apa yang lebih membahagiakan daripada dikunjungi oleh keluarga tercinta saat di perantauan? Ah Tuhan, entah bagaimana ku harus berterima kasih pada-Mu atas semua takdir baik ini. Aku selalu percaya bahwa Allah tak pernah kehabisan sumber untuk membahagiakan makhluk-Nya. Salah satu buktinya adalah sedikit cerita konyol dibalik kedatangan mereka kesini. Here we go!


Masih ingat cerita tiga minggu lalu saat aku terpaksa opname, kan? Saat itu, Selasa pagi tanggal 2 Agustus 2016, mereka bertiga sudah boarding di Bandara Internasional Juanda Surabaya untuk terbang ke Palu. Namun, petugas melarangnya karena ternyata tiket tertera tanggal 16 Agustus 2016. Aku yang hari itu sudah diizinkan pulang dari rumah sakit, tak kuasa mentertawakan kejadian konyol tersebut. Saking paniknya sama keadaanku, mereka sampai nggak teliti melihat tanggal tiket yang dibeli. Disitu aku merasa dicintai, sekaligus baru sadar bahwa kekonyolan itu ternyata genetik juga, hahaha :')

Butuh beberapa hari untuk mereka memutuskan refund atau tetap kesini. Dengan pertimbangan Fahmi yang ingin sekali naik pesawat, akhirnya jadi juga mereka terbang. Aku membelikan tiket pulang untuk hari Sabtu, 20 Agustus 2016 dengan pertimbangan masih ada hari Minggu untuk Fahmi beristirahat sebelum masuk sekolah. Jadi aku sudah mewanti-wantinya untuk tidak membolos sekolah di hari Senin dengan alasan kelelahan setelah perjalanan jauh. Maklum, dari Surabaya mereka harus menempuh perjalanan darat sekitar 6 jam untuk sampai di Solo.

Selama mereka di Palu, aku hanya bisa mengajak jalan-jalan ke Pantai Tanjung Karang setelah mengikuti Upacara HUT RI Ke-71 di kantor. Kalau nggak ikut upacara, konsekuensi potongan tunjangannya kejam sekali, huhuhu. Selain itu, mereka hanya kuajak keliling Kota Palu dengan melewati beberapa icon-nya seperti Anjungan Nusantara di Pantai Talise, kampus Universitas Tadulako, dan Jembatan McD. Oh iya, kami juga sempat berkunjung ke rumah salah seorang kerabat jauh yang ternyata sudah lama tinggal di Palu. Tidak lupa juga mereka mencicipi makanan khas di sini, yaitu Kaledo dan ikan bakar di RM Terminal Indah, Donggala. Bisa ditebak, sama sepertiku, mereka tak terlalu menyukai kaledonya, hahaha.
Fahmi nggak peduli teriknya sinar matahari di Pantai Tanjung Karang.

Selebihnya, mereka aku tinggalin motor saja biar pada bereksplorasi sendiri. Benar saja, ibuku bisa sampai ke Pasar Biromaru dan Gong Perdamaian, padahal aku sendiri pun belum pernah kesana. Semua berkat Ibu Andri yang baik hati mau menjadi guide emak-emak kurang piknik dari Sukoharjo itu, hehehe. Terima kasih Bu Andri, semoga Allah membalas kebaikan Ibu dengan berkah yang berlebih. Aamiin.
Mamah yang asyik JJS sementara anaknya masih di kantor, haha.

Sedangkan Faizal, yang sudah jauh diajak ke Pantai Tanjung Karang tetapi tak terkena air pun jalan-jalan sore sendiri di Pantai Talise. Konyolnya, ia memotret STNKnya yang katanya sudah sampai di Palu, walau motornya masih di rumah, hahaha. Kami gagal ke Gong Perdamaian karena susah bangun pagi dan aku selalu buru-buru ke kantor.

Terima kasih gengs, sudah mau jauh-jauh kesini. Ya, walaupun aku tahu kalian lebih bahagia karena bisa jalan-jalan meski kutinggal kerja, hahaha. Aku langsung bingung mau makan apa setelah mereka pulang, karena selama ibuku disini, beliau selalu memasak untukku. Bahkan aku bawa ke kantor untuk dinikmati bersama teman-teman yang kangen masakan Jawa juga. See you soon, all! (Walau mungkin lebaran haji aku akan tetap disini).

Ketika TM Seratus Menit Masih Kurang

Sabtu, 13 Agustus 2016

Happy Saturday night all..!
Bagi yang nggak jomblo pasti lagi wakuncar ya aduh bahasanya dangdut banget, hahaha. Bagi yang jomblo kemana? Kalau kalian tanya aku, jawabanku adalah di mess aja. Jangan salah, bukannya kaga ada yang ngajakin jalan, karena harusnya malam ini aku ngikut makan di Black Canyon sama temen kantor atau kumpul Kelas Inspirasi (KI), cuma karena tadi sore baru kelar pijet, jadi enaknya dibawa gegoleran di kasur sekalian menepati janji ke diri sendiri buat mengurangi keluar malam. Awalnya sih berencana menyelesaikan baca novelnya Pidi Baiq yang DILAN; dia adalah Dilanku tahun 1990. Tetapi dasarnya aku, lebih suka menelpon kawan lama yang nan jauh di sana. Kalau sedang begini, aku merasa menjadi orang yang kuat LDR, karena sejauh apapun jarak yang memisahkan, aku bakal selalu ingat pada orang-orang tersayang.

Korban kangenku malam ini adalah Dena. Neng geulis dari Banten ini adalah sahabat dari masa ospek kuliah sampai detik ini alhamdulillah. Selain satu kelompok semasa ospek, kami berdua juga sebimbingan semasa skripsi. Sebutlah kami sebagai anak bimbingan Daddy, yang berhasil membuatku menangis tak henti-henti sampai dua kali. Tetapi untungnya waktu pendadaran malah dibelain. Nah kan malah curhat, hahaha.

Terakhir kali aku telponan sama dia tuh waktu mengucapkan selamat ulang tahun pada 22 Mei lalu. Itu pun tak berlangsung lama karena aku menelponnya di perjalanan dari makan siang bersama tim waktu masih di Poso. Tak terasa sudah lima bulan berlalu rupanya sejak saat itu. Tetapi rasanya keakraban kami masih seperti bertemu setiap hari.

Setelah ngobrolin kehidupan masing-masing, tak perlu aku jelaskan siapa yang lebih banyak mendominasi obrolan kan? tak terasa paket TM Malam 100 menit telepon pun habis juga. Itu pun nggak terasa, sampai akhirnya Dena pamit duluan karena ada temannya yang lain yang mau digilir ngobrol juga. Terima kasih Dence, sudah merelakan hand phone dan telinga sama-sama panas buat dengerin suara cemprengku selama satu jam lebih dua puluh menit.

Korban yang jadi "tempat sampah" malam ini bukan cuma Dena sebenarnya, masih ada pacar orang yang sabar menyediakan waktu lengkap beserta paketan internet dan pegal-pegalnya jari membalas pesanku. Bukan, bukan aku jadi orang ketiga dalam hubungannya dengan pasangannya. As long as seseorang itu belum menikah, sah-sah saja aku bersahabat dengannya kan? 

Sewaktu aku bercerita kalau aku baru saja menghabiskan 100 menit bonus telepon, dia bilang nggak heran, karena terakhir kali aku menelponnya pun sekitar dua setengah jam. Setelah aku ingat-ingat, benar juga ya, aku tak pernah telponan dalam hitungan menit, melainkan hitungan jam, hahaha. Silakan dibayangkan betapa panasnya hand phone dan kuping pendengarnya. Poinnya di sini adalah aku suka mengobrol, suka bercerita. Jadi untuk siapa pun yang akan menjadi pendamping hidupku nantinya, kuharap engkau dianugrahi kesabaran yang tak terhingga dan kemampuan mendengarkan di atas rata-rata, hahaha.

Mungkin pengalamanku ini bisa menjadi salah satu insight untuk para provider telepon seluler, agar ke depannya dapat memberikan fasilitas tambahan bonus telepon. Karena bagi jomblo yang menjalani hubungan jarak jauh dengan keluarga dan sahabat sepertiku, tak cuma satu orang yang ingin ditelpon untuk menyampaikan rasa sayang dari kejauhan. Kalau buat jomblo yang lain sih mungkin bonus seratus menit masih kurang karena untuk menelpon gebetan-gebetan yang tak terhitung itu harus didukung dengan layanan yang jitu.

Sekian cerita malam ini, kalau ada yang tak berkenan mohon dimaafkan dan ndak usah dimasukkan ke hati. Selamat bermalam panjang, blo! 

P.S. Pacar orang yang aku sebutin ternyata nggak terima disebut sebagai tempat sampah belaka. Pun ternyata dia bete namanya nggak disebut. Padahal kan aku baik, udah melindungi privasinya. Eh doi minta disebut pakai nama samaran semacam "sebut saja Bunga" tapi request-nya "sebut saja Mas Ganteng". Kan aku nggak mau melakukan tindak pembohongan publik ya, hahaha. Kemudian dia minta kompensasi traktiran di Koki Joni. Hayuk aja sih kalau kita sama-sama lagi di Jogja, hiks...

Pindah Bobok di RS Anutapura Palu

Jumat, 05 Agustus 2016

Selamat menyambut akhir pekan guys,
Mari kita bahas cerita yang masih hot kayak nugget gosong baru diangkat dari penggorengan ya, cyin... Ceritanya beberapa hari lalu, aku dengan sangat terpaksa pindah bobok di RS Anutapura Palu. Rumah sakit umum daerah yang berada di Jalan Kangkung, dan dekat dengan Pasar Inpres. Jauh sih kalau dari kantor dan mess. 

Kalau ada yang kepo kenapa aku terpaksa bobok di sana, adalah karena aku kecapekan kebanyakan tingkah seperti biasanya dan sesak napas. Cuma entah kenapa sesak napas ini beda dari biasanya, jadi obat persediaanku udah gak mempan buat menangkisnya. Karena dibarengi dengan jantung yang berdegup kencang seperti orang setelah lelah berlarian mengejar mantan, didugalah aku menderita psikosomatis. Kalau kata sahabatku yang anak kedokteran, psikosomatis adalah stres yang bergejala fisik. Kalau pingin tahu lebih jelasnya silakan googling sendiri ye, hohoho.

Sebenarnya aku sudah masuk UGD di RS Bala Keselamatan Woodward, di lewat tengah malam, pukul setengah satu dini hari. Tetapi karena di sana hanya tersisa kamar kelas III, aku kekeuh raawat jalan aja. Kemudian masih sempat singgah ke RS Budi Agung buat ngecek ketersediaan kamar, karena di sana juga sudah bekerja sama dengan BPJS. Hasilnya nihil dan diputuskan ke RS Anutapura di hari Minggu pagi. 

Setelah masuk UGD, dikasihlah hasil rekam EKG dari RS Woodward sebelumnya, dan udah diinfus pake cairan warna pink. Masih pakai selang oksigen waktu di UGD. Harus bersabar beberapa saat untuk akhirnya dapat kamar di VIP 5 Lantai 3.

Sesungguhnya aku cuma merasa pusing dan lemas aja, dan agak lebih capek kalau habis ketawa. Aku mikirin apa ya kok sampai stres segitunya? Gausah dipikir deh yang penting sekarang sehat dulu ya.. Karena sesungguhnya sakit di perantauan itu menyusahkan orang lain. Aku jadi nggak enak hati sama teman-teman seperjuangan yang udah baik hati dengan tulusnya mau menemani bermalam di RS. Semoga Allah membalas kebaikan hati kalian ya, teman-teman tersayang :-*

FYI aku nggak tau ya gimana hitung-hitungannya tapi semuanya gratis. Aku pake BPJS yang buat ASN golongan IIIA, nggak paham itu yang per bulan berapa iurannya. Aku baru tahu sih kalau harga kamarku tanpa asuransi ternyata 650 ribu. Udah kayak hotel bintang 3 aja. Di sini aku makin bersyukur jadinya. Dibalik sakit yang diberikan oleh-Nya, dia tetap menyayangiku, meringankan bebanku. 

Sekarang fokus sembuh dulu biar nggak bikin orang-orang khawatir dan merepotkan lagi. Belajar menyeimbangkan ritme tubuh dan pikiran. Bismillah, pasti bisa lebih baik ke depannya.
 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS