Pages

Diary Work From Home Day 3 : Let's Take A Walk Around The Neighbourhood To Get The Sunshine

Kamis, 19 Maret 2020

Halo gaes, sehat semua kan?
Apa kabar Work From Home kalian? Is it fun, or boring?

Seperti sebelumnya hari ketiga dimulai dengan rapat online pakai aplikasi Zoom bersama rekan-rekan dan pimpinan eselon II. Membahas rencana kegiatan yang mana yang dilanjutkan dan mana yang perlu dikoreksi dalam pelaksanaannya. Hahahaha kaku banget ya bahasaku. Ya, begitulah pokoknya.

Untuk mendapatkan secercah harapan vitamin D yang terdapat dalam sinar matahari pagi, aku dan tetangga kos jalan pagi keliling kompleks. Kami membeli berbagai keperluan seperti makanan dan minuman. Di sekitar kantor masih banyak penjual sarapan seperti bubur ayam dan nasi kuning, kami pun sengaja membeli dua porsi sekaligus agar tak perlu keluar kos lagi. Kami juga membeli jamu kunyit asam sirih dan beras kencur jahe yang dijual per botol oleh simbah jamu langganan di depan kantor.

Selain itu, kami membeli cabai dan sayuran di tukang sayur keliling. Sayuran dan bahan makanan buat masak simpel pakai magic com ala anak kos tentunya hahahaha. Malam harinya aku memang niat engga makan, tetapi ternyata masih punya tiga potong bolu Meranti tempo hari. Karena lapar aku engga mau membuang makanan, akhirnya kulahap juga itu biar engga keburu basi ye kan.

Angka positif COVID-19 pada Rabu (18/3) kemarin adalah 227 kasus. Angka positif COVID-19 yang diumumkan pada Kamis (19/3/2020) ini menjadi 309 kasus. Berarti ada lonjakan 82 kasus positif COVID-19 dalam sehari. Lebih parah dari lonjakan-lonjakan sebelumnya :((

Oke teman-teman sehat selalu ya... Bagaimanapun membosankan kehidupan kita di balik pintu kosan mungil ini, mari tetap bersyukur karena tak semua orang mendapatkan privilege buat WFH untuk mengoptimalkan social distancing. Mari kita jaga diri jaga kesehatan, tak lupa mendoakan sesama agar sehat semua, apalagi untuk para tenaga kesehatan dan sesama yang harus tetap bekerja setiap hari di luar sana. Semoga wabah Covid 19 ini segera berakhir, aamiin. 

Diary Work From Home Day 2 : Let's Start the Online Meeting Using Zoom!

Rabu, 18 Maret 2020

Halo gaes, please stay at home ya buat social distancing. Buat teman-teman yang masih harus bekerja di luar rumah, dan terutama para tenaga kesehatan, tetap semangat, stay safe and healthy. Semoga epidemi ini segera berakhir, aamiin.

Jadi di hari kedua Work From Home ini aku bangun kesiangan, sampai udah dicari di whatsapp group. Bonus omelan dari atasan pastinya, hehehe. Setelah kami semua sudah aktif di grup, masing-masing melaporkan rencana kegiatan yang mau dikerjaan hari ini. Aku memutuskan melanjutkan pekerjaan yang kemarin karena jumlahnya belum memenuhi batas minimum.

Menjelang sore, kami mencoba berkoordinasi dengan menggunakan aplikasi Zoom. It works! Jadi kami rapat bersama dengan pimpinan eselon II, kemudian lanjut dengan rapat internal di subbag. Seperti kemarin, menjelang 16.30 WIB, kami harus melaporkan progress kerjaan masing-masing.
Zoom meeting
Ada yang bego hari ini. Aku pesan go-food sekalian dua porsi dengan maksud sekalian untuk makan sore karena tidak berencana makan malam, ternyata salah memilih menu. Aku pilih nasi pecel untuk sore, tetapi ternyata sambal kacangnya sudah agak basi. Alhamdulillah sambalnya diplastik terpisah, jadi aku masih bisa makan lauk sayuran dan gorengan, hahahaha. Harusnya tadi aku simpan di kulkas dulu sambalnya ya biar ga basi kalau dikonsumsi sore hari.

Angka positif COVID-19 pada Selasa (17/3) kemarin adalah 172 kasus. Angka positif COVID-19 yang diumumkan pada Rabu (18/3/2020) ini menjadi 227 kasus. Berarti ada lonjakan 55 kasus positif COVID-19 dalam sehari. Lebih banyak dari sebelumnya :((

Oke segitu aja sih catatan hari kedua ini. Oh iya untuk teman-teman yang menggunakan jasa ojek online untuk membeli makan sehari-hari pada situasi seperti ini, kalau bisa kasih tips lebih ya untuk Bapak/Ibu Driver-nya, syukur kalau berkenan melebihkan pesanan untuk berbagi dengan mereka. Semoga segera terhenti ya wabah Covid-19 ini, aamiin.

Diary Work From Home Day 1 : Let's Start the Isolation Day!

Selasa, 17 Maret 2020

Halo gaes, semoga kita semua sehat dan terlindungi dari penyakit apapun ya...!
Ini postingan pertamaku di tahun 2020 yang tak terasa telah memasuki bulan ketiga. Sejak awal tahun kita diuji dengan berbagai cara, dari banjir sampai Virus Covid-19. Kejadian-kejadian buruk yang rasanya hanya kita lihat di TV, mendadak terasa sangat nyata di depan mata. Di tengah rasa bosan yang melanda karena disuruh di rumah saja, aku kepikiran buat bikin semacam catatan harian buat merekam kegiatan selama Work From Home ini.

Honestly, untuk orang yang terbiasa banyak gerak kayak aku, WFH itu sangat membosankan. Sebelum WFH diberlakukan, ada rencana untuk tetap masuk kantor secara bergiliran. Sebagai anak kos yang kepleset aja juga sampai ke kantor, aku tak berkeberatan untuk tetap ke kantor setiap harinya. Namun kebijakan atasan berkata lain, kami semua WFH sampai dua minggu ke depan.

Hari pertama, aku masih jalan pagi buat beli sarapan sekalian ke apotek, beli obat anti alergi langgananku, karena akhir-akhir ini sering kambuh. Akhirnya aku dan tetangga kosku jalan pagi. Tanpa diduga, kami harus membatalkan janji makan malam karena beredar kabar kalau sudah ada Pasien Dalam Pengawasan (PDP) di daerah kompleks kos kami.
Sumber: tokopedia.com
Jadilah seharian mengerjakan tugas dan melaporkan via whatsapp group ke atasan, lengkap dengan hasil tangkapan layar atas pekerjaan yang telah selesai. Tak banyak yang aku selesaikan karena masih bingung mau mengerjakan yang mana dulu. Ini baru permulaan, masih harus lanjut seperti ini dalam dua minggu mendatang. 

Angka positif COVID-19 di Indonesia pada Senin (16/3) kemarin adalah 134 kasus. Angka positif COVID-19 yang diumumkan pada Selasa (17/3/2020) ini menjadi 172 kasus. Berarti ada lonjakan 38 kasus positif COVID-19 dalam sehari.

Semangat gaes, jaga kesehatan!

Review BB Cream Etude House

Sabtu, 05 Oktober 2019

Hello gaes, selamat berakhir pekan ya!
Aku mau sharing pengalamanku pakai BB Cream Etude House for daily use nih, mana tau ada teman-teman yang bingung nyari BB Cream yang tepat dan tipe kulitnya kayak aku.

Ini pakai BB cream blooming fit. Kena basuh air wudhu tanpa touch up.

BB cream blooming fit & BB cream moist. Tuh udah sampai pudar yang blooming fit, pertanda beneran daily use.
Ini udah pake yang BB cream moist, setelah yang blooming fit habis, tanpa basuhan air wudhu juga.

Ini pakai BB cream moist dan berpanas polusi udara ibukota tanpa kena basuh air wudhu. Abu-abu banget ya, mungkin karena kadar SPF-nya yang tinggi.
Sebagai wanita kita sudah terbiasa kan ya pakai make up buat dandan tiap pagi. Hmmm aku pakai ini hampir tiap pagi ke kantor ga mungkin ga pakai ya. Aku pilih BB cream for daily use karena menurutku teksturnya ga sepadat dan seberat foundation kalau dipakai. Pertama yang aku coba adalah varian Precious Mineral BB Cream Blooming Fit yang ada SPF 30-nya. 

Aku beli di Toko Mutiara Palu dan pakai sudah lama banget, sekitar tahun 2017. Waktu itu harganya sekitar 350 ribu dengan kemasan 60 gram. Baru habis di tahun 2019 ini, padahal aku pakai hampir tiap hari lho. Selama pemakaian dua tahun itu aku ga merasa ada yang aneh, kecuali akhir-akhir ini pas udah mau habis rasanya di muka agak panas. Hahahaha mungkin sebenernya udah expired ya? Tapi gak sampai bikin bruntusan atau jerawatan sih jadi ya aku beneran pakai sampai habis. Kemasan tube-nya yang tinggal pencet itu praktis banget. SPF 30-nya udah cukup banget buat dipakai berpanas ria di pantai Sulawesi Tengah lho!

Biasanya, aku kalau udah cocok sama suatu brand, apalagi buat muka, pasti aku repurchase lagi dan lagi. Nah karena susah cari Etude House di mall, akhirnya aku beranikan diri cari di online shop. Ketemulah sama Cherrychup Store di Shopee. Aku sempat tanya dulu, lebih bagus mana BB cream untuk kulit kering, Misscha atau Etude, terus warna yang paling mendekati sama BB cream-ku yang lama warna yang mana. Hahahaha ribet ya? Jelas dong, demi engga beli kucing dalam karung gitu, apalagi ini buat muka, yang setiap orang bisa liat, buat daily use pula. Alhamdulillah ya adminnya sabar jawab satu per satu pertanyaanku. Akhirnya belilah aku Precious Mineral BB Cream Moist yang ada SPF 50-nya. Kemasan 45 gram dan lebih ramping daripada yang blooming fit series. Sebelumnya pakai SPF 30 aja udah oke, apalagi sekarang pakai SPF 50, semoga lebih mantap menghadapi panas ibukota.

Setahun Pascagempa Palu: Sebuah Perjalanan Kehidupan

Rabu, 02 Oktober 2019

Hai, teman-teman nyata di dunia maya! Ternyata sudah lebih dari setahun aku tak menulis di blog ini. Maaf kalau nanti bahasanya masih kaku ya.

Setahun lalu aku mengalami gempa bumi di Palu, Sulawesi Tengah, cerita selengkapnya bisa kalian baca di postingan sebelum ini. Bulan Oktober tahun lalu, aku masih di rumah karena kantor kami libur tanggap darurat bencana sampai 26 Oktober 2018. Aku lebih banyak di rumah, masih takut bepergian dan mudah kaget mendengar suara dan getaran yang datang tiba-tiba. Aku masih ingat, senyum pertamaku setelah gempa adalah di pernikahan sahabatku, Steffy, yang diadakan di Bali pada 20 Oktober 2018. Itupun aku datang setelah membulatkan tekad untuk melawan rasa takut. Sewaktu jalan-jalan sendirian ke Ubud, aku menantang diri sendiri untuk naik wahana ayunan yang tinggi itu. Ternyata aku masih berani, syukur alhamdulillah.
My first smile at Stef's Wedding (20/10/18)

Harusnya aku gak pakai baju warna hijau juga biar lebih keliatan ya.
Aku kembali ke Palu setelah transit Makassar untuk mengikuti seleksi beasiswa Bappenas 2019. Kami tinggal di kantor dengan tidur berjamaah di mushola, masak dan makan bersama di dapur umum, antri mandi, berebut tempat di bangunan semi permanen yang berguna sebagai kantara (kantor sementara), dan pergi kemana-mana hampir selalu ada temannya. Saat itu, bahkan sampai sekarang, gempa masih tiba-tiba mengguncang meski dengan skala kecil yang bahkan kadang tak kami rasakan.

Lalu tibalah libur akhir tahun. Saat itu aku tak ingin berlibur karena pasti di mana-mana akan sama saja, macet. Tiba-tiba aku ingin pergi umroh saja. Ya, tiba-tiba saja terpikir dan berkeinginan kuat untuk mewujudkannya itu juga. Padahal sudah sejak tahun 2017 teman dan keluarga menyarankan untuk ke sana, tetapi selalu saja ada alasanku untuk menolaknya. Akhirnya setelah menemukan travel yang jadwalnya langsung berangkat dan pesawatnya bukan Lion Air, aku langsung mengurus semua perlengkapannya. Alhamdulillah semuanya lancar sampai aku kembali ke tanah air lagi.
Rindu ke sana lagi ya Allah... Semoga nanti ke sana lagi sama suami ya. Aamiin.
Januari tahun ini aku kembali ke Palu lagi, meskipun sudah ada SK mutasi ke Jakarta, namun aku masih bertugas di Palu sampai bulan Mei sebelum Idul Fitri. Alhamdulillah kami sudah bisa menempati rumah dinas yang telah selesai diperbaiki, tak perlu memperpanjang durasi masuk angin hampir tiap malam dan menahan rasa pegal di badan karena terlalu lama tidur di dalam tenda dengan alas kasur tipis seadanya. Kembali bisa tidur di atas springbed adalah suatu kemewahan karena teman-teman yang lelaki masih harus tidur di kantara karena mess baru bisa dipakai kembali setelah libur lebaran.

And here I am! Aku mensyukuri perpanjangan usiaku setahun setelah gempa Palu, dengan mencicipi pedasnya gas air mata sisa demonstrasi yang sampai anarki dan merusak kantor kami. Ternyata kejutan dalam hidup ini juga mengajarkan tentang melawan ketakutan demi ketakutan dalam menjalaninya, ya? But don't worry, kita punya Allah kok, kita bisa merapal "Lā haula wa lā quwwata illā billāh" yang artinya, “Tiada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Allah" untuk melawan rasa takut itu dan biar lebih tenang hati. Sungguh aku setuju dengan tagline Chitato yang enak tapi aku tak bisa makan itu: life is never flat!

Selamat dari Gempa Palu (Part 4 ~ end)

Jumat, 05 Oktober 2018

Pada hari Minggu (30/09/2018) pukul 03.20 WITA dini hari, kami mendapat kabar bahwa akan ada pesawat Hercules masuk ke Palu membawa bantuan dan bisa membawa penumpang keluar dari Palu ke Makassar. Tanpa pikir panjang aku langsung memutuskan ikut ke bandara membawa ransel berisi laptop dan mukena, tas berisi dompet dan hp, serta satu kantong plastik berisi sepatu dan satu setel pakaian yang berhasil kuambil dari mess pada hari sebelumnya. Aku bersama teman-teman yang mayoritas perempuan tiba di bandara yang sudah dipenuhi banyak orang. Prosedur pendaftaran untuk naik pesawat Hercules pun tampaknya belum diatur dengan jelas sehingga banyak orang mengantri di dekat pagar landasan pesawat.

Kami mengantri dari menjelang shubuh di Bandara Mutiara Sis Al-Jufri Kota Palu. Foto diambil 30/09/2018.
Petugas berusaha menertibkan masyarakat yang ingin dievakuasi dengan pesawat Hercules. Foto diambil 30/09/2018.
Pesawat yang mari sebut saja Hercules. Foto diambil 30/09/2018.

Petugas mengedarkan daftar presensi selama penerbangan Palu - Makassar. Foto diambil 30/09/2018.

Beberapa mobil ambulans langsung mendekati pesawat begitu mendarat di Makassar. Foto diambil 30/09/2018.
Aku dan beberapa teman yang merasa tidak kuat untuk berdiri lama, memilih menunggu di dalam mobil saja. Saat waktu shubuh tiba pun kami terpaksa sholat di dalam mobil juga. Sampai akhirnya matahari bersinar terang dan semakin banyak orang, kami memutuskan ikut mengantri dari jarak dengan pagar. Sempat terjadi aksi dorong-mendorong yang menyebabkan kami bisa masuk ke area landasan pesawat dan memancing emosi petugas yang berusaha menertibkan antrian yang carut-marut ini. Petugas bilang bahwa kami duduk saja dan nanti namanya akan dipanggil. Namun tidak jelas kepada siapa kami harus mendaftarkan diri. 

Ketika sudah ada suara pesawat mendarat, ternyata tujuan terbangnya adalah ke Manado, bukan Makassar. Kembali terjadi aksi dorong-mendorong di antrian yang membuat anak-anak kecil yang berada di tengah kerumuman tergencet dan hampir pingsan. Beberapa kali kami duduk-duduk dan berdiri lagi mendekat ke kerumunan antrian tanpa kepastian. Aku berusaha untuk tidak terpisah dari teman-temanku. Sampai para petugas membuat pagar betis untuk memprioritaskan hanya ibu-ibu dan anak-anak yang boleh masuk ke kawasan landasan pesawat terlebih dahulu.

Pada saat itulah aku bersama Fariz (4 tahun) dan Mas Jae terpisah dari rombongan teman-teman kami. Tiba-tiba di depanku melintas seorang petugas memakai seragam rescue berwarna merah dan menanyakan tujuan kami, ke Manado atau ke Makassar. Aku dengan pasrah menjawab, "terserah kemana aja yang penting keluar dari Kota Palu ini dulu". Ternyata bapak tersebut mengajak kami bertiga untuk ikut bersamanya masuk ke kawasan landasan pesawat. Aku sudah berusaha mengatakan bahwa ada seniorku yang sedang hamil (ibunda Fariz) yang ketinggalan di rombongan belakang. Bapak itu bilang, "yang penting selamat dulu, jangan bawa-bawa teman, nanti petugas marah". 

Kami mengikuti bapak itu untuk menuliskan nama, kemudian digabungkan dengan orang-orang yang sudah bergerombol dan dihitung. Sekitar 80 orang waktu itu diminta langsung masuk ke pesawat TNI yang sepertinya terlalu kecil untuk disebut Hercules tapi karena aku tidak paham nama-nama pesawat, jadi mari kita sebut saja Hercules. Di dalam pesawat tidak semua orang dapat tempat duduk, diutamakan untuk wanita dan anak-anak. Aku duduk dengan Fariz di pangkuanku, sementara mas Jae lesehan selama penerbangan berdurasi 1 jam 20 menit itu. Di dalam pesawat yang lepas landas sekitar pukul 8.50 WITA tersebut, petugas mengedarkan kertas untuk kami isi nama masing-masing termasuk nama anak yang kami bawa.

Begitu mendarat di Bandara Hasanuddin Makassar, kami diminta menuliskan lagi nama dan alamat tujuan. Sementara menunggu mas Jae yang sedang menulis, Fariz sudah berteriak memanggil ayahnya. Alhamdulillah ternyata sudah banyak teman-teman dari Perwakilan Sulsel yang menjemput kami. Aku terharu dengan kekompakan dan kebaikan teman-teman di kantor ini, yang sudah saling bantu dengan tulus ikhlas, semoga Allah membalas kebaikan mereka dengan pahala dan keberkahan yang lebih banyak lagi. Ternyata ibunda Fariz beserta teman-teman serombongan harus bersabar untuk menanti penerbangan jam 2 siang karena kabarnya menunggu rombongan Presiden Jokowi selesai dahulu.

Setelah istirahat semalam di Makassar, aku dan dua rombongan keluarga lain bertolak menuju domisili masing-masing. Aku yang sama sekali tidak menangis saat gempa mungkin efek terlalu syok juga malah tersedu-sedu sendirian di pesawat menjelang pendaratan di Jogja. Rasanya sangat rapuh, sedih sekaligus mengkhawatirkan teman-teman yang masih ada di Palu. Bertemu keluarga pun seperti orang linglung, tidak fokus pada apa yang mereka bicarakan karena pikiran dan hatiku masih pilu mengingat teman-teman di Palu.

End.

 

Selamat dari Gempa Palu (Part 3)

Hari Sabtu (29/09/2018) sebagian besar dari kami yang mengungsi di kantor telah berpindah ke mess. Di halaman mess, teman-teman membuat tenda darurat dari terpal yang dikaitkan ke ranting pohon. Aku juga sempat masuk ke dalam kamarku di mess untuk mengambil laptop, satu setel pakaian, mukena, sajadah, alat mandi, bantal, dan selimut. Aku hanya membawa peralatan yang benar-benar penting karena dikhawatirkan ada gempa susulan, sehingga setiap orang hanya diberi waktu selama lima menit di dalam bangunan. Sama seperti di kantor, orang-orang masuk ke mess dengan menggunakan helm dan bergantian dengan beberapa teman yang berjaga di luar bangunan.



Dapur mess yang porak poranda. Foto diambil 29/09/2018.
Lampu penerangan yang tumbang dan pagar kompleks yang roboh. Foto diambil 29/09/2018.
Tenda darurat dari terpal yang kami buat. Foto diambil 29/09/2018.
Lantai garasi yang menganga dan tandon air yang jatuh. Foto diambil 29/09/2018.
Gazebo di tengah kompleks yang telah roboh. Foto diambil 29/09/2018.

























Secara fisik keadaan mess lebih parah daripada kantor. Gazebo di tengah halaman dan pagar yang mengelilingi mess roboh, permukaan tanah tempat ground tank di mess terangkat, bangunan dan beberapa garasi rumah dinas retak sampai menganga, muncul lumpur di beberapa titik, serta tangga penyangga tandon air dan beberapa tiang lampu penerangan di kompleks mess patah. Namun suasana di mess lebih hidup sehingga kami lebih semangat ketika berada di sana.

Seperti sudah terbagi, ada teman-teman yang menyiapkan makanan dengan stok yang masih ada dari mess dan rumah-rumah dinas, ada juga yang melanjutkan pencarian terhadap beberapa keluarga teman-teman yang belum ada kabarnya. Aku sempat ikut rombongan yang berkunjung ke kantor lagi karena di mess tidak ada ada sinyal. Kami membeli tambahan bahan makanan dan sayuran di warung yang masih buka. Kami saling menguatkan dengan saling bertukar kabar dan diselingi becanda bersama. Kami makan dengan nasi dan lauk seadanya dengan daun pisang yang "dipincuk". Itupun pincuknya kami simpan untuk sesi makan berikutnya. Meskipun makan dengan porsi mini, namun kebersamaan memang menguatkan dan menambah kenikmatan.

Saat malam menjelang, kami bersama-sama tidur di bawah tenda karena kami tidak berani berada di bawah bangunan meskipun hanya di teras atau di garasi perumahan. Guncangan-guncangan gempa lebih terasa jika kita berada di lantai bangunan daripada duduk di atas paving blok. Semuanya teratur, ibu-ibu dan anak-anak tidur di atas kasur yang dikeluarkan dari rumah-rumah dinas, sisanya menempatkan diri masing-masing dan ada pula yang tidur di dalam mobil dengan kaca terbuka. Sempat hujan juga di tengah malam sehingga yang tidur beratapkan langit karena panjangnya terpal tidak dapat menaungi kami semua harus kembali mencari tempat yang lebih aman. 

Bersambung~

Selamat dari Gempa Palu (Part 2)


Jumat malam itu terasa sangat panjang. Tak terhitung berapa kali kami saling berpegangan tangan dan menyebut nama Allah saat tiba-tiba bumi kembali berguncang. Jaringan telepon, internet dan listrik yang mati total membuat kami semakin panik dan takut tak dapat mengabari keluarga masing-masing di luar kota hanya untuk mengabarkan keselamatan kami. Kami pun mendapat kabar bahwa tsunami telah menyerang Pantai Talise yang pasti sedang dipenuhi banyak orang berkaitan dengan pembukaan acara Palu Nomoni 2018. 

Halaman belakang kantor tempat kami bermalam setelah gempa besar hari Jumat. Foto diambil Sabtu (29/09/2018)

Seorang warga berjalan di Jalan Dewi Sartika Kota Palu. Foto diambil Sabtu (29/09/2018)

Bangunan yang miring akibat gempa di Jalan Dewi Sartika Kota Palu. Foto diambil Sabtu (29/09/2018)
Aku merasa bersyukur bahwa kami masih diberi keselamatan, sekaligus was-was dan takut jika tiba-tiba muncul bencana yang lebih besar dan saat itu menjadi saat terakhirku di dunia ini. Aku benar-benar takut amalanku belum cukup untuk kembali pada-Nya. Waktu itu terasa sekali bahwa yang paling dekat dengan manusia adalah kematian, namun aku merasa lalai dalam mempersiapkannya. Aku beneran merasa takut, tak berdaya dan menyesal selama ini masih sering sombong dan melakukan hal-hal tak berguna.

Sepanjang malam itu kami saling menguatkan dan berdoa bersama-sama. Jika ada orang yang datang, kami langsung terjaga. Pun jika ada gempa susulan yang besar, kami langsung duduk waspada dari posisi tidur masing-masing, karena setiap akan ada gempa yang besar dan terasa, kami seperti mendengar suara dentuman entah dari mana asalnya. Jangan ditanya berapa kali gempa susulan, karena sepanjang malam kami merasa seperti dalam ayunan. Kami sampai tidak bisa membedakan apakah itu benar-benar gempa atau kami yang pusing karena lelah dan kurang tidur. Aku sangat memohon pada Allah agar malam itu tidak hujan, karena aku takut malam akan semakin mencekam jika tak ada sinar bulan. Alhamdulillah bintang dan bulan menemani tidur ayam kami sampai pagi. Saat melaksanakan sholat shubuh pun aku masih sempat takut kalau matahari tak bersinar. Alhamdulillah hari Sabtu (29/09/2018) matahari bersinar terik sebagaimana biasanya di atas Kota Palu.

Ketika cahaya matahari pagi sudah mulai menerangi, kami memberanikan diri untuk jalan-jalan di sekitar kantor. Mengamati dan mengabadikan beberapa kerusakan kantor dari jarak aman. Waktu itu, dengan menggunakan helm, beberapa orang termasuk aku, memberanikan diri untuk masuk kembali ke dalam bangunan kantor. Posisi mejaku yang tidak mendapat jendela langsung keluar gedung, gelap dengan almari kaca yang telah jatuh mengunci kursiku sehingga sulit dipindahkan. Aku merasa takut dan hanya bisa membawa barang seperlunya. Alhamdulillah tasku sudah di bawah meja dan dompet serta hp sudah ada di dalamnya, tinggal ambil saja karena memang pada hari sebelumnya aku sudah bersiap akan pulang. 

Dari malam aku tidak enak makan, sehingga hanya mengganjal perut dengan sekotak sari kacang hijau dan air putih. Saking takut dan was-was, aku merasa tidak lapar. Pagi hari baru aku makan mie instan yang dimasak oleh teman-teman pada tengah malam dan teh hangat buatan mbak Ika yang kami dapatkan dari stok kantin kantor. Sekiranya cukup untuk menenangkan dan memberi energi untuk melanjutkan hidup. Alhamdulillah aku sempat tidur beberapa saat sebelum abang-abang datang dan menginstruksikan bahwa sebaiknya kami pindah ke mess saja karena di mess sedang diusahakan menyalakan genset untuk menyalakan pompa air dan mengisi batre hp. Beberapa teman yang menggunakan XL dan Telkomsel sesekali mendapat sinyal sehingga kami bisa mengirimkan kabar kepada keluarga masing-masing.

Bersambung~

Selamat dari Gempa Palu (Part 1)

Kamis, 04 Oktober 2018

Sore itu hari Jumat (28/09/2018) menjelang Maghrib aku masih di kantor, menginput beberapa surat tugas yang baru ditandatangi oleh kepala kantor. Sebenarnya ada keinginan untuk pulang ke mess, namun kupikir nanggung, sekalian saja aku selesaikan dulu pekerjaan daripada hari Sabtu aku harus ke kantor lagi. Namun tiba-tiba gempa mengguncang bangunan kantor kami. Awalnya aku masih tenang, karena dari jam 2 siang sudah ada tiga kali gempa berkekuatan lebih dari 5 SR dan kami tidak apa-apa. Tetapi aku salah, gempa yang terjadi kekuatannya lebih besar dan durasinya lebih lama dari tiga gempa yang terjadi sebelumnya pada hari itu, sehingga aku berlari dengan panik untuk segera keluar gedung kantor.

ATM depan kantor kami rubuh seketika. Foto diambil Sabtu (29/09/2018).

Bangunan kantin dan ruang genset kantor yang terbelah menjadi 3 bagian. Foto diambil Sabtu (29/09/2018).

Permukaan tanah yang bergelombang terlihat dari paving blok yang sudah tidak rata lagi. Foto diambil Sabtu (29/09/2018).

Pintu depan kantor di sisi selatan. Foto diambil Sabtu (29/09/2018).

Aku berlari tanpa alas kaki, dalam kondisi panik dan takut, aku terus menyebut nama Allah.  Tak peduli terpeleset karena dalam otakku saat itu adalah bagaimana caranya agar aku bisa segera keluar dari gedung itu. Tepat di depan tangga lantai 1, aku melihat seorang lelaki berjaket hitam yang terpeleset dan ada air entah dari mana. Dilema antara ingin menolong dan menyelamatkan diri, akhirnya aku memutuskan keluar dari pintu kaca di belakang kantor. Karena lantai depan pintu sudah bergeser ke atas, membuat pintu itu tak bisa dibuka secara sempurna. Akhirnya aku terperosok di taman dan parit kecil di dekatnya. Pikiranku masih dihantui ketakutan akan kemungkinan robohnya gedung dan pecahan kaca yang bisa mengenaiku kapan saja. Aku langsung bangkit dari dan melompat sehingga badanku jatuh berguling di paving blok di halaman belakang kantor. 

Aku segera bangkit dan menghampiri seorang satpam senior yang sedang menenangkan dua remaja putri peserta latihan karate di kantor kami. Kemudian dari pintu tempatku keluar, muncul tiga orang teman yang baru saja keluar gedung. Kami langsung berkumpul bersama di dekat mushola. Beberapa saat kemudian muncul Pak Heri yang menyebut namaku. Aku langsung merespon bahwa aku selamat dan aku bilang kalau ada lelaki berjaket hitam terpeleset di lantai 1 yang tiba-tiba berair. Ternyata lelaki itu adalah Bang Ipang. Alhamdulillah dia selamat setelah keluar dari lobby depan. Air yang tetiba muncul ternyata adalah air akuarium besar yang kacanya telah pecah. Jangan tanyakan kami bagaimana nasib ikan arwana seharga 40 juta rupiah yang menjadi penghuninya. Entah bertahan atau tidak.

Ternyata masih banyak orang yang belum pulang. Akhirnya kami menggelar karpet mushola di halaman belakang tempat yang biasanya digunakan untuk latihan karate. Kami juga mengeluarkan seluruh isi almari mushola berupa mukena, sajadah dan sarung. Beruntung air di tandon mushola masih ada sehingga dapat kami gunakan untuk wudhu dan bersuci setelah buang air. Mukena-mukena juga sangat bermanfaat untuk kami menghangatkan diri dari dinginnya malam. Kami tidur memakai mukena sepanjang malam.

Bersambung~

Delay 6 Jam Oleh Lion Air

Senin, 27 Agustus 2018

Delay atau penundaan penerbangan sebenarnya adalah suatu hal yang lumrah terjadi pada dunia penerbangan kalau waktunya masih masuk akal dan ga kebangetan. Aku pikir ya hitung-hitung sekalian nambah waktu istirahat apalagi kalau persiapan dan perjalanan ke bandaranya buru-buru banget. Boleh lah buat bernapas sebentar. Tapi tidak dengan yang kualami seminggu lalu, penerbangan Lion Air dari Solo ke Jakarta. Seharusnya 13.40 WIB sudah terbang ke Cengkareng, eh kami harus menunggu sampai pukul 20.00 WIB baru beneran lepas landas.

Kalau sudah ada kepastian delay sekian jam, kan lumayan ya, aku masih bisa pulang dulu, baru nanti balik lagi ke bandara. Nah ini dramanya, penumpang disuruh nunggu tanpa waktu yang dapat ditentukan. Pemberitahuan pertama waktu check in dan masukin bagasi, katanya delay sejam. Masih ok tuh, aku masih santai, setelah sholat duduk cantik pesan teh uwuh di kedai Tong Tjie favorit.

Kedai Teh Tong Tji di Bandara Adi Soemarmo Solo.
Lewat sejam, ga ada pemberitahuan lebih lanjut delay sampai jam berapa. Sekitar lewat dari jam 3 sore para penumpang disuruh masuk ke pesawat. Aku ga ingat berapa lama, karena sempat tertidur mungkin efek minum obat atau emang pelor (nempel molor), tiba-tiba penumpang lain mulai gaduh dan entah siapa yang memulai, satu per satu turun dari pesawat dan kembali ke ruang tunggu bandara. Beberapa orang terlihat tergesa dan menuju ruang customer service termasuk aku. Dengan mata yang masih mengantuk dan kesadaran yang belum penuh, aku ikut arus para penumpang yang ingin meminta kepastian penundaan tersebut sampai kapan. Perlu diperhatikan aku masih mempunyai penerbangan lanjutan dari Jakarta ke Palu yang akan boarding pada pukul 17.30 WIB.

Jika penumpang lain ada yang minta refund dan lain sebagainya, aku hanya minta kepastian bagaimana kelanjutan penerbanganku. Aku sudah berpengalaman untuk tidak minta refund karena selain uang yang kembali tidak penuh, juga biasanya tiket di hari berikutnya akan sangat mahal sekali. Jadi prinsipku kalau terkena delay adalah yang penting maskapai bertanggung jawab atas keselamatanku sampai di tujuan.

Petugas menyatakan ada penerbangan Batik Air yang bisa aku ikuti pukul 02.30 dini hari. Namun, ia tidak serta merta memesankan penerbangan tersebut karena siapa tahu aku masih bisa mengikuti penerbangan Lion pukul 18.00 WIB. Berbekal pengalaman ketidakjelasan penundaan penerbangan itu, aku kekeuh minta langsung dipindahkan ke penerbangan dini hari saja. Setidaknya aku tidak terlalu khawatir jika ketinggalan pesawat yang sesuai jadwalku sebelumnya.

Sekitar pukul 17.30 WIB kami diminta masuk ke pesawat lagi. Selang 15 menit belum ada tanda-tanda pesawat akan terbang, para penumpang lebih emosi dari yang sebelumnya. Kesempatan itu aku gunakan untuk menelpon keluargaku untuk menyusulkan handphone yang tertinggal. Kulihat banyak penumpang marah-marah di gate dan beberapa terlihat merekam peristiwa itu dengan gawai masing-masing. Banyak juga penumpang yang meredam emosi dengan menonton pertandingan Asian Games 2018. Setelah menemui kakakku, aku kembali ke waiting room dan menunaikan sholat karena adzan maghrib telah berkumandang. Saat itu aku sudah lebih santai untuk menanti lanjutan delay, jadi kuputuskan untuk kembali nongkrong di kedai Tongtji sambil menikmati bekal dari ibuku dan minum obat. Baru makan dua suap dan teh uwuh belum tersentuh, tiba-tiba panggilan masuk ke pesawat kembali diumumkan.

Dengan sigap aku kembali memasukkan bekal ke dalam tas dan meminta tolong pelayan untuk membungkus teh uwuh yang belum tersentuh. Banyak orang memenuhi gate selain yang mengantri untuk masuk ke pesawat, ternyata ada pembagian kompensasi masing-masing penumpang sebesar tiga ratus ribu rupiah. Setelah menunggu sekitar 20 menit, akhirnya ada pengumuman untuk petugas darat meninggalkan pesawat, yang langsung disambut dengan tepuk tangan para penumpang karena itu tandanya pesawat akan benar-benar terbang. Kali ini para penumpang sudah lebih bersabar, mungkin karena masing-masing sudah menerima uang kompensasi keterlambatan pesawat.

Suasana nobar Asian Games 2018 di terminal 1C Bandara Soetta (25/08)

Begitu mendarat di terminal 1A Bandara Soekarno Hatta, aku langsung menuju terminal 1C tempat dimana maskapai Batik diterbangkan. Kudengar ada penumpang yang sama-sama menuju Palu tetapi ia diberangkatkan dengan pesawat Lion Air keesokan harinya jam 7 pagi dan diberikan penginapan entah di mana aku ga dengerin lagi. Setelah sampai di waiting room terminal 1C, aku baru merasa tenang menanti penerbangan dini hari. Ternyata banyak juga penerbangan tengah malam ya, rata-rata ke Indonesia Timur seperti Ambon, Sorong, Gorontalo, Manado, dan Palu. Para penumpang yang mengisi bangku waiting room sambil menonton pertandingan Asian Games 2018, lama-kelamaan mulai berkurang dan sepi seiring dengan adanya panggilan terbang masing-masing.


Belum Waktunya Sekolah Lagi

Selasa, 07 Agustus 2018

Awal Agustus ini adalah hari-hari yang penuh kejutan untukku. Betapa tidak? Dari hari pertama yang sudah senang sekali dengan pengumuman kampus dan alhamdulillah lolos yang kupikir otomatis lolos juga beasiswa yang kuajukan karena begitulah yang kutahu dari keterangan instansi pemberi beasiswa ketika pertama kali aku bertanya kepada contact center mereka dan menanyakan tentang prosedur pendaftaran beasiswa tersebut, sampai kemudian di hari berikutnya harus menghadapi kenyataan bahwa aku tidak lolos beasiswa karena penyebutan jabatan pemeriksa. Setidaknya begitulah jawaban dari contact person instansi pemberi beasiswa ketika aku mencoba menghubunginya dan mengonfirmasi alasan ketidaklolosanku.

CP tersebut mengatakan pimpinannya selaku pengambil keputusan tidak memilihku sebagai kandidat yang layak menerima beasiswa karena jika jabatanku pemeriksa maka dikhawatirkan aku akan kembali kepada tugas pemeriksaan begitu selesai studi magister Ilmu Komunikasi sehingga tidak mempraktekan ilmu kehumasan. Padahal aku sudah mencoba menjelaskan bahwa di instansi tempatku bekerja memang semua pegawai yang telah menyelesaikan pendidikan S1 dan mengikuti diklat jabatan fungsional pemeriksa maka akan disebut pemeriksa, terlepas dia memang bertugas di pemeriksaan maupun di penunjang/pendukung perkantoran. Aku pun telah mengirimkan SK penempatanku di Subbagian Humas sejak 2016 dan menyebutkan beberapa nama temanku yang sesama instansi dan jabatannya juga pemeriksa namun bisa lolos mendapat beasiswa tersebut.

Setelah berusaha menjelaskan dan tidak ada tanggapan lagi dari pihak pemberi beasiswa tersebut, aku memutuskan untuk menerima kenyataan. Sedih dan kecewa memang, bayangan kembali menuntut ilmu di Kota Pelajar yang dekat dengan keluarga yang sudah di depan mata, menguap begitu saja. Sesungguhnya ini bukan pertama kalinya aku gagal dalam mengajukan beasiswa. Tahun lalu aku juga mengalami hal yang sama namun aku masih bisa menerima karena waktu itu beasiswanya memang diperuntukkan bagi ASN yang bertugas di bidang perencanaan. Sedangkan aku memenuhi semua syarat administrasi kecuali satu hal itu, karena aku bertugas pada bidang kehumasan.

Terlepas dari rasa kecewa dan kesal karena ketidakjelasan pemberi beasiswa, aku memutuskan untuk segera bangkit. Walaupun hidup tidak berjalan sesuai rencanaku, setidaknya aku masih punya banyak hal untuk disyukuri. Aku masih punya pekerjaan yang bisa aku lakukan, aku punya keluarga dan teman-teman yang baik dan selalu mendukungku, aku punya segala fasilitas hidup yang nyaman dan aman. Terima kasih Tuhan, mungkin Kau belum mengizinkanku mewujudkan mimpi yang ini, namun aku yakin Kau pasti akan wujudkan mimpiku yang lain yang lebih aku butuhkan.
 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS